Tatsqif

KEUTAMAAN DAN KEDUDUKAN DAKWAH KEPADA ALLAH

KEUTAMAAN DAN KEDUDUKAN DAKWAH KEPADA ALLAH

Dakwah kepada Allah Ta‘ala merupakan salah satu prinsip agung dalam Islam. Ia bukan sekadar aktivitas menyampaikan nasihat, tetapi mencakup penyampaian risalah, pengajaran ilmu, amar makruf dan nahi mungkar, pembinaan manusia, serta usaha memperbaiki individu dan masyarakat.

Jika berbagai dalil Al-Qur’an dan Sunnah tentang dakwah dihimpun, keutamaan dan kedudukannya dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa tema besar berikut.

I. KEDUDUKAN DAKWAH DALAM AGAMA

1. Dakwah adalah perkataan terbaik

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ﴾
[فصلت: 33]

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal saleh, dan berkata, ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang Muslim.’”

Ayat ini merupakan salah satu dalil paling langsung mengenai kemuliaan dakwah. Allah menyebut perkataan orang yang menyeru kepada-Nya sebagai perkataan yang terbaik, apabila dakwah tersebut disertai amal saleh dan ketundukan kepada Islam.

2. Dakwah merupakan jalan Rasulullah ﷺ dan para pengikut beliau

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ﴾
[يوسف: 108]

“Katakanlah, ‘Inilah jalanku. Aku menyeru kepada Allah di atas ilmu dan pemahaman yang nyata, aku dan orang-orang yang mengikutiku. Mahasuci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang musyrik.’”

Mengikuti Rasulullah ﷺ tidak berhenti pada kesalehan pribadi. Di antara karakter jalan beliau adalah ﴿أَدْعُو إِلَى اللَّهِ﴾, menyeru manusia kepada Allah berdasarkan ilmu dan bashirah.

3. Dakwah merupakan tugas pokok para nabi dan rasul

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ﴾
[النحل: 36]

“Sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul kepada setiap umat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.’”

Allah juga berfirman:

﴿وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ﴾
[الأنبياء: 25]

“Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Aku, maka sembahlah Aku.”

Karena itu, dakwah kepada tauhid merupakan misi seluruh rasul.

4. Dakwah merupakan salah satu fungsi utama kerasulan

Allah berfirman tentang Rasulullah ﷺ:

﴿يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا ۝ وَدَاعِيًا إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيرًا﴾
[الأحزاب: 45-46]

“Wahai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu sebagai saksi, pembawa kabar gembira, pemberi peringatan, penyeru kepada Allah dengan izin-Nya, dan sebagai pelita yang menerangi.”

Penyebutan ﴿وَدَاعِيًا إِلَى اللَّهِ﴾ menunjukkan betapa sentralnya dakwah dalam tugas Rasulullah ﷺ.

5. Dakwah merupakan bagian dari warisan kenabian

Dari Abu ad-Darda’ radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

«وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا، وَرَّثُوا الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ»

“Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi. Sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar maupun dirham. Mereka hanyalah mewariskan ilmu. Maka barang siapa mengambilnya, sungguh ia telah mengambil bagian yang sangat besar.”

Takhrij: HR. Abu Dawud dalam Sunan Abi Dawud, Kitab al-‘Ilm, bab الْحَثِّ عَلَى طَلَبِ الْعِلْمِ, no. 3641; At-Tirmidzi dalam Sunan at-Tirmidzi, Kitab al-‘Ilm, bab مَا جَاءَ فِي فَضْلِ الْفِقْهِ عَلَى الْعِبَادَةِ, no. 2682; dan Ibnu Majah, no. 223. Hadis ini dinilai sahih oleh sejumlah ulama hadis.

Warisan tersebut diwujudkan melalui mempelajari, mengamalkan, mengajarkan, dan menyampaikan ilmu kepada manusia.

II. DAKWAH SEBAGAI AMANAH DAN TANGGUNG JAWAB

6. Dakwah merupakan pelaksanaan perintah Allah

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ﴾
[النحل: 125]

“Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.”

Dakwah merupakan ketaatan karena Allah sendiri memerintahkannya.

7. Dakwah merupakan penunaian amanah ilmu

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلَا تَكْتُمُونَهُ﴾
[آل عمران: 187]

“Hendaklah kalian benar-benar menerangkannya kepada manusia dan janganlah kalian menyembunyikannya.”

Sebaliknya, Allah berfirman:

﴿إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ﴾
[البقرة: 159]

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan keterangan-keterangan yang jelas dan petunjuk yang telah Kami turunkan, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Kitab, mereka itulah yang dilaknat Allah dan dilaknat pula oleh mereka yang dapat melaknat.”

Karena itu, ilmu yang dibutuhkan manusia bukan hanya untuk disimpan, tetapi harus dijelaskan oleh orang yang memiliki kemampuan untuk menjelaskannya.

8. Dakwah merupakan penyampaian risalah secara jelas

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ﴾
[النور: 54]

“Tidak ada kewajiban atas Rasul selain menyampaikan dengan jelas.”

Hakikat dakwah bukan sekadar berbicara, tetapi البلاغ المبين, menyampaikan kebenaran secara jelas sehingga dapat dipahami.

9. Dakwah merupakan bentuk nasihat kepada manusia

Nabi Nuh ‘alaihissalam berkata:

﴿أُبَلِّغُكُمْ رِسَالَاتِ رَبِّي وَأَنْصَحُ لَكُمْ﴾
[الأعراف: 62]

“Aku menyampaikan kepada kalian risalah-risalah Tuhanku dan aku memberi nasihat kepada kalian.”

Dari Tamim ad-Dari radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:

«الدِّينُ النَّصِيحَةُ»
Kami bertanya, “Untuk siapa?” Beliau menjawab:

«لِلَّهِ، وَلِكِتَابِهِ، وَلِرَسُولِهِ، وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ، وَعَامَّتِهِمْ»
(HR. Muslim, no. 55)

Artinya:

“Agama adalah nasihat.” Kami bertanya, “Nasihat untuk siapa?” Beliau menjawab, “Untuk Allah, untuk Kitab-Nya, untuk Rasul-Nya, untuk para pemimpin kaum Muslimin, dan untuk seluruh kaum Muslimin.”

Makna النصيحة di sini lebih luas daripada sekadar “memberi nasihat”. Ia mencakup ketulusan, menghendaki kebaikan, menunaikan hak, serta membimbing kepada perkara yang benar dan bermanfaat.

Dakwah menggabungkan dua unsur besar: التبليغ والنصيحة, menyampaikan kebenaran sekaligus menghendaki kebaikan bagi manusia.

10. Dakwah merupakan tanggung jawab sesuai kemampuan

Dari Abu Sa‘id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

«مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا، فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ»

“Barang siapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika ia tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika ia tidak mampu, maka dengan hatinya; dan itulah selemah-lemah iman.”

Takhrij: HR. Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab al-Iman, bab:
بيان كون النهي عن المنكر من الإيمان، وأن الإيمان يزيد وينقص، وأن الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر واجبان,
no. 49 (dalam sebagian penomoran: no. 78).

Tanggung jawab tersebut berbeda sesuai ilmu, kemampuan, kewenangan, dan keadaan masing-masing.

III. KEUTAMAAN DAN PAHALA BAGI ORANG YANG BERDAKWAH

11. Dakwah merupakan sebab memperoleh pahala yang besar

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا﴾
[النساء: 114]

“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan pembicaraan rahasia mereka, kecuali pembicaraan orang yang menyuruh bersedekah, berbuat makruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Barang siapa melakukan hal itu dengan mengharapkan keridaan Allah, maka kelak Kami akan memberinya pahala yang besar.”

12. Mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengikuti petunjuknya

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

«مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ، لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا، وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ، لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا»

“Barang siapa menyeru kepada suatu petunjuk, maka ia memperoleh pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barang siapa menyeru kepada suatu kesesatan, maka ia menanggung dosa seperti dosa orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.”

Takhrij: HR. Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab al-‘Ilm, bab:
مَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً أَوْ سَيِّئَةً وَمَنْ دَعَا إِلَى هُدًى أَوْ ضَلَالَةٍ.
no. 2674.

Hadis ini sekaligus mencakup makna hadis:

Dari Abu Mas‘ud al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

«مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ»

“Barang siapa menunjukkan kepada suatu kebaikan, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang melakukannya.”

Takhrij: HR. Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab al-Imarah, Bab :
فَضْلِ إِعَانَةِ الْغَازِي فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِمَرْكُوبٍ وَغَيْرِهِ وَخِلَافَتِهِ فِي أَهْلِهِ بِخَيْرٍ.
no. 1893.

Dengan demikian, poin-poin tentang “menyeru kepada petunjuk”, “menunjukkan kebaikan”, dan “pahala berantai” pada hakikatnya berada dalam satu tema besar.

13. Hidayah satu orang melalui dakwah lebih berharga daripada harta dunia yang sangat berharga

Rasulullah ﷺ bersabda kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu:

«فَوَاللَّهِ لَأَنْ يَهْدِيَ اللَّهُ بِكَ رَجُلًا وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ»

“Demi Allah, sungguh apabila Allah memberikan hidayah kepada satu orang melalui dirimu, itu lebih baik bagimu daripada engkau memiliki unta merah.”
(HR. Al-Bukhari, no. 2942; Muslim, no. 2406)

14. Dakwah dan pengajaran dapat menjadi amal yang terus memberikan pahala setelah kematian

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

«إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ»

“Apabila seseorang meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau anak saleh yang mendoakannya.”

Takhrij: HR. Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab al-Washiyyah, bab مَا يَلْحَقُ الْإِنْسَانَ مِنَ الثَّوَابِ بَعْدَ وَفَاتِهِ, no. 1631.

Hal ini diperkuat oleh firman Allah:

﴿وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ﴾
[يس: 12]

“Kami mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan jejak-jejak yang mereka tinggalkan.”

Dakwah melalui pengajaran, tulisan, rekaman, pembinaan murid, dan berbagai sarana penyebaran ilmu dapat meninggalkan jejak kebaikan yang terus hidup.

15. Orang yang mengajarkan kebaikan mendapatkan doa dari penghuni langit dan bumi

Dari Abu Umamah al-Bahili radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

«إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرَضِينَ، حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا، وَحَتَّى الْحُوتَ، لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ»

“Sesungguhnya Allah, para malaikat-Nya, serta penghuni langit dan bumi, bahkan semut di dalam lubangnya dan ikan, benar-benar mendoakan orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.”

Takhrij: HR. At-Tirmidzi dalam Sunan at-Tirmidzi, Kitab al-‘Ilm, bab مَا جَاءَ فِي فَضْلِ الْفِقْهِ عَلَى الْعِبَادَةِ, no. 2685. At-Tirmidzi berkata: «هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ غَرِيبٌ» — “Hadis ini hasan sahih gharib.”

16. Menyampaikan ilmu mendapatkan doa khusus Nabi ﷺ

Dari Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Nabi ﷺ bersabda:

«نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مِنَّا شَيْئًا فَبَلَّغَهُ كَمَا سَمِعَ، فَرُبَّ مُبَلَّغٍ أَوْعَى مِنْ سَامِعٍ»

“Semoga Allah memberikan cahaya dan keelokan kepada seseorang yang mendengar sesuatu dari kami, lalu menyampaikannya sebagaimana yang ia dengar. Betapa banyak orang yang menerima penyampaian lebih memahami daripada orang yang mendengarnya secara langsung.”

Takhrij: HR. At-Tirmidzi dalam Sunan at-Tirmidzi, Kitab al-‘Ilm, bab مَا جَاءَ فِي الْحَثِّ عَلَى تَبْلِيغِ السَّمَاعِ, no. 2657. At-Tirmidzi berkata: «هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ».

17. Mengajarkan Al-Qur’an termasuk sebab memperoleh predikat manusia terbaik

Dari Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

«خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ»

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.”

Takhrij: HR. Al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari, Kitab Fadha’il al-Qur’an, bab خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ, no. 5027.

IV. DAKWAH SEBAGAI SEBAB KESELAMATAN DAN KEBERUNTUNGAN

18. Dakwah merupakan sebab memperoleh rahmat Allah

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ﴾
[التوبة: 71]

“Orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, mendirikan salat, menunaikan zakat, serta menaati Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah yang akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”

19. Dakwah merupakan sebab memperoleh keberuntungan

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ﴾
[آل عمران: 104]

“Hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

20. Saling berdakwah kepada kebenaran merupakan sebab keselamatan dari kerugian

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿وَالْعَصْرِ ۝ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ ۝ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ﴾
[العصر: 1-3]

“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.”

Keselamatan tidak hanya dikaitkan dengan iman dan amal saleh, tetapi juga dengan ﴿وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ﴾ dan ﴿وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ﴾.

21. Amar makruf dan nahi mungkar menjadi sebab keselamatan dari azab

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ أَنْجَيْنَا الَّذِينَ يَنْهَوْنَ عَنِ السُّوءِ وَأَخَذْنَا الَّذِينَ ظَلَمُوا بِعَذَابٍ بَئِيسٍ﴾
[الأعراف: 165]

“Ketika mereka melupakan apa yang telah diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang mencegah perbuatan buruk dan Kami timpakan kepada orang-orang zalim azab yang keras.”

Sebaliknya, Allah mencela Bani Israil:

﴿كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ﴾
[المائدة: 79]

“Mereka tidak saling mencegah kemungkaran yang mereka lakukan. Sungguh buruk apa yang mereka perbuat.”

Kedua dalil tersebut berada dalam satu tema: melaksanakan nahi mungkar merupakan sebab keselamatan, sedangkan meninggalkannya menjadi sebab datangnya hukuman.

22. Amar makruf dan nahi mungkar termasuk penghapus kesalahan

Dari Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:

«فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِي أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَوَلَدِهِ وَجَارِهِ، تُكَفِّرُهَا الصَّلَاةُ وَالصَّوْمُ وَالصَّدَقَةُ وَالْأَمْرُ وَالنَّهْيُ»

“Fitnah (kesalahan dan dosa) seseorang yang berkaitan dengan keluarga, harta, anak, dan tetangganya dapat dihapuskan oleh salat, puasa, sedekah, serta amar makruf dan nahi mungkar.”

Takhrij: HR. Al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari, Kitab Mawaqit ash-Shalah, no. 525, dan Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab al-Iman, no. 144.

23. Meninggalkan amar makruf dan nahi mungkar dapat menjadi penghalang terkabulnya doa

Dari Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

«وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ الْمُنْكَرِ، أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ، ثُمَّ تَدْعُونَهُ فَلَا يُسْتَجَابُ لَكُمْ»

“Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kalian harus memerintahkan yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, atau Allah hampir-hampir akan menimpakan kepada kalian hukuman dari sisi-Nya, kemudian kalian berdoa kepada-Nya, tetapi doa kalian tidak dikabulkan.”

Takhrij: HR. At-Tirmidzi dalam Sunan at-Tirmidzi, Kitab al-Fitan, bab مَا جَاءَ فِي الْأَمْرِ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيِ عَنِ الْمُنْكَرِ, no. 2169. At-Tirmidzi berkata: «هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ».

V. DAKWAH DAN KEBAIKAN UMAT SERTA MASYARAKAT

24. Dakwah merupakan salah satu sebab terpeliharanya predikat umat terbaik

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ﴾
[آل عمران: 110]

“Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia; kalian menyuruh kepada yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.”

25. Dakwah merupakan sebab terjaganya keselamatan masyarakat

Rasulullah ﷺ memberikan perumpamaan tentang orang-orang yang berada dalam satu kapal.

Dari an-Nu‘man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

«مَثَلُ الْقَائِمِ عَلَى حُدُودِ اللَّهِ وَالْوَاقِعِ فِيهَا، كَمَثَلِ قَوْمٍ اسْتَهَمُوا عَلَى سَفِينَةٍ، فَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَعْلَاهَا وَبَعْضُهُمْ أَسْفَلَهَا، فَكَانَ الَّذِينَ فِي أَسْفَلِهَا إِذَا اسْتَقَوْا مِنَ الْمَاءِ مَرُّوا عَلَى مَنْ فَوْقَهُمْ، فَقَالُوا: لَوْ أَنَّا خَرَقْنَا فِي نَصِيبِنَا خَرْقًا وَلَمْ نُؤْذِ مَنْ فَوْقَنَا، فَإِنْ يَتْرُكُوهُمْ وَمَا أَرَادُوا هَلَكُوا جَمِيعًا، وَإِنْ أَخَذُوا عَلَى أَيْدِيهِمْ نَجَوْا وَنَجَوْا جَمِيعًا»

“Perumpamaan orang yang menjaga batas-batas Allah dan orang yang melanggarnya adalah seperti suatu kaum yang mengundi tempat di sebuah kapal. Sebagian mereka mendapatkan bagian atas dan sebagian lainnya mendapatkan bagian bawah. Orang-orang yang berada di bagian bawah, apabila hendak mengambil air, harus melewati orang-orang yang berada di atas mereka. Lalu mereka berkata, ‘Seandainya kita melubangi bagian kita sendiri sehingga kita tidak mengganggu orang-orang yang berada di atas kita.’

Jika orang-orang yang lain membiarkan mereka melakukan apa yang mereka kehendaki, niscaya mereka semua akan binasa. Namun jika mereka mencegah mereka, niscaya mereka akan selamat dan semuanya pun akan selamat.”

Takhrij: HR. Al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari, Kitab asy-Syarikah, bab هَلْ يُقْرَعُ فِي الْقِسْمَةِ وَالِاسْتِهَامِ فِيهِ, no. 2493, dari an-Nu‘man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma.

Kemungkaran yang dibiarkan dapat berubah menjadi kerusakan kolektif. Karena itu, amar makruf dan nahi mungkar merupakan mekanisme penjagaan masyarakat.

26. Dakwah merupakan bagian penting dari perbaikan masyarakat

Nabi Syu‘aib ‘alaihissalam berkata:

﴿إِنْ أُرِيدُ إِلَّا الْإِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُ وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ﴾
[هود: 88]

“Aku tidak bermaksud kecuali melakukan perbaikan semampuku. Tidak ada taufik bagiku melainkan dengan pertolongan Allah.”

Dakwah bukan sekadar mengkritik kesalahan, tetapi merupakan proyek الإصلاح: mengubah keadaan menuju sesuatu yang lebih baik sesuai petunjuk Allah.

27. Dakwah merupakan salah satu ciri penggunaan kekuasaan untuk ketaatan kepada Allah

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ﴾
[الحج: 41]

“(Yaitu) orang-orang yang apabila Kami beri kedudukan kepada mereka di bumi, mereka mendirikan salat, menunaikan zakat, memerintahkan yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar.”

Ayat ini sekaligus berkaitan dengan janji pertolongan Allah sebagaimana firman-Nya:

﴿وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ﴾
[الحج: 40]

“Sungguh, Allah pasti menolong orang yang menolong agama-Nya.”

28. Dakwah menjaga masyarakat dari dominasi kebodohan dan kesesatan

Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

«إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُؤُوسًا جُهَّالًا، فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ، فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا»

“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya secara langsung dari manusia. Akan tetapi, Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama. Hingga ketika tidak lagi menyisakan seorang alim pun, manusia mengangkat orang-orang bodoh sebagai pemimpin mereka. Lalu mereka ditanya, kemudian mereka berfatwa tanpa ilmu; maka mereka sesat dan menyesatkan.”

Takhrij: HR. Al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari, Kitab al-‘Ilm, bab كَيْفَ يُقْبَضُ الْعِلْمُ, no. 100; dan Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab al-‘Ilm, bab رَفْعِ الْعِلْمِ وَقَبْضِهِ وَظُهُورِ الْجَهْلِ وَالْفِتَنِ فِي آخِرِ الزَّمَانِ, no. 2673.

Menyebarkan ilmu yang benar merupakan benteng masyarakat dari الجهل والضلال.

VI. DAKWAH SEBAGAI SARANA HIDAYAH, ILMU, DAN PEMBINAAN MANUSIA

29. Dakwah mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ﴾
[إبراهيم: 1]

“(Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu agar engkau mengeluarkan manusia dari berbagai kegelapan menuju cahaya dengan izin Tuhan mereka.”

Wahyu juga disebut sebagai ruh dan cahaya:

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ﴾
[الشورى: 52]

“Demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh (Al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya engkau tidak mengetahui apakah Kitab itu dan apakah iman itu, tetapi Kami menjadikannya sebagai cahaya yang dengannya Kami memberi petunjuk kepada siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya engkau benar-benar membimbing menuju jalan yang lurus.”

Karena itu, poin “menghidupkan hati dengan wahyu” dan “mengeluarkan manusia dari kegelapan” berada dalam satu tema besar: dakwah sebagai sarana hidayah dan kehidupan hati.

30. Dakwah memindahkan manusia dari kebodohan menuju ilmu

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّى يَسْمَعَ كَلَامَ اللَّهِ ثُمَّ أَبْلِغْهُ مَأْمَنَهُ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَعْلَمُونَ﴾
[التوبة: 6]

“Jika salah seorang di antara orang-orang musyrik meminta perlindungan kepadamu, maka berilah ia perlindungan hingga ia mendengar firman Allah. Kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu karena mereka adalah kaum yang tidak mengetahui.”

Dakwah yang ilmiah mengatasi الجهل dengan العلم والوحي.

31. Dakwah merupakan sarana menyebarkan dan mewariskan ilmu

Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

«بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً، وَحَدِّثُوا عَنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلَا حَرَجَ، وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ»

“Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat. Ceritakanlah dari Bani Israil dan tidak mengapa. Dan barang siapa dengan sengaja berdusta atas namaku, hendaklah ia menyiapkan tempat duduknya di neraka.”

Takhrij: HR. Al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari, Kitab Ahadits al-Anbiya’, bab مَا ذُكِرَ عَنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ, no. 3461.

Dari Abu Bakrah Nufai‘ bin al-Harits radhiyallahu ‘anhu, dalam hadis khutbah Nabi ﷺ pada Haji Wada‘, beliau bersabda:

«فَلْيُبَلِّغِ الشَّاهِدُ الْغَائِبَ، فَرُبَّ مُبَلَّغٍ أَوْعَى مِنْ سَامِعٍ»

“Hendaklah orang yang hadir menyampaikan kepada orang yang tidak hadir. Sebab, boleh jadi orang yang menerima penyampaian itu lebih memahami daripada orang yang mendengarnya secara langsung.”

Takhrij: HR. Al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari, Kitab al-‘Ilm, bab قَوْلِ النَّبِيِّ ﷺ: رُبَّ مُبَلَّغٍ أَوْعَى مِنْ سَامِعٍ, no. 67; dan Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab al-Qasamah wa al-Muharibin wa al-Qishash wa ad-Diyat, no. 1679, dalam hadis panjang tentang khutbah Nabi ﷺ pada Haji Wada‘.

Termasuk dalam tema ini hadis:

Dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:

«نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مِنَّا حَدِيثًا فَحَفِظَهُ حَتَّى يُبَلِّغَهُ، فَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ، وَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ لَيْسَ بِفَقِيهٍ»

“Semoga Allah memberikan cahaya dan keelokan kepada seseorang yang mendengar sebuah hadis dari kami, lalu ia menghafalnya hingga menyampaikannya. Betapa banyak orang yang membawa ilmu kepada orang yang lebih memahami darinya, dan betapa banyak orang yang membawa ilmu tetapi dirinya bukan seorang yang mendalam pemahamannya.”

Takhrij: HR. Abu Dawud dalam Sunan Abi Dawud, Kitab al-‘Ilm, bab فَضْلِ نَشْرِ الْعِلْمِ, no. 3660; At-Tirmidzi, no. 2656; dan Ibnu Majah, no. 230. Hadis ini dinilai sahih oleh sejumlah ulama hadis.

Semua dalil ini menunjukkan satu mata rantai:

التلقي ← الحفظ ← التبليغ ← التعليم ← انتقال العلم إلى الأجيال

menerima ilmu, menjaganya, menyampaikannya, mengajarkannya, kemudian mewariskannya kepada generasi berikutnya.

32. Dakwah dan tarbiyah merupakan sarana membangun generasi

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ﴾
[البقرة: 129]

“Wahai Tuhan kami, utuslah kepada mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu, mengajarkan kepada mereka Kitab dan hikmah, serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”

Ayat ini mengumpulkan tiga poros pembinaan manusia:

تلاوة الوحي — تعليم العلم — تزكية النفوس

membacakan wahyu, mengajarkan ilmu, dan menyucikan jiwa.

Dakwah dengan demikian bukan hanya transfer informasi, tetapi proses pembentukan manusia.

VII. DAKWAH KEPADA KELUARGA DAN GENERASI

33. Dakwah merupakan sarana menjaga keluarga dari neraka

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا﴾
[التحريم: 6]

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka.”

Dakwah paling dekat dimulai dari keluarga.

34. Berdakwah kepada keluarga merupakan sifat para nabi

Allah berfirman tentang Nabi Ismail ‘alaihissalam:

﴿وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَكَانَ عِنْدَ رَبِّهِ مَرْضِيًّا﴾
[مريم: 55]

“Ia memerintahkan keluarganya untuk melaksanakan salat dan menunaikan zakat, dan ia adalah orang yang diridai di sisi Tuhannya.”

Hal ini menunjukkan bahwa rumah tangga merupakan salah satu medan dakwah yang paling mendasar.

VIII. DAKWAH SEBAGAI WUJUD KASIH SAYANG DAN KEPEDULIAN

35. Dakwah merupakan bentuk kasih sayang dan keinginan menyelamatkan manusia

Allah menggambarkan besarnya kepedulian Rasulullah ﷺ terhadap hidayah manusia:

﴿لَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَفْسَكَ أَلَّا يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ﴾
[الشعراء: 3]

“Boleh jadi engkau akan membinasakan dirimu karena mereka tidak juga beriman.”

Seorang mukmin dari keluarga Fir‘aun juga berkata:

﴿وَيَا قَوْمِ مَا لِي أَدْعُوكُمْ إِلَى النَّجَاةِ وَتَدْعُونَنِي إِلَى النَّارِ﴾
[غافر: 41]

“Wahai kaumku, mengapa aku menyeru kalian kepada keselamatan, sedangkan kalian menyeruku menuju neraka?”

Hakikat dakwah adalah الدعوة إلى النجاة, menyeru manusia menuju keselamatan, bukan sekadar memenangkan perdebatan.

36. Dai tetap menginginkan kebaikan bagi orang yang menolak dakwahnya

Tentang seorang mukmin dalam Surah Yasin, Allah berfirman:

﴿قِيلَ ادْخُلِ الْجَنَّةَ قَالَ يَا لَيْتَ قَوْمِي يَعْلَمُونَ ۝ بِمَا غَفَرَ لِي رَبِّي وَجَعَلَنِي مِنَ الْمُكْرَمِينَ﴾
[يس: 26-27]

“Dikatakan kepadanya, ‘Masuklah ke surga.’ Ia berkata, ‘Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui bagaimana Tuhanku telah mengampuniku dan menjadikanku termasuk orang-orang yang dimuliakan.’”

Bahkan setelah disakiti, ia masih menghendaki kebaikan bagi kaumnya. Inilah صدق النصيحة والشفقة على المدعوين.

IX. DAKWAH TETAP BERNILAI MESKIPUN BELUM MENDAPATKAN HASIL

37. Dakwah tetap ditunaikan meskipun manusia tampak tidak menerima

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿وَإِذْ قَالَتْ أُمَّةٌ مِنْهُمْ لِمَ تَعِظُونَ قَوْمًا اللَّهُ مُهْلِكُهُمْ أَوْ مُعَذِّبُهُمْ عَذَابًا شَدِيدًا قَالُوا مَعْذِرَةً إِلَى رَبِّكُمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ﴾
[الأعراف: 164]

“Mengapa kalian menasihati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang sangat keras? Mereka menjawab, ‘Sebagai pelepasan tanggung jawab kepada Tuhan kalian dan agar mereka bertakwa.’”

Ayat ini mengumpulkan dua tujuan:

﴿مَعْذِرَةً إِلَى رَبِّكُمْ﴾
menunaikan tanggung jawab di hadapan Allah;

dan:

﴿وَلَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ﴾
tetap berharap terjadinya perubahan.

Nabi Shalih ‘alaihissalam juga berkata setelah kaumnya menolak:

﴿يَا قَوْمِ لَقَدْ أَبْلَغْتُكُمْ رِسَالَةَ رَبِّي وَنَصَحْتُ لَكُمْ﴾
[الأعراف: 79]

“Wahai kaumku, sungguh aku telah menyampaikan kepada kalian risalah Tuhanku dan menasihati kalian.”

Dengan demikian, ditolaknya dakwah tidak berarti dakwah tersebut sia-sia.

38. Tugas dai adalah menyampaikan; hidayah dan perhitungan berada di tangan Allah

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿فَإِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلَاغُ وَعَلَيْنَا الْحِسَابُ﴾
[الرعد: 40]

“Sesungguhnya kewajibanmu hanyalah menyampaikan, dan Kamilah yang menghisab.”

Allah juga berfirman:

﴿فَذَكِّرْ إِنَّمَا أَنْتَ مُذَكِّرٌ ۝ لَسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُصَيْطِرٍ﴾
[الغاشية: 21-22]

“Maka berilah peringatan. Sesungguhnya engkau hanyalah pemberi peringatan. Engkau bukanlah orang yang berkuasa atas mereka.”

Seorang dai bertanggung jawab atas kebenaran ilmu, niat, metode, dan penyampaiannya; ia tidak dibebani untuk memastikan semua orang menerima hidayah.

X. DAKWAH MEMBENTUK KEPRIBADIAN DAN MANHAJ SEORANG DAI

39. Dakwah mendidik keikhlasan, kesabaran, hikmah, dan kasih sayang

Berbagai dalil yang sebelumnya berdiri sebagai poin terpisah sebenarnya dapat dihimpun dalam satu tema pembentukan karakter dai.

Keikhlasan

Para rasul berkata:

﴿وَمَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ﴾
[الشعراء: 109]

“Aku tidak meminta imbalan kepada kalian atas dakwah ini. Imbalanku hanyalah dari Tuhan seluruh alam.”

Kesabaran

Allah berfirman:

﴿يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ﴾
[لقمان: 17]

“Wahai anakku, dirikanlah salat, perintahkanlah yang makruf, cegahlah dari yang mungkar, dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu.”

Hikmah

Allah berfirman:

﴿ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ﴾
[النحل: 125]

“Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat yang baik.”

Membalas keburukan dengan cara yang lebih baik

Allah berfirman:

﴿ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ﴾
[فصلت: 34]

“Tolaklah keburukan dengan cara yang lebih baik, maka orang yang antara engkau dan dia terdapat permusuhan seakan-akan menjadi teman yang sangat setia.”

Dengan demikian, dakwah bukan hanya memperbaiki orang yang didakwahi, tetapi juga mendidik dan menyucikan pribadi dai itu sendiri.

40. Dakwah mendidik seorang dai memahami prioritas, metode, dan dasar ilmu

Ketika mengutus Mu‘adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu ke Yaman, Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa ketika Rasulullah ﷺ mengutus Mu‘adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu ke Yaman, beliau bersabda:

«إِنَّكَ تَقْدَمُ عَلَى قَوْمٍ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ، فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَى أَنْ يُوَحِّدُوا اللَّهَ تَعَالَى، فَإِذَا عَرَفُوا ذَلِكَ، فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ فَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي يَوْمِهِمْ وَلَيْلَتِهِمْ، فَإِذَا صَلَّوْا، فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ زَكَاةً فِي أَمْوَالِهِمْ، تُؤْخَذُ مِنْ غَنِيِّهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فَقِيرِهِمْ، فَإِذَا أَقَرُّوا بِذَلِكَ فَخُذْ مِنْهُمْ، وَتَوَقَّ كَرَائِمَ أَمْوَالِ النَّاسِ»

“Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum dari kalangan Ahli Kitab. Maka hendaklah perkara pertama yang engkau serukan kepada mereka adalah agar mereka mentauhidkan Allah Ta‘ala. Apabila mereka telah mengetahui hal itu, beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka salat lima waktu dalam sehari semalam.

Apabila mereka telah melaksanakan salat, beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka zakat pada harta mereka, yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka kemudian diberikan kepada orang-orang fakir di antara mereka.

Apabila mereka telah mengakui hal tersebut, maka ambillah zakat dari mereka, dan hindarilah mengambil harta mereka yang paling berharga.”

Takhrij: HR. Al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari, Kitab at-Tauhid, bab مَا جَاءَ فِي دُعَاءِ النَّبِيِّ ﷺ أُمَّتَهُ إِلَى تَوْحِيدِ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى, no. 7372, dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma.

Hadis ini menunjukkan secara jelas fikih prioritas dalam dakwah: dimulai dengan tauhid, kemudian kewajiban-kewajiban agama yang paling utama, lalu kewajiban berikutnya secara bertahap.

Beliau juga berpesan kepada Mu‘adz dan Abu Musa.

Dari Abu Musa al-Asy‘ari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ketika Rasulullah ﷺ mengutus Abu Musa dan Mu‘adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhuma ke Yaman, beliau bersabda kepada keduanya:

«يَسِّرَا وَلَا تُعَسِّرَا، وَبَشِّرَا وَلَا تُنَفِّرَا، وَتَطَاوَعَا وَلَا تَخْتَلِفَا»

“Berilah kemudahan dan jangan mempersulit. Berilah kabar gembira dan jangan membuat orang menjauh. Hendaklah kalian berdua saling bekerja sama dan jangan berselisih.”

Takhrij: HR. Al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari, Kitab al-Maghazi, bab بَعْثِ أَبِي مُوسَى وَمُعَاذٍ إِلَى الْيَمَنِ قَبْلَ حَجَّةِ الْوَدَاعِ, no. 4344; dan Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab al-Jihad wa as-Siyar, bab فِي الْأَمْرِ بِالتَّيْسِيرِ وَتَرْكِ التَّنْفِيرِ, no. 1733.

Adapun dasar ilmunya telah ditegaskan Allah:

﴿أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ﴾
[يوسف: 108]

“Aku menyeru kepada Allah di atas bashirah.”

Maka manhaj dakwah yang benar berdiri di atas:

العلم والبصيرة — الإخلاص — فقه الأولويات — الحكمة — الرفق — الصبر — مراعاة المصالح والمفاسد

ilmu dan bashirah, keikhlasan, pemahaman prioritas, hikmah, kelembutan, kesabaran, serta pertimbangan maslahat dan mafsadat.

PENUTUP

Dari keseluruhan dalil tersebut tampak bahwa dakwah kepada Allah memiliki kedudukan yang sangat luas. Ia adalah jalan para rasul, amanah ilmu, bentuk nasihat, sarana hidayah, sebab keselamatan, penjaga masyarakat, media pewarisan ilmu, sarana pembinaan generasi, serta pintu pahala yang pengaruhnya dapat terus berlangsung setelah seorang hamba meninggal dunia.

Namun keberhasilan dakwah tidak semata-mata diukur dari banyaknya orang yang langsung menerima. Al-Qur’an memberikan prinsip yang sangat mendasar:

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿وَإِذْ قَالَتْ أُمَّةٌ مِنْهُمْ لِمَ تَعِظُونَ قَوْمًا اللَّهُ مُهْلِكُهُمْ أَوْ مُعَذِّبُهُمْ عَذَابًا شَدِيدًا قَالُوا مَعْذِرَةً إِلَى رَبِّكُمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ﴾
[الأعراف: 164]

“Dan (ingatlah) ketika segolongan di antara mereka berkata, ‘Mengapa kalian menasihati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang sangat keras?’ Mereka menjawab, ‘Sebagai pelepasan tanggung jawab di hadapan Tuhan kalian dan agar mereka bertakwa.’”

Seorang dai memiliki kewajiban untuk menyampaikan dengan ilmu, ikhlas, hikmah, kasih sayang, dan kesabaran. Adapun membuka hati manusia, memberikan hidayah, dan menentukan hasil akhir seluruh usaha tersebut merupakan hak Allah Ta‘ala.

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button