Tatsqif

Nasihat kepada Anakku yang sekarang berstatus Suami sekaligus Ayah

Nasihat kepada Anakku yang sekarang berstatus Suami sekaligus Ayah

Wahai anakku, aku tuliskan wasiat dan nasihat ini untukmu di depan Ka’bah dengan menahan airmata, dengan harapan yang kutulis di akhir catatan.

Nasihat pertama dan terakhir adalah takwa karena takwa merupakan pondasi yang menghimpun seluruh kebaikan. Apa pun nasihat tentang ibadah, keluarga, pendidikan anak, muamalah, atau akhlak, semuanya kembali kepada satu fondasi: bertakwa kepada Allah سبحانه وتعالى.

Allah berfirman:

> وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ

“Sungguh, Kami telah mewasiatkan kepada orang-orang yang diberi Kitab sebelum kalian dan juga kepada kalian agar bertakwa kepada Allah.”
(QS. An-Nisa’: 131)

Ayat ini menunjukkan bahwa takwa adalah wasiat Allah kepada umat terdahulu dan umat Muhammad ﷺ.

Mengapa takwa menjadi nasihat pertama?

Karena sebelum seseorang diperintahkan memperbaiki hubungannya dengan manusia, ia harus terlebih dahulu memperbaiki hubungannya dengan Allah. Jika hatinya memiliki takwa, ia akan merasa diawasi Allah meskipun tidak ada seorang pun yang melihatnya.

Karena itu Nabi ﷺ bersabda:

> اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ

“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada.”
(HR. At-Tirmidzi)

Takwa bukan hanya takut kepada Allah. Hakikatnya adalah menjadikan antara diri kita dan murka serta azab Allah suatu pelindung, yaitu dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Thalq bin Habib رحمه الله memberikan penjelasan yang sangat indah:

> التَّقْوَى أَنْ تَعْمَلَ بِطَاعَةِ اللَّهِ عَلَى نُورٍ مِنَ اللَّهِ، تَرْجُو ثَوَابَ اللَّهِ، وَأَنْ تَتْرُكَ مَعْصِيَةَ اللَّهِ عَلَى نُورٍ مِنَ اللَّهِ، تَخَافُ عِقَابَ اللَّهِ.

“Takwa adalah engkau melakukan ketaatan kepada Allah berdasarkan cahaya (ilmu) dari Allah dengan mengharapkan pahala Allah, dan engkau meninggalkan kemaksiatan kepada Allah berdasarkan cahaya dari Allah karena takut terhadap hukuman Allah.”

Mengapa takwa juga menjadi nasihat terakhir?

Karena setelah semua nasihat disampaikan, yang menentukan seseorang mau melaksanakannya atau tidak adalah ketakwaannya.

Seorang suami bisa mengetahui hak istrinya, tetapi yang mendorongnya menunaikan hak tersebut ketika tidak ada yang mengawasinya adalah takwa. Orang tua bisa mengetahui cara mendidik anak dengan baik, tetapi yang membuatnya sabar dan adil adalah takwa. Seorang anak mengetahui kewajiban berbakti, tetapi yang membuatnya tetap berbakti ketika orang tua sudah lanjut usia adalah takwa.

Demikian pula dalam harta, pekerjaan, pergaulan, penggunaan internet, dan ketika seseorang sendirian. Takwa tetap diperlukan dari awal hingga akhir.

Karena itu Allah berfirman:

> يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim.”
(QS. Ali ‘Imran: 102)

Perhatikan bahwa takwa diperintahkan sepanjang kehidupan sampai kematian. Karena itulah dapat dikatakan:

> أَوَّلُ الْوَصَايَا التَّقْوَى، وَآخِرُهَا التَّقْوَى؛ لِأَنَّهَا جِمَاعُ الْخَيْرِ كُلِّهِ.

“Nasihat pertama adalah takwa dan nasihat terakhir pun takwa, karena takwa menghimpun seluruh kebaikan.”

Maka ketika kita hendak menasihati suami-istri, orang tua dan anak, pemimpin dan rakyat, guru dan murid, nasihat pertama yang layak diberikan adalah: اتَّقِ اللَّهَ — Bertakwalah kepada Allah. Dan setelah berbagai nasihat panjang disampaikan, penutupnya pun kembali kepada hal yang sama: bertakwalah kepada Allah, karena orang yang benar-benar bertakwa akan berusaha menunaikan hak Allah sekaligus hak manusia.

Wahai anakku, duduklah bersama orang-orang yang dekat dengan Al-Qur’an, niscaya engkau memperoleh keuntungan. Jauhilah orang-orang yang gemar dengan kefasikan dan perbuatan sia-sia, niscaya engkau selamat.

Wahai anakku, ketahuilah bahwa semakin bertambah umur seseorang, sebenarnya semakin berkurang sisa usianya. Maka jadikanlah seluruh amal dalam kehidupanmu sebagai kebaikan. Jika tidak, engkau akan merugi dan menyesal.

Wahai anakku, jagalah lisanmu. Jadikanlah ia hanya mengucapkan kebaikan atau berdzikir kepada Allah, niscaya engkau selamat.

Wahai anakku, jangan pernah merendahkan kedudukan siapa pun, siapa pun orangnya. Berhati-hatilah menzalimi orang yang tidak memiliki penolong, keluarga yang membelanya, dan siapa pun yang menolongnya selain Allah.

Wahai anakku, jangan sibuk melihat aib orang lain. Lihatlah selalu kekurangan dirimu sendiri. Larilah dari majelis-majelis yang di dalamnya dibicarakan aib dan keburukan orang lain.

Tauhid, tauhid, dan tauhid

Wahai anakku, tauhid, tauhid, dan tauhid! Tauhid adalah senjata yang engkau gunakan dan tangan yang dengannya engkau memukul. Semakin baru dan kuat senjata itu, semakin kuat pula pukulannya. Sebaliknya, jika senjatanya lemah, pukulannya pun menjadi lemah. Yang dimaksud dengan “pukulan” di sini adalah amal yang diperintahkan Allah سبحانه وتعالى.

Sebagai contoh, ketika engkau takut terhadap sesuatu lalu mengucapkan:

> حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

“Cukuplah Allah bagi kami, dan Dia sebaik-baik Pelindung.”

Engkau akan merasakan pengaruhnya dalam dirimu. Apabila engkau membaca dzikir pagi dan petang, engkau akan merasakan bahwa dirimu berada dalam penjagaan dan perlindungan Allah جل شأنه. Demikian pula dengan dzikir-dzikir yang disyariatkan lainnya.

Semua perkara tersebut bergantung pada keimanan yang ada di dalam hatimu. Semakin kuat iman, semakin kuat pula pengaruh perintah Allah سبحانه وتعالى pada dirimu. Sebaliknya, semakin lemah imanmu, semakin lemah pula pengaruhnya.

Iman bertambah dengan ketaatan, terutama ketaatan yang dilakukan ketika sendirian; dan iman berkurang karena kemaksiatan, terutama kemaksiatan yang dilakukan ketika sendirian.

Amal-amal ketaatan telah diketahui. Semakin tersembunyi suatu ketaatan, semakin besar dan agung pahalanya.

Berhati-hatilah terhadap ghibah

Jauhilah, sekali lagi jauhilah, dan sekali lagi jauhilah menggunjing saudara-saudaramu sesama muslim dan memakan daging mereka. Sesungguhnya hal itu merupakan kemaksiatan yang sangat berbahaya dan memakan amal kebaikan sebagaimana api melahap kayu bakar.

Ghibah adalah membicarakan orang lain mengenai sesuatu yang tidak disukainya, mengejek dan memperolok perbuatannya, bentuk tubuhnya, cara berjalannya, cara berbicaranya, pakaiannya, warna kulitnya, bentuk fisiknya, atau kekurangan apa pun yang ada padanya; baik dilakukan dengan ucapan, isyarat, menirukan gerak-geriknya, dan sebagainya.

Mereka adalah makhluk ciptaan Allah. Allah akan mengambil kebaikan-kebaikanmu dan memberikannya kepada mereka. Maka berhati-hatilah, sungguh berhati-hatilah! Sesungguhnya Allah tidak pernah lalai.

Jika engkau terjatuh dalam perbuatan tersebut, mintalah kerelaan orang yang engkau ghibahi, mohonlah ampun kepada Rabb-mu, mintakanlah ampun untuk orang yang telah engkau ghibahi, doakanlah kebaikan baginya, dan gantilah ucapan burukmu tentang dirinya dengan ucapan yang baik, sehingga engkau menghadap Allah tanpa membawa tanggungan kepadanya.

Misalnya engkau berdoa:

> اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِجَمِيعِ مَنِ اغْتَبْتُ مِنَ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، اللَّهُمَّ زِدْ فِي حَسَنَاتِهِمْ، اللَّهُمَّ ارْفَعْ لَهُمْ دَرَجَاتِهِمْ، وَاجْعَلْ صَلَاتَهُمُ الَّتِي صَلَّوْهَا فِي حَيَاتِهِمْ كُلِّهَا أَجْرَهَا كَأَجْرِ مَنْ صَلَّى فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ، وَزِدْ عَلَى ذَلِكَ كَمِثْلِ مَنْ صَلَّى فِي الْمَسْجِدِ النَّبَوِيِّ، وَزِدْ عَلَى ذَلِكَ كَمِثْلِ مَنْ صَلَّى فِي الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.

“Ya Allah, ampunilah seluruh kaum muslimin dan muslimat yang pernah aku ghibahi. Ya Allah, tambahkanlah kebaikan-kebaikan mereka. Ya Allah, tinggikanlah derajat mereka. Jadikanlah pahala seluruh shalat yang mereka kerjakan sepanjang hidup mereka seperti pahala orang yang shalat di Masjidil Haram, dan tambahkanlah seperti pahala orang yang shalat di Masjid Nabawi, serta tambahkanlah seperti pahala orang yang shalat di Masjidil Aqsha. Dengan rahmat-Mu, wahai Dzat Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.”

Jika melihat keadaan buruk

Engkau akan mendapati orang yang perilakunya buruk dalam interaksi masalah dunia atau agama, maka ingatlah hadis Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam:

> مَنْ رَأَى مُبْتَلًى فَقَالَ: الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي عَافَانِي مِمَّا ابْتَلَاكَ بِهِ، وَفَضَّلَنِي عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقَ تَفْضِيلًا، لَمْ يُصِبْهُ ذَلِكَ الْبَلَاءُ.

“Barang siapa melihat seseorang yang sedang tertimpa suatu ujian, lalu ia mengucapkan:
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي عَافَانِي مِمَّا ابْتَلَاكَ بِهِ، وَفَضَّلَنِي عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقَ تَفْضِيلًا.
‘Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkanku dari ujian yang menimpamu dan telah melebihkanku dengan kelebihan yang besar atas banyak makhluk yang telah Dia ciptakan,’ maka ujian tersebut tidak akan menimpanya.”

Maksud مُبْتَلًى adalah orang yang sedang mendapatkan ujian atau musibah, baik berupa penyakit maupun bentuk ujian lainnya. Doa ini sebaiknya diucapkan secara pelan/tidak terdengar oleh orang yang sedang diuji, agar tidak menyakiti perasaannya.

Amal tersembunyi

Amal terbaik yang dapat menambah keimanan adalah amal tersembunyi yang bersih dan dilakukan dengan ketakwaan.

Apa maksudnya?

Yaitu amal yang dilakukan semata-mata mengharap wajah Allah جل ثناؤه. Engkau tidak menginginkan dunia, kedudukan, kehormatan, wanita yang hendak dinikahi, menolak musibah, ataupun karena takut musibah menimpamu. Akan tetapi, amal itu murni untuk Rabb-mu جل شأنه tanpa diketahui seorang pun.

Sebaliknya, di antara kemaksiatan terburuk yang dapat menghancurkan amal-amal kebaikan adalah kemaksiatan yang terjadi antara dirimu dengan Allah, yang tidak diketahui siapa pun selain Rabb-mu, sementara engkau takut apabila perbuatan tersebut diketahui oleh orang lain, seperti ayahmu, ibumu, gurumu, imam masjidmu, atau siapa pun yang engkau hormati dan muliakan.

Harta dan pekerjaan

Wahai anakku, pilihlah pekerjaan yang dapat engkau kerjakan dengan tanganmu sendiri, yaitu pekerjaan yang menghasilkan harta meskipun sedikit, seperti bekerja di restoran, pertanian, atau suatu keterampilan tangan.

Jadilah bagian dari masyarakat kebanyakan dan jangan selalu memandang apa yang dimiliki orang lain. Dengan demikian, jiwamu akan tenteram dan engkau akan selamat.

Sisihkanlah sebagian hartamu untuk menanggung kehidupan seorang anak yatim, dan jadikanlah itu sebagai amal tersembunyi.

Wahai anakku, jangan jadikan harta sebagai tujuan hidup. Jadikanlah ia hanya sebagai sarana untuk menjalani kehidupan.

Memilih istri dan sahabat

Wahai anakku, apabila engkau hendak menikah, nikahilah wanita yang perhatian utamanya adalah agamanya. Agama menjadi hal terpenting baginya. Ia tidak memandang dan membandingkan apa yang dimiliki wanita lain, bersabar bersamamu menghadapi berbagai kesulitan kehidupan, serta membantumu dalam menjalankan agamamu.

Wahai anakku, apabila engkau hendak memilih seorang sahabat, bergaullah dengannya dan ujilah dirinya. Buatlah ia sangat marah. Apabila setelah itu ia kembali dan berusaha mencarikan alasan untukmu, maka ia adalah seorang sahabat. Namun apabila ia meninggalkanmu, berarti engkau telah terbebas darinya.

Nasihat-nasihat kehidupan

Wahai anakku, di antara amal terbesar untuk mendekatkan diri kepada Allah adalah berbakti kepada kedua orang tua, terutama kepada ibu.

Wahai anakku, berbaik sangkalah kepada setiap orang, siapa pun dia, dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.

Wahai anakku, shalat, shalat, dan shalat! Jagalah shalat, terutama shalat Subuh dan Isya. Jangan kembali tidur setelah shalat Subuh.

Wahai anakku, sambunglah hubungan silaturahim, niscaya umurmu dipanjangkan dan rezekimu dilapangkan.

Wahai anakku, perbanyaklah berdoa pada sepertiga malam ketika manusia sedang tidur. Mintalah akhirat terlebih dahulu, kemudian mintalah kebaikan dunia apa pun yang engkau kehendaki.

Wahai anakku, jauhilah kebohongan. Katakanlah kebenaran bagaimanapun keadaannya.

Wahai anakku, jangan membanggakan apa pun. Semua manusia pada akhirnya akan sirna. Nasab, harta, dan kemuliaan berasal dari Allah. Dia memberikannya kepada siapa yang Dia kehendaki. Setiap orang akan ditanya tentang apa yang telah diberikan kepadanya. Bersyukurlah kepada Allah atas keadaanmu, niscaya engkau menjadi manusia yang paling bahagia.

Fitnah teknologi dan dosa ketika sendirian

Wahai anakku, perangkat teknologi telah semakin banyak: komputer jinjing, komputer meja, tablet, dan telepon pintar. Di dalamnya kebaikan bercampur dengan keburukan. Aku pun tidak mengetahui perangkat apa lagi yang akan muncul pada masa mendatang.

Wahai anakku, berhati-hatilah, berhati-hatilah, dan sekali lagi berhati-hatilah ketika engkau sendirian bersama perangkat-perangkat tersebut dalam keadaan terhubung dengan internet.

Ketahuilah, ketika engkau sendirian dengannya, engkau dapat terjerumus ke dalam perangkap kemaksiatan tersembunyi. Maka jadikanlah Allah sebagai Pengawasmu ketika engkau sendirian seperti itu, niscaya engkau beruntung dan memperoleh kebaikan.

Bersabarlah menahan diri dari kemaksiatan dan berpegang teguhlah pada agamamu. Sesungguhnya berpegang teguh kepada agama pada masa yang sulit memiliki pahala yang sangat besar, sebagaimana disebutkan dalam riwayat tentang pahala lima puluh orang. Maka kuatkanlah tekadmu.

Menghadapi fitnah

Wahai anakku, apabila fitnah semakin banyak dan ujian semakin berat, berpeganglah kepada jamaah kaum muslimin dan ulama-ulama terpercaya, niscaya engkau selamat dari berbagai fitnah. Larilah dari fitnah sebagaimana mangsa melarikan diri dari pemangsanya, niscaya engkau selamat.

Wahai anakku, jauhilah, jauhilah, dan sekali lagi jauhilah sikap ghuluw (berlebih-lebihan dalam agama). Jangan sampai engkau melampaui batas dalam segala sesuatu sementara engkau mengira sedang berbuat baik, padahal sebenarnya tidak. Itulah kerugian dan penyesalan.

Bersama Al-Qur’an dan menjaga lisan

Wahai anakku, jadikanlah Al-Qur’an sebagai teman dudukmu. Bacalah dengan tadabbur dan istiqamahlah melakukannya. Khatamkanlah Al-Qur’an dalam satu bulan, meskipun hanya sekali.

Wahai anakku, kurangilah berbicara. Jadikanlah lisanmu senantiasa basah dengan dzikir kepada Allah atau digunakan untuk mengucapkan kebaikan, niscaya engkau beruntung dan memperoleh banyak kebaikan.

Berdakwah dengan keteladanan

Wahai anakku, jadikanlah manusia meneladani perbuatanmu, bukan sekadar perkataanmu.

Apabila engkau hendak menasihati seseorang, sampaikanlah nasihat itu melalui amal perbuatanmu. Dengan demikian, nasihatmu dapat sampai kepadanya tanpa harus banyak berbicara.

Demikianlah dalam setiap kebaikan yang ingin engkau nasihatkan kepada orang lain. Keteladanan merupakan salah satu cara terbaik dalam memberikan nasihat. Dengannya engkau dapat merebut hati manusia.

Betapa banyak muslim yang tinggal di negeri-negeri Barat menjadi sebab masuk Islamnya banyak orang melalui akhlak dan amal perbuatannya. Ia pun memperoleh keberuntungan besar di dunia dan akhirat.

Maka jadilah seperti itu. Berlomba-lombalah dalam kebaikan dan kuatkanlah tekadmu.

Yang terakhir, dulu Bapakku rahimahullah pernah menasehati agar perbanyak mendoakannya, beliau rahimahullah berkata: “Semakin banyak engkau mendoakanku, semakin banyak pula kelak anakmu mendoakanmu”,

Perbanyak doakan Bapak dan Ibu dengan mengucapkan:

1. Memohon kasih sayang untuk kedua orang tua

> رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

“Wahai Rabb-ku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidikku ketika kecil.” (QS. Al-Isra’: 24)

2. Memohon ampun untuk diri sendiri dan kedua orang tua

> رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ

“Wahai Rabb kami, ampunilah aku, kedua orang tuaku, dan seluruh orang beriman pada hari ditegakkannya perhitungan.” (QS. Ibrahim: 41)

3. Doa Nabi Nuh عليه السلام

> رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِمَنْ دَخَلَ بَيْتِيَ مُؤْمِنًا وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ

“Wahai Rabb-ku, ampunilah aku, kedua orang tuaku, orang yang memasuki rumahku dalam keadaan beriman, serta seluruh laki-laki dan perempuan yang beriman.” (QS. Nuh: 28)

4. Memohon agar mampu mensyukuri nikmat Allah kepada diri dan orang tua

> رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Wahai Rabb-ku, berilah aku kemampuan untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, agar aku dapat mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai. Berikanlah kebaikan kepadaku pada keturunanku. Sesungguhnya aku bertobat kepada-Mu dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”

(QS. Al-Ahqaf: 15)

Untuk doa singkat yang mudah diamalkan setiap hari, yang paling utama adalah:

اَللّهُمَّ اغْفِرْلِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَاكَمَارَبَّيَانِيْ صَغِيْرَا

Allahumma firlii wa liwaa lidhayya warham humaa kamaa rabbayaa nii shaghiraa.

Artinya: “Wahai Tuhanku. ampunilah aku dan kedua orang tuaku (ibu dan Bapakku), sayangilah mereka seperti mereka menyayangiku waktu aku kecil.”

Doakan juga seluruh kaum muslimin, agar engkau mendapatkan bagian dari doa mereka, dengan mengucapkan:
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِاِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْاِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا رَبَّنَآ اِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ ࣖ

“Ya Tuhan kami, ampunilah kami serta saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu daripada kami dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ḥasyr Ayat 10).

Banyak nasehat yang ingin aku sampaikan kepadamu, karena asam garam telah banyak kurasakan tapi aku takut, perkataan kedua akan menjadikanmu lupa nasehat pertama.

Harapanku kepada Allah agar mengumpulkan kita kelak diakhirat di surga firdausul a’la bersama para Nabi, orang jujur, para syuhada dan orang shalih, karena mereka sebaik-baik teman.

Amin Ya Rabbal ‘alamin.

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button