6 Hal Ini Menjadikan Shalatmu Lebih Berasa

24

Shalat adalah amalan yang dikerjakan seorang muslim lima kali sehari semenjak ia balig hingga akhir hidupnya. Namun, tidak sedikit kaum muslimin yang tidak merasakan nikmat dan indahnya melaksanakan shalat. Tak jarang kita saksikan banyak kaum muslimin yang tidak mengerjakannya atau masih ‘bolong-bolong’. Mungkin kelezatan shalat itu belum meresap ke sanubari mereka. Nah, kali ini kita akan membahas tentang shalat yang lebih berasa. Shalat yang membuat pandangan sejuk dan menenangkan hati. Shalat yang mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.

Ibnul-Qayyim dalam risalahnya kepada salah seorang saudaranya mengatakan bahwa shalat yang menyejukkan pandangan serta menenangkan hati ialah shalat yang memenuhi enam unsur sebagai berikut.

  1. Ikhlash

Ikhlas yang dimaksud ialah seorang hamba menjadikan faktor utama yang mendorong dirinya melaksanakan shalat ialah kecintaaannya kepada Allah, mencari ridha-Nya, mendekatkan diri pada-Nya dan memenuhi perintahNya.

Ia berdiri shalat dengan dipenuhi rasa cinta kepada Allah, ia bertakbir dengan keyakinan bahwa Allahlah yang menjadi tujuannya. Rukuk dan sujudnya ditujukkan hanya pada Allah. Wajah yang menjadi kemuliaannya diletakkan ke tanah karena Allah. Demikianlah hingga ia selesai dari shalatnya.

  1. Jujur dan sungguh-sungguh

Yaitu dengan mengosongkan hati untuk Allah. Shalat yang menyejukkan hati didapatkan ketika sang hamba mengerahkan usahanya untuk menghadapkan diri pada Allah dalam shalat. Sang hamba berusaha menyatukan hatinya di atas shalat dan melaksanakannya dengan sebaik-baiknya, sesempurna mungkin. Baik secara lahir maupun batin. Lahirnya berupa gerakan-gerakan shalat yang tampak dan bacaan-bacaan yang terdengar. Batinnya berupa kekhusyukan, merasa diawasi Allah, mengosongkan hati untuk-Nya, serta menghadapkan diri secara keseluruhan kepada-Nya. Sang hamba tidak memalingkan hatinya dari Allah kepada selain-Nya. Inilah yang diibaratkan sebagai ruh shalat. Sedangkan gerakan dan bacaan shalat sebagai tubuhnya. Shalat yang kehilangan ruhnya laksana tubuh yang tidak memiliki ruh.

  1. Mutaba’ah dan Iqtida’

Yang dimaksud dengan mutaba’ah atau iqtida’ adalah meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam shalatnya. Seorang hamba hendaknya memiliki semangat yang kuat dalam mecontoh Nabi dalam tata cara shalatnya. Berusaha mendirikan shalat sebagaimana Rasulullah mendirikan shalat. Meninggalkan apa yang dibuat-buat oleh banyak manusia. Tidak menambah atau mengurangi. Tidak mengerjakan hal-hal yang tidak diajarkan sama sekali. Menghindari semua hal yang tidak pernah diriwayatkan sama sekali dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ataupun para sahabatnya.

  1. Ihsan

Yang dimaksud denga ihsan ialah ketika seorang hamba beribadah kepada Allah seakan-akan ia melihat-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أن تعبد الله كأنك تراه فإن لم تكن تراه فإنه يراك

Artinya: “Kamu menyembah Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Muslim no. 8)

Unsur ini muncul dari kesempurnaan iman kepada Allah, nama dan sifat-Nya hingga seakan-akan (dengan ilmu dan imannya) ia melihat Allah di atas langit bersemayam di atas Arasy. Dia memerintah dan melarang, serta mengurusi semesta alam.

Ihsan inilah pondasi semua amalan-amalan hati. Ihsan mendatangkan ras malu kepada Allah, pengagungan, takzim, rasa takut, cinta, rasa selalu ingin kembali kepada-Nya, tawakal, tunduk pada-Nya, dan menghinakan diri di hadapan-Nya. Ihsan inilah yang akan memutus was-was dalam diri, menyatukan hati dan kehendak untuk Allah. Sehingga sang hamba akan meraih kedekatan kepada Allah subhanahu wata’ala sesuai kadar derajat ihsan. Sesuai kadar ihsan-lah terjadi perbedaan dalam shalat. Hingga terjadi perbedaan fadilah antara langit dan bumi pada dua orang yang melaksanakan shalat bersamaan. Padahal rukuk dan sujudnya bersamaan. Hal itu disebabkan oleh perbedaan tingkatan ihsan yang ada pada keduanya.

  1. Minnah (rasa berhutang budi)

Yang dimaksud dengan minnah adalah persaksian seorang hamba bahwasanya karunia itu sejatinya dari Allah subhanahu wata’ala. Allahlah yang mengizinkan dirinya untuk berdiri di tempat shalatnya. Allah memantaskannya, memberinya taufik untuk menegakkan hati dan tubuhnya untuk menghambakan diri pada-Nya. Kalau bukan karena Allah subhanahu wata’ala tidak akan terjadi hal tersebut.

Apabila sifat ini ada pada diri seseorang, niscaya ia akan terhindar dari sikap takjub pada dirinya sendiri dan sikap sombong. Bahkan apabila ia mendapati orang-orang yang tidak melaksanakan shalat, ia tidak akan merendahkan mereka. Karena sejatinya Allah-lah yang mengaruniakan hidayah padanya untuk mengerjakan shalat. Apa susahnya bagi Allah untuk membalikkan keadaan dirinya?!. Seyogyanya seorang hamba mengingat-ingat firman Allah berikut.

… بَلِ ٱللَّهُ يَمُنُّ عَلَيۡكُمۡ أَنۡ هَدَىٰكُمۡ لِلۡإِيمَٰنِ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ ١٧

Artinya: “… Sebenarnya Allah, Dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar.” (QS. Al-Hujurat : 17).

  1. Merasa kurang dan tidak memenuhi hak Allah

Seorang hamba apabila berusaha sekeras mungkin dalam melaksanaan perintah Allah, mengerahkan seluruh kemampuannya untuk itu, ia masih belum memenhi hak Allah subhanahu wa’tala atas dirinya yang harus ia tunaikan. Penghambaan, ketaatan, khidmat yang semestinya harus dipenuhi seorang hamba jauh lebih besar. Kebesaran Allah dan keagungan-Nya memiliki konsekuensi berupa penghambaan yang sepatut dengan kebesaran dan keagungan tersebut.

Seorang hamba hendaknya meyakini bahwa dirinya belum memenuhi hak Allah dalam menghambakan diri, bahkan belum memenuhi apa pun yang hampir dikatakan hak Allah. Apabila hal itu diyakini maka tahulah ia akan kekurangan dirinya. Tidak ada yang pantas ia lakukan selain meminta ampun dan memohon uzur atas kekurangannya itu. Olehnya itu, ia harus meyakini kebutuhannya terhadap ampunan Allah jauh lebih besar dari kebutuhannya terhadap pahala dari-Nya.

Apabila enam hal ini ada pada diri seseorang, niscaya pandangannya terhadap shalat akan berubah, shalatnya pun akan lebih baik. Jika shalatnya menjadi baik, maka baiklah seluruh urusan dalam hidupnya.

Diterjemahkan dan disadur dari kitab Risalah Ibnil-Qayyim Ila Ahadi Ikhwanih hal. 39-50 dengan sedikit tambahan.

Leave A Reply

Your email address will not be published.