Rasisme Dan Islam

240

Akhir-akhir ini kita disuguhkan dengan berita kerusuhan yang terjadi di Amerika Serikat disebabkan tindakan rasis seorang aparat keamanan terhadap seorang warga berkulit hitam yang menyebabkan kematiannya. Negara yang selama ini ‘diklaim’ menghormati hak-hak asasi manusia dan mengedepankan keadilan dan demokrasi, kebebasan berpendapat dan berekspresi, ternyata bertolak belakang dengan realitas kehidupan warganya. Apa yang digembar-gemborkan selama ini pada hakikatnya hanyalah propaganda dan framing media, apalagi sebagai seorang mukmin meyakini seyakin-yakinnya bahwa betapa pun majunya sebuah peradaban suatu negara jika ia kosong dari akidah dan tauhid yang benar maka ia hanyalah ibarat fatamorgana dan kamuflase, bahkan ibaratnya hanyalah api dalam sekam atau bom waktu yang sewaktu-waktu bisa meledak.. 

Allah berfirman, 

وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِى ٱلْأَرْضِ كَمَا ٱسْتَخْلَفَ ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ ٱلَّذِى ٱرْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّنۢ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًۭا ۚ يَعْبُدُونَنِى لَا يُشْرِكُونَ بِى شَيْـًۭٔا وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْفَٰسِقُونَ 

“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh, akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh, Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridai. Dan Dia benar-benar mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka (tetap) menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apa pun. Tetapi barangsiapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik. (QS. An-Nur: 55) 

Allah juga berfirman, 

لِإِيلافِ قُرَيْشٍ (1) إِيلافِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتاءِ وَالصَّيْفِ (2) فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هذَا الْبَيْتِ (3) الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ (4) 

“Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas. Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Kakbah). Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan”. (QS. Quraisy: 1-4) 

Kembali pada masalah rasisme 

Islam yang mulia mengutuk sekeras-kerasnya segala macam bentuk rasisme, bahkan ia dianggap bagian dari sifat dan perilaku jahiliah. Berbangga-bangga dalam agama Islam apa pun bentuk dan tendensinya adalah sesuatu yang dilarang dan dibenci, baik disebabkan karena garis keturunan, pangkat, jabatan, harta, warna kulit, dan lain sebagainya. 

Dalam Islam jiwa, harta, dan kehormatan adalah sesuatu yang sangat terjaga dan haram hukumnya bagi siapa pun dengan alasan apa pun untuk berbuat zalim terhadap ketiganya. Bahkan tidak tanggung-tanggung Allah lewat RasulNya menyebutkan bahwa yang melakukannya akan menjadi orang yang paling merugi dan bangkrut di hari Kiamat. Dalam hadis Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ، فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ – رواه مسلم 

 Tahukah kalian siapakah orang yang muflis (bangkrut) itu?  

Para sahabat menjawab, Orang yang muflis (bangkrut) di antara kami adalah orang yang tidak punya dirham dan tidak punya harta.  

Rasulullah bersabda, Orang muflis (bangkrut) dari umatku adalah orang yang datang pada hari Kiamat dengan (pahala) melaksanakan salat, menjalankan puasa dan menunaikan zakat, namun ia juga datang (membawa dosa) dengan mencela si ini, menuduh si ini, memakan harta si ini dan menumpahkan darah si ini serta memukul si ini. Maka akan diberinya orang-orang tersebut dari kebaikan-kebaikannya. Dan jika kebaikannya telah habis sebelum ia menunaikan kewajibannya, diambillah keburukan dosa-dosa mereka, lalu dicampakkan padanya dan ia dilemparkan ke dalam neraka. (HR. Muslim, Tirmizi & Ahmad) 

Suatu hari salah seorang sahabat yang mulia bernama Abu Dzar Al-Gifariy berselisih paham dengan muazin Rasulullah, Bilal bin Rabah yang berasal dari negeri Habasyah, berkulit hitam legam dan berstatus sebagai mantan budak. Disebabkan terbawa emosi dan perasaan spontan, Abu Dzar berkata pada Bilal, “Wahai anak seorang wanita berkulit hitam!”. Bilal tidak terima, beliau sangat tersinggung dan datang mengadukan perilaku Abu Dzar tersebut kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Mendengar laporan itu Rasulullah sangat marah dan memanggil Abu Dzar, dengan nada marah beliau bersabda,Engkau mencelanya dengan ibunya?! Sesungguhnya pada dirimu masih ada sifat-sifat jahiliah!”. 

Dalam kesempatan lain, dalam peristiwa Penaklukan Mekah, di tahun ke8 Hijriah, ketika Rasulullah bersama para sahabat menaklukkan Kota Mekah. Penduduk kota Mekah tidak berdaya dan dikejutkan dengan kedatangan Rasulullah dan pasukannya, Kakbah yang waktu itu masih dikelilingi dan diisi berhala-berhala sesembahan kaum musyrikin dihancurkan, dan kembalilah Mekah menjadi Kota Tauhid. Dalam kesempatan itu ketika masuk waktu salat, Rasulullah memerintahkan muazinnya, Bilal untuk naik ke atas Kakbah agar mengumandangkan azan. Bilal yang sebelum masuk Islam adalah mantan budak yang disiksa oleh majikannya, gurun dan bebatuan di Kota Mekah menjadi saksi betapa biadabnya perlakuan sang majikan kepada Bilal yang di kemudian hari beliau dibebaskan Abu Bakr dan dimuliakan oleh Islam. Ketika beliau telah naik ke atas Kakbah, bangunan yang sangat dimuliakan oleh orang-orang Arab, salah seorang yang melihatnya merasa tidak terima dan berkata, “Apakah Muhammad sudah tidak mendapatkan lagi selain burung gagak berkulit hitam ini?!” Ada pula yang berkata,Bersyukurlah ayahku telah meninggal dan tidak melihat pemandangan yang memalukan ini!”. Namun Subhanallah, bukanlah Nabi yang menjawabnya namun justru Allah menurunkan firmanNya demi membela Bilal bin Rabah sekaligus penegasan akan tidak adanya rasisme dalam agama Islam. 

﴿ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوباً وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ ﴾ 

Wahai sekalian manusia! Sesungguhnya kami menciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku untuk kalian saling kenal mengenal, sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui dan Maha mengenal”. (QS. Al-Hujurat : 13) 

Itulah Islam, tidak membedakan antara yang kaya dan yang miskin, antara bangsawan dan seorang budak, antara orang Arab dan non Arab, antara si kulit hitam dan kulit putih. Rasulullah bersabda, 

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ أَذْهَبَ عَنْكُمْ عُبِّيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ … أَنْتُمْ بَنُو آدَمَ، وَآدَمُ مِنْ تُرَابٍ 

“Sesungguhnya Allah telah menghilangkan dari kalian sifat-sifat jahiliah… kalin semua anak Adam dan Adam berasal dari tanah”. (HR. Ahmad) 

Bilal, mantan budak berkulit hitam dikabarkan Nabi bahwa suara terompah kakinya telah terdengar di suurga, adapun Abu Lahab paman Nabi, pemuka Quraisy yang terhormat di zamannya diabadikan Al-Quran bahwa tempatnya bersama istrinya di dalam neraka: 

إِنَّ اللَّهَ أَعَدَّ الجَنَّةَ لِلْمُتَّقِيْنَ وَلَوْ كَانَ عَبْدًا حَبَشِيًّا 

وَأَعَدَّ النَّارَ لِلْكُفَّارِ وَالفُّجَار وَلَوْ كَانَ حُرًّا قُرَشِيًّا 

“Sesungguhnya Allah menyiapakan surga untuk orang-orang yang bertakwa walau ia adalah seorang hamba sahaya dari Habasyah, dan menyiapkan neraka untuk orang-orang kafir dan para pendosa walau ia seorang bangsawan dari suku Quraisy”. 

Islam telah menyatukan antara Bilal dari Habasyah, Salman dari Persia, Shuhaib dari Romawi, dan Abu Dzar dari Gifar. 

Alhamdulillah atas nikmat Islam.. 

Leave A Reply

Your email address will not be published.