Motivasi Islami

Pendidikan Gratis

Pendidikan Gratis

Diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad dari ayahnya, dengan sanadnya sampai kepada ar-Rabi‘ bin Anas, ia berkata: Telah tertulis dalam kitab terdahulu:

ابْنَ آدَمَ عَلِّمْ مَجَّانًا، كَمَا عُلِّمْتَ مَجَّانًا.

“Wahai anak Adam, ajarkanlah (ilmu) secara cuma-cuma, sebagaimana engkau diajarkan secara cuma-cuma.” (Al-‘Ilal, hlm. 239)

Dan al-‘Allāmah asy-Syaukani رحمه الله berkata:

أَنَا قَدْ أَخَذْتُ الْعِلْمَ بِلاَ ثَمَنٍ، فَأُرِيدُ إِنْفَاقَهُ كَذَلِكَ.

“Aku telah mengambil ilmu tanpa membayar apa pun, maka aku ingin menyebarkannya dengan cara yang sama.” (Al-Badr ath-Thāli‘, jilid 2, hlm. 219)

Penjelasan

MasyaAllah… ini kalimatnya sederhana, tapi napasnya panjang sekali 🌿

Ungkapan yang dinukil, “Wahai anak Adam, ajarkanlah secara cuma-cuma sebagaimana engkau diajarkan secara cuma-cuma”, mengingatkan bahwa ilmu pada hakikatnya adalah karunia Allah, bukan hasil kepemilikan mutlak manusia. Kita lahir dalam keadaan tidak tahu apa-apa, lalu Allah kirimkan guru, orang tua, ulama, kitab, bahkan suasana yang membuat kita bisa belajar.

Banyak dari itu kita terima tanpa membayar dengan harga yang sebanding. Maka ada adab moral dan spiritual: jangan jadikan ilmu sebagai komoditas murni yang ditahan atau diperdagangkan tanpa pertimbangan maslahat, tetapi sebarkan ia sebagai amanah.

Perkataan Imam asy-Syaukani رحمه الله menegaskan ruh yang sama. Beliau merasa bahwa ilmu yang beliau peroleh bukan hasil transaksi materi, melainkan karunia dan kesempatan. Karena itu beliau ingin “menginfakkan” ilmu tersebut sebagaimana ia menerimanya: dengan kelapangan dan tanpa pamrih duniawi. Kata “إنفاق” di sini menarik—ilmu dipandang seperti harta kebaikan yang semakin bertambah saat dibelanjakan, bukan berkurang saat dibagi.

Namun maksudnya bukan berarti haram mengambil upah dari mengajar secara mutlak. Dalam fikih, para ulama membolehkan mengambil upah atas pengajaran Al-Qur’an dan ilmu syar‘i dengan syarat-syarat tertentu. Yang ditekankan dalam atsar ini adalah niat dan orientasi hati: apakah ilmu dijadikan tangga akhirat atau semata alat mencari dunia? Jika orientasinya akhirat, maka walaupun ada kompensasi, ruhnya tetap pengabdian. Tetapi jika orientasinya dunia semata, maka keberkahan bisa terangkat.

Pesan utamanya adalah membangun budaya ilmu yang penuh keikhlasan dan kemurahan. Ulama terdahulu banyak membuka majelis tanpa tarif, menulis kitab tanpa royalti, dan membimbing murid tanpa kontrak. Karena mereka sadar, ilmu ini dulu sampai kepada mereka melalui rantai keikhlasan yang panjang. Kalau satu generasi mulai menahannya demi keuntungan semata, rantai itu bisa melemah.

Jadi, ini bukan sekadar ajakan “gratis”, tapi ajakan menjaga kemurnian niat, melestarikan keberkahan transmisi ilmu, dan melihat diri sebagai mata rantai amanah—bukan pemilik terakhir dari cahaya yang Allah titipkan. 🌿

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button