Tatsqif

Kisah Hijrah Nabi ﷺ: Peristiwa Gua Tsur dan Dialog Suraqah bin Malik dengan Rasulullah ﷺ

Kisah Hijrah Nabi ﷺ: Peristiwa Gua Tsur dan Dialog Suraqah bin Malik dengan Rasulullah ﷺ

Sesungguhnya segala puji hanya milik Allah. Kita memuji-Nya, memohon pertolongan-Nya, memohon ampunan-Nya, dan bertobat kepada-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kita dan keburukan amal-amal kita. Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada seorang pun yang dapat menyesatkannya. Dan barang siapa disesatkan-Nya, maka tidak ada seorang pun yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada beliau, keluarga beliau, para sahabat beliau, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga Hari Kiamat.

Amma ba‘du.

Wahai kaum mukminin, sesungguhnya dalam sirah Nabi kita Muhammad ﷺ terdapat banyak hikmah, pelajaran, petunjuk yang lurus, dan jalan yang benar yang selayaknya direnungkan oleh orang-orang beriman serta diamalkan dalam kehidupan mereka.

Sirah beliau ﷺ penuh dengan kebaikan dan keberkahan. Sirah itu menjelaskan berbagai karunia yang Allah anugerahkan kepada nabi yang mulia ini dan kepada umat ini, berupa berbagai kebaikan yang terus mengalir hingga Allah mewarisi bumi dan seluruh yang ada di atasnya.

Pada masa sekarang, kebutuhan untuk merenungkan petunjuk Rasulullah ﷺ semakin besar. Kita perlu meneladani jalan hidup beliau dan metode yang beliau tempuh. Sebab tidak ada yang dapat memperbaiki umat ini kecuali apa yang dahulu telah memperbaiki generasi pertamanya, yaitu Rasulullah ﷺ dan para sahabat beliau yang mulia.

Sirah yang harum dari Nabi yang mulia ini, baik selama enam puluh tiga tahun umur beliau maupun selama dua puluh tiga tahun masa kenabian beliau, seluruhnya berisi petunjuk dan pelajaran yang harus direnungkan dan dipahami oleh setiap mukmin. Karena itu sebagian ulama mengatakan:

“Seorang muslim hendaknya mengetahui petunjuk dan sirah Rasulullah ﷺ dalam kadar yang dapat mengeluarkannya dari golongan orang-orang yang jahil terhadap beliau.”

Pada salah satu fase mulia dalam kehidupan Nabi ﷺ, kita berhenti sejenak untuk merenungkan sebuah peristiwa agung yang terjadi pada tahun ketiga belas kenabian, yaitu ketika Allah mengizinkan Nabi-Nya ﷺ berhijrah dari Makkah ke Madinah.

Sejak Allah mengutus beliau sebagai rasul, beliau terus mengajak kaumnya kepada pokok-pokok agama yang agung ini, yaitu mentauhidkan Allah, Rabb semesta alam. Namun kaum musyrikin menghadapi dakwah beliau dengan gangguan dan permusuhan. Meski demikian, beliau tetap bersabar. Orang-orang mulai masuk Islam satu demi satu, kemudian berkelompok demi berkelompok. Akan tetapi jumlah mereka masih sedikit dan dalam keadaan lemah.

Sementara itu, kaum Quraisy semakin bertambah dalam kesombongan dan gangguan mereka kepada Nabi ﷺ. Mereka juga semakin keras menyiksa para pengikut beliau, khususnya orang-orang yang tidak memiliki pelindung dari kabilahnya.

Kemudian gangguan itu semakin memuncak hingga tertuju langsung kepada pribadi Rasulullah ﷺ. Ketika tekanan terhadap kaum muslimin semakin berat, Nabi ﷺ menyarankan mereka berhijrah ke Habasyah (Ethiopia), dan beliau memberitahukan bahwa di sana terdapat seorang raja yang tidak menzalimi siapa pun.

Setelah itu, gangguan dan pemboikotan Quraisy terhadap Nabi ﷺ semakin berat. Mereka terus menghalangi dakwah beliau hingga akhirnya Allah mengizinkan Nabi-Nya untuk berhijrah dari Makkah ke Madinah.

Peristiwa besar ini bukanlah peristiwa biasa. Ia menjadi pemisah antara dua fase dakwah Islam:

Fase Makkah.

Fase Madinah.

Apabila besarnya suatu peristiwa diukur dari tokoh yang melakukannya, tempat terjadinya, dan dampaknya, maka pelaku hijrah ini adalah makhluk paling mulia, Muhammad ﷺ. Adapun tempatnya adalah dua kota termulia, Makkah dan Madinah.

Dengan izin dan pertolongan Allah, hijrah ini mengubah jalannya sejarah. Hijrah itu mengandung pengorbanan, kesabaran, kemenangan, tawakal, dan persaudaraan. Allah menjadikannya jalan menuju kejayaan Islam, tegaknya negara Islam yang pertama, dan terangkatnya panji Islam.

Hijrah juga merupakan peristiwa bersejarah yang Allah jadikan sebagai sebab terjaganya keberlangsungan Islam hingga akhir zaman. Allah Ta‘ala berfirman:

﴿ هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ ﴾

“Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar agar dimenangkan-Nya atas seluruh agama, meskipun orang-orang musyrik membencinya.” (At-Taubah: 33)

Peristiwa agung ini juga diabadikan dalam Al-Qur’an sebagai bukti pertolongan Allah kepada Nabi-Nya. Allah tidak membiarkan beliau sendirian menghadapi musuh-musuhnya, tetapi Allah sendiri yang menjaga, menolong, dan membelanya.

Allah berfirman:

﴿ إِلَّا تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا ﴾

“Jika kalian tidak menolongnya, maka sungguh Allah telah menolongnya ketika orang-orang kafir mengusirnya, sedang dia adalah salah satu dari dua orang ketika keduanya berada di dalam gua. Ketika dia berkata kepada sahabatnya, ‘Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.'” (At-Taubah: 40)

Pada saat itu Quraisy sedang menyusun berbagai makar untuk mengepung, mengganggu, bahkan membunuh Rasulullah ﷺ.

Allah berfirman:

﴿ وَإِذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِيُثْبِتُوكَ أَوْ يَقْتُلُوكَ أَوْ يُخْرِجُوكَ وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ ﴾

“Dan ingatlah ketika orang-orang kafir merencanakan tipu daya terhadapmu untuk menangkapmu, membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka. Dan Allah adalah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (Al-Anfal: 30)

Ketika itu Quraisy belum mengetahui bahwa Allah telah mengizinkan Nabi-Nya ﷺ meninggalkan Makkah menuju kota hijrah dan pertolongan, yaitu Madinah Al-Munawwarah.

Rasulullah ﷺ meninggalkan rumah beliau setelah terlebih dahulu memberitahukan secara rahasia kepada Abu Bakar tentang rencana hijrah tersebut, sesuatu yang tidak diketahui oleh siapa pun selain mereka berdua.

Beliau keluar pada malam 27 Safar tahun ke-14 kenabian. Pada siang hari sebelumnya, beliau mendatangi rumah Abu Bakar secara sembunyi-sembunyi, pada waktu yang tidak biasa, untuk menyampaikan kabar bahwa Allah telah mengizinkan beliau berhijrah.

Ketika Rasulullah ﷺ datang ke rumahnya, Abu Bakar segera mengetahui bahwa ada sesuatu yang sangat penting. Saat mendengar kabar hijrah tersebut, Abu Bakar khawatir kehilangan kehormatan menjadi teman perjalanan Rasulullah ﷺ. Maka beliau segera meminta izin untuk menemani Nabi ﷺ, dan Rasulullah mengizinkannya.

Abu Bakar memang telah mempersiapkan dua ekor unta untuk keperluan hijrah. Beliau juga menyewa seorang penunjuk jalan dari Bani Ad-Diil bernama Abdullah bin Uraiqith, seorang yang sangat mahir dan mengenal jalur perjalanan dengan baik.

Beliau menyerahkan kedua unta tersebut kepada Abdullah bin Uraiqith untuk dipelihara, dan mereka bersepakat untuk bertemu di Gua Tsur setelah tiga malam.

Sementara itu, Aisyah dan Asma’, dua putri Abu Bakar radhiyallahu ‘anhuma, menyiapkan bekal dan kebutuhan perjalanan. Asma’ radhiyallahu ‘anha merobek ikat pinggangnya yang biasa digunakan untuk mengikat pakaiannya menjadi dua bagian untuk mengikat bekal makanan. Sejak hari itu ia dikenal dengan julukan Dzātun-Nithāqain (Pemilik Dua Ikat Pinggang).

Rasulullah ﷺ memerintahkan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu untuk tetap tinggal di Makkah guna mengembalikan barang-barang titipan masyarakat yang selama ini mereka percayakan kepada Rasulullah ﷺ.

Kemudian Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar keluar melalui pintu belakang rumah untuk meninggalkan Makkah sebelum fajar menyingsing.

Karena Rasulullah ﷺ mengetahui bahwa jalan menuju Madinah akan menjadi pusat perhatian Quraisy dan mereka pasti mengirim para pencari jejak untuk mengawasinya, maka beliau tidak menuju ke arah utara, yaitu arah Madinah. Sebaliknya, beliau mengambil jalan yang berlawanan, yaitu ke arah selatan Makkah menuju Yaman hingga sampai ke sebuah gunung yang dikenal sebagai Jabal Tsur.

Dalam masa persembunyian beliau di gua tersebut, masing-masing memiliki tugas penting:

Abdullah bin Uraiqith sebagai penunjuk jalan.

Amir bin Fuhairah membantu dan melayani kebutuhan mereka.

Asma’ binti Abu Bakar mengantarkan bekal makanan.

Sementara itu kaum musyrikin menyebar mencari Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar setelah mengetahui keduanya tidak lagi berada di Makkah. Mereka menyusuri berbagai jalan dan memeriksa gunung-gunung hingga akhirnya tiba sangat dekat dengan Gua Tsur.

Pada saat itu Rasulullah ﷺ dapat mendengar langkah kaki kaum musyrikin yang berada sangat dekat dengan mereka.

Dalam Shahih Al-Bukhari disebutkan bahwa Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu berbisik kepada Rasulullah ﷺ:

“Aku berkata kepada Nabi ﷺ ketika kami berada di dalam gua: ‘Seandainya salah seorang dari mereka melihat ke bawah kedua kakinya, niscaya ia akan melihat kita.'”

Maka Rasulullah ﷺ bersabda:

“Wahai Abu Bakar, bagaimana pendapatmu tentang dua orang yang Allah adalah Yang Ketiga bersama mereka?”

Beliau mengucapkan kalimat itu dengan penuh tawakal kepada Rabbnya, keyakinan yang sempurna kepada-Nya, penyerahan diri kepada-Nya, dan optimisme terhadap pertolongan Allah. Dan Allah selalu sesuai dengan prasangka baik hamba-Nya kepada-Nya.

Setelah Allah memalingkan kaum musyrikin dari menemukan mereka, Rasulullah ﷺ tetap tinggal di Gua Tsur selama tiga malam hingga pencarian mulai mereda.

Kemudian pada malam tanggal 1 Rabiul Awal tahun ke-14 kenabian, beliau dan Abu Bakar keluar dari gua. Mereka ditemani oleh Abdullah bin Uraiqith sebagai penunjuk jalan dan Amir bin Fuhairah sebagai pelayan dan pendamping perjalanan. Dengan demikian mereka berjumlah tiga orang, sementara sang penunjuk jalan menjadi orang keempat.

Peristiwa besar inilah yang diabadikan dan dimuliakan oleh Al-Qur’an.

Namun Quraisy tidak menghentikan usaha mereka untuk menemukan Rasulullah ﷺ. Mereka sadar bahwa apabila beliau berhasil keluar dari Makkah dan mendapatkan pendukung di tempat lain, mereka tidak akan mampu lagi menguasai atau menghalangi dakwah beliau. Mereka mengetahui betapa besar pengaruh Rasulullah ﷺ terhadap hati manusia.

Karena itu Quraisy menetapkan hadiah besar bagi siapa saja yang berhasil menangkap Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar, hidup ataupun mati. Hadiahnya mencapai seratus ekor unta.

Akhirnya salah seorang penunggang kuda Quraisy berhasil mendekati Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar di tengah perjalanan.

Adapun Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, karena besarnya kecintaan dan perhatiannya kepada Rasulullah ﷺ, terkadang berjalan di samping beliau untuk menemani dan mengajaknya berbicara. Terkadang ia berjalan di depan, terkadang di belakang, terkadang di kanan, dan terkadang di kiri beliau.

Ketika ditanya mengenai hal itu, Abu Bakar menjelaskan:

“Aku berpikir, apabila pengejar dari Quraisy datang dari arah tertentu, maka biarlah aku yang terkena terlebih dahulu dan terbunuh, sementara engkau selamat wahai Rasulullah.”

Salah seorang kesatria Quraisy yang berhasil mendekati mereka adalah Suraqah bin Malik.

Suraqah sendiri kemudian menceritakan kisah tersebut. Ia mengaku bahwa tujuan awalnya adalah mendapatkan hadiah yang dijanjikan Quraisy.

Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu juga menceritakan peristiwa itu. Ketika melihat Suraqah mendekat, ia memberitahukan Rasulullah ﷺ tentang keberadaan seseorang di kejauhan.

Suraqah berkata bahwa ia melihat beberapa sosok yang berjalan di dekat jalur pesisir yang tidak biasa digunakan menuju Madinah. Maka ia segera mengambil kudanya dan tombaknya lalu berangkat dengan cepat.

Namun ketika hampir mendekati mereka, kudanya tersandung dan ia terjatuh.

Ia bangkit dan mencoba lagi. Namun kudanya kembali tersungkur.

Meskipun demikian, keinginannya untuk memperoleh hadiah membuatnya terus mengejar.

Yang mengherankannya, tanah di tempat itu keras dan padat, namun kaki kudanya berkali-kali terperosok ke dalam tanah. Saat itulah ia mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang luar biasa sedang terjadi dan bahwa kedua orang tersebut berada dalam perlindungan Allah.

Ketika ia mencoba sekali lagi, kedua kaki kudanya tenggelam hingga lututnya ke dalam tanah.

Saat itu Suraqah yakin bahwa Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar benar-benar dijaga oleh Allah. Maka ia meminta jaminan keamanan dan berjanji akan merahasiakan keberadaan mereka.

Ketika berada di hadapan Rasulullah ﷺ, ia dikejutkan oleh sabda beliau:

“Bagaimana keadaanmu wahai Suraqah apabila engkau kelak memakai gelang-gelang Kisra?”

Suraqah sangat heran. Di hadapannya ada seorang yang sedang diburu dan keluar dari Makkah dalam keadaan terancam, tetapi justru menjanjikannya perhiasan milik Kisra, penguasa Persia, salah satu raja terbesar dan terkuat pada masa itu.

Suraqah pun memenuhi janjinya. Dalam perjalanan pulang, setiap kali ia bertemu orang yang hendak mencari Rasulullah ﷺ, ia berkata:

“Pulangkalah, tidak ada seorang pun di sana.”

Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu kemudian sering menceritakan peristiwa ini dan menyebutkan bahwa Suraqah benar-benar menepati janjinya dengan menghalangi orang-orang yang hendak mengejar Rasulullah ﷺ.

Pelajaran penting dari kisah ini, wahai saudara-saudaraku yang beriman, adalah bahwa Rasulullah ﷺ melaksanakan hijrah ini sebagai bentuk ketaatan kepada perintah Allah dan tawakal kepada-Nya.

Padahal beliau mengetahui bahwa seandainya Allah menghendaki, Dia dapat memindahkan beliau dari Makkah ke Madinah dalam sekejap mata.

Beliau telah menyaksikan hal itu sebelumnya pada peristiwa Isra dan Mi’raj, ketika Allah memperjalankan beliau dari Makkah ke Baitul Maqdis, lalu naik ke langit-langit yang tinggi, semuanya dalam waktu yang sangat singkat.

Namun Allah menghendaki agar hijrah dilakukan dengan perencanaan, persiapan, pengaturan strategi, dan pengambilan sebab-sebab yang nyata.

Tujuannya adalah agar manusia belajar bahwa tawakal tidak berarti meninggalkan sebab, tetapi tawakal harus disertai usaha, perencanaan, dan ikhtiar yang maksimal.

Dalam Shahih Muslim, Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu berkata:

“Aku melihat kaki-kaki kaum musyrikin ketika kami berada di dalam gua, sedangkan mereka tepat berada di atas kami. Aku berkata: ‘Wahai Rasulullah, seandainya salah seorang dari mereka melihat ke arah kedua kakinya, niscaya ia akan melihat kita.’ Maka beliau bersabda:

‘Wahai Abu Bakar, bagaimana pendapatmu tentang dua orang yang Allah adalah Yang Ketiga bersama mereka?'”

Imam An-Nawawi rahimahullah ketika menjelaskan hadis ini berkata:

“Di dalamnya terdapat penjelasan yang sangat agung tentang tawakal Nabi ﷺ kepada Allah, bahkan dalam situasi yang sangat genting seperti itu. Dan di dalamnya terdapat keutamaan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, yang merupakan salah satu keutamaan terbesar beliau.”

Benarlah apa yang dikatakan Imam An-Nawawi. Peristiwa ini termasuk salah satu kemuliaan terbesar Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, karena Allah mengabadikannya dalam Al-Qur’an:

﴿ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا ﴾

“Ketika orang-orang kafir mengusirnya, sedang dia adalah salah satu dari dua orang ketika keduanya berada di dalam gua, ketika dia berkata kepada sahabatnya: ‘Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.'” (At-Taubah: 40).

Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu menceritakan kepada kita tentang apa yang terjadi antara dirinya, Rasulullah ﷺ, dan Suraqah. Sebagaimana disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari, beliau berkata:

“Kami melanjutkan perjalanan setelah matahari condong ke barat. Kemudian Suraqah bin Malik mengejar kami. Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, kita telah disusul!’ Maka beliau bersabda:

‘Janganlah bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.’

Demikianlah Rasulullah ﷺ senantiasa menampakkan tawakal dan penyerahan diri yang sempurna kepada Rabb-Nya. Beliau berkata:

‘Janganlah bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.’

Lalu Nabi ﷺ berdoa terhadap Suraqah, sehingga kudanya terperosok ke dalam tanah sampai ke perutnya.

Suraqah berkata:

‘Aku melihat bahwa kalian berdua telah berdoa terhadapku. Maka berdoalah untukku. Demi Allah, aku akan menghalangi orang-orang yang mengejar kalian.’

Maka Nabi ﷺ mendoakannya, lalu ia pun selamat.

Sejak itu, setiap kali Suraqah bertemu seseorang yang sedang mencari Rasulullah ﷺ, ia berkata:

‘Aku sudah memeriksa daerah ini untuk kalian, tidak ada siapa-siapa di sini.’

Setiap orang yang ditemuinya selalu ia suruh kembali. Abu Bakar berkata:

‘Dan Suraqah benar-benar menepati janjinya kepada kami.’

Demikian riwayat Al-Bukhari.

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata:

“Pada awal hari itu, Suraqah adalah orang yang paling bersemangat, paling gigih, dan paling keras berusaha mencari Rasulullah ﷺ untuk mencelakakan beliau. Namun pada akhir hari itu, ia justru menjadi penjaga beliau dengan senjatanya.”

Maksudnya, Suraqah akhirnya menjadi pelindung Rasulullah ﷺ. Setelah menyaksikan mukjizat besar tersebut, ia kemudian masuk Islam.

Hari-hari pun berlalu.

Setelah Suraqah masuk Islam, setelah Fathu Makkah, Perang Hunain, dan penaklukan Persia, harta rampasan perang dibawa kepada Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu pada masa kekhalifahannya.

Maka Umar memberikan kepada Suraqah dua gelang Kisra, sebagai realisasi janji Rasulullah ﷺ yang pernah beliau sampaikan kepadanya ketika hijrah.

Para ulama menyebut hal ini sebagai salah satu mukjizat Rasulullah ﷺ.

Al-‘Allamah Al-Mawardi rahimahullah berkata:

“Di antara mukjizat Rasulullah ﷺ adalah perlindungan Allah terhadap beliau dari musuh-musuhnya. Musuh-musuh beliau sangat banyak, penuh kebencian dan sangat bersemangat untuk membunuh atau mengusir beliau. Namun beliau tetap hidup di tengah-tengah mereka, bergaul dengan mereka dan menghadapi mereka.

Mata-mata mereka selalu mengawasinya dengan penuh kebencian, tetapi tangan-tangan mereka selalu gagal menyentuhnya karena ketakutan yang Allah tanamkan dalam hati mereka.

Para sahabat beliau bahkan berhijrah meninggalkan Makkah karena khawatir terhadap keselamatan mereka, sedangkan Rasulullah ﷺ tetap tinggal di tengah mereka selama tiga belas tahun.

Kemudian beliau keluar dari Makkah dalam keadaan selamat, tanpa terluka sedikit pun pada jiwa maupun tubuhnya.

Semua itu tidak lain karena perlindungan Ilahi yang telah Allah janjikan kepada beliau.”

Allah Ta’ala berfirman:

﴿ وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ ﴾

“Dan Allah akan memeliharamu dari (gangguan) manusia.” (Al-Ma’idah: 67)

Maka Allah benar-benar melindungi beliau.

Selesai ucapan Al-Mawardi rahimahullah.

Wahai saudara-saudaraku yang beriman,

Maksud penting yang ingin ditegaskan adalah bahwa hijrah Nabi ﷺ mengandung pelajaran dan pengaruh yang sangat besar. Hikmah-hikmahnya tidak hanya berlaku pada masa kenabian saja, tetapi harus terus dipetik oleh kaum muslimin di setiap zaman dan tempat.

Hijrah membawa berbagai kebaikan, bukan hanya untuk kaum muslimin, tetapi juga untuk seluruh umat manusia. Sebab dengan hijrah itu, agama Islam tetap terjaga hingga hari kiamat.

Peradaban Islam yang lahir setelah hijrah telah memberikan jalan yang terang bagi manusia setelah sebelumnya mereka tenggelam dalam kegelapan syirik.

Melalui syariat Muhammad ﷺ, manusia kembali kepada tauhid.

Syariat ini, meskipun sering diserang, disalahpahami, dan dicemarkan oleh musuh-musuhnya atau bahkan oleh sebagian pengikutnya sendiri, tetap menawarkan solusi bagi manusia untuk keluar dari kezaliman dan penindasan yang terjadi di antara mereka.

Karena itu, tidak ada jalan keluar dari kesempitan, kesedihan, dan berbagai krisis, baik bagi individu, kelompok, maupun umat, kecuali dengan kembali kepada petunjuk Nabi ﷺ dan syariat beliau.

Allah Ta’ala berfirman:

﴿ لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا ﴾

“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah suri teladan yang baik bagi orang yang mengharap Allah dan Hari Akhir serta banyak mengingat Allah.” (Al-Ahzab: 21)

Maka perbanyaklah shalawat dan salam kepada Nabi yang mulia ini, sebagaimana Allah memerintahkan dalam firman-Nya:

﴿ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا ﴾

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuknya dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan.” (Al-Ahzab: 56)

Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah melimpahkan shalawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.

Ya Allah, ridhailah para khalifah yang lurus dan para imam yang mendapat petunjuk: Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali, serta seluruh sahabat dan tabi’in, dan jadikan kami bersama mereka dengan rahmat-Mu, wahai Dzat Yang Maha Penyayang.

Ya Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah lebih dahulu beriman. Janganlah Engkau jadikan dalam hati kami rasa dengki terhadap orang-orang beriman. Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.

Ya Allah, karuniakanlah keamanan dan stabilitas bagi negeri kami. Langgengkanlah nikmat iman kepada kami dan tetapkan kami di atasnya hingga kami berjumpa dengan-Mu.

Ya Allah, perbaikilah para pemimpin dan penguasa kami. Berilah mereka taufik kepada segala yang membawa kebaikan bagi rakyat dan negeri. Jadikan mereka para pemberi petunjuk yang mendapat petunjuk, bukan orang yang sesat dan menyesatkan. Karuniakan kepada mereka para penasihat yang saleh dan jauhkan mereka dari penasihat yang buruk.

Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari segala fitnah, yang tampak maupun yang tersembunyi.

Ya Allah, siapa saja yang menghendaki keburukan terhadap kami, terhadap Islam dan kaum muslimin, maka sibukkanlah dia dengan dirinya sendiri dan jadikan makar mereka berbalik menghancurkan diri mereka sendiri.

Ya Allah, teguhkan langkah saudara-saudara kami yang berjaga di perbatasan dan daerah pertahanan. Lindungilah mereka dengan perlindungan-Mu, kuatkan mereka dengan pertolongan-Mu, jadikan kemenangan sebagai akhir perjuangan mereka dan keselamatan sebagai tempat kembali mereka.

Ya Allah, ampunilah kami dan kedua orang tua kami, serta sayangilah mereka sebagaimana mereka telah mendidik kami ketika kecil.

Ya Allah, perbaikilah niat-niat kami, keturunan kami, dan pasangan-pasangan kami.

Ya Allah, perbaikilah keadaan kaum muslimin di seluruh dunia, satukan hati mereka dan kumpulkan mereka di atas kebenaran.

Ya Allah, hilangkan kesedihan orang-orang yang bersedih, lapangkan kesulitan orang-orang yang tertimpa musibah, lunasilah utang orang-orang yang berutang, dan sembuhkanlah orang-orang yang sakit di antara kami dan seluruh kaum muslimin.

Ya Allah, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia, kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.

Mahasuci Rabb kami, Rabb Yang Mahaperkasa, dari apa yang mereka sifatkan. Salam sejahtera atas para rasul. Dan segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.

Semoga bermanfaat.

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button