Tatsqif

IBADAH ANTARA TAKUT, HARAP DAN CINTA

IBADAH ANTARA TAKUT, HARAP DAN CINTA

Segala puji bagi Allah, selawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah. Amma ba‘du:

Rasa takut (khauf) dan harapan (raja’) bagi seorang mukmin bagaikan dua sayap bagi seekor burung. Dengan keduanya ia terbang di langit penghambaan kepada Rabb-nya ‘Azza wa Jalla. Karena itu harus ada keseimbangan dan keselarasan antara rasa takut dan harapan agar kehidupan seorang mukmin menjadi lurus di dunia dan ia memperoleh kenikmatan di akhirat. Sebab, terlalu mendominankan rasa takut tanpa kebutuhan akan hal itu dapat menyeret kepada keputusasaan, sedangkan terlalu mendominankan harapan tanpa kebutuhan akan hal itu dapat menyeret kepada rasa aman yang menyebabkan kelalaian dan meremehkan dosa.

Batas sikap pertengahan dalam hal ini adalah: seseorang lebih menguatkan sisi takut ketika memang dibutuhkan, dan lebih menguatkan sisi harapan ketika memang dibutuhkan. Orang yang banyak bermaksiat namun hatinya dipenuhi ketakutan yang berlebihan membutuhkan penguatan sisi harapan. Adapun orang yang bermaksiat dalam keadaan merasa aman, maka ia membutuhkan penguatan sisi takut dibanding sisi harapan.

Ibn al-Qayyim berkata:
“السَّلف استحبُّوا أن يُقَوِّي في الصِّحَّة جناح الخوْف على جناح الرَّجاء، وعند الخروج من الدُّنيا يقوِّي جناح الرَّجاء على جناح الخوْف، هذه طريقة أبي سليمان وغيره”.
“Para salaf menyukai agar seseorang pada masa sehatnya menguatkan sayap takut dibanding sayap harapan. Sedangkan ketika menjelang keluar dari dunia (kematian), hendaknya ia menguatkan sayap harapan dibanding sayap takut. Inilah metode Abu Sulaiman dan selainnya.”

Beliau juga berkata:
“ينبغي للقلْب أن يكون الغالب عليه الخوف، فإذا غلب الرجاء فَسَدَ”.
“Yang seharusnya mendominasi hati adalah rasa takut. Jika harapan lebih dominan, maka hati akan rusak.”

Ulama lainnya berkata:
“أكمل الأحْوال اعْتدال الرَّجاء والخوف، وغلبةُ الحب؛ فالمحبَّة هي المرْكَبُ، والرَّجاء حادٍ، والخوف سائق، والله الموصل بمنِّه وكرمه”. اهـ.
“Keadaan paling sempurna adalah seimbangnya harapan dan rasa takut, dengan dominannya cinta. Cinta adalah kendaraan, harapan adalah pemandu, dan rasa takut adalah penggiring. Allah-lah yang menyampaikan hamba dengan karunia dan kemurahan-Nya.” Selesai.

Hafizh al-Hakami berkata dalam “Al-Manzhumah Al-Mimiyyah fi Al-Washaya wal Adab Al-‘Ilmiyyah”:
واقْنُتْ، وَبَيْنَ الرَّجَا وَالْخَوْفِ قُمْ أَبَدًا تَخْشَى الذُّنُوبَ، وَتَرْجُو عَفْوَ ذِي الْكَرَمِ

فَالْخَوْفُ مَا أَوْرَثَ التَّقْوَى، وَحَثَّ عَلَى مَرْضَاةِ رَبِّي، وَهَجْرِ الْإِثْمِ وَالْإِثَمِ

كَذَا الرَّجَا مَا عَلَى هَذَا يَحُثُّ لِتَقْصِدْ يَقِينٌ بِمَوْعُودِ رَبِّي بِالْجَزَا الْعَظَمِ

وَالْخَوْفُ إِنْ زَادَ أَفْضَى لِلْقُنُوطِ كَمَا يُفْضِي الرَّجَاءُ مِنَ الْمَكْرِ وَالنِّقَمِ

فَلَا تُفَرِّطْ، وَلَا تُفْرِطْ، وَكُنْ وَسَطًا وَامْثُلْ مَا أَمَرَ الرَّحْمٰنُ فَاسْتَقِمْ

Dan beribadahlah dengan khusyuk. Tegaklah selalu antara harap dan takut;
engkau takut kepada dosa-dosa, dan berharap ampunan dari Dzat Yang Maha Pemurah.
Karena rasa takut adalah yang melahirkan ketakwaan dan mendorong menuju
keridaan Rabbku, serta meninggalkan dosa dan segala kemaksiatan.
Demikian pula harapan, ia pun mendorong kepada hal itu agar engkau bersikap lurus,
dengan keyakinan terhadap janji Rabbku berupa pahala yang agung.
Dan rasa takut apabila berlebihan akan menyeret kepada keputusasaan,
sebagaimana harapan yang berlebihan dapat menjerumuskan kepada merasa aman dari makar dan hukuman Allah.
Maka jangan meremehkan, jangan pula berlebihan, tetapi bersikaplah pertengahan;
laksanakan apa yang diperintahkan Ar-Rahman, lalu istiqamahlah.

Allah Ta‘ālā telah menyebutkan rasa takut berdampingan dengan harapan di banyak tempat dalam Al-Qur’an. Di antaranya firman Allah Jalla Jalaluh:

﴿أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ ءَانَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ﴾
“Apakah orang yang beribadah pada waktu malam dengan sujud dan berdiri, ia takut kepada akhirat dan mengharap rahmat Rabb-nya…” (QS. Az-Zumar: 9)

Dan firman-Nya:

﴿اعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ وَأَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ﴾
“Ketahuilah bahwa Allah sangat keras hukuman-Nya dan bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ma’idah: 98)

Dan firman-Nya:

﴿نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ ۝ وَأَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ الْأَلِيمُ﴾
“Beritakanlah kepada hamba-hamba-Ku bahwa Aku-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan bahwa azab-Ku adalah azab yang sangat pedih.” (QS. Al-Hijr: 49-50)

Dan firman-Nya:

﴿أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ﴾
“Mereka yang diseru itu sendiri mencari jalan untuk mendekatkan diri kepada Rabb mereka, siapa di antara mereka yang lebih dekat, mereka mengharap rahmat-Nya dan takut kepada azab-Nya.” (QS. Al-Isra’: 57)

Dan firman-Nya:

﴿إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا﴾
“Sesungguhnya mereka dahulu bersegera dalam kebaikan dan berdoa kepada Kami dengan harap dan takut.” (QS. Al-Anbiya’: 90)

Serta firman-Nya:

﴿يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا﴾
“Mereka berdoa kepada Rabb mereka dengan rasa takut dan harap.” (QS. As-Sajdah: 16)

Dari Anas bin Malik raḍiyallāhu ‘anhu, bahwa Nabi ﷺ masuk menemui seorang pemuda yang sedang menghadapi kematian, lalu beliau bertanya:
((كيف تَجِدُكَ؟)) قالَ: واللهِ يا رسولَ اللهِ، إنِّي أَرْجُو اللهَ، وإنِّي أخَافُ ذُنُوبِي، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ – صلَّى اللهُ عليْه وسلَّم -: ((لا يَجْتَمِعَانِ في قَلْبِ عَبْدٍ في مِثْلِ هَذا الْمَوْطِنِ؛ إلاَّ أعْطَاهُ اللهُ ما يَرْجُو، وآمَنَهُ ممَّا يَخَافُ)).
“Bagaimana keadaanmu?”

Pemuda itu menjawab: “Demi Allah wahai Rasulullah, aku berharap kepada Allah dan aku takut terhadap dosa-dosaku.”

Maka Rasulullah ﷺ bersabda:

“Tidaklah keduanya berkumpul dalam hati seorang hamba pada keadaan seperti ini melainkan Allah akan memberinya apa yang ia harapkan dan mengamankannya dari apa yang ia takutkan.”

(HR. At-Tirmidzi, An-Nasa’i dalam Al-Kubra, dan Ibnu Majah. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wat Tarhib no. 3383)

Dalam hadis dari Abu Hurairah raḍiyallāhu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda bahwa
((يقول الله – عزَّ وجلَّ -: وعزَّتي، لا أجمع على عبدي خوفَين، ولا أجْمع له أمنَين، إذا أمِنَني في الدُّنيا، أخفتُه يوم القيامة، وإذا خافني في الدُّنيا، أمنته يوم القيامة)).
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
“Demi kemuliaan-Ku, Aku tidak akan mengumpulkan bagi hamba-Ku dua ketakutan, dan tidak pula dua rasa aman. Jika ia merasa aman dari-Ku di dunia, maka Aku akan membuatnya takut pada hari kiamat. Dan jika ia takut kepada-Ku di dunia, maka Aku akan memberinya rasa aman pada hari kiamat.”

(HR. Al-Baihaqi dalam Syu‘ab Al-Iman, dishahihkan oleh Al-Albani)

Dari Abu Juhayyfah raḍiyallāhu ‘anhu, mereka berkata:.
يا رسول الله، قد شِبت! قال: ((شيَّبتني هود وأخواتها)).
“Wahai Rasulullah, engkau telah beruban.”

Beliau menjawab: “Surah Hud dan saudari-saudarinya telah membuatku beruban.”

(HR. Ath-Thabarani dan Abu Ya‘la. Al-Albani berkata: sanadnya baik dalam Ash-Shahihah no. 955)

Karena itulah para salaf rahimahumullah mengucapkan sebuah perkataan yang masyhur:
“مَنْ عبدَ الله بالحبِّ وحده، فهو زنديق، ومَن عبدَه بالخوف وحْده، فهو حروريٌّ – أي: خارجي – ومَن عبدَه بالرَّجاء وحْده، فهو مرجئ، ومن عبدَه بالخوف والحب والرَّجاء، فهو مؤمن موحِّد”.
“Barang siapa beribadah kepada Allah dengan cinta saja, maka ia seorang zindiq. Barang siapa beribadah kepada-Nya dengan rasa takut saja, maka ia seorang Haruri (Khawarij). Barang siapa beribadah kepada-Nya dengan harapan saja, maka ia seorang Murji’ah. Dan barang siapa beribadah kepada-Nya dengan rasa takut, cinta, dan harapan, maka ia adalah mukmin yang bertauhid.”

Ibn al-Qayyim berkata:
“القلب في سيره إلى الله – عزَّ وجلَّ – بمنزلة الطَّائر؛ فالمحبَّة رأسه، والخوف والرَّجاء جناحاه، فمتى سلِم الرَّأس والجناحان، فالطائر جيِّدُ الطيران، ومتى قطع الرأس، مات الطائر، ومتى فقد الجناحان، فهو عرضة لكل صائدٍ وكاسر”.
“Hati dalam perjalanannya menuju Allah ‘Azza wa Jalla bagaikan seekor burung. Cinta adalah kepalanya, sedangkan rasa takut dan harapan adalah kedua sayapnya. Jika kepala dan kedua sayapnya selamat, maka burung itu akan terbang dengan baik. Jika kepalanya terputus, maka burung itu mati. Dan jika kedua sayapnya hilang, maka ia akan menjadi sasaran setiap pemburu dan pemangsa.”

Dengan rincian yang telah kami sebutkan, dipahami keadaan orang-orang dari kalangan salaf saleh kita yang lebih mendominankan rasa takut daripada harapan, demikian pula yang lebih mendominankan harapan daripada rasa takut.

Para ulama berbeda ungkapan dalam mendefinisikan rasa takut (khauf):

• Ada yang mengatakan: rasa takut adalah menanti datangnya hukuman pada setiap hembusan napas.
• Ada yang mengatakan: rasa takut adalah kuatnya pengetahuan tentang jalannya ketentuan-ketentuan Allah.
• Ada pula yang mengatakan: rasa takut adalah larinya hati dari datangnya sesuatu yang dibenci ketika ia merasakannya.
• Dan ada yang mengatakan: rasa takut adalah kesedihan yang menimpa jiwa karena mengantisipasi sesuatu yang tidak disukai.

Adapun harapan (raja’), para ulama berkata tentang batasannya:

• Harapan adalah pendorong yang menggiring hati menuju negeri Sang Kekasih, yaitu Allah dan negeri akhirat, serta menjadikan perjalanan menuju-Nya terasa indah.
• Ada yang mengatakan: harapan adalah rasa gembira terhadap kemurahan karunia Rabb Tabaraka wa Ta‘ālā dan rasa tenteram ketika menyaksikan kemurahan-Nya Subḥānahu.
• Ada pula yang mengatakan: harapan adalah kepercayaan terhadap kemurahan Rabb Ta‘ālā.
• Dan ada yang mengatakan: harapan adalah memandang luasnya rahmat Allah.

Penjelasan rinci tentang hal ini terdapat dalam kitab Madārijus Sālikīn karya Ibnul Qayyim (1/507-513).

Abu Hafsh Umar bin Maslamah al-Haddad an-Naisaburi berkata:
“الخوْف سِراجٌ في القلب، به يُبْصر ما فيه من الخيْر والشَّرِّ، وكل أحد إذا خفتَه هربْت منه، إلا الله – عزَّ وجلَّ – فإنَّك إذا خِفْتَه هربت إليه، فالخائف من ربِّه هارب إليه”.
“Rasa takut adalah pelita di dalam hati. Dengannya seseorang dapat melihat kebaikan dan keburukan yang ada dalam dirinya. Setiap sesuatu yang engkau takuti, engkau akan lari darinya, kecuali Allah ‘Azza wa Jalla. Sesungguhnya jika engkau takut kepada-Nya, maka engkau justru lari menuju-Nya. Maka orang yang takut kepada Rabb-nya adalah orang yang berlari menuju-Nya.”

Ibrahim bin Sufyan berkata:
“إذا سكن الخوفُ القلوب، أحرق مواضع الشَّهوات منها، وطرد الدنيا عنها”.
“Apabila rasa takut menetap di dalam hati, ia akan membakar tempat-tempat syahwat darinya dan mengusir dunia dari hati tersebut.”

Atsar dari para salaf dalam masalah ini sangat banyak hingga tidak terhitung.

Ketahuilah bahwa rasa takut yang terpuji dan benar adalah rasa takut yang menghalangi pelakunya dari perkara-perkara yang diharamkan Allah ‘Azza wa Jalla. Jika rasa takut melampaui batas itu, maka dikhawatirkan akan menyeret kepada putus asa dan keputusasaan.

Abu Utsman al-Hiri berkata:
“صِدْق الخوف هو الورع عن الآثام ظاهرًا وباطنًا”.
“Hakikat rasa takut yang benar adalah wara‘ dari dosa-dosa, baik lahir maupun batin.”

Ibn Taymiyyah berkata:
“الخوف المحمود ما حجزك عن محارم الله”.
“Rasa takut yang terpuji adalah rasa takut yang menghalangimu dari perkara-perkara yang diharamkan Allah.”

Ini pada sisi rasa takut. Adapun pada sisi harapan (raja’), maka riwayat dan ucapan para ulama tentangnya juga sangat banyak, di antaranya:

• Al-Baihaqi berkata dalam kitab Asy-Syu‘ab:
“قال بعضُ الحكماء في مناجاته: إلهي، لو أتانِي خبرٌ أنَّك غيرُ قابل دعائي، ولا سامع شكْواي، ما تركت دعاءَك ما بلَّ ريقٌ لساني، أين يذهب الفقيرُ إلا إلى الغني؟ وأين يذهب الذَّليل إلا إلى العزيز؟ وأنت أغنى الأغنياء، وأعزُّ الأعزاء يا رب”.
“Sebagian ahli hikmah berkata dalam munajatnya: ‘Wahai Tuhanku, seandainya datang kepadaku kabar bahwa Engkau tidak menerima doaku dan tidak mendengar keluh kesahku, niscaya aku tetap tidak akan meninggalkan doa kepada-Mu selama lisanku masih basah. Ke mana orang fakir akan pergi selain kepada Yang Mahakaya? Ke mana orang hina akan pergi selain kepada Yang Mahamulia? Engkaulah Yang Mahakaya dari segala yang kaya dan Yang Mahamulia dari segala yang mulia, wahai Rabbku.’”

• Sebagian ahli ibadah berkata:
“لمَّا علِمْتُ أنَّ ربِّي – عزَّ وجلَّ – يلي مُحاسبتي، زال عني حزني؛ لأنَّ الكريم إذا حاسب عبدَه تفضَّل”.
“Ketika aku mengetahui bahwa Rabb-ku ‘Azza wa Jalla sendiri yang akan menghisabku, hilanglah kesedihanku. Karena jika Dzat Yang Mahamulia menghisab hamba-Nya, maka Dia akan berbuat baik kepadanya.”

• Abdullah bin al-Mubarak berkata:
جئتُ إلى سفيان الثَّوري عشيَّة عرفة، وهو جاثٍ على ركبتيه، وعيناه تهملان، فقلتُ له: مَن أسوأ هذا الجمْع حالاً؟ قال: الذي يظنُّ أنَّ الله لا يغفِر لهم.
وقد أجْمع العلماءُ على أنَّ الرَّجاء لا يصحُّ إلا مع العمل.
“Aku mendatangi Sufyan ats-Tsauri pada sore hari Arafah. Saat itu beliau berlutut dan kedua matanya berlinang air mata. Aku bertanya kepadanya: ‘Siapakah manusia yang paling buruk keadaannya di tempat ini?’

Beliau menjawab: ‘Orang yang menyangka bahwa Allah tidak akan mengampuni mereka.’”

Para ulama telah sepakat bahwa harapan yang benar tidak akan sah kecuali disertai amal.

Adapun meninggalkan amal dan terus-menerus tenggelam dalam dosa dengan bersandar kepada rahmat Allah dan berbaik sangka kepada-Nya ‘Azza wa Jalla, maka itu sama sekali bukan harapan yang benar. Bahkan itu adalah kebodohan, kedunguan, dan tertipu. Sebab rahmat Allah itu dekat kepada orang-orang yang berbuat ihsan, bukan kepada orang-orang yang melalaikan, membangkang, dan terus-menerus dalam dosa.

Ibn al-Qayyim berkata dalam Al-Jawab Al-Kafi tentang orang-orang yang terus-menerus berbuat dosa dengan bersandar kepada rahmat Allah:
“وهذا الضَّرب في النَّاس قد تعلَّق بنصوص الرَّجاء، واتَّكل عليها، وتعلَّق بكلتا يديه، وإذا عوتب على الخطايا والانْهماك فيها، سرد لك ما يحفظه من سعة رحْمة الله، ومغفرته، ونصوص الرجاء، وللجُهَّال من هذا الضَّرب من النَّاس في هذا الباب غرائب وعجائب”. اهـ.
“Golongan manusia seperti ini bergantung kepada nash-nash tentang harapan dan berpegang erat dengannya. Jika ditegur karena dosa-dosa dan keterjerumusannya di dalamnya, ia akan membacakan kepadamu hafalannya tentang luasnya rahmat Allah, ampunan-Nya, dan dalil-dalil harapan. Orang-orang bodoh dari jenis ini memiliki keanehan dan keajaiban dalam bab ini.” Selesai.

Beliau juga berkata:
“فحُسْن الظَّنِّ إنَّما يكون مع انعِقاد أسباب النَّجاة، وأمَّا على انعقاد أسباب الهلاك، فلا يتأتَّى إحسان الظَّنِّ.
“Berbaik sangka kepada Allah hanyalah benar apabila sebab-sebab keselamatan telah ditempuh. Adapun jika sebab-sebab kebinasaan terus dilakukan, maka tidak mungkin itu disebut husnuzan yang benar.

Jika dikatakan:

‘Bukankah tetap mungkin seseorang berbaik sangka dengan bersandar kepada luasnya ampunan Allah, rahmat-Nya, maaf-Nya, kemurahan-Nya, serta bahwa rahmat-Nya mendahului murka-Nya, dan bahwa hukuman tidak memberi manfaat bagi-Nya serta ampunan tidak merugikan-Nya?’

Maka dijawab: ‘Benar, Allah bahkan lebih agung, lebih mulia, lebih dermawan, dan lebih penyayang dari itu semua. Akan tetapi Dia meletakkan semuanya pada tempat yang sesuai. Sesungguhnya Dia Subḥānahu wa Ta‘ālā disifati dengan hikmah, kemuliaan, pembalasan, kerasnya hukuman, dan menyiksa orang yang memang layak disiksa. Seandainya husnuzan hanya bersandar pada nama-nama dan sifat-sifat Allah, tentu orang baik dan orang jahat, mukmin dan kafir, wali Allah dan musuh-Nya akan sama saja. Maka apa manfaat nama dan sifat Allah bagi seorang penjahat yang telah kembali dengan kemurkaan dan amarah-Nya, menjerumuskan dirinya pada laknat-Nya, melanggar larangan-larangan-Nya, dan merusak kehormatan-kehormatan-Nya?’

Sesungguhnya husnuzan itu bermanfaat bagi orang yang bertobat, menyesal, berhenti dari dosa, mengganti keburukan dengan kebaikan, lalu menjalani sisa umurnya dengan kebaikan dan ketaatan, kemudian setelah itu ia berbaik sangka kepada Allah. Inilah husnuzan yang benar. Sedangkan yang pertama hanyalah tertipu. Dan hanya kepada Allah tempat memohon pertolongan.” Selesai.

Adapun cinta (mahabbah), maka sebagaimana dikatakan oleh Ibn al-Qayyim:

“Cinta tidak dapat dibatasi dengan definisi yang lebih jelas daripada dirinya sendiri. Berbagai definisi justru hanya membuatnya semakin samar dan kering. Definisi cinta adalah keberadaannya itu sendiri. Cinta tidak dapat dijelaskan dengan sesuatu yang lebih terang daripada cinta itu sendiri.

Yang dibicarakan manusia hanyalah sebab-sebabnya, faktor-faktor yang melahirkannya, tanda-tandanya, bukti-buktinya, buah-buahnya, dan hukum-hukumnya. Seluruh definisi dan penjelasan mereka berputar pada enam hal ini. Ungkapan mereka pun beragam dan isyarat mereka pun banyak, sesuai dengan kadar pemahaman seseorang, kedudukannya, keadaannya, dan kemampuannya dalam mengungkapkan.” Selesai.

Di antara definisi dan penjelasan tentang cinta (mahabbah) yang disebutkan para ulama adalah:

• Mendahulukan yang dicintai di atas seluruh yang menemani.
• Menyesuaikan diri dengan sang kekasih, baik saat bersama maupun saat tidak bersamanya.
• Selarasnya hati dengan apa yang diinginkan oleh yang dicintai.
• Gugurnya seluruh kecintaan dari hati selain kecintaan kepada sang kekasih.
• Kecenderungan total dirimu kepada sesuatu, kemudian engkau mendahulukannya di atas dirimu, ruhmu, dan hartamu, lalu engkau menyesuaikan diri dengannya secara lahir maupun batin, kemudian engkau menyadari bahwa cintamu kepadanya masih penuh kekurangan.

Masih ada penjelasan lainnya selain ini. Silakan merujuk kepada kitab Madārijus Sālikīn dan Raudhatul Muḥibbīn, keduanya karya Ibn al-Qayyim rahimahullah.

Kita memohon kepada Allah agar Dia memberi taufik kepadamu untuk melakukan apa yang Dia cintai dan ridhai, mempersiapkan bagimu petunjuk dalam urusanmu, serta membimbing kami dan engkau ke jalan yang lurus.

Semoga bermanfaat.

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button