Khutbah Jumat: Guru antara Pahala dan Apresiasi

Download Pdfnya Klik
Guru antara Pahala dan Apresiasi
Penulis:
(Kandidat Doktor Qassim University, KSA)
Ustaz Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.
Khutbah pertama:
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
إِن الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتوبُ إِلَيه، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أدَّى الأمانةَ، وبلَّغَ الرِّسالةَ، ونصحَ الأُمَّةَ، وجاهَد فِي الله حقَّ جِهادهِ حَتَّى أتاهُ اليقينُ، أَمَّا بَعْدُ:
فعبادَ الله، اتَّقُوا الله، ﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ ﴾ [آل عمران: 102]،
﴿ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا ﴾ [النساء: 1]،
﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا ﴾ [الأحزاب: 70، 71].
Segala puji bagi Allah. Kita memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan-Nya, serta bertobat kepada-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari keburukan diri kita dan kejelekan amal perbuatan kita. Siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, tidak ada yang dapat menyesatkannya; dan siapa yang disesatkan-Nya, tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.
Aku bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Beliau telah menunaikan amanah, menyampaikan risalah, menasihati umat, dan berjihad di jalan Allah dengan sebenar-benarnya hingga datang kepada beliau kematian.
Amma ba‘du.
Maasyiral muslimin wazumratal mu’minin rahimakumullah
Hari ini kita berbicara tentang profesi terbesar yang pernah dikenal manusia, sebuah profesi yang dengannya kehidupan manusia terus berkembang: profesi pendidikan dan tugas mengajar yang mulia.
Bagaimana mungkin ia tidak menjadi profesi yang agung, sementara ia merupakan peninggalan para nabi dan warisan para ulama?
Melalui pendidikan, peradaban dibangun dan masyarakat berkembang. Dengan pendidikan, bangsa-bangsa bangkit dan mencapai puncak kemajuan. Ia adalah profesi yang mendidik jiwa, menyucikan perilaku, menumbuhkan iman, dan melahirkan ihsan.
Dengan ilmu, agama terpelihara dari ekstremisme, sikap meremehkan, berlebih-lebihan, dan penyia-nyiaan. Dengan ilmu, masyarakat dijaga dari khurafat, kebatilan, berita-berita menyesatkan, dan penipuan. Dengan ilmu, keluarga dijaga dari perpecahan, penyimpangan, dan kehancuran. Dengan ilmu pula suatu negeri terlindungi dari pemikiran menyimpang dan metode yang menyesatkan.
Betapa besar pengaruh ilmu terhadap orang yang memilikinya dan betapa berbahayanya keburukan kebodohan bagi para pengikutnya.
Realitas di berbagai masyarakat, meskipun berbeda agama, pemikiran, dan orientasinya, membuktikan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, semakin besar pula peluangnya menjadi pribadi yang aktif dan produktif dalam kebaikan serta benteng yang kokoh terhadap keburukan.
Realitas juga membuktikan bahwa semakin baik tingkat pendidikan suatu masyarakat, semakin besar pula peluang masyarakat itu hidup aman, tenteram, dan sejahtera. Tidaklah kebodohan merajalela di suatu negeri melainkan kemiskinan dan ketakutan akan menyertai masyarakatnya.
Kemiskinan dan ketakutan cukup untuk merusak kenikmatan hidup dan membahayakan agama seseorang. Ketika seseorang jatuh dalam kemiskinan yang berat, tidak jarang ia berdusta, menipu, mencuri, dan melakukan tindak kejahatan; bahkan terkadang mengorbankan kehormatan, akhlak, atau prinsip yang paling berharga baginya.
Demikian pula ketika ketakutan menguasai masyarakat, jalan-jalan menjadi terputus dan menakutkan, perdagangan menjadi lesu, dan seseorang terpaksa terus berada di rumah karena takut terhadap keselamatan keluarga dan hartanya.
Dari semua ini dapat diketahui bahwa kebodohan merupakan akar berbagai bencana dan benih berbagai penderitaan.
Karena itulah sudah semestinya kita memberikan perhatian kepada para pembawa panji ilmu, para pemimpin generasi harapan, dan para pembangun tangga kejayaan. Ini adalah saat untuk memberikan penghormatan, apresiasi, nasihat, dan pemakluman kepada saudara-saudara kita para guru.
Wahai Para Guru, Berbahagialah!
Berbahagialah dengan jalan yang Allah mudahkan untukmu. Berbahagialah dengan pekerjaan yang Allah anugerahkan kepadamu. Berbahagialah dengan medan amal yang Allah buka bagimu. Berbahagialah dengan berbagai pahala jariyah dan ganjaran berlipat ganda ini.
Berbahagialah dengan sabda Nabi ﷺ:
إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرَضِينَ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ
“Sesungguhnya Allah, para malaikat-Nya, para penghuni langit dan bumi, bahkan semut di dalam lubangnya dan ikan, semuanya mendoakan kebaikan bagi orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.”
Wahai Para Guru,
Allah telah menyediakan bagimu berbagai pintu kebaikan yang tidak diberikan kepada banyak orang lainnya. Engkau mengajari orang yang tidak tahu, menasihati orang yang berbuat maksiat, mengarahkan orang yang lalai, menolong orang miskin, menyayangi anak yatim, menemukan anak berbakat, mendorong anak yang memiliki inisiatif, memotivasi yang malas, dan bersabar menghadapi anak yang sulit.
Benarlah ungkapan:
كَادَ الْمُعَلِّمُ أَنْ يَكُونَ رَسُولًا
“Hampir-hampir seorang guru itu seperti seorang rasul.”
Karena guru menyeru kepada kemuliaan dan memperingatkan dari kehinaan. Ia mendidik jiwa dan membangun akal. Ia mendidik jiwa dengan iman dan mengisi akal dengan ilmu.
Maka pujilah Allah atas nikmat-Nya, buanglah debu kemalasan, dan perbaruilah niatmu bersama Allah. Tidak akan rugi orang yang berniaga di jalan Allah.
Wahai Para Guru,
Engkau harus menyadari betapa agung pekerjaan yang sedang engkau lakukan dan betapa besar amanah yang dibebankan di pundakmu.
Di hadapanmu terdapat kekayaan yang paling besar dan harta yang paling mahal: anak-anak kaum Muslimin.
Maka jagalah mereka sebaik-baiknya.
Wahai Para Guru,
Tugasmu bukan sekadar tentang gaji dan materi. Ia adalah risalah keimanan, amanah sebuah generasi, kemuliaan sebuah negeri, dan peradaban suatu umat.
Jika engkau menanam dengan baik, panenmu pun akan baik.
Jika seorang saudagar mewakafkan hartanya di jalan Allah, maka engkau seakan-akan mewakafkan akal-akal yang cemerlang dan jiwa-jiwa yang beriman. Itulah modal segala kebaikan dan fondasi segala perbaikan.
Wahai Para Guru,
Aku mewasiatkan tiga perkara kepadamu:
Pertama: Kesantunan dan Kelembutan
Kesantunan merupakan fondasi setiap akhlak mulia. Orang yang mengemban tugas pendidikan harus menjadikannya pendamping dalam segala keadaan.
Seorang guru menghadapi tingkat pemahaman yang berbeda, kemampuan akal yang beragam, karakter jiwa yang bermacam-macam, serta kondisi kehidupan yang berbeda-beda.
Karena itu, bersikaplah santun dan lembut apabila engkau mengharapkan keberhasilan dan ingin memetik hasil pendidikan.
Pada diri Rasulullah ﷺ terdapat teladan yang terbaik. Beliau adalah orang yang toleran, lembut, penuh kasih sayang dan sangat penyabar.
Mu‘awiyah bin Al-Hakam radhiyallahu ‘anhu menceritakan metode Nabi ﷺ dalam mengajar. Ketika ia berbicara dalam salat, ia berkata:
فَبِأَبِي هُوَ وَأُمِّي، مَا رَأَيْتُ مُعَلِّمًا قَبْلَهُ وَلَا بَعْدَهُ أَحْسَنَ تَعْلِيمًا مِنْهُ، فَوَاللهِ مَا كَهَرَنِي وَلَا ضَرَبَنِي وَلَا شَتَمَنِي
“Ayah dan ibuku menjadi tebusannya. Aku tidak pernah melihat seorang pengajar sebelum ataupun sesudah beliau yang lebih baik cara mengajarnya. Demi Allah, beliau tidak membentakku, tidak memukulku, dan tidak mencelaku.”
Beliau hanya bersabda:
إِنَّ هَذِهِ الصَّلَاةَ لَا يَصْلُحُ فِيهَا شَيْءٌ مِنْ كَلَامِ النَّاسِ، إِنَّمَا هُوَ التَّسْبِيحُ وَالتَّكْبِيرُ وَقِرَاءَةُ الْقُرْآنِ
“Sesungguhnya salat ini tidak layak diisi dengan perkataan manusia. Salat hanyalah tasbih, takbir, dan bacaan Al-Qur’an.”
Nabi ﷺ juga pernah memegang tangan Mu‘adz ketika mengajarinya, lalu bersabda:
يَا مُعَاذُ، وَاللهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ، وَاللهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ، أُوصِيكَ يَا مُعَاذُ: لَا تَدَعَنَّ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ تَقُولُ: اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
“Wahai Mu‘adz, demi Allah, sungguh aku mencintaimu. Demi Allah, sungguh aku mencintaimu. Aku berwasiat kepadamu, wahai Mu‘adz, janganlah engkau meninggalkan doa pada akhir setiap salat: ‘Ya Allah, bantulah aku untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baiknya.’”
Kedua: Kesabaran
Kesabaran adalah bekal para guru dan bekal para pendidik.
Mengulang penjelasan, menerangkan sesuatu yang samar, membuka perkara yang sulit dipahami, memudahkan yang terasa berat, mendengarkan berbagai pertanyaan apa pun tingkatannya dan memperhatikan berbagai permasalahan meskipun tampak sederhana—semuanya membutuhkan kesabaran, ketekunan, dan kesinambungan.
Nabi ﷺ dahulu mendengarkan berbagai pertanyaan orang-orang kafir yang membangkang, menyimak berbagai syubhat orang Yahudi yang memusuhi beliau, dan bersabar menghadapi kekasaran orang-orang Arab Badui.
Lalu bagaimana mungkin engkau tidak bersabar, padahal Nabimu ﷺ telah mewasiatkan agar ilmu yang bermanfaat disampaikan kepada anak-anak kaum Muslimin?
Ketiga: Kejujuran
Kejujuran adalah tiang bangunan, pokok persoalan, inti pembicaraan, dan esensi segala urusan.
Kejujuran seorang guru mencakup tiga perkara:
Pertama, jujur dalam materi ilmu, bersungguh-sungguh dalam mengajar, menyampaikan ilmu kepada siswa, dan berusaha menanamkannya kuat-kuat dalam pikiran mereka.
Kedua, jujur kepada wali murid dengan menyampaikan perkembangan yang terjadi pada anak, berkomunikasi dengannya ketika ditemukan pelanggaran, penyimpangan atau perubahan perilaku siswa.
Ketiga, jujur kepada siswa dalam menasihati, mengarahkan dan mengingatkannya, apa pun bidang pelajaran yang engkau ajarkan.
Wahai Para Guru,
Pendidikan merupakan tugas seluruh guru, tanpa memandang bidang studi atau ilmu yang diajarkannya. Semoga Allah menolongmu. Engkaulah orang pertama di lapangan yang melihat berbagai pelanggaran, perubahan, dan transformasi yang dialami generasi sekarang. Maka jadilah pribadi yang optimistis, membawa kabar gembira, melakukan perbaikan dan memberikan nasihat.
Wahai Para Guru,
Keteladanan memiliki pengaruh yang sangat besar dalam jiwa peserta didik. Maka jadilah teladan dalam perkataan, diam, penampilan dan perilakumu.
Dalam Shahih Muslim disebutkan:
مَنْ سَنَّ سُنَّةَ خَيْرٍ فَاتُّبِعَ عَلَيْهَا فَلَهُ أَجْرُهُ وَمِثْلُ أُجُورِ مَنِ اتَّبَعَهُ غَيْرَ مَنْقُوصٍ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا
“Barang siapa memulai suatu contoh kebaikan lalu diikuti orang lain, ia memperoleh pahalanya dan pahala orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun.”
Betapa menakjubkan dirimu, wahai guru. Engkau seakan membakar dirimu sendiri agar orang lain mendapatkan cahaya. Betapa besar pengorbanan dan kemurahan itu.
Seorang penyair menggambarkan guru:
يَا شَمْعَةً فِي زَوَايَا الصَّفِّ تَأْتَلِقُ *** تُنِيرُ دَرْبَ الْمَعَالِي وَهِيَ تَحْتَرِقُ
Wahai pelita yang bersinar di sudut-sudut ruang kelas, engkau menerangi jalan menuju kemuliaan, sementara dirimu sendiri terbakar.
لَا أَطْفَأَ اللهُ نُورًا أَنْتَ مَصْدَرُهُ *** يَا صَادِقَ الْفَجْرِ أَنْتَ الصُّبْحُ وَالْفَلَقُ
Semoga Allah tidak memadamkan cahaya yang engkau menjadi sumbernya. Wahai fajar yang sejati, engkaulah pagi dan cahaya fajar yang merekah.
أَيَا مُعَلِّمًا يَا رَمْزَ الْوَفَا سَلِمَتْ *** يَمِينُ أَهْلِ الْوَفَا يَا خَيْرَ مَنْ صَدَقُوا
Wahai guru, wahai lambang kesetiaan, semoga senantiasa selamat tanganmu, tangan insan yang penuh pengabdian; wahai sebaik-baik orang yang tulus dan setia.
لَا فُضَّ فُوكَ فَمِنْهُ الدُّرُّ مُنْتَثِرٌ *** وَلَا حُرِمْتَ فَمِنْكَ الْخَيْرُ مُنْدَفِقُ
Semoga lisanmu senantiasa fasih, sebab darinya mutiara-mutiara ilmu bertebaran. Semoga engkau tidak terhalang dari kebaikan, karena darimu kebaikan terus mengalir.
يَدٌ تَخُطُّ عَلَى الْقِرْطَاسِ نَهْجَ هُدًى *** بِهَا تَشَرَّفَتِ الْأَرْقَامُ وَالْوَرَقُ
Tangan yang menorehkan jalan petunjuk di atas lembaran kertas, dengannya angka-angka dan lembaran-lembaran kertas menjadi mulia.
أَيَا مُعَلِّمًا كَمْ طَوَّقْتَ مِنْ عُنُقٍ *** بِالْفَضْلِ فَازْدَانَ مِنْهُ الصَّدْرُ وَالْعُنُقُ
Wahai guru, betapa banyak leher yang telah engkau kalungi dengan keutamaan, hingga dada dan leher mereka berhias indah karenanya.
وَيَا مُؤَدِّبُ كَمْ أَنْقَذْتَ مِنْ أُمَمٍ *** لَوْلَا سَفِينُكَ فِي بَحْرِ الرَّدَى غَرِقُوا
Wahai pendidik, betapa banyak generasi yang telah engkau selamatkan; andai bukan karena bahteramu, niscaya mereka tenggelam dalam lautan kebinasaan.
وَكَمْ بَنَيْتَ لَهَا مَجْدًا فَبَوَّأَهَا *** ذُرَا الْمَعَالِي وَمِنْكَ الْجُهْدُ وَالْعَرَقُ
Betapa banyak kejayaan yang engkau bangun bagi mereka, lalu engkau tempatkan mereka di puncak-puncak kemuliaan, dengan jerih payah dan keringatmu.
وَسَوْفَ تَلْقَى جَزَاءَ الضِّعْفِ مُدَّخَرًا *** فَعِشْ قَرِيرًا وَلَا يَقْعُدْ بِكَ الْقَلَقُ
Kelak engkau akan mendapatkan balasan berlipat ganda yang telah tersimpan untukmu. Maka hiduplah dengan tenteram, dan jangan biarkan kegelisahan menghalangi langkahmu.
Allah Ta‘ala berfirman:
﴿ وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ وَسَتُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ ﴾
“Katakanlah, ‘Beramallah kalian, maka Allah akan melihat amal kalian, demikian pula Rasul-Nya dan orang-orang beriman. Kemudian kalian akan dikembalikan kepada Yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia memberitakan kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan.’” (QS. At-Taubah: 105)
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
Khutbah kedua:
الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، تَعْظِيمًا لِشَأْنِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، الدَّاعِي إِلَى رِضْوَانِهِ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.
Amma Ba’du
Segala puji bagi Allah atas segala kebaikan-Nya. Segala syukur bagi-Nya atas taufik dan karunia-Nya. Aku bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, sebagai bentuk pengagungan terhadap-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, yang menyeru menuju surga-Nya dan memperingatkan dari neraka-Nya. Semoga salawat dan salam yang paling sempurna senantiasa tercurah kepada beliau.
Maasyiral muslimin wazumratal mu’minin rahimakumullah
Wahai hamba-hamba Allah, karena guru membawa risalah yang demikian agung dan memainkan peranan yang demikian besar dalam masyarakat, maka sudah selayaknya ia mendapatkan penghormatan, penghargaan, perhatian dan apresiasi.
Tanamkanlah dalam jiwa anak-anak kalian bukan hanya penghormatan kepada guru, tetapi juga kecintaan kepada guru.
Ya, mencintai guru.
Guru bukanlah tandingan ataupun musuh. Ia adalah orang tua yang penyayang, pembimbing yang mencurahkan dirinya, pendidik yang utama, dan pembawa perbaikan yang tulus.
Hubungan antara guru dan murid bukanlah hubungan persaingan dan bukan pula hubungan material. Ia adalah hubungan kasih sayang, pendidikan, keterikatan dan kebanggaan.
Kecintaan timbal balik antara guru dan murid telah melahirkan contoh-contoh paling indah dalam penghormatan, pengagungan dan kewibawaan.
Imam Abu Hanifah rahimahullah menceritakan penghormatannya kepada gurunya, Hammad:
مَا مَدَدْتُ رِجْلِي نَحْوَ دَارِ أُسْتَاذِي حَمَّادٍ إِجْلَالًا لَهُ، وَكَانَ بَيْنَ دَارِي وَدَارِهِ سَبْعُ سِكَكٍ، وَمَا صَلَّيْتُ صَلَاةً مُنْذُ مَاتَ حَمَّادٌ إِلَّا اسْتَغْفَرْتُ لَهُ مَعَ وَالِدَيَّ
“Aku tidak pernah meluruskan kakiku ke arah rumah guruku Hammad karena menghormatinya, padahal antara rumahku dan rumahnya terdapat tujuh gang. Dan sejak Hammad wafat, tidaklah aku melakukan salat melainkan aku memohonkan ampun untuknya bersama kedua orang tuaku.”
Imam Ahmad berkata tentang gurunya, Imam Asy-Syafi‘i:
مَا بِتُّ مُنْذُ ثَلَاثِينَ سَنَةً إِلَّا وَأَنَا أَدْعُو لِلشَّافِعِيِّ وَأَسْتَغْفِرُ لَهُ
“Selama tiga puluh tahun, tidaklah aku melewati malam kecuali aku mendoakan Asy-Syafi‘i dan memohonkan ampun untuknya.”
Ketahuilah, seorang anak yang berani memberontak terhadap gurunya di sekolah sangat mungkin kemudian memberontak kepada orang tuanya di rumah, kepada petugas keamanan di jalan, bahkan kepada masyarakat seluruhnya.
Sebab apabila ia tidak mau menunaikan hak orang yang jelas-jelas mempunyai hak atas dirinya, tentu lebih besar kemungkinan ia tidak akan mengenal hak orang lain.
Ketahuilah pula bahwa apabila seorang guru tidak mendapatkan penghormatan, penghargaan, dan kewibawaan yang seharusnya, hal itu dapat memengaruhi kinerja dan semangat kerjanya. Ia dapat menjadi lemah dan lalai dalam menunaikan risalahnya yang agung; tidak lagi optimal dalam menasihati siswa dan tidak bersungguh-sungguh dalam pembelajaran. Ketika itu bencana pendidikan terjadi dan bangunannya rusak dari fondasinya.
Penyair berkata:
إِنَّ الْمُعَلِّمَ وَالطَّبِيبَ كِلَاهُمَا *** لَا يَنْصَحَانِ إِذَا هُمَا لَمْ يُكْرَمَا
“Guru dan dokter, keduanya tidak akan mampu memberikan pelayanan terbaik apabila mereka tidak dihargai.”
فَاصْبِرْ لِدَائِكَ إِنْ أَهَنْتَ طَبِيبَهُ *** وَاصْبِرْ لِجَهْلِكَ إِنْ أَهَنْتَ مُعَلِّمَا
“Maka bersabarlah menanggung penyakitmu jika engkau merendahkan doktermu, dan bersabarlah dalam kebodohanmu jika engkau merendahkan gurumu.”
Kemudian bersalawat dan bersalamlah kepada orang yang Allah perintahkan kalian untuk bersalawat dan bersalam kepadanya.
﴿ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا ﴾
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk beliau dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan.” (QS. Al-Aḥzāb: 56)
Rasulullah ﷺ bersabda:
«إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، فَأَكْثِرُوا عَلَيَّ مِنَ الصَّلَاةِ فِيهِ، فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَيَّ»
“Sesungguhnya di antara hari terbaik kalian adalah hari Jumat. Karena itu, perbanyaklah bershalawat kepadaku pada hari itu, sebab shalawat kalian akan disampaikan kepadaku.” (HR. Abu Dawud dan An-Nasa’i)
Beliau ﷺ juga bersabda:
«أَوْلَى النَّاسِ بِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَكْثَرُهُمْ عَلَيَّ صَلَاةً»
“Manusia yang paling dekat denganku pada hari Kiamat adalah mereka yang paling banyak bershalawat kepadaku.” (HR. At-Tirmidzi)
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اللهم اغفِر لَنا ذُنوبَنا وإسرافَنا في أمرِنا، وثبت أقدامنا وانصرنا على القوم الكافرين.
اللهم كن لعبادِكَ المستضعَفين، ودمِّرِ اليهودَ الـمُجرمين ومَن وَالَاهُم اللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا فِي فِلِسْطِينَ، اللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا فِي غَزَّةَ.
اللّهمَّ آمِنَّا في أوطانِنا، وأصلِحْ أئمّتَنا وُولاةَ أمورِنا، واجعل وِلايتَنا فيمن خافَكَ واتّقاكَ واتّبعَ رِضاك.
عِبَادَ الله: اذكرُوا اللهَ ذِكرًا كثيرًا، وسبِّحوهُ بُكرةً وأصيلًا، وآخرُ دَعوانا أَنِ الحمدُ للهِ ربِّ العالمين.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِينَ، اللَّهُمَّ أَصْلِحْ حُكَّامَ الْمُسْلِمِينَ، اللَّهُمَّ أَصْلِحْ إِنْدُونِيسِيَا.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ، سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. أَقِمِ الصَّلَاةَ.

+6285333345252



