Kunci-Kunci Khusyuk Dalam Salat (13)

Kunci-Kunci Khusyuk Dalam Salat (13)
Sifat-sifat orang yang khusyuk sebagaimana digambarkan oleh Al-Qu’ran Al-Kariim
Orang-orang khusyuk digambarkan oleh Al-Qur’an dengan banyak sifat, di antaranya:
Sifat Pertama: Rasa takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
Orang-orang khusyuk memiliki hati yang penuh dengan rasa takut dan gentar. Ketika mereka mendengar AL-Qur’an rasa takut itu langsung merasuk ke dalam hati mereka, sehingga kulit mereka bergetar karena kuatnya keimanan mereka, mereka khusyuk di dalam salatnya, seakan-akan mereka berdiri di hadapan Allah. Maka tanda rasa takut mereka ada dua:
Pertama: Getaran hati.
Kedua: Merindingnya kulit.
Allah berfirman:
فَاِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌ فَلَهٗٓ اَسْلِمُوْاۗ وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِيْنَ ۙ الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ
Artinya: “Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa. Maka, berserahdirilah kepada-Nya. Sampaikanlah (Nabi Muhammad) kabar gembira kepada orang-orang yang rendah hati lagi taat (kepada Allah). (Yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah, hati mereka bergetar”. QS. Al Hajj: 34-35.
Sifat Kedua: Menangis karena takut kepada Allah.
Al-Qur’an telah menceritakan tentang mereka bahwa mereka menangis karena pengaruh dari ayat-ayat Al-Qur’an terhadap jiwa-jiwa mereka, Allah berfirman:
اِنَّ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ مِنْ قَبْلِهٖٓ اِذَا يُتْلٰى عَلَيْهِمْ يَخِرُّوْنَ لِلْاَذْقَانِ سُجَّدًاۙ وَّيَقُوْلُوْنَ سُبْحٰنَ رَبِّنَآ اِنْ كَانَ وَعْدُ رَبِّنَا لَمَفْعُوْلًا وَيَخِرُّوْنَ لِلْاَذْقَانِ يَبْكُوْنَ وَيَزِيْدُهُمْ خُشُوْعًا ۩
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang telah diberi pengetahuan sebelumnya, apabila (Al-Qur’an) dibacakan kepada mereka, mereka menyungkurkan wajah (dengan) bersujud. Mereka berkata, “Mahasuci Tuhan kami. Sesungguhnya janji Tuhan kami pasti terlaksana. Mereka menyungkurkan wajah seraya menangis dan ia (Al-Qur’an) menambah kekhusyukan mereka”. QS. Al Isra’: 107-109.
Imam al Qurthubi rahimahullah mengatakan: “Inilah keadaan para ulama, mereka menangis tapi tidak sampai pingsan, mereka memohon tapi tidak sampai berteriak, mereka bersedih tapi tidak berpura-pura mati”[1].
Sifat Ketiga: Sabar terhadap musibah.
Orang-orang yang beriman dan khusyuk yakin bahwa kehidupan ini penuh dengan kesulitan, rintangan dan duri (ujian), dan mereka juga yakin bahwa ujian, rasa takut dan sedih pasti akan kita hadapi, Allah berfirman:
لِيَمِيْزَ اللّٰهُ الْخَبِيْثَ مِنَ الطَّيِّبِ
Artinya: “Agar Allah memisahkan (golongan) yang buruk dari yang baik”. QS. AL Anfaal: 37.
Oleh karena itu, mereka mendapatkan bahwa sabar adalah sebaik-baik obat bagi apa yang menimpa mereka di dalam kehidupan ini berupa rasa letih maupun berbagai bentuk musibah, dalam sebuah bait disebutkan:
Dan janganlah kaget dengan peristiwa-peristiwa malam hari,
Karena tidak ada musibah di dunia ini yang kekal,
Jadilah engkau seseorang yang tangguh nan kuat dalam menghadapi kesulitan,
Karena jati dirimu adalah sifat pemurah dan kesetiaan[2].
Orang-orang beriman dan khusyuk dengan yakin mengulang-ngulang perkataan yang Allah abadikan melalui lisan Nabi Ya’qub ‘alaihissalam:
فَصَبْرٌ جَمِيْلٌ ۗوَاللّٰهُ الْمُسْتَعَانُ عَلٰى مَا تَصِفُوْنَ
Artinya: “Maka hanya bersabar itulah yang terbaik (bagiku). Allah sajalah Zat yang dimohonkan pertolongan terhadap apa yang kamu ceritakan.” QS. Yusuf: 18.
Serta mereka meneladani sifat Nabi Ibrahim sebagaimana dalam firman Allah:
وَلَنَصْبِرَنَّ عَلٰى مَآ اٰذَيْتُمُوْنَاۗ وَعَلَى اللّٰهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُتَوَكِّلُوْنَ ࣖ
Artinya: “Sungguh, kami benar-benar akan tetap bersabar terhadap gangguan yang kamu lakukan kepada kami. Hanya kepada Allah orang-orang yang bertawakal seharusnya berserah diri.” QS. Ibrahim: 12.
Sembari mereka menunggu datangnya kegembiraan dan hilangnya kesedihan, dalam sebuah bait disebutkan:
Wahai orang-orang yang galau, sesungguhnya kegalauan akan pergi,
Bergembiralah, karena yang akan melenyapkan kegalauanmu ialah Allah[3].
Di Dalam Al-Qur’an Allah menyandingkan antara sifat sabar dan rasa takut, Allah berfirman:
وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِيْنَ ۙ الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَالصّٰبِرِيْنَ عَلٰى مَآ اَصَابَهُمْ
Artinya: “Sampaikanlah (Nabi Muhammad) kabar gembira kepada orang-orang yang rendah hati lagi taat (kepada Allah). (Yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah, hati mereka bergetar, sabar atas apa yang menimpa mereka.” QS. Al Hajj: 34-35.
Maka sudah sepantasnya bagi kita untuk bersabar dalam ketaatan dan dalam meninggalkan maksiat, dan juga sabar dalam menghadapi gangguan dan kesulitan, sabar terhadap kuatnya kebatilan dan beratnya kebenaran. Kebatilan hanyalah sesaat sedangkan kebenaran akan tetap tegak sampai hari kiamat.
Sesungguhnya sabar merupakan sifat yang paling menonjol dari orang-orang yang khusyuk. Inilah Nabi Yusuf ‘alaihissalam teladan bagi orang-orang yang bertakwa dan khusyuk, saudara-saudaranya memakarinya, dan membuangnya ke dalam sumur, namun ia bersabar. Kemudian ia dijual sebagai budak, ia bersabar, padahal ia adalah Nabi dan anak dari seorang Nabi. Dia bekerja sebagai budak, ia bersabar, padahal ia adalah orang yang mulia dari keturunan yang mulia. Ia dituduh kehormatannya, ia bersabar, padahal ia adalah orang yang suci dan bertakwa. Ia dipenjara, ia bersabar, padahal ia sangat jauh dari itu. Karena kesabarannya itulah, Allah meninggikan derajatnya, menempatkannya pada kedudukan yang mulia. Demikianlah seharusnya orang beriman, hendaknya mereka bersabar dengan mengharap ridho Tuhannya, bukan karena terusik dengan perkataan manusia kepadanya: “Mereka kabur (dari kesulitannya)”, ataupun perkataan manusia: “Mereka bersabar”. Allah berfirman:
وَالَّذِيْنَ صَبَرُوا ابْتِغَاۤءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ
Artinya: “Orang-orang yang bersabar demi mencari keridaan Tuhan mereka”. QS. Ar Ra’ad: 22.
Maka keikhlasan hanya kepada Allah menjadi pakaian mereka. Sekali lagi, sesungguhnya sabar di antara sifat menonjol orang-orang yang khusyuk.
Sifat Keempat: Yakin terhadap pertemuan dengan Allah.
Sesungguhnya keyakinan akan pertemuan dengan Allah merupakan inti ketakwaan dan kekhusyukan; dan jika timbangan ini telah lurus, maka dunia bagi orang-orang beriman menjadi harga yang sedikit dan kesenangan yang fana. Akhirat pun tampak dalam hakikatnya sebagai tempat kembali yang lebih baik dan jalan yang lebih lurus. Allah berfirman:
وَاسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ وَاِنَّهَا لَكَبِيْرَةٌ اِلَّا عَلَى الْخٰشِعِيْنَۙ الَّذِيْنَ يَظُنُّوْنَ اَنَّهُمْ مُّلٰقُوْا رَبِّهِمْ وَاَنَّهُمْ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَ ࣖ
Artinya: “Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sesungguhnya (salat) itu benar-benar berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk, (yaitu) orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Tuhannya dan hanya kepada-Nya mereka kembali”. QS. AL Baqarah: 45-46.
Orang-orang yang khusyuk benar-benar yakin bahwa kepulangan kepada Tuhan adalah kepulangan yang mulia, pada hari yang agung. Keyakinan itu pun berpengaruh pada jiwa mereka, karena berdiri di hadapan Allah pada hari itu adalah perkara yang sangat besar. Allah berfirman:
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمْۚ اِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيْمٌ يَوْمَ تَرَوْنَهَا تَذْهَلُ كُلُّ مُرْضِعَةٍ عَمَّآ اَرْضَعَتْ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى النَّاسَ سُكٰرٰى وَمَا هُمْ بِسُكٰرٰى وَلٰكِنَّ عَذَابَ اللّٰهِ شَدِيْدٌ
Artinya: “Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu. Sesungguhnya guncangan hari Kiamat itu adalah sesuatu yang sangat besar. Pada hari kamu melihatnya (guncangan itu), semua perempuan yang menyusui melupakan anak yang disusuinya, setiap perempuan yang hamil akan keguguran kandungannya dan kamu melihat manusia mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk. Akan tetapi, azab Allah itu sangat keras”. QS. Al Hajj: 1-2.
Allah juga berfirman:
الَّذِيْنَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ وَهُمْ مِّنَ السَّاعَةِ مُشْفِقُوْنَ
Artinya: “(Yaitu) orang-orang yang takut (azab) Tuhannya, sekalipun mereka tidak melihat-Nya, dan mereka merasa takut akan (tibanya) hari Kiamat”. QS. Al Anbiya: 49.
Rasa takut kepada Allah dan ketakwaan kepada-Nya adalah pelindung yang menjamin keistiqomahan di atas jalan kebenaran serta membantu selamat dari godaan dunia yang mempesona.
Maka inilah sifat-sifat mereka, jika engkau menyusul mereka -dan aku tidak menyangkamu kecuali demikian-, maka berlarilah dengan kakimu (untuk menyusul mereka), jangan menunda karena esok engkau yang akan ditanya (dimintai pertanggungjawaban).
[1]. Al Jami’ Li Ahkaam al Qur’an (6/258).
[2]. Perkataan Imam Syafi’I sebagaimana dalam kitabnya Diwaniyah Hal. 10.
[3]. Tanpa penisbatan sebagaimana dalam buku Al Mahaasin wal Adh Dhaadh Hal. 157.



