Kunci-Kunci Khusyuk Dalam Salat (10)

Kunci-Kunci Khusyuk Dalam Salat (10)
Kesepuluh: Hadis Hudzaifah radiallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Sesungguhnya seorang muslim jika ia mengerjakan salat maka Allah menghadap kepadanya dengan wajah-Nya lalu ia bermunajat kepada-Nya. Maka ia tidak berpaling dari salatnya itu hingga Allah berpaling darinya atau ia berhadas”.[1]
Dalam hadis ini terdapat anjuran untuk menghadirkan hati dalam salat dan meninggalkan segala sesuatu yang dapat memalingkan darinya. Hendaknya seseorang merenungkan kebesaran Dzat yang sedang dia munajatkan, bagaimana engkau bermunajat? Dan dengan apa engkau bermunajat?[2]
Yang menjadi patokan dari hadis ini adalah sabda Nabi: “Allah menghadap kepadanya dengan wajah-Nya, lalu ia bermunajat kepada-Nya”. Ini menunjukkan dekatnya Allah dengan orang yang mendirikan salat, apabila ia menghadap kepada Rabbnya. Dan hal ini tidak akan terwujud kecuali dengan keikhlasan hati untuk berzikir kepada Allah, mengagungkan-Nya, membaca Al Quran dan mentadabburinya[3] serta menyadari kedekatan Allah dengannya ketika ia salat, bahwa Allah melihat dan mendengarnya, ia bermunajat kepadanya, Dia mendengar ucapannya dan membalas munajatnya.[4]
Dalam hadis ini juga terdapat kabar gembira bagi mereka yang memberi hak salat dan menghadap kepada Allah dengan hati dan anggota tubuhnya, karena Allah akan memuliakannya dengan bersegera menghadap kepadanya dengan wajah-Nya, dan sudah menjadi hal yang maklum bahwa siapa saja yang Allah menghadap kepadanya dengan wajah-Nya maka itu menjadi tanda taufik dari Allah kepadanya dan diterima amalannya. Dan jika seseorang tahu bahwa Allah menghadap kepadanya dengan wajah-Nya maka ia tidak akan menyia-nyiakan bahkan akan menjaga kedudukan yang agung itu yang ia dapatkan sebagai seorang hamba yang lemah dari penciptanya yang Maha Tinggi. Kemuliaan apakah yang melebihi kemuliaan ini dan adakah suatu kehormatan yang lebih agung dari kedudukan mulia itu?
Maka wajib bagi setiap yang memiliki semangat tinggi, permintaan yang mulia dan jujur terhadap keinginannya agar memberikan kedudukan mulia itu haknya dan mengarahkan seluruh keinginan dan semangatnya kepada Allah. Coba pikirkan jika salah seorang di antara kita ingin menemui seorang raja atau menteri untuk sebuah urusan dunia maka bagaimana sikapnya di hadapan raja atau menteri itu? Tidak diragukan bahwa hatinya akan hadir, wajahnya mengarah kepadanya dan akan tunduk kepadanya. Demi Allah siapakah yang lebih berhak mendapatkan sikap seperti itu, raja atau menteri kah? Atau justru Tuhan raja atau menteri yang merupakan Tuhan seluruh makhluk?
Kesebelas: Hadis Ibnu Umar radiallahu ‘anhuma berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Salatlah seperti salatnya seseorang yang hendak berpisah (salat terakhir) seakan-akan engkau melihatnya. Jika engkau tidak mampu melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu”.[5]
Sabda beliau: “Salatlah seperti salatnya seseorang yang hendak berpisah (salat terakhir)”, potongan hadis ini merupakan jawamiul kalim (ucapan singkat penuh banyak makna) dan sangat jelas. Maksudnya adalah seorang yang hendak berpisah (meninggalkan dunia) ia akan menghadap Tuhannya, sebagaimana firman-Nya:
يٰٓاَيُّهَا الْاِنْسَانُ اِنَّكَ كَادِحٌ اِلٰى رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلٰقِيْهِۚ
Artinya: “Wahai manusia, sesungguhnya engkau telah bekerja keras menuju (pertemuan dengan) Tuhanmu. Maka, engkau pasti menemui-Nya”. (QS. Al Insyiqaq: 6).[6]
Maka jika engkau salat, maka salatlah seperti salat perpisahan artinya adalah jika engkau salat maka jangan mengira engkau akan kembali menunaikannya, dan ketahuilah bahwa seorang mukmin akan meninggal di antara dua kebaikan: kebaikan yang telah berlalu dan kebaikan yang ada pada sisa umurnya.[7]
Barangsiapa tidak teringat pendeknya umur, dekatnya ajal, dan lalai hatinya dari salatnya, maka ia akan terus berada dalam kelalaian yang berkesinambungan, kekurangan yang terus menerus, dan menunda-nunda tanpa henti, hingga tiba-tiba datang kematian menjemputnya dan ia pun binasa dengan penyesalan karena kelalaiannya.[8]
Adapun orang yang selalu mengingat ajalnya, maka ia telah masuk pada rahmat Allah yang khusus bagi orang-orang beriman. Dan tidak diragukan lagi bahwa siapa yang menggunakan akalnya, maka Allah akan memberinya taufik kepada kebenaran. Dan jika ia mengingat bahwa salat yang ia lakukan itu adalah salat perpisahan dan tidak akan kembali kepadanya hingga hari kiamat, maka akan mendorongnya untuk khusyuk di dalam salatnya, apatah lagi jika ia mengingat bahwa kematian akan datang kepadanya kapan pun itu baik dalam keadaan sadar atau lalai dan kenyataan ini yang lebih banyak kita dapatkan pada mereka yang telah meninggal yaitu ajal mendatanginya dalam keadaan lalai. Namun, bagi pemilik hati yang hidup yang senantiasa mengingat kematian maka Allah memberinya taufik untuk khusyuk di dalam salatnya sebab ia tidak akan berpaling kepada sesuatu di luar dari inti salat, dan juga karena salat akan mencegahnya dari perbuatan keji dan munkar.
1.Ibnu Majah (1/327) No.1023, Ibnu Khuzaimah dalam sahihnya (2/62) No.924. Berkata al Busiry dalam Misbah Az Zujajah (1/198): “Sanadnya sahih dan para perawinya tsiqat, hadis ini memiliki syahid dalam sahih Muslim dan selainnya dari hadis Abu Hurairah”. Hadis ini dihasankan oleh Albani dalam silsilah sahihah (4/127).
[2].Lihat: Syarah al Qastallani (1/401).
[3].Lihat: Syarah An Nawawi terhadap sahih Muslim (5/41).
[4].Lihat: Fathul Baary Ibnu Rajab (3/110).
[5].Tabrani dalam Mukjam al Ausat (4/358) No.4427. Berkata al Haitsami dalam Majmak Zawaaid (10/229): “Hadis ini diriwayatkan Tabrani dalam al Ausath dan di antara perawinya ada yang saya tidak kenal”. Hadis ini dihasankan Albani dalam Silsilah Sahihah (4/544-545).
[6]. Ihya Ulumuddin (1/150).
[7]. Zuhd karya Imam Ahmad bin Hanbal (Hal: 148) dari wasiat Muadz bin Jabal kepada anaknya.
[8]. Istidad lil maut wa sual qabr Hal: 13.



