Mimbar Jumat

Khutbah Jumat: Sebab Taufik dan Kehinaan Seorang Hamba

Khutbah pertama:

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ ٱللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

الحَمْدُ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ، وَنَسْتَعِينُهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلٰى يَوْمِ الدِّينِ.

أُوصِيكُمْ أَيُّهَا المُسْلِمُونَ وَنَفْسِيَ الْمُقَصِّرَةَ بِتَقْوَى اللّٰهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَإِنَّ تَقْوَى اللّٰهِ خَيْرُ زَادٍ يَتَزَوَّدُ بِهِ العَبْدُ لِيَوْمِ الْمِيعَادِ، ﴿وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى﴾ [البقرة: 197]. أَمَّا بَعْدُ:

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi yang paling mulia, Muhammad ﷺ, beserta keluarga dan para sahabatnya.

﴿ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ ﴾ [البقرة: 21].

“Hai sekalian manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.” [QS. Al-Baqarah: 21].

Saudara-saudaraku seiman, setiap manusia dalam hidupnya memiliki kebutuhan dan tujuan yang ia harapkan akan terwujud, ia upayakan dengan segala cara untuk mencapainya. Ia memiliki cita-cita dan target hidup yang ingin diraih dan dicapai. Betapa banyak orang yang bersusah payah untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan, namun tidak tercapai. Sebaliknya, ada orang lain yang hanya berusaha setengah-setengah, tetapi justru berhasil.

Mungkin sebagian orang bertanya-tanya: Mengapa ada orang yang berhasil tanpa banyak usaha, sementara yang lain gagal meski telah berjuang keras? Jawabannya adalah karena ada rahasia yang besar di balik hal ini.

Rahasia terbesar disebut takdir — takdir Allah dan ketetapan-Nya. Allah mengetahui siapa yang pantas mendapatkan keberhasilan, lalu Dia memberinya keberhasilan; dan siapa yang tidak, maka Dia meninggalkannya. Hal ini telah ditetapkan oleh Allah, Yang Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui, bahkan sebelum menciptakan langit dan bumi.

Allah berfirman:

﴿ وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ قَدَرًا مَقْدُورًا ﴾ [الأحزاب: 38]

“Dan urusan Allah itu telah ditetapkan menurut ketetapan yang pasti.” [QS. Al-Ahzab: 38].

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللهُ القَلَمُ، فَقَالَ لَهُ: اكتُبْ. قَالَ: مَا أَكتُبُ؟ قَالَ: اُكتُبِ القَدَرَ، مَا كَانَ وَمَا هُوَ كَائِنٌ إِلى الأَبَدِ

“Yang pertama Allah ciptakan adalah pena, kemudian Allah berfirman kepadanya: ‘Tulislah!’ Pena bertanya: ‘Apa yang harus aku tulis?’ Allah berfirman: ‘Tulislah takdir, apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi hingga akhir zaman.’” (HR. At-Tirmidzi, disahihkan oleh Al-Albani).

Namun demikian, saudara-saudaraku, seorang hamba juga memiliki peran dalam mendapatkan keberhasilan atau mengalami kegagalan. Banyak orang tidak menyadari peran ini, karena mereka hanya bergantung pada hal-hal lahiriah dan sebab-sebab duniawi, atau mengandalkan diri sendiri atau orang lain. Sedangkan orang-orang yang berhasil berjalan di jalur lain yang tersembunyi, halus, dan tidak disadari oleh orang awam, padahal itu merupakan kekuatan besar yang tersimpan, rahasia halus yang Allah letakkan di alam semesta ini, di mana tidak terjadi kecuali dengan izin Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda kepada Ibnu Abbas dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad dan At-Tirmidzi:

وَاعلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجتَمَعَتْ عَلَى أَن يَنفَعُوكَ بِشَيءٍ لم يَنفَعُوكَ إِلاَّ بِشَيءٍ قَد كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ، وَلَوِ اجتَمَعُوا عَلَى أَن يَضُرُّوكَ بِشَيءٍ لم يَضُرُّوكَ إِلاَّ بِشَيءٍ قَد كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيكَ، رُفِعَتِ الأَقلامُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ

“Ketahuilah, jika suatu umat berkumpul untuk memberi manfaat kepadamu dengan sesuatu, mereka tidak akan bisa memberi manfaat kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan jika mereka berkumpul untuk membahayakanmu, mereka tidak akan bisa membahayakan kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu. Pena telah diangkat dan lembaran telah kering.”

Maasyiral muslimin sidang Jum’at yang dimuliakan Allah

Ya, saudara-saudaraku, Allah bisa memberkahi hamba dengan petunjuk dan keberhasilan, menolongnya mencapai tujuan, dan menuntun langkahnya. Sebaliknya, Allah juga bisa meninggalkannya, sehingga ia tidak mendapatkan bantuan, sebagaimana firman Allah:

﴿ إِنْ يَنْصُرْكُمُ اللَّهُ فَلَا غَالِبَ لَكُمْ وَإِنْ يَخْذُلْكُمْ فَمَنْ ذَا الَّذِي يَنْصُرُكُمْ مِنْ بَعْدِهِ ﴾ [آل عمران: 160]

“Jika Allah menolongmu, tidak ada yang dapat mengalahkanmu. Dan jika Dia meninggalkanmu, siapa yang dapat menolongmu sesudah-Nya?” [QS. Ali ‘Imran: 160].

Jika Allah adalah Penolong bagi orang yang bertawakal kepada-Nya, maka orang yang paling ditinggalkan adalah pengikut setan yang taat kepada hawa nafsu dan perintah setan, dan menganggapnya sebagai penolong selain Allah. Allah memberitahukan hal ini dalam firmanNya:

﴿ لَا تَجْعَلْ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ فَتَقْعُدَ مَذْمُومًا مَخْذُولًا ﴾ [الإسراء: 22]

“Janganlah kamu menjadikan selain Allah sebagai Tuhan, sehingga kamu menjadi terhina dan ditinggalkan.” [QS. Al-Isra’: 22].

Artinya: Tercela, tidak ada yang memujimu; ditinggalkan, tidak ada yang menolongmu.

Dan Allah Ta’ala berfirman:

﴿ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا ﴾ [الفرقان: 29].

“Dan setan itu bagi manusia adalah pengkhianat.” [QS. Al-Furqan: 29].

Ada beberapa sebab taufik dan kehinaan seorang hamba.

Pertama: Salah satu sebab utama yang menentukan keberhasilan atau kegagalan adalah niat dan tujuan seseorang, serta apa yang ada di hatinya sebelum melakukan suatu perbuatan.

Sesuai niat yang tulus dan baik, Allah menolong hamba itu; sesuai niat yang buruk atau duniawi, Allah meninggalkannya. Rasulullah ﷺ bersabda:

“إِنَّمَا الأَعمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امرِئٍ مَا نَوَى”

“Sesungguhnya segala amalan tergantung niat, dan setiap orang mendapatkan sesuai niatnya.” (HR. Bukhari & Muslim).

Ada perbedaan besar antara orang yang bersih hatinya, suci jiwanya, tulus niatnya, orientasi beramal dengan menginginkan apa yang ada di sisi Allah, dengan orang yang niatnya bercampur, ragu, atau orientasinya hanya mementingkan dunia.

Orang yang mengikuti hawa nafsu akan tersesat, sebagaimana firman Allah:

﴿ وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَى فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ﴾ [ص: 26].

“Janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, sehingga kamu disesatkan dari jalan Allah.” [QS. Shaad: 26].

Rasulullah ﷺ bersabda:

“مَن كَانَتِ الآخِرَةُ هَمَّهُ، جَعَلَ اللهُ غِنَاهُ في قَلبِهِ، وَجَمَعَ لَهُ شَملَهُ، وَأَتَتهُ الدُّنيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ، وَمَن كَانَتِ الدُّنيَا هَمَّهُ، جَعَلَ اللهُ فَقرَهُ بَينَ عَينَيهِ، وَفَرَّقَ عَلَيهِ شَملَهُ، وَلم يَأتِهِ مِنَ الدُّنيَا إِلاَّ مَا قُدِّرَ لَهُ”

“Barangsiapa yang akhirat menjadi tujuannya, Allah akan menempatkan kekayaan di hatinya, menyatukan urusannya, dan dunia akan datang kepadanya meskipun ia tidak mencarinya. Barangsiapa yang dunia menjadi tujuannya, Allah akan menempatkan kemiskinan di hadapannya, memecah-belah urusannya, dan dunia tidak akan datang kepadanya kecuali yang telah ditetapkan untuknya.” (HR. At-Tirmidzi, disahihkan oleh Al-Albani).

Dengan demikian, orang yang Allah ketahui hatinya penuh kebaikan, Dia akan menolongnya dan memberinya petunjuk. Dan orang yang hatinya sebaliknya, Allah akan meninggalkannya dan menimpakan kehinaan padanya. Allah berfirman:

﴿ إِنَّ شَرَّ الدَّوَابِّ عِنْدَ اللَّهِ الصُّمُّ الْبُكْمُ الَّذِينَ لَا يَعْقِلُونَ * وَلَوْ عَلِمَ اللَّهُ فِيهِمْ خَيْرًا لَأَسْمَعَهُمْ وَلَوْ أَسْمَعَهُمْ لَتَوَلَّوْا وَهُمْ مُعْرِضُونَ ﴾ [الأنفال: 22، 23].

“Sebenarnya yang paling buruk di antara binatang di sisi Allah adalah yang tuli dan bisu, yang tidak berakal. Seandainya Allah mengetahui kebaikan di dalam mereka, niscaya Dia akan mendengar mereka; jika Dia mendengar mereka, niscaya mereka akan tetap berpaling, sementara mereka tetap mengingkarinya.” [QS. Al-Anfal: 22–23].

Kedua: Di antara sebab-sebab keberhasilan dan kegagalan adalah ketaatan dan maksiat.

Barangsiapa taat kepada Allah, niscaya Dia akan memberinya petunjuk, menambahkan karunia-Nya, dan memperbaiki urusannya. Sebaliknya, barangsiapa bermaksiat kepada-Nya, niscaya Allah akan membutakan penglihatannya, mengaburkan cahaya hatinya, menutup jalan-jalan keberhasilan, dan menutupinya dari sumber-sumber hidayah.

Allah berfirman:

﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ﴾ [الأحزاب: 70، 71].

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar, niscaya Allah akan memperbaiki amalanmu dan mengampuni dosa-dosamu.” [QS. Al-Ahzab: 70–71].

Allah juga berfirman:

﴿ مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ﴾ [النحل: 97].

“Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, laki-laki atau perempuan, sedang ia beriman, maka pasti akan Kami hidupkan dia dengan kehidupan yang baik.” [QS. An-Nahl: 97].

Dan Dia berfirman:

﴿ وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ ﴾ [الشورى: 30].

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, itu adalah akibat dari perbuatan tanganmu sendiri; dan Dia mengampuni banyak kesalahan.” [QS. Asy-Syura: 30].

Apabila seorang hamba mengenali nikmat Allah dan bersyukur atasnya, Allah akan mengekalkannya dan menambahkannya lagi, serta menuntunnya untuk memperoleh nikmat lain. Sebaliknya, jika kufur dan ingkar, ia akan mendapat azab dan ditinggalkan. Allah berfirman:

﴿ وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ ﴾ [إبراهيم: 7].

“Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan: ‘Jika kamu bersyukur, pasti akan Aku tambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu kafir, sesungguhnya azab-Ku amat keras.’” [QS. Ibrahim: 7].

Ketiga: Di antara sebab lain keberhasilan dan kegagalan adalah doa.

Baik doa seseorang untuk kebaikan pribadi, atau doa orang lain untuknya, baik dari kaum muslimin pada umumnya, maupun dari orang tua khususnya. Rasulullah ﷺ melarang mendoakan keburukan atas diri sendiri, anak, atau harta, karena hal itu termasuk sebab kegagalan, hilangnya keberkahan, dan tidak tercapainya petunjuk. Beliau bersabda:

“لا تَدعُوا عَلَى أَنفُسِكُم، وَلا تَدعُوا عَلَى أَولادِكُم، وَلا تَدعُوا عَلَى أَموَالِكُم، لا تُوَافِقُوا مِنَ اللَّهِ سَاعَةً يُسأَلُ فِيهَا عَطَاءٌ فَيَستَجِيبُ لَكُم”.

“Janganlah kalian mendoakan keburukan atas dirimu sendiri, anak-anakmu, atau hartamu; karena mungkin pada saat itu Allah akan mengabulkan doa kalian.” (HR. Muslim).

Maka hendaklah kita bertakwa kepada Allah, wahai kaum muslimin, dan senantiasa berdoa untuk kebaikan pribadi, mencari doa dari orang-orang saleh dan orang tua, serta berhati-hati dari menzalimi orang yang tidak ada penolongnya kecuali Allah, yaitu orang yang di malam gelap mengangkat tangan untuk berdoa atas penindasnya.

Marilah kita memohon kepada Allah keberhasilan dalam setiap urusan kita, meski kecil sekalipun, karena barangsiapa yang diserahkan Allah kepada dirinya sendiri atau kepada manusia, atau kepada kekurangan dan kelemahan, maka ia tidak akan berhasil. Salah satu doa Nabi ﷺ adalah:

“اللَّهُمَّ لا تَكِلْني إِلى نَفسِي طَرفَةَ عَينٍ، وَأَصلِحْ لي شَأني كُلَّهُ لا إِلَهَ إِلاَّ أَنتَ”.

“Ya Allah, jangan Engkau serahkan aku kepada diriku sendiri walau sesaat, dan perbaikilah semua urusanku. Tiada Rabb selain Engkau.”

Demikian pula petunjuk Nabi Muhammad shallallahu alaihi wassalam dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: “Doa yang paling sering dibaca oleh Rasulullah ﷺ adalah:

اللَّهُمَّ رَبَّنَا، آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

 ‘Ya Allah Tuhan kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia, dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.’

Dan Anas, apabila ingin berdoa dengan satu doa, ia berdoa dengan doa ini dan juga menyertakan doa ini di setiap doanya.

أَقُولُ قَوْلِي هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ.

Khutbah kedua:

الحمدُ للهِ على إِحسانِهِ، والشُّكرُ لهُ على توفيقِهِ وامْتِنانِهِ، وأشهدُ أنْ لا إِلٰهَ إلَّا اللهُ وحدَهُ لا شريكَ لهُ تعظيمًا لشأنِهِ، وأشهدُ أنَّ محمَّدًا عبدُهُ ورسولُهُ الدَّاعِيَ إلى رِضْوانِهِ، صلَّى اللهُ عليهِ وعلى آلِهِ وصحابَتِهِ وسلَّمَ تسليمًا كثيرًا. أمَّا بعدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ:

اتَّقُوا اللهَ – تعالى – وَلَا تَمُوتُنَّ إلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا، وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ، وَتَمَسَّكُوا بِكِتَابِ رَبِّكُمْ، فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ رَسُولِ اللهِ، وَاحْذَرُوا الْبِدَعَ وَالْمُحْدَثَاتِ، فَإِنَّ شَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، الْزَمُوا جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ، فَإِنَّ يَدَ اللهِ مَعَ جَمَاعَةِ الْمُسْلِمِينَ، وَمَنْ شَذَّ عَنْهُمْ شَذَّ فِي النَّارِ.

Bertakwalah kepada Allah Ta’ala, taatilah segala perintahnya dan jauhilah larangan-larangan-Nya, bersyukurlah atas segala nikmat-Nya dan janganlah mengingkarinya. Bersamalah dengan Allah niscaya Allah akan bersamamu, dan bantulah agama Allah niscaya Allah akan menolongmu.”

Allah Ta’ala berfirman:

﴿ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا * وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا ﴾ [الطلاق: 2، 3].

“Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah cukup baginya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Allah telah menentukan kadar untuk segala sesuatu.” [QS. At-Talaq: 2-3].

Wahai kaum Muslimin, ada yang mungkin menyangka bahwa pembahasan tentang tawfiq (pertolongan dan keberhasilan) dan khidhlan (ditinggalkan atau gagal) hanya terkait urusan dunia dan perolehan yang fana, seperti harta, kedudukan, dan jabatan. Padahal, meskipun hal-hal duniawi termasuk bagian dari tawfiq dan khidhlan, sesungguhnya tawfiq dan khidhlan lebih luas dan lebih penting, khususnya yang berhubungan dengan urusan akhirat—keberhasilan atau kerugian di sana.

Misalnya, shalat subuh berjamaah, menunaikan shalat lima waktu bersama kaum Muslimin di masjid, menjaga shalat sunnah dan memperbanyaknya, rutin membaca Al-Qur’an dan berdzikir, bersedekah, berbakti kepada orang tua, menjalin silaturahmi, berbuat baik kepada tetangga, mencintai orang lain sebagaimana mencintai dirinya sendiri, berakhlak mulia dalam pergaulan, jujur dalam jual-beli, dan menunaikan hak setiap orang—semua itu termasuk bidang di mana tawfiq dan khidhlan berlaku.

Barang siapa yang berusaha mendapatkan kebaikan, Allah akan menambah hidayah kepadanya. Barang siapa yang berpaling dan melupakan Allah, niscaya Allah meninggalkannya. Begitulah Anda akan melihat orang-orang berhasil atau gagal, bukan karena sebab-sebab lahiriah yang tampak, tetapi karena sebab-sebab halus dan tersembunyi.

Seorang wanita bisa berhasil sementara seorang pria gagal, seorang pemuda berhasil sementara orang tua ditinggalkan, seorang lemah mendapat petunjuk sementara seorang mulia tersesat, rezeki sedikit diberkahi, sementara harta melimpah bisa kehilangan keberkahan. Siapa pun yang hanya menggantungkan diri pada kekuatannya sendiri akan terhina dan ditinggalkan.

Apabila Allah menghendaki kebaikan dan pertolongan bagi hamba-Nya, Dia akan menunjukkan jalan tawfiq, memberinya kemampuan bertawakal dan memohon pertolongan kepada-Nya, membantunya menempuh sebab-sebab yang benar, dan menyiapkan jalan hidayah. Sebaliknya, apabila Allah menghendaki khidhlan bagi hamba, Dia tidak menunjukkan jalan tawakal, tidak memberikan keberhasilan dalam niat yang tulus dan tujuan yang benar.

Bentuk terbesar dari khidhlan Allah terhadap hamba—yang sering dilalaikan oleh orang-orang sombong yang terbuai—adalah ketika seseorang dihukum karena berpaling dari Rabb-nya atau berbuat buruk kepada makhluk-Nya, namun ia tidak menyadari bahwa dirinya sedang dihukum. Tidak ada suara hati yang menegur, tidak ada rasa bersalah, tidak ada gelisah atau penyesalan atas perbuatannya terhadap hamba Allah, dan tidak ada pengingat dari dalam dirinya sendiri yang membuatnya resah karena melanggar perintah Allah.

Maka bertakwalah kepada Allah dan berbuat baiklah. Allah berfirman:

﴿ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ ﴾ [النحل: 128].

“Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat baik.” [QS. An-Nahl: 128].

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ تَوْفِيقًا لِطَاعَتِكَ، وَبُعْدًا عَنْ مَعَاصِيكَ، وَثَبَاتًا عَلَى دِينِكَ، وَنَجَاحًا فِي كُلِّ أُمُورِنَا.

اللَّهُمَّ اصْرِفْ عَنَّا الزَّلَلَ وَالْخُسْرَانَ، وَاحْفَظْنَا مِنْ سُوءِ الْفِتَنِ، وَقِنَا شَرَّ مَا قَضَيْتَ.

اللَّهُمَّ اجْعَلْ عَوَاقِبَ أُمُورِنَا خَيْرًا، وَاخْتِمْ لَنَا بِالسَّعَادَةِ وَالْفَوْزِ وَالرِّضْوَانِ، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.

“Ya Allah, kami memohon kepada-Mu taufik untuk taat kepada-Mu, jauh dari maksiat-Mu, keteguhan di atas agama-Mu, dan keberhasilan dalam seluruh urusan kami.

Ya Allah, jauhkan kami dari kesalahan dan kerugian, lindungi kami dari fitnah yang buruk, dan jagalah kami dari segala keburukan ketetapan-Mu.

Ya Allah, jadikanlah akhir dari semua urusan kami kebaikan, dan wafatkan kami dalam kebahagiaan, kemenangan, dan keridhaan-Mu. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.”

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ وَسَلَّمْتَ عَلَى نَبِيِّنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ نَبِيِّنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى نَبِيِّنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ نَبِيِّنَا إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

اللَّهُمَّ اجْعَلْ جَمْعَنَا هَذَا جَمْعًا مَرْحُومًا، وَاجْعَلْ تَفَرُّقَنَا مِنْ بَعْدِهِ تَفَرُّقًا مَعْصُومًا، وَلَا تَدَعْ فِينَا وَلَا مَعَنَا شَقِيًّا وَلَا مَحْرُومًا.

اللَّهُمَّ انْصُرِ الْإِسْلَامَ وَأَعِزَّ الْمُسْلِمِينَ، وَاجْمَعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الْخَيْرِ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَانْشُرِ السَّلَامَ وَالْأَمْنَ فِي الْعِبَادِ أَجْمَعِينَ.

اللَّهُمَّ كُنْ عَوْنًا لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، وَكُنْ مَعَهُمْ وَلِيَّهُمْ وَانْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ، وَاجْعَلِ الدَّائِرَةَ عَلَيْهِ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ.

اللَّهُمَّ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدُّعَاء.

﴿إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُم بَيْنَ النَّاسِ أَن تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ ۚ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُم بِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا﴾.

﴿إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْ

شَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ﴾.

وأقيموا الصلاة…

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button