Tatsqif

Keutamaan Gunung Uhud dan Penjelasan Mukjizat Nabi ﷺ

*Keutamaan Gunung Uhud dan Penjelasan Mukjizat Nabi ﷺ*

Salah satu keutamaan Gunung Uhud tampak dalam sabda Nabi ﷺ:

> «اثْبُتْ أُحُدُ، فَإِنَّمَا عَلَيْكَ نَبِيٌّ، وَصِدِّيقٌ، وَشَهِيدَانِ»
“Tenanglah wahai Uhud, karena di atasmu hanya ada seorang nabi, seorang ash-Shiddiq, dan dua orang syahid.” (HR. al-Bukhari)

Yang dimaksud dengan dua orang syahid dalam hadis ini adalah Umar bin al-Khaththab dan Utsman bin Affan radhiyallāhu ‘anhumā, sedangkan ash-Shiddiq adalah Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallāhu ‘anhu.

Hal ini dijelaskan dalam riwayat dari Anas bin Malik radhiyallāhu ‘anhu:

> عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ صَعِدَ أُحُدًا، وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ وَعُثْمَانُ، فَرَجَفَ بِهِمْ، فَقَالَ: «اثْبُتْ أُحُدُ، فَإِنَّمَا عَلَيْكَ نَبِيٌّ، وَصِدِّيقٌ، وَشَهِيدَانِ»

“Nabi ﷺ naik ke Gunung Uhud bersama Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Tiba-tiba gunung itu berguncang. Beliau pun bersabda, ‘Tenanglah wahai Uhud, karena di atasmu hanya ada seorang nabi, seorang ash-Shiddiq, dan dua orang syahid.'”
(HR. al-Bukhari)

Apa yang dikabarkan Rasulullah ﷺ benar-benar terjadi. Umar radhiyallāhu ‘anhu wafat sebagai syahid ketika ditikam saat mengimami shalat di mihrab Masjid Nabawi, sedangkan Utsman radhiyallāhu ‘anhu juga wafat sebagai syahid ketika dibunuh oleh para pemberontak.

Pelajaran dari hadis ini

Hadis tersebut menunjukkan beberapa faedah penting, di antaranya:

1. Keutamaan Gunung Uhud.
2. Salah satu mukjizat Rasulullah ﷺ, yaitu pemberitahuan beliau tentang perkara gaib yang kemudian benar-benar terjadi.
3. Mukjizat beliau berupa kemampuan berbicara kepada benda mati dengan izin Allah. Sebagaimana batang kurma pernah merindukan beliau, batu pernah mengucapkan salam kepada beliau, dan Gunung Uhud menaati perintah beliau.

Sabda beliau:

> «اثْبُتْ أُحُدُ»

adalah lafaz yang diucapkan langsung oleh Nabi ﷺ kepada Gunung Uhud.

Macam-macam Berita Gaib yang Disampaikan Nabi ﷺ

Berita gaib yang disampaikan Rasulullah ﷺ terbagi menjadi tiga macam.

1. Berita tentang peristiwa masa lampau

Yaitu perkara-perkara terdahulu yang Allah wahyukan kepada beliau, seperti kisah Nabi Yusuf dan saudara-saudaranya, Ashabul Kahfi, kaum Nabi Nuh, kaum ‘Ad, dan umat-umat terdahulu lainnya.

2. Berita tentang peristiwa yang terjadi pada masa hidup beliau

Contohnya adalah pemberitahuan beliau tentang tempat terbunuhnya para pemuka Quraisy dalam Perang Badar.

3. Berita tentang peristiwa yang terjadi setelah wafat beliau

Inilah yang termasuk dalam hadis Gunung Uhud di atas, yaitu kabar bahwa Umar dan Utsman akan meninggal sebagai syahid.

Nabi ﷺ Tidak Mengetahui Perkara Gaib Kecuali yang Allah Wahyukan

Perkara gaib hanya diketahui oleh Allah semata. Rasulullah ﷺ hanya mengetahui perkara gaib yang Allah perlihatkan kepada beliau melalui wahyu, baik yang terdapat dalam Al-Qur’an maupun Sunnah, seperti berita tentang surga, neraka, hari kiamat, fitnah Dajjal, terbitnya matahari dari barat, keluarnya binatang melata (dabbah), turunnya Nabi Isa ‘alaihissalam, dan berbagai tanda kiamat lainnya.

Allah Ta’ala berfirman:

> ﴿قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ﴾
“Katakanlah, ‘Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara gaib selain Allah.'” (QS. An-Naml: 65)

Allah juga berfirman:

> ﴿قُلْ لَا أَقُولُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلَا أَعْلَمُ الْغَيْبَ﴾
“Katakanlah, ‘Aku tidak mengatakan kepada kalian bahwa perbendaharaan Allah ada padaku dan aku tidak mengetahui perkara gaib.'” (QS. Al-An’am: 50)

Allah berfirman pula:

> ﴿وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ ۚ إِنْ أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ﴾
“Sekiranya aku mengetahui perkara gaib, tentu aku akan memperbanyak kebaikan dan tidak akan ditimpa keburukan. Aku hanyalah pemberi peringatan dan pembawa kabar gembira bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-A’raf: 188)

Rasulullah ﷺ juga bersabda ketika ditanya oleh Jibril tentang hari kiamat:

> «مَا الْمَسْئُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ»

“Orang yang ditanya tidak lebih mengetahui daripada orang yang bertanya.” (HR. Muslim)

Beliau juga bersabda:

> «خَمْسٌ لَا يَعْلَمُهُنَّ إِلَّا اللَّهُ»

“Ada lima perkara yang tidak diketahui kecuali oleh Allah.”

Kemudian beliau membaca firman Allah:

> ﴿إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ…﴾
“Sesungguhnya hanya di sisi Allah ilmu tentang hari kiamat, Dia yang menurunkan hujan…” (QS. Luqman: 34)

Di antara bukti bahwa beliau tidak mengetahui perkara gaib adalah ketika fitnah terhadap Aisyah radhiyallāhu ‘anhā terjadi, beliau tidak mengetahui bahwa Aisyah suci hingga Allah menurunkan wahyu dalam Surah An-Nur. Demikian pula ketika kalung Aisyah hilang dalam salah satu perjalanan, beliau mengutus para sahabat untuk mencarinya namun tidak menemukannya. Setelah unta Aisyah berdiri, ternyata kalung itu berada di bawahnya.

Keutamaan Gunung Uhud

Rasulullah ﷺ bersabda:

> «أُحُدٌ جَبَلٌ يُحِبُّنَا وَنُحِبُّهُ»

“Uhud adalah gunung yang mencintai kami dan kami pun mencintainya.” (Muttafaq ‘alaih)

Gunung Uhud dinamakan demikian karena berdiri sendiri terpisah dari pegunungan lainnya. Letaknya di sebelah utara Kota Madinah dan termasuk gunung yang diberkahi.

Ketika Nabi ﷺ naik ke atasnya bersama Abu Bakar, Umar, dan Utsman, gunung itu berguncang.

Para ulama menjelaskan bahwa guncangan tersebut terjadi karena kegembiraan Gunung Uhud atas kedatangan manusia-manusia termulia yang menginjaknya.

Rasulullah ﷺ adalah makhluk paling mulia, sedangkan para sahabat beliau adalah manusia terbaik setelah para nabi dan rasul. Karena itu beliau menenangkan gunung tersebut dengan sabdanya:

> «اثْبُتْ أُحُدُ»

Kemudian beliau bersabda:

> «فَإِنَّمَا عَلَيْكَ نَبِيٌّ، وَصِدِّيقٌ، وَشَهِيدَانِ»

Ucapan ini merupakan pemberitahuan tentang perkara gaib, sebab saat itu Umar dan Utsman belum wafat. Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa keduanya akan meninggal sebagai syahid, dan hal itu benar-benar terjadi.

Hadis ini juga menunjukkan bahwa Allah mengilhamkan sebagian benda mati untuk mencintai Rasulullah ﷺ. Gunung Uhud bukan satu-satunya. Batang kurma yang dahulu dijadikan sandaran ketika beliau berkhutbah juga pernah merintih karena rindu kepada beliau ketika mimbar telah dibuat.

Para sahabat mendengar suara rintihan tersebut hingga Rasulullah ﷺ turun dari mimbar, mendatangi batang kurma itu, lalu menenangkannya.

Beberapa Peristiwa Penting dalam Perang Uhud

Di Gunung Uhud terjadi Perang Uhud pada tahun ketiga Hijriah, setelah Perang Badar.

Dalam peperangan ini terjadi berbagai peristiwa besar, di antaranya:

Kepala Rasulullah ﷺ terluka.

Gigi seri beliau patah.

Darah mengalir di wajah beliau.

Paman beliau, Hamzah bin Abdul Muththalib radhiyallāhu ‘anhu, gugur sebagai syahid di tangan Wahsyi.

Sekitar tujuh puluh sahabat gugur sebagai syahid.

Allah Ta’ala berfirman:

> ﴿إِنْ يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِثْلُهُ﴾

“Jika kamu mendapat luka, maka sesungguhnya kaum itu pun telah mendapat luka yang serupa.” (QS. Ali ‘Imran: 140)

Allah juga berfirman:

> ﴿أَوَلَمَّا أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُمْ مِثْلَيْهَا﴾

“Mengapa ketika musibah menimpa kalian, padahal kalian telah menimpakan dua kali lipat musibah kepada musuh, kalian berkata, ‘Dari mana datangnya ini?’.” (QS. Ali ‘Imran: 165)

Pada Perang Badar, kaum Muslimin telah membunuh tujuh puluh orang musyrik dan menawan tujuh puluh lainnya. Adapun pada Perang Uhud, tujuh puluh sahabat gugur sebagai syahid.

Ziarah Rasulullah ﷺ kepada Syuhada Uhud

Rasulullah ﷺ memerintahkan agar para syuhada Uhud dimakamkan di lokasi mereka gugur. Hingga kini kubur-kubur mereka masih berada di dekat Gunung Uhud.

Menjelang wafatnya, ketika beliau merasakan ajal semakin dekat, beliau mendatangi makam para syuhada Uhud. Beliau mengucapkan salam kepada mereka, memohonkan ampun untuk mereka, dan mendoakan mereka seolah-olah sedang berpamitan.

Perbuatan tersebut merupakan bukti besarnya kesetiaan Rasulullah ﷺ kepada para sahabat yang telah mengorbankan jiwa dan darah mereka demi menegakkan agama Allah.

Sejak itu, ziarah ke makam para syuhada Uhud menjadi salah satu sunnah ketika berada di Madinah. Tujuannya adalah mengucapkan salam dan mendoakan mereka, bukan meminta sesuatu kepada mereka, karena penghuni kubur tidak memiliki kemampuan memberi manfaat maupun menolak mudarat bagi diri mereka sendiri ataupun bagi orang lain.

Semoga Allah meridhai mereka seluruhnya.

Syahidnya Umar radhiyallāhu ‘anhu sebagaimana diberitakan oleh Nabi ﷺ

Rasulullah ﷺ telah mengabarkan bahwa Umar radhiyallāhu ‘anhu akan meninggal sebagai syahid, dan berita itu benar-benar terjadi. Beliau ditikam oleh Abu Lu’lu’ah al-Majusi di mihrab Masjid Nabawi, sebagaimana telah dikenal dalam sejarah.

Sebelum terbunuh, Umar radhiyallāhu ‘anhu senantiasa berdoa:

> اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ شَهَادَةً فِي سَبِيلِكَ، وَمِيتَةً فِي بَلَدِ رَسُولِكَ

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu syahid di jalan-Mu dan wafat di negeri Rasul-Mu.” (HR. al-Bukhari)

Disebutkan bahwa sebagian sahabat dan tabi’in yang berada di sekeliling beliau merasa heran terhadap doa tersebut. Mereka berkata, “Wahai Amirul Mukminin, syahid biasanya diperoleh di medan jihad, bukan di Madinah. Madinah adalah negeri Islam yang aman dan tidak ada orang-orang kafir yang memeranginya.”

Namun Umar radhiyallāhu ‘anhu terus memanjatkan doa tersebut.

Allah Ta’ala mengabulkan permohonannya karena keikhlasan niat dan besarnya jihad beliau. Umar pun wafat sebagai syahid di mihrab Rasulullah ﷺ, sehingga terkumpul baginya dua keutamaan yang beliau harapkan: mati syahid dan wafat di Kota Madinah.

Syahidnya Utsman radhiyallāhu ‘anhu sebagaimana diberitakan oleh Nabi ﷺ

Sebagaimana dikabarkan oleh Rasulullah ﷺ, Utsman bin Affan radhiyallāhu ‘anhu juga meninggal sebagai syahid.

Beliau dibunuh di Kota Madinah setelah kaum Khawarij dan para pemberontak memanjat tembok rumahnya lalu menyerangnya hingga wafat.

Utsman radhiyallāhu ‘anhu adalah pemimpin kaum mukminin yang saleh, sedangkan para pembunuhnya adalah orang-orang fasik dan durhaka. Para ulama berbeda pendapat tentang hukum mengafirkan mereka. Sebagian ulama mengkafirkan orang yang menghalalkan darah Utsman, namun secara umum mereka dikenal sebagai pelaku kezaliman yang sangat besar.

Peristiwa ini merupakan salah satu bukti kebenaran berita gaib yang disampaikan Rasulullah ﷺ. Umar dan Utsman benar-benar wafat sebagai syahid sebagaimana yang telah beliau kabarkan.

Gunung Uhud, Salah Satu Tempat Bersejarah dalam Sirah Nabawiyah

Gunung Uhud merupakan salah satu tempat bersejarah yang paling mulia dan paling erat kaitannya dengan perjalanan hidup Rasulullah ﷺ. Banyak peristiwa penting sejak awal dakwah Islam setelah hijrah ke Madinah terjadi di kawasan ini.

Di kaki Gunung Uhud juga berlangsung Perang Uhud pada tahun ketiga Hijriah.

Hingga hari ini, para peziarah yang datang ke Madinah senantiasa mengunjungi Gunung Uhud karena di sana terdapat berbagai peninggalan sejarah Islam, di antaranya makam sekitar tujuh puluh sahabat yang gugur sebagai syuhada dalam Perang Uhud.

Letak Gunung Uhud

Gunung Uhud berada di sebelah utara Kota Madinah. Dahulu jaraknya sekitar tiga mil dari kota, namun seiring meluasnya pembangunan Kota Madinah, jarak tersebut semakin dekat.

Gunung ini memanjang dari timur ke barat dengan sedikit melengkung ke arah utara.

Sebagai benteng alami di sebelah utara Madinah, panjangnya sekitar 7 kilometer, lebarnya antara 2–3 kilometer, sedangkan ketinggian puncaknya mencapai sekitar 1.077 meter di atas permukaan laut, dengan bagian yang menjulang sekitar 350 meter dari dataran sekitarnya.

Jaraknya dari Masjid Nabawi sekitar 4–5 kilometer.

Di sebelah barat laut berbatasan dengan Gunung Tsaur dan Gunung Ti’ab, sedangkan di sebelah barat daya terdapat Jabal ar-Rumah (Bukit Pemanah).

Gunung Uhud memiliki banyak gua dan celah batu. Sebagian celah memiliki tinggi lebih dari satu setengah meter dengan kedalaman mencapai sekitar sepuluh meter.

Gunung ini merupakan gunung berbatu berwarna kemerah-merahan, memiliki banyak puncak dan bukit kecil. Di dalamnya juga terdapat al-mahārīs, yaitu cekungan-cekungan alami yang menampung air hujan yang mengalir dari bagian atas gunung.

Keutamaan Gunung Uhud

Dari Anas bin Malik radhiyallāhu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

> «هَذَا جَبَلٌ يُحِبُّنَا وَنُحِبُّهُ»

“Ini adalah gunung yang mencintai kami dan kami pun mencintainya.” (Muttafaq ‘alaih)

Hadis ini menunjukkan kemuliaan Gunung Uhud dan menjadi salah satu keutamaannya.

Perang Uhud

Perang Uhud terjadi di lereng selatan Gunung Uhud. Karena itulah peperangan tersebut dinamakan Perang Uhud.

Saat itu Gunung Uhud berada di sebelah kanan pasukan kaum Muslimin, sedangkan Bukit Pemanah berada di sebelah kiri mereka.

Perang ini berlangsung pada tahun ketiga Hijriah antara kaum Muslimin dan kaum musyrikin Quraisy.

Kekalahan kaum Muslimin pada akhir peperangan terjadi setelah sebagian pasukan pemanah tidak menaati perintah Rasulullah ﷺ. Padahal beliau telah memerintahkan mereka agar tetap berada di atas bukit dan tidak meninggalkan posisi sebelum peperangan benar-benar selesai.

Akibatnya, sekitar tujuh puluh sahabat gugur sebagai syahid, di antaranya Hamzah bin Abdul Muththalib radhiyallāhu ‘anhu, paman Rasulullah ﷺ.

Makam Para Syuhada Uhud

Di kawasan Gunung Uhud terdapat makam sekitar tujuh puluh syuhada Perang Uhud.

Di sana juga terdapat sebuah celah batu yang menurut sebagian riwayat menjadi tempat Rasulullah ﷺ berlindung setelah pasukan kaum Muslimin terpukul mundur.

Tidak jauh dari lokasi tersebut terdapat Masjid al-Fash, yaitu salah satu tempat yang menurut sebagian riwayat pernah digunakan Rasulullah ﷺ untuk melaksanakan shalat.

Sebab Penamaan Gunung Uhud

Para ulama menyebutkan beberapa pendapat mengenai asal-usul nama Gunung Uhud.

1. Karena berdiri sendiri

Pendapat yang paling masyhur menyatakan bahwa gunung ini dinamakan Uhud karena berdiri sendiri, terpisah dari rangkaian pegunungan lain, dan dikelilingi lembah-lembah.

2. Dinisbatkan kepada seseorang bernama Uhud

Ada pula yang mengatakan bahwa gunung ini dinamai menurut nama seorang laki-laki dari kaum Amalik bernama Uhud yang pernah tinggal di kawasan tersebut.

3. Sebagai simbol tauhid

Pendapat lain menyatakan bahwa nama Uhud berkaitan dengan makna keesaan (tauhid) Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sebagian ulama juga mengatakan bahwa pada masa jahiliah gunung ini dikenal dengan nama ‘Anqad, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Syabbah.

Besarnya Pahala Mengiringi Jenazah

Besarnya Gunung Uhud dijadikan Rasulullah ﷺ sebagai perumpamaan besarnya pahala.

Beliau bersabda:

> «مَنِ اتَّبَعَ جَنَازَةَ مُسْلِمٍ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، وَكَانَ مَعَهُ حَتَّى يُصَلَّى عَلَيْهَا وَيُفْرَغَ مِنْ دَفْنِهَا، فَإِنَّهُ يَرْجِعُ بِقِيرَاطَيْنِ مِنَ الْأَجْرِ، كُلُّ قِيرَاطٍ مِثْلُ أُحُدٍ، وَمَنْ صَلَّى عَلَيْهَا ثُمَّ رَجَعَ قَبْلَ أَنْ تُدْفَنَ، فَإِنَّهُ يَرْجِعُ بِقِيرَاطٍ»

“Barang siapa mengikuti jenazah seorang Muslim karena iman dan mengharap pahala, lalu tetap bersamanya hingga dishalatkan dan selesai dimakamkan, maka ia memperoleh dua qirath pahala. Setiap satu qirath besarnya seperti Gunung Uhud. Barang siapa hanya menyalatkannya lalu pulang sebelum dimakamkan, maka ia memperoleh satu qirath.” (Muttafaq ‘alaih)

Dalam riwayat lain disebutkan:

> «مَنْ صَلَّى عَلَى جَنَازَةٍ وَلَمْ يَتَّبِعْهَا فَلَهُ قِيرَاطٌ، فَإِنِ اتَّبَعَهَا فَلَهُ قِيرَاطَانِ»

Para sahabat bertanya, “Apakah yang dimaksud dua qirath itu?”

Beliau menjawab:

«أَصْغَرُهُمَا مِثْلُ أُحُدٍ»

“Yang paling kecil di antara keduanya besarnya seperti Gunung Uhud.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Ketika hadis ini disampaikan kepada Abdullah bin Umar, bahwa Abu Hurairah meriwayatkan pahala sebesar itu bagi orang yang mengikuti jenazah, Ibnu Umar berkata, “Abu Hurairah terlalu banyak meriwayatkan kepada kita.”

Lalu beliau mengutus seseorang kepada Aisyah binti Abu Bakar untuk memastikan hadis tersebut. Setelah Aisyah membenarkan riwayat Abu Hurairah, Ibnu Umar pun berkata:

> «لَقَدْ فَرَّطْنَا فِي قَرَارِيطَ كَثِيرَةٍ»

“Sungguh kita telah menyia-nyiakan banyak qirath pahala.” (Muttafaq ‘alaih)

Betapa banyak qirath pahala yang telah kita sia-siakan. Betapa banyak pahala sebesar gunung-gunung yang telah kita hilangkan.

Makam Para Syuhada Uhud dari Kalangan Sahabat

Di kawasan Gunung Uhud terdapat makam tujuh puluh sahabat Rasulullah ﷺ yang gugur sebagai syahid dalam Perang Uhud. Di antara mereka yang paling menonjol adalah:

Hamzah bin Abdul Muththalib,

Mus’ab bin Umair,

Abdullah bin Jahsy,

Hanzhalah bin Abu Amir,

Abdullah bin Jubair,

Amr bin al-Jamuh,

Abdullah bin Haram,

semoga Allah meridhai mereka seluruhnya.

Mereka gugur sebagai syahid pada bulan Syawal tahun ketiga Hijriah.

Rasulullah ﷺ senantiasa menziarahi mereka dari waktu ke waktu. Dari Talhah bin Ubaidillah radhiyallāhu ‘anhu, beliau berkata:

> خرجنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم يريد قبور الشهداء، حتى إذا أشرَفنا على حرة واقم، فإذا قبور، فقلنا: يا رسول الله، أقبور إخواننا هذه؟ قال: هذه قبور أصحابنا، فلما جئنا قبور الشهداء، قال: ((هذه قبور إخواننا))

“Kami keluar bersama Rasulullah ﷺ menuju makam para syuhada. Ketika kami sampai di daerah Harrah Waqim, tampak beberapa kuburan. Kami bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah ini kuburan saudara-saudara kita?’ Beliau menjawab, ‘Ini adalah kuburan para sahabat kita.’ Ketika kami tiba di makam para syuhada, beliau bersabda, ‘Ini adalah kuburan saudara-saudara kita.’”
(HR. Ahmad dan Abu Dawud)

Diriwayatkan pula dari Uqbah bin Amir radhiyallāhu ‘anhu:

> صلى رسول الله صلى الله عليه وسلم على قتلى أُحُد بعد ثماني سنين كالمودع للأحياء والأموات

“Delapan tahun setelah Perang Uhud, Rasulullah ﷺ menyalatkan para syuhada Uhud seakan-akan sedang berpamitan kepada orang-orang yang masih hidup maupun yang telah wafat.”
(HR. al-Bukhari)

Karena itu, disunnahkan menziarahi para syuhada Uhud dan mengucapkan salam kepada mereka.

Kecintaan Gunung Uhud kepada Rasulullah ﷺ

Gunung Uhud memiliki hubungan cinta yang istimewa dengan Rasulullah ﷺ. Beliau bersabda:

> «أُحُدٌ جَبَلٌ يُحِبُّنَا وَنُحِبُّهُ»

“Uhud adalah gunung yang mencintai kami dan kami pun mencintainya.”
(HR. al-Bukhari)

Gunung Uhud juga merupakan gunung yang diajak berbicara oleh Rasulullah ﷺ. Ia menaati dan tunduk kepada perintah beliau.

Suatu hari gunung itu berguncang, lalu beliau bersabda:

> «اثْبُتْ أُحُدُ، فَإِنَّ فَوْقَكَ نَبِيًّا، وَصِدِّيقًا، وَشَهِيدَيْنِ»

“Tenanglah wahai Uhud, karena di atasmu ada seorang nabi, seorang ash-Shiddiq, dan dua orang syahid.”
(HR. al-Bukhari)

Jika sebuah gunung saja mendengar dan menaati perintah Rasulullah ﷺ, maka sudah sepatutnya kita lebih pantas lagi mendengar dan menaati beliau sebagai teladan dan pemberi syafaat bagi umatnya.

Gunung yang Menyimpan Kenangan Sirah Nabawiyah

Gunung Uhud menyimpan begitu banyak kenangan yang telah dijelaskan para ulama dalam kitab-kitab sirah dan nasihat.

Di sinilah manusia terbaik, Rasulullah ﷺ, terluka.

Di sinilah darah paling mulia mengalir di atas gunung yang mulia.

Di sinilah gigi seri beliau patah.

Di sinilah beliau hampir terbunuh.

Namun di tempat itu pula beliau justru mendoakan kebaikan bagi kaumnya, bukan mendoakan kebinasaan atas mereka.

Beliau berdoa:

> «اللَّهُمَّ اهْدِ قَوْمِي فَإِنَّهُمْ لَا يَعْلَمُونَ»

“Ya Allah, berilah petunjuk kepada kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui.”

Di Uhud terdapat pelajaran besar tentang pengorbanan, ketulusan cinta, kesetiaan, dan keberanian.

Di sinilah tampil para pahlawan Islam, seperti:

Nusaibah binti Ka’ab,

Abu Dujanah,

Hanzhalah bin Abu Amir,

Talhah bin Ubaidillah,

Hamzah bin Abdul Muththalib,

Mus’ab bin Umair,

Abdullah bin Jahsy.

Nama-nama mereka diabadikan oleh sejarah karena jasa dan pengorbanannya.

Bukit Pemanah: Pelajaran Abadi tentang Ketaatan

Di hadapan Gunung Uhud terdapat Bukit Pemanah (Jabal ar-Rumah).

Bukit ini hingga hari ini mengingatkan setiap orang yang melihatnya akan pelajaran terbesar dari Perang Uhud, yaitu ketaatan kepada Rasulullah ﷺ.

Ketaatan adalah sebab keselamatan di dunia dan akhirat.

Kemenangan hanya diraih dengan ketaatan.

Kekalahan di Uhud terjadi karena sebagian pasukan pemanah melakukan maksiat dengan meninggalkan posisi yang telah diperintahkan Rasulullah ﷺ.

Kemaksiatan tidak akan melahirkan selain kekalahan. Inilah sunnatullah yang berlaku bagi siapa pun tanpa memandang kedudukan.

Allah Ta’ala berfirman:

> ﴿قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِكُمْ﴾

“Katakanlah, ‘Musibah itu datang dari diri kalian sendiri.’

(QS. Ali ‘Imran: 165)

Salam untuk Para Syuhada Uhud

Salam sejahtera bagi para syuhada Uhud.

Merekalah orang-orang yang kepergian mereka membuat manusia terbaik, Rasulullah ﷺ, sangat berduka.

Di antara mereka adalah Sayyidus Syuhada, Hamzah bin Abdul Muththalib, paman sekaligus saudara sesusuan Rasulullah ﷺ, sang pemburu singa yang masuk Islam karena kecemburuannya terhadap kehormatan Rasulullah ﷺ.

Salam sejahtera untuk kalian, wahai para syuhada Uhud.

Semoga keselamatan dari Allah tercurah kepada kalian, wahai orang-orang yang dicintai Rasulullah ﷺ dan para sahabat beliau yang mulia.

Kami bersaksi bahwa kalian telah berjihad di jalan Allah dengan sebenar-benarnya jihad, membela kalimat tauhid, dan mengorbankan jiwa demi melindungi Rasulullah ﷺ.

Kalian telah mendahului kami, dan insya Allah kami akan menyusul kalian.

Mengapa Gunung Uhud Berguncang di Bawah Kaki Rasulullah ﷺ?

Ketika Rasulullah ﷺ berdiri di atas Gunung Uhud, gunung itu mendengar, memahami, dan mencintai beliau.

Gunung itu mendengar sabda beliau:

> «اثْبُتْ أُحُدُ»

“Tenanglah wahai Uhud.”

Lalu gunung itu pun menaati perintah beliau, menjadi tenang dan tidak lagi berguncang.

Ibnu Hajar al-Asqalani berkata,
إن الرسول صلى الله عليه وسلم قد خاطبه مخاطبةَ مَنْ يعقِل، فقال لما اضطرب: ((اسكن أُحُد))، فها هو رسول الله يتحدَّث عن أُحُد، وهو جبل أُحد، والذي كان له نصيب من أحاديث النبي صلى الله عليه وسلم.
> Rasulullah ﷺ berbicara kepada Gunung Uhud sebagaimana berbicara kepada makhluk yang berakal. Ketika gunung itu berguncang, beliau bersabda, “Tenanglah wahai Uhud.”

Hal ini menunjukkan salah satu mukjizat Rasulullah ﷺ, bahwa Allah menjadikan sebagian benda mati tunduk dan menaati perintah beliau. Gunung Uhud pun memperoleh kemuliaan karena disebut secara khusus dalam berbagai hadis Nabi ﷺ.

Semoga bermanfaat.

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button