Durus Minas Sirah – Quraisy Berusaha Membujuk Nabi ﷺ
Serial Terjemahan Kitab Durūs min as-Sīrah • Bagian 23
Quraisy Berusaha Membujuk Nabi ﷺ
Ketika kaum Quraisy tidak mampu menghentikan Nabi ﷺ dari melanjutkan dakwahnya, dan juga gagal memengaruhi pamannya agar mencegah beliau, mereka menempuh cara baru. ‘Utbah bin Rabi‘ah, salah seorang pemuka Makkah, datang kepada Rasulullah ﷺ dan berkata, “Wahai putra saudaraku, sesungguhnya engkau telah membawa suatu perkara besar kepada kaummu. Dengan perkara itu, engkau telah memecah persatuan mereka, mencela sesembahan dan agama mereka, serta menyatakan bahwa para leluhur mereka yang telah berlalu berada dalam kekafiran. Dengarkanlah aku. Aku hendak menawarkan beberapa hal kepadamu; barangkali ada yang engkau terima.” Rasulullah ﷺ menjawab, “Katakanlah, wahai Abul Walid, aku mendengarkan.”
‘Utbah berkata, “Wahai putra saudaraku, apabila yang engkau inginkan dari ajaran yang engkau bawa adalah harta, kami akan mengumpulkan sebagian harta kami untukmu hingga engkau menjadi orang yang paling kaya di antara kami. Jika yang engkau inginkan adalah kedudukan dan kehormatan, kami akan mengangkatmu sebagai pemimpin kami. Jika engkau menginginkan kekuasaan sebagai raja, kami akan menjadikanmu raja atas kami. Dan jika yang datang kepadamu itu adalah sosok gaib yang engkau lihat namun tidak mampu engkau usir dari dirimu, kami akan mencarikan tabib untukmu dan berusaha hingga engkau sembuh darinya.”
Setelah ‘Utbah selesai berbicara, Rasulullah ﷺ bertanya, “Apakah engkau sudah selesai, wahai Abul Walid?” Ia menjawab, “Ya.” Beliau pun bersabda, “Sekarang, dengarkanlah aku.”
Kemudian Rasulullah ﷺ membaca, “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Hā Mīm. Diturunkan dari Tuhan Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Sebuah Kitab yang ayat-ayatnya dijelaskan secara terperinci, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui; yang membawa kabar gembira dan peringatan. Namun, kebanyakan mereka berpaling sehingga mereka tidak mendengarkan.” (QS. Fussilat: 1–4). ‘Utbah pun terdiam dan mendengarkan dengan saksama sambil meletakkan kedua tangannya ke belakang tubuhnya. Ketika Rasulullah ﷺ sampai pada ayat sajdah, beliau bersujud. Setelah itu beliau berkata, “Engkau telah mendengar apa yang engkau dengar, wahai Abul Walid. Sekarang terserah kepadamu.”
‘Utbah lalu kembali kepada rekan-rekannya dan berkata, “Sungguh aku telah mendengar suatu perkataan. Demi Allah, perkataan itu bukan sihir, bukan syair, dan bukan pula ucapan seorang dukun. Wahai kaum Quraisy, turutilah saranku. Biarkanlah laki-laki itu menjalankan apa yang sedang dilakukannya. Demi Allah, sungguh perkataan yang baru saja kudengar itu kelak akan menjadi berita besar ….”
Mereka berkata, “Demi Allah, wahai Abul Walid, ia telah menyihirmu dengan ucapannya!” ‘Utbah menjawab, “Itulah pendapatku. Maka lakukanlah apa yang kalian kehendaki.”