Durus Minas Sirah – Ancaman Quraisy terhadap Abu Thalib
Serial Terjemahan Kitab Durūs min as-Sīrah • Bagian 22
Ancaman Quraisy terhadap Abu Thalib
Ketika berbagai upaya kaum Quraisy untuk membujuk Nabi ﷺ melalui perantaraan pamannya agar menghentikan dakwah kepada agama Allah tidak berhasil, dan mereka melihat bahwa usaha-usaha tersebut tidak membawa hasil serta Nabi ﷺ tetap melanjutkan dakwahnya secara terang-terangan, musuh-musuh kebenaran tidak lagi mampu bersabar menyaksikan cahaya Islam menyebar ke seluruh penjuru Makkah. Karena itu, para pemuka kekafiran memutuskan untuk kembali menemui Abu Thalib dengan cara yang berbeda. Mereka datang kepadanya dengan membawa ‘Umarah bin Al-Walid bin Al-Mughirah, lalu berkata:
“Wahai Abu Thalib, pemuda ini adalah salah seorang pemuda Quraisy yang paling tegap dan paling tampan. Ambillah dia; engkau dapat memperoleh manfaat dari akal dan bantuannya. Jadikanlah dia sebagai anakmu, karena dia kami serahkan kepadamu. Sebagai gantinya, serahkan kepada kami keponakanmu yang telah menyelisihi agamamu dan agama leluhurmu, memecah-belah persatuan kaummu, serta menganggap bodoh pemikiran mereka, agar kami membunuhnya. Bukankah itu pertukaran seorang laki-laki dengan seorang laki-laki?”
Abu Thalib menjawab, “Demi Allah, sungguh buruk sekali tawaran yang kalian ajukan kepadaku! Apakah kalian memberikan putra kalian kepadaku agar aku membesarkannya untuk kalian, sementara aku menyerahkan anak yang berada dalam asuhanku kepada kalian untuk kalian bunuh? Demi Allah, hal itu tidak akan pernah terjadi!”
Kemudian Al-Muth‘im bin ‘Adi berkata, “Demi Allah, wahai Abu Thalib, kaummu benar-benar telah berlaku adil terhadapmu dan telah berusaha keras mencari jalan keluar dari perkara yang tidak engkau sukai. Namun, tampaknya engkau tidak mau menerima apa pun dari mereka.”
Abu Thalib menjawab, “Demi Allah, kalian sama sekali tidak berlaku adil terhadapku. Akan tetapi, engkau telah bertekad untuk meninggalkanku tanpa dukungan dan berpihak kepada mereka untuk melawanku. Maka, lakukanlah apa yang engkau kehendaki.”