Durus Minas Sirah – Hijrah Dhamrah bin Jundub
Serial Terjemahan Kitab Durūs min as-Sīrah • Bagian 34
Hijrah Dhamrah bin Jundub
Hijrah bukanlah perkara yang mudah bagi kaum Muslimin. Hijrah berlangsung dalam keadaan yang sulit dan menuntut pengorbanan besar. Peristiwa itu menjadi ujian untuk memurnikan keimanan orang-orang beriman sekaligus menguji kekuatan akidah mereka.
Melalui hijrah mereka, kaum Muslimin telah memberikan teladan yang agung tentang pengorbanan. Mereka meninggalkan tempat tinggal, harta, dan segala sesuatu yang dimiliki demi menaati Allah dan Rasul-Nya serta mengharapkan apa yang ada di sisi Allah.
Ketika Rasulullah ﷺ dan kaum Muslimin berhijrah, Dhamrah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu merupakan seorang lelaki lanjut usia yang telah dilemahkan oleh penyakit. Namun, keadaan itu tidak menghalanginya untuk berusaha berhijrah, menyusul Nabi ﷺ, dan menyelamatkan agamanya.
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Dhamrah bin Jundub berangkat untuk berhijrah. Ia berkata kepada keluarganya, ‘Bawalah aku! Keluarkanlah aku dari negeri kaum musyrikin menuju Rasulullah ﷺ.’”
Akan tetapi, ia meninggal dunia dalam perjalanan sebelum sempat tiba di tempat Nabi ﷺ. Ketika berita kematiannya sampai kepada para sahabat Nabi ﷺ, mereka berkata, “Seandainya ia wafat di Madinah, tentu pahalanya akan lebih sempurna.” Sementara itu, orang-orang musyrik berkata sambil tertawa, “Orang ini tidak berhasil mencapai apa yang diinginkannya.”
Maka Allah Subhanahu wa Ta‘ala menurunkan firman-Nya, “Barang siapa keluar dari rumahnya dalam keadaan berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya, sungguh pahalanya telah tetap di sisi Allah. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa: 100).