Hukum Munculnya Kesombongan dan Ujub dalam Hati serta Cara Menghilangkannya
Nomor Fatwa: 154 Hukum Munculnya Kesombongan dan Ujub dalam Hati serta Cara Menghilangkannya
☷ Daftar Isi Artikel
- Pertanyaan
- Jawaban
-
Pertama: Pengertian Sombong dan Ujub Menurut Hadis dan Ulama
Lihat subjudul
- Kedua: Apakah Berdosa Jika Perasaan Sombong Muncul Secara Tiba-Tiba?
- Ketiga: Penjelasan Ibnul Qayyim tentang Bahaya Ujub dan Kesombongan
- Keempat: Cara Mengobati Kesombongan Menurut Al-Ghazali dan Ibnul Qayyim
- Kelima: Apa yang Harus Dilakukan Ketika Kesombongan Tiba-Tiba Muncul?
- Keenam: Apabila Telah Berdosa karena Sombong, Apakah Tobatnya Diterima?
- Kesimpulan
Pertanyaan:
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Afwan, izin bertanya, Ustadz.
Apakah seseorang tetap dianggap berdosa karena sombong atau ujub jika pada awalnya muncul sikap meremehkan orang lain, tetapi setelah menyadarinya, ia berusaha menghilangkan sikap tersebut?
Lalu, bagaimana cara mengatasi sikap sombong ketika muncul dalam diri kita? Apa yang sebaiknya dilakukan saat menyadari bahwa sikap tersebut mulai muncul?
Mohon penjelasannya, Ustadz.
Jawaban:
وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته.
بسم الله، والحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه ومن والاه، أما بعد:
Kesombongan (al-kibr) dan ujub (al-‘ujb) termasuk penyakit hati yang berbahaya. Keduanya dapat merusak keikhlasan, menghalangi seseorang menerima kebenaran, dan mendorongnya merendahkan orang lain.
Namun, perlu dibedakan antara lintasan kesombongan yang muncul tanpa disengaja, kesombongan yang sengaja dipelihara dalam hati, dan kesombongan yang diwujudkan dalam ucapan atau perbuatan.
Tidak setiap lintasan buruk yang muncul dalam hati menjadikan seseorang berdosa, terutama apabila ia segera menyadarinya, membencinya, dan berusaha menghilangkannya.
Pertama: Pengertian Sombong dan Ujub Menurut Hadis dan Ulama
Rasulullah ﷺ bersabda:
الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
“Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.”
(HR. Muslim, no. 91).
Hadis ini menunjukkan bahwa kesombongan memiliki dua bentuk utama, yaitu menolak kebenaran karena keangkuhan dan memandang rendah orang lain.
Adapun ujub adalah kekaguman seseorang terhadap dirinya, amalnya, ilmunya, atau kelebihannya, sehingga ia memandang besar dirinya dan lupa bahwa semua nikmat tersebut berasal dari Allah.
Penjelasan Imam Al-Ghazali
Imam Abu Hamid Al-Ghazali rahimahullah (w. 505 H) menjelaskan perbedaan antara ujub dan kesombongan dalam kitab Ihya’ Ulumiddin:
«فَإِنَّ الْكِبْرَ يَسْتَدْعِي مُتَكَبَّرًا عَلَيْهِ، وَمُتَكَبَّرًا بِهِ، وَبِهِ يَنْفَصِلُ الْكِبْرُ عَنِ الْعُجْبِ.»
“Sesungguhnya kesombongan mengharuskan adanya pihak yang disombongi dan sesuatu yang dijadikan dasar kesombongan. Dengan hal inilah kesombongan berbeda dari ujub.”
Beliau melanjutkan:
«فَإِنَّ الْعُجْبَ لَا يَسْتَدْعِي غَيْرَ الْمُعْجَبِ، بَلْ لَوْ لَمْ يُخْلَقِ الْإِنْسَانُ إِلَّا وَحْدَهُ تُصُوِّرَ أَنْ يَكُونَ مُعْجَبًا، وَلَا يُتَصَوَّرُ أَنْ يَكُونَ مُتَكَبِّرًا إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَعَ غَيْرِهِ.»
“Sesungguhnya ujub tidak memerlukan keberadaan orang lain selain orang yang mengagumi dirinya sendiri. Bahkan, seandainya manusia diciptakan seorang diri, masih mungkin ia memiliki sifat ujub. Adapun kesombongan tidak dapat dibayangkan kecuali ketika terdapat orang lain yang menjadi objek kesombongannya.”
(Sumber: Ihya’ Ulumiddin, Kitab Dzamm Al-Kibr wa Al-‘Ujb, 3/341, menurut edisi yang dirujuk).
Dari penjelasan tersebut dapat dipahami bahwa ujub berkaitan dengan kekaguman terhadap diri sendiri, sedangkan kesombongan berkaitan dengan perasaan lebih tinggi daripada orang lain.
Imam Al-Ghazali juga menjelaskan hubungan keduanya:
«أَمَّا الْعُجْبُ فَقَدْ ذَكَرْنَا أَنَّهُ يُورِثُ الْكِبْرَ الْبَاطِنَ، وَالْكِبْرُ الْبَاطِنُ يُثْمِرُ التَّكَبُّرَ الظَّاهِرَ فِي الْأَعْمَالِ وَالْأَقْوَالِ وَالْأَحْوَالِ.»
“Adapun ujub, telah kami jelaskan bahwa ia melahirkan kesombongan batin. Kemudian kesombongan batin tersebut menghasilkan kesombongan lahiriah dalam perbuatan, ucapan, dan berbagai sikap.”
(Sumber: Ihya’ Ulumiddin, Kitab Dzamm Al-Kibr wa Al-‘Ujb, pembahasan sebab-sebab kesombongan).
Dengan demikian, ujub yang dibiarkan dapat berkembang menjadi kesombongan yang nyata.
Kedua: Apakah Berdosa Jika Perasaan Sombong Muncul Secara Tiba-Tiba?
Dalam masalah ini terdapat tiga keadaan.
1. Lintasan hati yang muncul tanpa disengaja
Misalnya, seseorang melihat orang lain, kemudian tiba-tiba muncul perasaan bahwa dirinya lebih pintar, lebih saleh, lebih berilmu, atau lebih baik.
Namun, ketika menyadarinya, ia segera menolak perasaan tersebut, beristigfar, dan berusaha menghilangkannya.
Dalam keadaan demikian, ia tidak berdosa hanya karena lintasan yang tidak disengaja tersebut.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ لِأُمَّتِي مَا حَدَّثَتْ بِهِ أَنْفُسَهَا، مَا لَمْ تَعْمَلْ أَوْ تَتَكَلَّمْ
“Sesungguhnya Allah memaafkan umatku atas apa yang terlintas dalam hati mereka selama mereka tidak mengerjakannya atau mengucapkannya.”
(HR. Al-Bukhari, no. 5269; Muslim, no. 127).
Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan dalam Syarh Shahih Muslim bahwa bisikan dan lintasan hati yang tidak menetap serta tidak disengaja termasuk perkara yang dimaafkan. Hal ini berbeda dengan tekad hati yang telah mantap untuk melakukan kemaksiatan.
Karena itu, apabila perasaan meremehkan orang lain muncul tanpa disengaja, kemudian segera ditolak, maka lintasan tersebut tidak menjadikan seseorang berdosa.
2. Kesombongan yang sengaja dipelihara
Apabila seseorang membenarkan perasaan bahwa dirinya lebih mulia, sengaja memandang rendah orang lain, dan memelihara kesombongan tersebut, maka hal ini merupakan penyakit hati yang tercela.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar zarah.”
(HR. Muslim, no. 91).
Hadis ini merupakan ancaman keras terhadap kesombongan. Akan tetapi, ancaman tersebut tidak berarti bahwa setiap Muslim yang pernah memiliki kesombongan otomatis kekal di neraka.
3. Kesombongan yang diwujudkan dalam tindakan
Apabila seseorang telah menghina, mengejek, mempermalukan, atau merendahkan orang lain, maka ia wajib bertobat kepada Allah dan memperbaiki kezaliman yang telah dilakukannya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ
“Cukuplah seseorang dianggap melakukan keburukan apabila ia merendahkan saudaranya sesama Muslim.”
(HR. Muslim, no. 2564).
Ketiga: Penjelasan Ibnul Qayyim tentang Bahaya Ujub dan Kesombongan
Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah (w. 751 H) menjelaskan bahwa ujub dan kesombongan termasuk penghalang dalam perjalanan seorang hamba menuju Allah.
Beliau berkata:
«بَيْنَ الْقَلْبِ وَبَيْنَ الرَّبِّ مَسَافَةٌ، وَعَلَيْهَا قُطَّاعٌ تَمْنَعُ وُصُولَ الْعَمَلِ إِلَيْهِ، مِنْ كِبْرٍ وَإِعْجَابٍ وَإِدْلَالٍ، وَرُؤْيَةِ الْعَمَلِ وَنِسْيَانِ الْمِنَّةِ.»
“Antara hati dan Rabb terdapat suatu jarak. Di sepanjang jalan itu terdapat penghalang-penghalang yang menghalangi sampainya amal kepada-Nya, berupa kesombongan, ujub, merasa memiliki kedudukan istimewa karena amal, memandang besar amal sendiri, dan melupakan karunia Allah.”
(Sumber: Madarij As-Salikin, 1/438, menurut edisi yang dirujuk).
Perkataan ini menunjukkan bahwa penyakit hati dapat merusak kualitas amal seseorang, meskipun secara lahiriah ia melakukan banyak kebaikan.
Namun, Ibnul Qayyim juga mengingatkan agar seseorang tidak berlebihan memeriksa penyakit hatinya sampai terjatuh dalam keputusasaan dan meninggalkan amal.
Beliau menjelaskan bahwa di antara rahmat Allah adalah ditutupinya sebagian penyakit hati yang tersembunyi dari seorang hamba, karena apabila seluruhnya diperlihatkan sekaligus, seseorang mungkin terjatuh dalam keputusasaan, kehilangan semangat, dan meninggalkan amal.
(Sumber: Madarij As-Salikin, 2/65).
Dengan demikian, seorang Muslim harus berusaha memperbaiki hatinya tanpa terjebak dalam kecemasan berlebihan terhadap setiap lintasan buruk.
Keempat: Cara Mengobati Kesombongan Menurut Al-Ghazali dan Ibnul Qayyim
1. Mengobati ujub dengan mengenal kelemahan diri
Imam Al-Ghazali rahimahullah berkata:
«اعْلَمْ أَنَّ عِلَاجَ كُلِّ عِلَّةٍ هُوَ مُقَابَلَةُ سَبَبِهَا بِضِدِّهِ، وَعِلَّةُ الْعُجْبِ الْجَهْلُ الْمَحْضُ، فَعِلَاجُهُ الْمَعْرِفَةُ الْمُضَادَّةُ لِذَلِكَ الْجَهْلِ فَقَطْ.»
“Ketahuilah bahwa pengobatan setiap penyakit adalah dengan menghadapi penyebabnya menggunakan sesuatu yang berlawanan dengannya. Penyebab ujub adalah kebodohan semata, sedangkan obatnya adalah pengetahuan yang berlawanan dengan kebodohan tersebut.”
(Sumber: Ihya’ Ulumiddin, Kitab Dzamm Al-Kibr wa Al-‘Ujb, pembahasan Bayan ‘Ilaj Al-‘Ujb ‘ala Al-Jumlah).
Maksudnya, seseorang yang merasa hebat karena ilmunya hendaknya mengingat betapa banyak hal yang belum diketahuinya. Orang yang bangga dengan ibadahnya hendaknya mengingat kekurangan dalam ibadah tersebut.
Allah Ta’ala berfirman:
﴿وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ﴾
“Segala nikmat yang ada pada kalian berasal dari Allah.”
(QS. An-Nahl: 53).
2. Mengobati kesombongan dengan menyadari ketergantungan kepada Allah
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
«الْقَلْبُ يَعْرِضُ لَهُ مَرَضَانِ عَظِيمَانِ، إِنْ لَمْ يَتَدَارَكْهُمَا تَرَامَيَا بِهِ إِلَى التَّلَفِ وَلَا بُدَّ؛ وَهُمَا: الرِّيَاءُ، وَالْكِبْرُ. فَدَوَاءُ الرِّيَاءِ بِـ {إِيَّاكَ نَعْبُدُ}، وَدَوَاءُ الْكِبْرِ بِـ {إِيَّاكَ نَسْتَعِينُ}.»
“Hati dapat ditimpa dua penyakit besar. Jika keduanya tidak segera diobati, keduanya pasti akan menyeret hati menuju kebinasaan, yaitu riya dan kesombongan. Obat riya terdapat dalam firman Allah, ‘Hanya kepada-Mu kami beribadah,’ sedangkan obat kesombongan terdapat dalam firman-Nya, ‘Hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.'”
Beliau kemudian menukil perkataan gurunya, Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah:
«{إِيَّاكَ نَعْبُدُ} تَدْفَعُ الرِّيَاءَ، وَ{إِيَّاكَ نَسْتَعِينُ} تَدْفَعُ الْكِبْرِيَاءَ.»
“‘Hanya kepada-Mu kami beribadah’ menghilangkan riya, sedangkan ‘Hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan’ menghilangkan kesombongan.”
(Sumber: Madarij As-Salikin, 1/87, menurut edisi yang dirujuk).
Penjelasan ini sangat penting. Kesombongan sering muncul ketika seseorang merasa bahwa keberhasilan, ilmu, dan amalnya semata-mata berasal dari kemampuan dirinya.
Padahal, tanpa pertolongan Allah, seseorang tidak mampu melakukan kebaikan sedikit pun.
3. Tidak menganggap diri paling suci
Allah Ta’ala berfirman:
﴿فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ﴾
“Maka janganlah kalian menganggap diri kalian suci. Dialah yang paling mengetahui siapa yang bertakwa.”
(QS. An-Najm: 32).
Ketika melihat kekurangan orang lain, hendaknya seseorang tidak langsung merasa dirinya lebih mulia.
Boleh jadi orang yang dipandang rendah memiliki amal tersembunyi yang lebih dicintai Allah.
4. Membiasakan tawaduk dan menerima nasihat
Rasulullah ﷺ bersabda:
وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ
“Tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.”
(HR. Muslim, no. 2588).
Di antara bentuk tawaduk adalah menerima kebenaran meskipun disampaikan oleh orang yang lebih muda, menghormati orang lain, mengakui kesalahan, dan tidak merasa harus selalu diutamakan.
5. Memperbanyak doa agar hati disucikan
Rasulullah ﷺ mengajarkan doa:
اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا
“Ya Allah, berikanlah ketakwaan kepada jiwaku dan sucikanlah ia. Engkaulah sebaik-baik Zat yang menyucikannya. Engkaulah Pelindung dan Penolongnya.”
(HR. Muslim, no. 2722).
Kelima: Apa yang Harus Dilakukan Ketika Kesombongan Tiba-Tiba Muncul?
Apabila seseorang tiba-tiba merasa lebih baik daripada orang lain, hendaknya ia segera mengingkari perasaan tersebut dan mengingat bahwa seluruh kelebihannya berasal dari Allah.
Kemudian ia dapat beristigfar, memohon perlindungan kepada Allah, serta mengalihkan pikirannya kepada perkara yang bermanfaat.
Apabila ia telah merendahkan seseorang melalui ucapan atau tindakan, hendaknya ia bertobat dan memperbaiki kesalahannya.
Namun, apabila kesombongan tersebut hanya berupa lintasan hati yang tidak disengaja dan telah ditolak, maka tidak perlu terus-menerus memeriksa hatinya atau merasa telah melakukan dosa.
Allah Ta’ala berfirman:
﴿وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ﴾
“Jika setan benar-benar menggodamu dengan suatu godaan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
(QS. Al-A’raf: 200).
Perlu diingat bahwa melawan penyakit hati merupakan proses yang membutuhkan kesungguhan dan kesabaran. Munculnya kembali lintasan kesombongan tidak berarti bahwa usaha sebelumnya sia-sia.
Keenam: Apabila Telah Berdosa karena Sombong, Apakah Tobatnya Diterima?
Allah Ta’ala berfirman:
﴿وَهُوَ الَّذِي يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَعْفُو عَنِ السَّيِّئَاتِ﴾
“Dialah yang menerima tobat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan.”
(QS. Asy-Syura: 25).
Apabila seseorang sebelumnya telah memelihara kesombongan, kemudian menyadari kesalahannya, menyesal, meninggalkannya, dan bertekad tidak mengulanginya, maka ia telah menempuh jalan tobat.
Tidak ada alasan untuk berputus asa dari rahmat Allah.
Bahkan, kesadaran terhadap kekurangan diri hendaknya menjadi pendorong untuk semakin rendah hati dan mendekatkan diri kepada Allah.
Kesimpulan
Pertama, kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain, sedangkan ujub adalah kekaguman yang berlebihan terhadap diri sendiri. Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa ujub dapat melahirkan kesombongan batin, kemudian berkembang menjadi kesombongan dalam ucapan dan perbuatan.
Kedua, seseorang tidak berdosa hanya karena lintasan kesombongan yang muncul tanpa disengaja, selama ia tidak membenarkan, memelihara, atau mewujudkannya.
Ketiga, apabila seseorang telah sengaja memelihara kesombongan atau merendahkan orang lain, maka ia wajib bertobat dan memperbaiki kesalahannya.
Keempat, Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa kesombongan dan ujub merupakan penyakit hati yang dapat menghalangi kesempurnaan amal. Obatnya adalah menyadari bahwa seluruh kebaikan dan kemampuan manusia bergantung kepada pertolongan Allah.
Kelima, cara menghilangkan kesombongan adalah dengan mengenali kelemahan diri, mengingat nikmat Allah, menerima nasihat, membiasakan tawaduk, memperbanyak istigfar, dan berdoa agar Allah menyucikan hati.
Keenam, jangan sampai keinginan membersihkan hati justru berubah menjadi waswas yang berlebihan. Apabila lintasan buruk telah ditolak, hendaknya seseorang melanjutkan aktivitas dan ibadahnya tanpa terus-menerus menyalahkan diri.
Dengan demikian, apabila penanya awalnya merasakan lintasan meremehkan orang lain tanpa disengaja, kemudian menyadarinya dan berusaha menghilangkannya, maka ia tidak berdosa karena lintasan tersebut.
Adapun jika sebelumnya ia benar-benar memelihara kesombongan, maka hendaknya ia bertobat. Semoga Allah menerima tobatnya dan menyucikan hatinya.
والله تعالى أعلم بالصواب.
وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.