Fatawa Umum

Bolehkah Aqiqah Dibagi Mentah?

Assalaamu’alaikum, ustadz, mau tanya kalo aqiqoh tanpa di masak daging nya boleh ngga dibagi2kan?

Jawaban

Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah ﷺ, keluarga, dan para sahabat beliau radhiyallahu ‘anhum.

Amma ba‘du:

Maksud dari ‘aqiqah adalah menyembelih hewan sebagai bentuk taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah Ta‘ala dan rasa syukur atas nikmat kelahiran anak. Setelah itu, bagaimana cara memperlakukan dagingnya, apakah dimasak lalu dikumpulkan kerabat untuk memakannya bersama, atau dibagikan dalam keadaan sudah dimasak, atau dibagikan dalam keadaan mentah, atau sebagian dimasak dan sebagian dibagikan mentah, semuanya tidak mengapa.

Syaikh Ibn Bāz rahimahullah berkata:

وَإِنَّمَا الْعَقِيقَةُ الْمَشْرُوعَةُ الَّتِي جَاءَتْ بِهَا السُّنَّةُ الصَّحِيحَةُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هِيَ مَا يُذْبَحُ عَنْ الْمَوْلُودِ فِي يَوْمِ سَابِعِهِ، وَهِيَ شَاتَانِ عَنْ الذَّكَرِ، وَشَاةٌ وَاحِدَةٌ عَنْ الْأُنْثَى. وَقَدْ عَقَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا. وَصَاحِبُهَا مُخَيَّرٌ إِنْ شَاءَ وَزَّعَهَا لَحْمًا بَيْنَ الْأَقَارِبِ وَالْأَصْحَابِ وَالْفُقَرَاءِ، وَإِنْ شَاءَ طَبَخَهَا وَدَعَا إِلَيْهَا مَنْ شَاءَ مِنْ الْأَقَارِبِ وَالْجِيرَانِ وَالْفُقَرَاءِ.

“Sesungguhnya ‘aqiqah yang disyariatkan, yang datang dalam sunnah shahih dari Rasulullah ﷺ, adalah apa yang disembelihkan untuk bayi pada hari ketujuh kelahirannya, yaitu dua ekor kambing untuk anak laki-laki dan seekor kambing untuk anak perempuan. Nabi ﷺ telah beraqiqah untuk al-Hasan dan al-Husain radhiyallahu ‘anhuma. Pemilik ‘aqiqah diberi pilihan: jika ia mau, ia bagikan dagingnya kepada kerabat, sahabat, dan fakir miskin; dan jika ia mau, ia masak lalu mengundang siapa saja yang ia kehendaki dari kalangan kerabat, tetangga, dan fakir miskin.” (Majmū‘ al-Fatāwā, 4/262).

Syaikh Ibn ‘Utsaimīn rahimahullah juga berkata:

وَإِنْ شَاءَ جَمَعَ عَلَيْهَا أَقَارِبَهُ وَأَصْحَابَهُ…، وَلَا حَرَجَ أَنْ يُطَبِّخَهَا وَيُوَزِّعَ هَذَا الْمَطْبُوخَ، أَوْ يُوْزِعَهَا وَهِيَ نِيَّةٌ، وَالْأَمْرُ فِي هَذَا وَاسِعٌ.

“Jika ia mau, ia bisa mengumpulkan kerabat dan sahabatnya untuk makan bersama. Tidak mengapa bila ia memasaknya lalu membagikan makanan itu, atau membagikannya dalam keadaan mentah. Masalah ini luas (longgar).” (Syarh al-Mumti‘, 25/206)

Wallāhu a‘lam.

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button