Apa Maksud Islam Mengajarkan Kesetiaan?

Pertanyaan:
Setelah sy membaca penjelasan njenengan Ustaz bisa di simpulkan bhw Islam mengajarkan ttg kesetiaan, Afwan ustadzuna begitukah kira² nya?
Jawaban:
Betul sekali gambaran tentang kesetiaan suami istri dalam Islam banyak sekali, tak ada habisnya, dilihat dari berbagai sudut, berikut sebagiannya:
Allah ﷻ berfirman:
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَكُم مِّن تُرَابٍ ثُمَّ إِذَا أَنتُم بَشَرٌ تَنتَشِرُونَ (20) وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ (21)
“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah bahwa Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu menjadi manusia yang berkembang biak. Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah bahwa Dia menciptakan untukmu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Rūm: 20–21).
Dan dalam hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhārī dari Anas رضي الله عنه:
جَاءَ ثَلاَثَةُ رَهْطٍ إِلَى بُيُوتِ أَزْوَاجِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم يَسْأَلُونَ عَنْ عِبَادَته … فَقَالَ أَنْتُمُ الَّذِينَ قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا أَمَا وَاللَّهِ إِنِّى لأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ لَكِنِّى أَصُومُ وَأُفْطِرُ وَأُصَلِّى وَأَرْقُدُ وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِى فَلَيْسَ مِنِّى
“Tiga orang datang ke rumah istri-istri Nabi ﷺ menanyakan tentang ibadah beliau. Ketika mereka diberi tahu, seolah-olah mereka menganggapnya sedikit. Maka salah seorang dari mereka berkata: ‘Aku akan salat malam terus tanpa tidur.’ Yang lain berkata: ‘Aku akan berpuasa terus dan tidak berbuka.’ Yang ketiga berkata: ‘Aku tidak akan menikah selamanya.’ Maka Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Kalian yang mengatakan demikian? Demi Allah, sungguh aku adalah orang yang paling takut kepada Allah dan paling bertakwa kepada-Nya, namun aku berpuasa dan berbuka, aku salat dan tidur, dan aku menikah. Barang siapa berpaling dari sunnahku, maka ia bukan termasuk golonganku.’”
Andai salah satu di antara kalian adalah malaikat yang turun dari langit dengan akhlak yang sempurna dan kelembutan yang luar biasa, maka itu belum cukup. Hidup bersama hanya akan indah jika masing-masing menunaikan hak pasangannya, karena kehidupan rumah tangga adalah kemitraan antara dua jiwa.
Dari sinilah kami berbicara dari hati yang mencintai, menginginkan kebahagiaan bagi setiap rumah Muslim. Dan Allah menjadi saksi, khutbah ini adalah hasil renungan, penelitian, dan perenungan mendalam terhadap kehidupan rumah tangga Rasulullah ﷺ.
🌿 Penciptaan Pasangan: Hikmah Ilahi
Ketika Allah menciptakan Adam عليه السلام dan menempatkannya di surga, Adam merasakan kesepian. Ia makan sendiri, berjalan sendiri, tanpa teman sejenis. Maka Allah menciptakan untuknya Hawa dan menjadikannya sebagai pasangan. Ketika Adam melihat Hawa, kesepiannya sirna dan jiwanya menjadi tenteram.
Tidak ada akal sehat yang meragukan bahwa di antara nikmat terbesar Allah kepada manusia adalah bahwa Dia menciptakan pasangan dari jenis mereka sendiri, memberi mereka anak-anak dan cucu-cucu.
Dalam pernikahan terdapat ketenangan, keamanan, ridha Allah, dan penjagaan agama, sebagaimana sabda Nabi ﷺ: “Ia lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan.”
Nikmat ini akan terus bertambah dan diberkahi bila suami istri saling setia dan memelihara hak pasangannya.
💞 Kesetiaan Seorang Suami kepada Istrinya
Allah ﷻ berfirman:
{وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَإِن كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَن تَكْرَهُواْ شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا}
“Pergaulilah mereka dengan cara yang baik. Jika kamu tidak menyukai mereka, boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu padahal Allah menjadikan padanya banyak kebaikan.” (QS. An-Nisā’: 19)
Kesetiaan suami kepada istri menunjukkan kemuliaan akhlak dan kehormatan jiwa. Rasulullah ﷺ bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya.”
Istri adalah amanah di tangan suami, diambil dengan perjanjian Allah dan sesuai sunnah Rasulullah ﷺ. Jika kita mencintainya, maka kita memuliakannya; jika pun kita tidak mencintainya, kita tidak menzhaliminya.
Rasulullah ﷺ ketika menikahkan Fāṭimah kepada ʿAlī berkata:
“يا عليّ، فاطمة لك على أن تُحسن صحبتها.”
“Wahai ‘Ali, Fāṭimah menjadi istrimu dengan syarat engkau mempergaulinya dengan baik.”
Setiap kata lembut kepada istri berpahala, setiap suapan makanan atau seteguk air yang diberikan padanya, semuanya tercatat sebagai amal kebaikan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
«وفى بُضع أحدكم صدقة … إن وضعها في الحلال كان له أجر»
“Dalam hubungan badan salah seorang dari kalian ada sedekah… jika ia melakukannya di jalan halal maka baginya pahala.”)
Dan sabda beliau kepada Sa‘d bin Abī Waqqāṣ رضي الله عنه:
«إِنَّكَ لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إِلَّا أُجِرْتَ حَتَّى مَا تَجْعَلُ فِي فِيِّ امْرَأَتِكَ»
“Engkau tidak menafkahkan sesuatu karena mengharap wajah Allah kecuali engkau diberi pahala, bahkan sampai suapan yang engkau masukkan ke mulut istrimu.”
🌼 Bentuk-Bentuk Kesetiaan Suami
1. Berbagi beban hidup:
Tidak membebankan seluruh tanggung jawab kepada istri, tetapi ikut membantunya dalam urusan rumah. Aisyah رضي الله عنها ditanya tentang keadaan Rasulullah ﷺ di rumah, maka beliau menjawab:
“كان في بيته بشر من البشر يخصف نعله ويرقع ثوبه ويحلب شاته ويخدم أهله.”
“Beliau adalah manusia biasa di rumahnya; menjahit sandalnya, menambal pakaiannya, memerah susu kambingnya, dan membantu keluarganya.”
2. Memuji istri di hadapan orang lain dan menghargai pengorbanannya.
Suami yang setia adalah yang membukakan hatinya, mendengar keluhannya, menghiburnya, dan menjaga perasaannya — terutama saat ia lemah, sakit, atau sedang haid dan hamil. Allah ﷻ berfirman:
{وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى}
“Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: itu adalah sesuatu yang menyakitkan.” – QS. Al-Baqarah: 222
{حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا}
“Ibunya mengandungnya dalam keadaan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah.” – QS. Al-Ahqāf: 15)
Utsman bin ‘Affān رضي الله عنه tidak ikut perang Badar karena merawat istrinya, Ruqayyah, yang sakit. Maka Rasulullah ﷺ bersabda:
“يا عثمان أقم معها، ولك أجر من شهد بدراً وسهمه.”
“Wahai Utsman, tetaplah bersamanya; engkau mendapat pahala dan bagian seperti orang yang menghadiri Perang Badar.”
3. Menghormati orang tua istri dan keluarganya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
«إِنَّكُمْ سَتَفْتَحُونَ مِصْرَ … فَأَحْسِنُوا إِلَى أَهْلِهَا فَإِنَّ لَهُمْ ذِمَّةً وَرَحِمًا»
“Kalian akan menaklukkan Mesir, maka berbuat baiklah kepada penduduknya karena mereka memiliki hubungan dan pernikahan dengan kalian.”)
💖 Kesetiaan yang Berlanjut Setelah Wafat
Kesetiaan tidak berakhir dengan kematian. Lihatlah bagaimana Rasulullah ﷺ setelah wafatnya Khadījah رضي الله عنها — beliau terus menyebut namanya dengan pujian, doa, dan kesetiaan.
Aisyah berkata:
“ما غِرت على امرأة ما غرت على خديجة وما رأيتها.”
“Aku tidak pernah cemburu kepada seorang wanita sebagaimana aku cemburu kepada Khadijah, padahal aku belum pernah melihatnya.”
Ketika Aisyah suatu hari berkata: “Dia hanyalah wanita tua yang sudah tiada, Allah telah menggantikanmu dengan yang lebih baik,” maka Rasulullah ﷺ marah dan bersabda:
والله ما أبدلني الله خيراً منها، آمنت بي حين كذبني الناس، وواستني بمالها حين حرمني الناس، ورُزقت منها الولد
“Demi Allah, Allah tidak menggantikan aku dengan yang lebih baik darinya. Ia beriman kepadaku ketika orang lain mendustakanku, menolongku dengan hartanya ketika orang lain menahannya dariku, dan Allah memberiku anak darinya.”
Rasulullah ﷺ bahkan memuliakan sahabat-sahabat lama Khadijah, menyambut mereka dengan hangat dan berkata:
“صويحبات خديجة كنّ يأتيننا أيام خديجة، وإن حسن العهد من الإيمان.”
“Sahabat-sahabat Khadijah biasa datang kepada kami pada masa hidupnya, dan sesungguhnya menjaga janji adalah bagian dari iman.”
Wallahu a’lam



