Belajar Kasih Sayang

Belajar Kasih Sayang
Siapapun yang ingin belajar sesuatu, maka cari ahlinya. Tujuannya agar maksimal dalam menguasai suatu hal yang diinginkan. Jika seseorang ingin belajar matematika, maka cari Profesor Matematika yang paling mumpuni di dunia. Seorang dapat saja belajar dengan sembarang orang, tapi yang nanti akan didapat? Hanya materi sederhana matematika seperti satu tambah satu berapa atau dua kurangi satu berapa, ya tentu hasilnya bisa diketahui, satu.
Belajar kasih sayang. Emang kasih sayang bisa dipelajari? Layaknya matematika, apakah kasih sayang ada rumusnya? Atau ada seorang pakar yang bisa diangkat menjadi pakar kasih sayang sehingga semua orang bisa belajar kepadanya? Kalau boleh memberi gelar Profesor Kasih Sayang, maka gelar itu layak diberikan kepada Nabi seluruh Umat, Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasalam.
Allah dalam kitabnya yang mulia sudah memberikan gelar kepada Nabi Muhammad sebagai Rahmatan lil ‘aalamin.
وَمَآ أَرْسَلْنَـٰكَ إِلَّا رَحْمَةًۭ لِّلْعَـٰلَمِينَ
“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam”
Cara termudah untuk memahami ayat ini adalah dengan membaca Siroh Nabawiyah. Kenapa? Karena dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala sedang menggambar satu sosok yang sangat mulia. Nabi Muhammad kisah hidupnya diceritakan detail di dalam buku-buku Siroh Nabawiyah yang dituliskan oleh banyak Ulama di setiap zamannya.
Suatu ketika ada seseorang datang kepada Nabi dan berkata “Wahai Rasulullah, doakan (kehancuran) untuk orang-orang musyrik!”. Kira-kira apa yang dapat kita bayangkan seandaikan kalimat itu disampaikan kepada kita? Ada orang yang sekian lama melakukan kejahatan kepada kita, lalu datang seseorang dan bilang kepada kita “doain aja supaya dia celaka!”, tentu dengan cepat kita akan menjawab “iya semoga dia celaka”. Tapi itu semua tidak tergambar kepada Nabi yang penuh Rahmat, Nabi menjawab,
إِنِّي لَمْ أُبْعَثْ لَعَّانًا، وَإِنَّمَا بُعِثْتُ رَحْمَةً
“Sesungguhnya aku diutus tidak sebagai pencaci maka, tetapi aku diutus sebagai rahmat.”
Betapa kasih sayangnya Nabi Muhammad juga dapat tergambar di dalam Hadist Shahih Bukhari, ketika Ibunda A’isyah bertanya kepada Nabi tentang hari terberat bagi Beliau selain hari Perang Uhud. Beliau menjawab bahwa hari terberat selain hari Perang Uhud adalah ketika Beliau mendatangi petinggi Thaif, Ibnu Abdil Yaalil, dan meminta bantuan dan dukungan dalam menyebarkan Agama Islam. Respon yang didapat tidak sebagaimana yang Rasulullah inginkan, bahkan respon yang didapat adalah respon yang menyakiti hati beliau.
Penolakan dari Ibnu Abdil Yaalil inilah yang menyebabkan Rasulullah bersedih hingga nampak kesedihan itu di wajah Rasulullah
وَأَناَ مَهْمُومٌ عَلَى وَجْهِي
“Maka aku pergi dengan tanda-tanda (kedalaman) kesedihan di wajahku.”
Setibanya Rasulullah di suatu daerah yang bernama Qarn al-Thaalib, Beliau didatangi oleh Malaikat Jibril dan Malaikat Gunung yang bertujuan untuk menawarkan bantuan kepada Rasulullah berupa tawaran untuk menimpakan gunung-gunung kepada orang-orang yang telah menolak ajakan Rasulullah. Dan jawaban yang keluar dari lisan Rasulullah sungguh di luar dugaan, dengan penuh kasih sayang di dada beliau, beliau berkata,
بَلْ أَرجُو أَنْ يُخْرِجَ اللهُ مِنْ أَصلَابِهم مَنْ يَعْبُدُ اللهَ وحدَهُ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا
“Aku lebih berharap agar Allah mengeluarkan dari keturunan mereka orang-orang yang akan menyembah Allah, Yang Esa, dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.”
Ketika orang memberikan kasih sayangnya kepada orang yang baik kepadanya, maka itu suata hal yang biasa. Tapi suatu hal yang luar biasa ketika ada seseorang dapat memberikan ketulusan kasih sayang kepada orang yang sudah menghinanya, melukainya bahkan hamper membunuhnya. Kasih sayang macam apa sebenarnya yang sedang diajarkan Rasulullah kepada umatnya. Kasih sayang yang orang-orang kafir pun tidak terlintas di kepalanya.
Seandaikan ada seseorang berkata kepada kita “silakan minta apa saja, nanti akan saya kabulkan”, tentu kita akan meminta suatu hal yang sangat kita inginkan. Dan itu yang dialami oleh Rasulullah ketika Allah memberikan satu doa mujarab yang akan mengabulkan apapun permintaan Rasulullah dan kembali lagi kita akan mendapat materi terbaik tentang kasih sayang. Rasulullah meminta agar doa itu disimpan hingga hari kiamat dan menjadi syafa’at yang kelak akan menyelamatkan banyak Umat Nabi Muhammad dari api neraka.
لِكُلِّ نَبِيٍّ دَعْوَةٌ دَعَاهَا لأُمَّتِهِ وَإِنِّي اخْتَبَأْتُ دَعْوَتِي شَفَاعَةً لأُمَّتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Setiap Nabi memiliki doa yang dipanjatkan untuk umatnya. Dan aku menyimpan doaku untuk syafaat umatku pada hari kiamat.”
Bukan permintaan harta yang diminta, bukan jabatan tinggi, bukan pula popularitas, tapi Nabi Muhammad meminta doa tersebuat menjadi wasilah untuk umatnya selamat dari api neraka. Ini adalah level kasih sayang tertinggi yang diajarkan Rasulullah kepada umatnya. Kasih sayang yang lebih mengedepankan agar kebaikan bisa sampai kepada orang lain. Kasih sayang yang mengingikan orang yang disayangi tidak celaka. Dalamnya kasih sayang Rasulullah kepada umatnya mungkin akan mengalahkan laut terdalam sekalipun.
Syaikh Bakr bin ‘Abdillah Abu Zayd dalam kitabnya yang berjudul Mu‘jam Manāhī al-Lafẓiyyah menuliskan bahwa Rahmatnya Nabi sampai juga kepada orang-orang kafir, kepada orang-orang yang selama ini menolak dakwah Rasulullah.
ففي إرساله صلى الله عليه وسلم رحمة حتى على أعدائه من حيث عدم معاجلتهم بالعقوبة
“Dalam pengutusan Nabi Muhammad terdapat Rahmat, bahkan bagi musuh-musuhnya, dari sisi bahwa mereka tidak disegerakan untuk ditimpa hukuman.”
Apa yang disampaikan oleh Syaikh Bakr bin ‘Abdillah Abu Zayd sebenarnya adalah tafsir dari firman Allah ta’ala,
وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنتَ فِيهِمْ ۚ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
“Tetapi Allah tidak akan menghukum mereka, selama engkau (Muhammad) berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan menghukum mereka, sedang mereka (masih) memohon ampunan.”
Tidak akan cukup umur kita untuk belajar kasih sayang dari Rasulullah, karena begitu hebatnya materi yang diberikan oleh Nabiyu ar Rahmah ini. Universitas mana yang mampu memberi gelar akademik kepada Nabi Muhammad dalam pembahasan kasih sayang? Tentu tidak akan pernah ada. Seandaikan ada disertasi sekalipun yang membahas seluruh kasih sayang Nabi Muhamaad, jumlah kertas dan tinta di bumi ini tidak akan mampu menuliskannya.



