Ketika Rabb Bergembira Bag. 3

Waspadalah terhadap Pendahuluan Dosa
Segala sesuatu yang mengarah pada yang haram adalah haram. Dan kesempurnaan tobat dari dosa adalah meninggalkan pendahuluan-pendahuluannya.
Jika engkau mendapati dirimu belum mampu menahan pandangan dari yang haram, lalu engkau diajak ke tempat yang di dalamnya ada keburukan itu sendiri, dan di sana ada wanita-wanita yang menampakkan aurat dan perhiasan mereka, maka kepergianmu ke tempat itu adalah haram.
Jika engkau mengetahui bahwa tubuhmu hanya akan merasa nyaman setelah tidur selama 6 jam, lalu engkau begadang hingga membuat tubuhmu tidak mendapatkan istirahat yang cukup, hingga akhirnya engkau melewatkan salat Subuh sebagai akibatnya, maka begadang mu itu adalah haram.
Jika engkau berteman dengan teman yang buruk, yang jika bersamamu engkau lupa mengingat Allah dan cenderung kepada nafsumu dan syahwat mu, atau saat bersamanya engkau tertidur dan melewatkan salat, maka berteman dengannya adalah haram. Karena bersahabat dengan teman yang buruk adalah pendahuluan kepada keharaman.
Inilah wasiat dari al-‘Abid az-Zahid (ahli ibadah yang zuhud), Ibrahim bin Adham, ketika ditanya tentang keinginan untuk bertobat:
“Siapa yang ingin bertobat maka keluarlah ia dari lingkungan kezaliman, dan tinggalkanlah pergaulan dengan orang-orang yang biasa berbuat dosa, kalau tidak, maka ia tidak akan berhasil…”
Catatan Ringan
Zubdah saudari Bisyr bin al Harits berkata, “Sesuatu yang paling berat pada seorang hamba adalah dosa-dosanya dan yang paling ringan untuk dilakukannya adalah taubat, maka mengapa ia tidak menghapus yang paling berat dalam dirinya dengan yang paling ringan untuk ia lakukan?
2. Penyesalan
Menyesallah karena engkau akan binasa ketika berlepas diri dari Allah Taala saat engkau jatuh dalam dosa, ketika engkau merasa senang saat bisa melakukan dosa itu, ketika engkau hanya duduk menikmati daripada bersegera meninggalkan dosa itu, ketika engkau terus menerus melakukan dosa itu padahal engkau tahu dan yakin bahwa Allah Taala melihat dan mengetahui perbuatanmu itu.
Menyesallah karena engkau telah menukar pertemanan dengan para malaikat dengan pertemanan setan-setan, menukar berdampingan dengan para Nabi di surga dengan berdampingan bersama setan-setan di neraka, menukar kasih sayang Allah dan keridhaan-Nya dengan kemurkaan-Nya.
Menyesallah karena dengan disibukkan oleh dosa-dosa engkau telah kehilangan modal yang paling berharga yaitu waktumu. Seandainya saja engkau hanya menggunakan waktumu untuk hal-hal yang tidak bermanfaat saja, tapi sungguh disayangkan engkau juga menghabiskannya untuk perbuatan-perbuatan yang mendatangkan kemudharatan dan kehancuranmu. Allah Taala berfirman yang artinya, “Masing-masing (dari mereka) Kami azab karena dosanya” (Al Ankabut: 40).
Menyesallah karena bisa saja Allah akan mewafatkanmu dalam keadaan engkau sedang bermaksiat yang dengannya engkau meninggal dalam keadaan suul khatimah dan pada hari kebangkitan nanti engkau akan dibangkitkan dalam keadaan sebagaimana engkau meninggal.
Menyesallah karena engkau tidak bisa menjamin diterimanya tobatmu, meskipun engkau berkata, “Aku telah bertobat. Jangan merasa aman hanya karena engkau telah mengucap istighfar. Hasan al-Bashri berkata: “Meninggalkan dosa itu lebih ringan daripada memperbaiki tobat.”
Penyesalan Memiliki Tanda-Tanda
Jika orang yang bertobat benar-benar menyesali dosanya, maka penyesalannya itu akan terus tumbuh dihatinya sampai-sampai ia akan mencuci dosa-dosanya itu dengan tangisan air mata. Air mata yang karena takut pada Allah akan mengangkat derajatnya ke tempat yang tertinggi, dengarlah kabar gembira nabawi ini, “Dua pasang mata yang tidak akan disentuh oleh api neraka, … mata yang menangis karena takut pada Allah”. (Hadis shahih, dalam kitab Shahih al Jami al Shagir no. 7562)
Ibnu Umar juga menyampaikan kabar gembira ini lewat perkataannya, “Air mata karena takut kepada Allah lebih aku cintai dibanding bersedekah seribu dinar.”
Oleh karena itulah seorang yang menyesal akan menangis karena gembira dengan kabar yang datang dari Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, juga disebabkan kisah Ibnu al Munkadir yang mana ia dahulu ketika menangis karena takut pada Allah, ia mengusap wajah dan janggutnya dengan air matanya sambil berkata, “Telah sampai kepadaku bahwa api neraka tidak akan membakar tempat yang terbasahi oleh air mata”.
“Barang siapa tidak mampu menangis, maka hendaklah ia memaksakan diri untuk menangis sampai Allah memberinya tangisan yang menyelamatkan ini.”
Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Barang siapa mampu menangis karena dosa-dosanya, maka menangislah. Dan barang siapa tidak bisa menangis, maka hendaklah ia berpura-pura menangis.”
Hubungan Antara Tangisan dan Dosa
Jika seseorang yang berakal tidak menangis sepanjang sisa umurnya teringat akan ketaatan demi ketaatan yang telah ia lalaikan (yang sebenarnya itu cukup untuk membuatnya menangis sampai ia wafat), bagaimana dengan ia yang menggunakan sisa umurnya dengan maksiat yang telah ia kerjakan selama ini? Anggaplah bahwa seseorang yang telah melakukan banyak keburukan telah diampuni dosa-dosanya, bukankan dalam waktu yang bersamaan ia telah kehilangan pahala yang telah diraih orang-orang yang taat?
Wahai engkau yang sedang bertobat… Bangunlah di akhir malam… Serulah Tuhanmu di sepertiga akhir malammu… Ucapkan dengan suaramu dengan ucapan:
Wahai Rabb, sungguh dosa-dosaku begitu banyak, Tak mampu aku menghitung jumlahnya
Belum pernah aku di azab dengan api sebelumnya, Pasti aku tak sanggup bersabar menghadapinya
Maka lihatlah pada lemah dan miskinnya diriku, Kelak janganlah beri aku rasa panasnya jahim
Dari Bakr bin Ibnu ‘Abdillah al-Muzani:
“Seseorang yang keluar untuk salat, namun ia tidak mendapati shalat berjamaah, Jika dia bersedih karenanya, maka Allah akan tetap memberinya keutamaan jamaah.”
(Diterjemahkan dari kita Hibbi Ya Rihal Iman, karya Khalid Abu Syadi)



