Adab mengunjungi Masjid Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam

Adab mengunjungi Masjid Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam
Mukadimah
Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, kepada keluarga beliau, para sahabat beliau, serta orang-orang yang mengikuti sunnah dan petunjuk beliau hingga hari kiamat.
Amma ba’du:
Ini adalah risalah singkat yang memuat beberapa pembahasan penting tentang:
Keutamaan Masjid Nabawi.
Adab mengunjungi Masjid Nabawi.
Adab menziarahi makam Nabi ﷺ dan makam kedua sahabat beliau رضي الله عنهما.
Risalah ini disusun untuk para peziarah Masjid Nabawi agar mereka mengetahui dengan ilmu dan pemahaman yang benar keutamaan masjid Nabi ﷺ, tata cara berziarah, dan adab beribadah di dalamnya.
Kami memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan Maha Pemberi Karunia agar menjadikan risalah ini bermanfaat, ikhlas karena-Nya, dan diterima di sisi-Nya. Sesungguhnya Dia adalah sebaik-baik tempat meminta dan sebaik-baik tempat berharap.
Pertama: Keutamaan Masjid Nabawi
Allah Ta’ala berfirman:
> ﴿وَرَبُّكَ يَخۡلُقُ مَا يَشَآءُ وَيَخۡتَارُۗ مَا كَانَ لَهُمُ ٱلۡخِيَرَةُۚ سُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ وَتَعَٰلَىٰ عَمَّا يُشۡرِكُونَ﴾
“Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilih apa yang Dia kehendaki. Tidaklah mereka memiliki pilihan. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan.”
(QS. Al-Qashash: 68)
Allah memilih tempat ini untuk menjadi masjid Nabi-Nya ﷺ dan memberinya berbagai keutamaan, di antaranya:
1. Termasuk tiga masjid yang disyariatkan melakukan perjalanan khusus menuju kepadanya.
Nabi ﷺ bersabda:
> «لَا تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ: الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ، وَمَسْجِدِي هَذَا، وَالْمَسْجِدِ الْأَقْصَى»
“Tidak boleh melakukan perjalanan khusus untuk ibadah kecuali menuju tiga masjid: Masjidil Haram, masjidku ini, dan Masjid Al-Aqsha.”
2. Shalat di dalamnya lebih utama daripada seribu shalat di masjid lain selain Masjidil Haram.
Nabi ﷺ bersabda:
> «صَلَاةٌ فِي مَسْجِدِي هَذَا خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلَّا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ»
> “Satu shalat di masjidku ini lebih baik daripada seribu shalat di masjid lainnya selain Masjidil Haram.”
3. Masjid ini adalah masjid yang dibangun di atas takwa sejak hari pertama.
Abu Sa’id Al-Khudri رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda tentang firman Allah:
> ﴿لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَى مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ﴾
Beliau menunjuk ke Masjid Nabawi seraya bersabda:
> «هُوَ مَسْجِدُكُمْ هَذَا»
“Itulah masjid kalian ini.”
4. Penuntut ilmu di Masjid Nabawi mendapatkan pahala seperti mujahid di jalan Allah.
Nabi ﷺ bersabda:
> «مَنْ جَاءَ مَسْجِدِي هَذَا لَا يَأْتِيهِ إِلَّا لِخَيْرٍ يَتَعَلَّمُهُ أَوْ يُعَلِّمُهُ فَهُوَ بِمَنْزِلَةِ الْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ»
> “Barang siapa datang ke masjidku ini semata-mata untuk mempelajari ilmu atau mengajarkannya, maka ia seperti seorang mujahid di jalan Allah.”
5. Di dalamnya terdapat Raudhah yang mulia.
Nabi ﷺ bersabda:
> «مَا بَيْنَ بَيْتِي وَمِنْبَرِي رَوْضَةٌ مِنْ رِيَاضِ الْجَنَّةِ، وَمِنْبَرِي عَلَى حَوْضِي»
> “Antara rumahku dan mimbarku adalah salah satu taman dari taman-taman surga, dan mimbarku berada di atas telagaku.
Kedua: Disunnahkan Mengunjungi Masjid Nabawi
Karena berbagai keutamaan tersebut, maka disunnahkan mengunjungi Masjid Nabawi untuk melaksanakan shalat dan ibadah di dalamnya.
Dianjurkan bagi jamaah haji maupun selainnya untuk mengunjungi Masjid Nabawi sebelum atau sesudah haji.
Ziarah ke Masjid Nabawi bukan termasuk rukun, wajib, maupun syarat sah haji.
Tidak ada batas minimal jumlah shalat atau lama tinggal di Madinah untuk dianggap telah berziarah ke Masjid Nabawi.
Satu kali shalat, baik fardhu maupun sunnah, sudah cukup untuk mendapatkan keutamaan ziarah tersebut.
Semakin banyak shalat yang dilakukan di Masjid Nabawi maka semakin besar pula pahala yang diperoleh.
Ketiga: Adab Mengunjungi Masjid Nabawi
Di antara adab yang perlu diperhatikan:
1. Datang dengan tenang, berwudhu, berpakaian rapi, dan memakai wewangian.
Nabi ﷺ bersabda:
> «إِذَا أُقِيمَتِ الصَّلَاةُ فَلَا تَأْتُوهَا وَأَنْتُمْ تَسْعَوْنَ، وَأْتُوهَا وَعَلَيْكُمُ السَّكِينَةُ»
> “Apabila iqamah telah dikumandangkan maka janganlah kalian mendatanginya dengan tergesa-gesa, tetapi datanglah dengan tenang.”
2. Mendahulukan kaki kanan ketika masuk masjid dan membaca doa masuk masjid.
> «بِسْمِ اللَّهِ، وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذُنُوبِي وَافْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ»
Dan membaca:
> «أَعُوذُ بِاللَّهِ الْعَظِيمِ، وَبِوَجْهِهِ الْكَرِيمِ، وَسُلْطَانِهِ الْقَدِيمِ، مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ»
3. Melaksanakan Tahiyyatul Masjid sebelum duduk.
Nabi ﷺ bersabda:
> «إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ الْمَسْجِدَ فَلَا يَجْلِسْ حَتَّى يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ»
4. Berusaha mendapatkan shaf pertama tanpa mengganggu jamaah lain.
5. Menjaga kerapian dan kelurusan shaf.
6. Shalat di Raudhah apabila memungkinkan tanpa berdesakan dan menyakiti jamaah lain.
7. Memanfaatkan waktu untuk:
shalat,
membaca Al-Qur’an,
berdzikir,
berdoa,
menghadiri kajian ilmu,
dan majelis Al-Qur’an.
8. Menjaga kehormatan mushaf Al-Qur’an.
9. Menundukkan pandangan dari perkara yang diharamkan.
10. Menghindari kesibukan dengan foto, video, dan media sosial yang melalaikan.
11. Tidak melakukan jual beli, mencari barang hilang, atau meninggikan suara di masjid.
12. Menjaga kebersihan dan menghindari bau yang mengganggu seperti bawang, rokok, dan keringat.
13. Keluar dari masjid dengan mendahulukan kaki kiri sambil membaca:
> «اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ»
atau:
> «رَبِّ اغْفِرْ لِي ذُنُوبِي، وَافْتَحْ لِي أَبْوَابَ فَضْلِكَ»
Keempat: Adab Menziarahi Makam Nabi ﷺ dan Kedua Sahabatnya
Disunnahkan bagi laki-laki untuk menziarahi makam Nabi ﷺ serta makam Abu Bakar dan Umar رضي الله عنهما.
Wanita tidak disyariatkan mengunjungi kuburan menurut pendapat yang dipilih dalam risalah ini.
Tidak disyariatkan melakukan perjalanan dengan niat khusus untuk ziarah kubur Nabi ﷺ saja, tetapi niat perjalanan adalah untuk mengunjungi Masjid Nabawi dan shalat di dalamnya.
Tata cara salam kepada Nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wassalam
Dengan nama Allah dan segala puji bagi Allah.
Disunnahkan bagi orang yang mengunjungi Madinah untuk mengunjungi Masjid Nabawi dan melaksanakan shalat di dalamnya. Apabila memungkinkan baginya untuk melaksanakan shalat di Raudhah, maka hal itu lebih utama.
Kemudian ia mengucapkan salam kepada Nabi ﷺ dan kepada kedua sahabat beliau, Abu Bakar dan Umar رضي الله عنهما.
Sunnahnya, ketika mengucapkan salam, seorang peziarah menghadap kepada Nabi ﷺ dan kedua sahabat beliau, lalu mengucapkan:
> السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَرَحْمَةُ اللَّهِ عَلَيْكَ وَبَرَكَاتُهُ
“Semoga keselamatan, rahmat Allah, dan keberkahan-Nya tercurah kepadamu wahai Rasulullah.”
Apabila ia mendoakan Nabi ﷺ dengan doa seperti:
جَزَاكَ اللَّهُ عَنْ أُمَّتِكَ خَيْرًا، وَضَاعَفَ لَكَ الْحَسَنَاتِ، وَأَحْسَنَ إِلَيْكَ كَمَا أَحْسَنْتَ إِلَى الْأُمَّةِ.
> “Semoga Allah membalasmu dengan sebaik-baik balasan atas jasamu terhadap umatmu, melipatgandakan pahala-pahalamu, dan membalas kebaikanmu sebagaimana engkau telah berbuat baik kepada umat ini.”
maka tidak mengapa melakukan hal tersebut.
Demikian pula apabila ia berkata:
أَشْهَدُ أَنَّكَ قَدْ بَلَّغْتَ الرِّسَالَةَ، وَأَدَّيْتَ الْأَمَانَةَ، وَنَصَحْتَ الْأُمَّةَ، وَجَاهَدْتَ فِي اللَّهِ حَقَّ الْجِهَادِ.
> “Aku bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan risalah, menunaikan amanah, menasihati umat, dan berjihad di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya.”
Maka tidak mengapa mengucapkan hal tersebut, karena semuanya adalah kebenaran.
Setelah itu, ia mengucapkan salam kepada kedua sahabat beliau رضي الله عنهما dan mendoakan keduanya dengan doa-doa yang sesuai.
Dengan mengucapkan:
السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا أَبَا بَكْرٍ الصِّدِّيقُ
“Semoga keselamatan tercurah kepadamu wahai Abu Bakar Ash-Shiddiq.”
Kemudian maju selangkah dan mengucapkan:
السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا عُمَرُ الْفَارُوقُ
“Semoga keselamatan tercurah kepadamu wahai Umar Al-Faruq.”
Adapun apabila ia ingin berdoa untuk dirinya sendiri, maka hendaknya ia berpindah ke tempat lain, menghadap kiblat, lalu berdoa. Inilah yang disebutkan oleh para ulama.
Disunnahkan pula bagi seorang muslim untuk melakukan perjalanan khusus menuju Masjid Nabawi, baik dari negerinya maupun dari tempat lain, sebagaimana disyariatkan pula baginya untuk mengunjungi Masjidil Haram dan Masjid Al-Aqsha apabila memungkinkan.
Hal ini berdasarkan sabda Nabi ﷺ:
> «لَا تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ: الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ، وَمَسْجِدِي هَذَا، وَالْمَسْجِدِ الْأَقْصَى»
“Tidak boleh melakukan perjalanan khusus untuk tujuan ibadah kecuali menuju tiga masjid: Masjidil Haram, masjidku ini (Masjid Nabawi), dan Masjid Al-Aqsha.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Beliau ﷺ juga bersabda:
> «صَلَاةٌ فِي مَسْجِدِي هَذَا خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلَّا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ، وَالصَّلَاةُ فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةٍ فِي مَسْجِدِي هَذَا بِمِائَةِ صَلَاةٍ»
> “Satu shalat di masjidku ini lebih utama daripada seribu shalat di masjid lainnya selain Masjidil Haram. Dan satu shalat di Masjidil Haram lebih utama daripada seratus shalat di masjidku ini.”
Dari hadits ini diketahui bahwa:
Satu shalat di Masjid Nabawi bernilai lebih dari 1.000 shalat di masjid lainnya selain Masjidil Haram.
Satu shalat di Masjidil Haram bernilai lebih dari 100 shalat di Masjid Nabawi, sehingga setara dengan lebih dari 100.000 shalat di masjid selain keduanya.
Juga diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa:
> Shalat di Masjid Al-Aqsha lebih utama daripada lima ratus shalat di masjid lainnya, yaitu selain Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.
Dan Allah-lah yang memberikan taufik.
Di antara adab penting:
Tidak mengusap atau mencium pagar maupun dinding makam.
Tidak berdoa menghadap makam, tetapi menghadap kiblat.
Tidak meminta kepada Nabi ﷺ atau penghuni kubur apa yang hanya mampu dilakukan oleh Allah.
Tidak menjadikan makam sebagai tempat yang dikunjungi secara rutin pada waktu-waktu tertentu seperti perayaan atau ritual khusus.
Tidak mengangkat suara di sekitar makam.
Tidak sibuk dengan foto atau siaran langsung saat memberi salam.
Semoga Allah menjadikan ziarah kita sebagai ziarah yang sesuai dengan sunnah Rasulullah ﷺ dan diterima di sisi-Nya.
Sumber:
Fatwa dan artikel Syaikh Abd al-Aziz ibn Baz dalam Majmu’ Fatawa wa Maqalat jilid 17 halaman 408, diterbitkan dalam Majalah Ad-Da’wah no. 1394 tanggal 8/11/1413 H.



