Pembangunan Masjidil Haram

Pembangunan Masjidil Haram
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, kepada keluarga beliau, para sahabat beliau, dan orang-orang yang mengikuti mereka. Amma ba’du:
Ada satu pertanyaan yang mengusik hati:
Siapakah orang pertama yang membangun Ka’bah? Apakah Nabi Adam atau Nabi Ibrahim?
Jawabannya adalah:
Pendapat yang benar adalah bahwa yang pertama membangun Ka’bah adalah Nabi Ibrahim `alaihissalam, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya. Hal ini ditegaskan oleh Al-Qur’an yang mulia dalam firman Allah Ta’ala:
> ﴿وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ﴾
“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan fondasi-fondasi Baitullah itu…” (QS. Al-Baqarah: 127)
Tidak terdapat nash yang sahih yang menunjukkan bahwa ada seseorang sebelum Nabi Ibrahim `alaihissalam yang membangunnya.
Ketika Nabi ﷺ ditanya tentang rumah ibadah pertama yang dibangun untuk manusia, beliau menjawab:
بيت الله العتيق.
> “Baitullah Al-‘Atiq (Ka’bah).”
Kemudian beliau ditanya:
> “Lalu setelah itu apa?”
Beliau menjawab:
البيت المقدس، بيت إيلياء
> “Baitul Maqdis, yaitu Masjid Iliyā’ (Masjid Al-Aqsha).”
Beliau ditanya lagi:
> “Berapa jarak waktu antara keduanya?”
Beliau menjawab:
أربعون عامًا.
> “Empat puluh tahun.”
Dengan demikian, masjid pertama yang dibangun di bumi adalah Masjidil Haram, tempat Ka’bah berada, sedangkan masjid kedua adalah Masjid Al-Aqsha di Baitul Maqdis, dan jarak waktu antara pembangunan keduanya adalah empat puluh tahun.
Masjid Al-Aqsha dibangun oleh Nabi Ya’qub alaihissalam, cucu Nabi Ibrahim alaihissalam, kemudian diperbarui dan diperindah kembali oleh Nabi Sulaiman bin Dawud alaihimassalam`.
Disebutkan pendapat yang masyhur di kalangan ahli sejarah dan para penulis sirah adalah bahwa yang pertama kali membangun Baitul Haram (Ka’bah) adalah para malaikat. Disebutkan dalam nazham Al-Badawi:
> أَبْنِيَةُ الْكَعْبَةِ فِيمَا شَهَّرَهُ حَمَّادُ سَبْعَةٌ وَقِيلَ عَشَرَةُ
Jumlah pembangunan Ka’bah menurut riwayat yang terkenal dari Hammad ada tujuh kali, dan ada pula yang mengatakan sepuluh kali.
> أَوَّلُهَا الْأَمْلَاكُ ثُمَّ آدَمُ
ثُمَّ الْخَلِيلُ وَابْنُهُ فَجُرْهُمُ
Yang pertama adalah para malaikat, kemudian Adam, lalu Al-Khalil (Ibrahim) dan putranya, kemudian kaum Jurhum.
> ثُمَّ قُرَيْشٌ بَعْدَهُمْ نَجْلُ الزُّبَيْرِ
عَبْدُ الإِلَهِ ثُمَّ حَجَّاجُ الْمُبِيرِ …
Kemudian Quraisy, setelah mereka Abdullah bin Zubair, lalu Abdul Malik, kemudian Al-Hajjaj yang banyak menumpahkan darah, dan seterusnya.
Akan tetapi, hal tersebut tidak disebutkan dalam Al-Qur’an Al-Karim maupun dalam hadits-hadits yang sahih. Yang ada hanyalah sebagian hadits yang lemah dan beberapa atsar dari salaf. Oleh karena itu para ulama berbeda pendapat mengenai masalah ini.
Disebutkan dalam kitab ‘Umdatul Qari Syarh Shahih Al-Bukhari karya Badruddin al-‘Aini:
” واختلفوا في أول من بنى الكعبة, فقيل: أول من بناها الملائكة ليطوفوا بها خوفا من الله حين قالوا: أتجعل فيها من يفسد فيها (البقرة 30) الآية, وقيل: أول من بناها آدم عليه الصلاة والسلام ذكره ابن إسحاق، وقيل: أول من بناها شيث عليه الصلاة والسلام”.
> “Para ulama berbeda pendapat tentang siapa yang pertama kali membangun Ka’bah. Ada yang mengatakan bahwa yang pertama membangunnya adalah para malaikat agar mereka bertawaf mengelilinginya sebagai bentuk penghambaan kepada Allah setelah mereka berkata:
﴿أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا﴾
‘Apakah Engkau akan menjadikan di bumi orang yang akan membuat kerusakan di dalamnya?’ (QS. Al-Baqarah: 30).
Ada pula yang mengatakan bahwa yang pertama membangunnya adalah Adam alaihissalam, sebagaimana disebutkan oleh Ibn Ishaq. Dan ada pula yang berpendapat bahwa yang pertama membangunnya adalah Syits alaihissalam.”
Kesimpulannya, masalah ini termasuk perkara sejarah yang tidak terdapat dalil sahih dan tegas yang dapat dijadikan pegangan pasti. Karena itu, sebagian ulama seperti Abd al-Aziz ibn Baz memilih untuk berhenti pada apa yang pasti disebutkan dalam Al-Qur’an, yaitu bahwa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail `alaihimassalam adalah orang yang meninggikan dan membangun kembali Ka’bah atas perintah Allah, sebagaimana firman-Nya:
> ﴿وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ﴾
“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan fondasi-fondasi Baitullah bersama Ismail.” (QS. Al-Baqarah: 127)
Adapun apakah sebelum Ibrahim sudah ada bangunan Ka’bah yang dibangun oleh malaikat, Adam, atau Syits, maka tidak terdapat dalil sahih yang memastikan salah satu pendapat tersebut, sehingga sikap yang lebih selamat adalah tidak memastikan salah satunya secara tegas.
Allah Ta’ala berfirman:
> ﴿إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ فِيهِ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ مَقَامُ إِبْرَاهِيمَ ۖ وَمَنْ دَخَلَهُ كَانَ آمِنًا ۗ وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا﴾
“Sesungguhnya rumah ibadah pertama yang dibangun untuk manusia adalah yang berada di Bakkah (Makkah), yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam. Di dalamnya terdapat tanda-tanda yang nyata, di antaranya Maqam Ibrahim. Barang siapa memasukinya, niscaya ia akan memperoleh keamanan. Dan menjadi kewajiban manusia terhadap Allah untuk menunaikan haji ke Baitullah, yaitu bagi orang yang mampu menempuh perjalanan ke sana.”
(QS. Ali ‘Imran: 96–97)
Allah memerintahkan kekasih-Nya, Nabi Ibrahim `alaihissalam, untuk membangun Ka’bah yang mulia di negeri yang aman ini agar menjadi kiblat bagi manusia dalam shalat dan doa mereka, serta menjadi tujuan ibadah haji dan thawaf.
Allah menunjukkan kepada Ibrahim alaihissalam lokasi pembangunan Ka’bah dan memberinya petunjuk menuju tempat pilihan tersebut melalui berbagai tanda yang Dia kehendaki. Maka Ibrahim segera berangkat dari Syam menuju Makkah, tempat tinggal putranya Ismail alaihissalam.
Ketika Ismail melihat ayahnya datang, ia menyambutnya sebagaimana seorang anak menyambut ayahnya dan seorang ayah menyambut anaknya dengan penuh kasih sayang.
Ibrahim berkata:
يا إسماعيل إن الله أمرني بأمرٍ.
> “Wahai Ismail, sesungguhnya Allah telah memerintahkanku untuk melakukan suatu perkara.”
Ismail menjawab:
فاصنع ما أمرك به ربك.
> “Laksanakanlah apa yang diperintahkan oleh Rabbmu kepadamu.”
Ibrahim berkata:
وتعينني عليه؟
> “Apakah engkau akan membantuku?”
Ismail menjawab:
> “Aku akan membantumu.”
Lalu Ibrahim berkata:
فإنَّ الله أمرني أن أبني له بيتًا هاهنا وأشار إلى أكمةٍ مرتفعة عما حولها.
> “Sesungguhnya Allah memerintahkanku untuk membangun sebuah rumah bagi-Nya di tempat ini.”
Sambil menunjuk sebuah tanah yang sedikit lebih tinggi daripada daerah di sekitarnya.
Maka Ibrahim dan Ismail mulai meninggikan fondasi-fondasi Ka’bah. Ismail membawa batu-batu, sedangkan Ibrahim menyusunnya. Ketika bangunan mulai tinggi dan Ibrahim kesulitan menjangkau bagian atas, Ismail membawa sebuah batu agar ayahnya berdiri di atasnya saat membangun. Batu itulah yang sekarang dikenal dengan nama Maqam Ibrahim.
Pembangunan terus berlangsung sementara Ismail menyerahkan batu-batu kepada ayahnya, dan keduanya berdoa:
> ﴿رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ﴾
“Wahai Rabb kami, terimalah amal dari kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Wahai Rabb kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada-Mu, dan jadikan dari keturunan kami umat yang berserah diri kepada-Mu. Tunjukkanlah kepada kami tata cara ibadah kami dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkau Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. Wahai Rabb kami, utuslah kepada mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri yang akan membacakan ayat-ayat-Mu kepada mereka, mengajarkan Al-Kitab dan hikmah kepada mereka serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
(QS. Al-Baqarah: 127–129)
Allah pun mengabulkan doa keduanya, mengajarkan manasik kepada mereka, dan memerintahkan Ibrahim untuk menyeru manusia agar menunaikan haji:
> ﴿وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ﴾
“Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus, datang dari segenap penjuru yang jauh, agar mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah berikan kepada mereka berupa hewan ternak.”
(QS. Al-Hajj: 27–28)
Allah memerintahkan Ibrahim dan Ismail untuk membangun Baitullah serta menyucikannya dari segala bentuk kesyirikan, patung-patung, berhala, dan segala sesuatu yang mengotori tauhid. Mereka juga diperintahkan menjaga kesuciannya dari najis, kotoran, dan segala sesuatu yang mengganggu kekhusyukan para hamba yang beribadah di dalamnya.
Para ulama sepakat bahwa Ka’bah adalah rumah ibadah pertama yang dibangun di bumi untuk manusia berdasarkan firman Allah:
> ﴿إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ﴾
“Sesungguhnya rumah pertama yang dibangun untuk manusia adalah yang berada di Bakkah, yang penuh keberkahan dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam.” (QS. Ali ‘Imran: 96)
Demikian pula dalam hadits Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu:
> Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, masjid apakah yang pertama kali dibangun di bumi?”
Beliau menjawab:
“Al-Masjidul Haram.”
Aku bertanya lagi:
“Kemudian yang mana?”
Beliau menjawab:
“Al-Masjidul Aqsha.”
Sebagian riwayat dari ulama salaf menyebutkan bahwa para malaikat membangun Ka’bah sebelum Nabi Adam atau bahwa Nabi Adam membangunnya, namun riwayat-riwayat tersebut tidak memiliki dalil yang tegas dan tidak berkaitan dengan hukum syariat ataupun manasik. Yang pasti berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah adalah bahwa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail `alaihimassalam adalah orang yang meninggikan kembali bangunan Ka’bah atas perintah Allah.
Allah menjadikan Masjidil Haram sebagai tempat yang penuh keberkahan dan melipatgandakan pahala amal di dalamnya. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa:
> “Shalat di Masjidil Haram lebih utama daripada seratus ribu shalat di masjid lainnya.”
Allah juga mengkhususkan rumah ini sebagai tempat pelaksanaan haji, umrah, dan thawaf. Bahkan thawaf dijadikan seperti shalat sebagai bentuk pengagungan terhadap Baitullah.
Allah mengabulkan doa Ibrahim sehingga hati manusia selalu rindu kepada Makkah dan penduduk Tanah Haram diberi berbagai rezeki dan keberkahan yang melimpah. Dari negeri inilah Allah mengutus penutup para nabi, yaitu Nabi Muhammad ﷺ.
Rasulullah ﷺ bersabda:
> «أَنَا دَعْوَةُ أَبِي إِبْرَاهِيمَ»
“Aku adalah jawaban atas doa ayahku Ibrahim.”
Allah juga menjadikan Baitullah sebagai tempat keamanan. Barang siapa memasukinya dengan penuh pengagungan dan menunaikan manasik sesuai syariat, maka ia mendapatkan keamanan dari azab Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
> «مَنْ حَجَّ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ»
“Barang siapa berhaji lalu tidak berkata kotor dan tidak berbuat fasik, maka ia kembali seperti hari ketika dilahirkan oleh ibunya.”
Beliau juga bersabda:
> «الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ»
“Haji yang mabrur tidak ada balasan baginya selain surga.”
Di antara keistimewaan Tanah Haram adalah larangan mengusir hewan buruannya, menebang pohonnya, dan melakukan peperangan di dalamnya kecuali untuk membela diri dari agresi musuh.
Keistimewaan lain dari Ka’bah adalah bahwa pembangunnya bukanlah manusia biasa, melainkan Nabi Ibrahim Al-Khalil `alaihissalam atas perintah langsung dari Allah. Hal ini sekaligus menjadi bantahan terhadap klaim sebagian Ahli Kitab yang mengaku mengikuti Ibrahim tetapi enggan menjadikan Ka’bah sebagai kiblat mereka.
Allah Ta’ala berfirman:
> ﴿مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِإِبْرَاهِيمَ لَلَّذِينَ اتَّبَعُوهُ وَهَذَا النَّبِيُّ وَالَّذِينَ آمَنُوا ۗ وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُؤْمِنِينَ﴾
“Ibrahim itu bukanlah seorang Yahudi dan bukan pula seorang Nasrani, tetapi ia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri kepada Allah, dan bukan termasuk orang-orang musyrik. Sesungguhnya orang yang paling berhak mengaku sebagai pengikut Ibrahim adalah orang-orang yang mengikutinya, nabi ini (Muhammad), dan orang-orang yang beriman. Dan Allah adalah Pelindung orang-orang yang beriman.”
(QS. Ali ‘Imran: 67–68)
Dengan demikian Allah membatalkan klaim mereka bahwa mereka berada di atas agama Nabi Ibrahim yang hanif. Sebab, mereka telah meninggalkan agama dan syariat Ibrahim yang fondasinya adalah tauhid. Padahal di antara syiar terbesar agama Ibrahim adalah mengagungkan Baitullah Al-Haram. Ini merupakan kontradiksi yang sangat nyata antara realitas kehidupan yang mereka jalani dan jalan yang mereka tempuh dengan pengakuan dan klaim yang mereka ucapkan.
Ketika bangunan Ka’bah telah berusia sangat lama dan dindingnya telah mencapai ketinggian kira-kira setinggi manusia, kaum Quraisy merobohkannya dan sepakat untuk membangunnya kembali. Peristiwa ini terjadi lima tahun sebelum diutusnya Nabi Muhammad ﷺ sebagai rasul.
Mereka membagi pekerjaan pembangunan tersebut menjadi beberapa bagian, dan setiap kabilah mendapatkan bagian tertentu untuk dikerjakan. Ketika pembangunan telah sampai pada posisi peletakan Hajar Aswad, mereka berselisih mengenai siapa yang berhak mengangkat dan meletakkan Hajar Aswad pada tempatnya, hingga hampir saja terjadi peperangan dan pertumpahan darah di antara mereka.
Akhirnya mereka sepakat untuk menjadikan orang pertama yang masuk menemui mereka sebagai hakim penengah dalam perselisihan tersebut. Ternyata orang pertama yang datang adalah Nabi Muhammad ﷺ.
Mereka pun berkata:
هذا الأمين قبلنا به حكمًا.
> “Inilah Al-Amīn (orang yang terpercaya), kami ridha menjadikannya sebagai penengah.”
Lalu Nabi ﷺ bersabda:
هلم ثوبًا.
> “Bawakan kepadaku sehelai kain.”
Maka dibawakanlah sebuah kain, kemudian beliau meletakkan Hajar Aswad di atas kain tersebut dengan tangan beliau sendiri. Setelah itu beliau bersabda:
لتأخذ كل قبيلة بناحية من الثواب.
> “Hendaklah setiap kabilah memegang salah satu sisi kain ini.”
Mereka pun mengangkatnya bersama-sama hingga sampai ke tempat peletakannya. Setelah itu Rasulullah ﷺ mengambil Hajar Aswad dengan tangan beliau sendiri lalu meletakkannya pada posisinya. Dengan demikian, selesailah perselisihan besar tersebut dengan hikmah dan kebijaksanaan beliau ﷺ.
Kemudian kaum Quraisy melanjutkan pembangunan Ka’bah. Namun karena keterbatasan biaya, mereka memperkecil ukuran bangunan Ka’bah dan tidak membangunnya sesuai seluruh fondasi Nabi Ibrahim `alaihissalam. Mereka mengurangi bangunannya dari tiga sisi dan menyisakan sebagian fondasi di sisi utara yang sekarang dikenal dengan nama Hijr Ismail.
Ka’bah tetap berada dalam bentuk seperti yang dibangun oleh Quraisy hingga akhirnya Abdullah bin Zubair radhiyallahu ‘anhuma menguasai kota Makkah. Beliau kemudian merobohkan Ka’bah dan membangunnya kembali di atas fondasi Nabi Ibrahim `alaihissalam.
Beliau juga membuat dua pintu, satu di sebelah timur dan satu di sebelah barat, keduanya sejajar dengan permukaan tanah, berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha:
> «لَوْلَا أَنَّ قَوْمَكِ حَدِيثُو عَهْدٍ بِكُفْرٍ لَهَدَمْتُ الْكَعْبَةَ وَبَنَيْتُهَا عَلَى قَوَاعِدِ إِبْرَاهِيمَ، وَلَجَعَلْتُ لَهَا بَابَيْنِ: بَابًا شَرْقِيًّا وَبَابًا غَرْبِيًّا، وَلَأَلْصَقْتُهُمَا بِالْأَرْضِ»
> “Seandainya kaummu belum lama meninggalkan kekafiran, niscaya aku akan merobohkan Ka’bah dan membangunnya kembali di atas fondasi Ibrahim, serta akan menjadikannya memiliki dua pintu: satu pintu di sebelah timur dan satu pintu di sebelah barat, dan aku akan menjadikan kedua pintu itu sejajar dengan tanah.”
Ka’bah tetap dalam bentuk yang dibangun oleh Abdullah bin Zubair selama masa pemerintahannya hingga beliau gugur terbunuh oleh pasukan Al-Hajjaj Ats-Tsaqafi. Setelah itu Ka’bah dikembalikan kepada bentuk sebelumnya, yaitu sebagaimana bangunan Quraisy sebelum masa Ibnu Zubair, dan itulah bentuknya pada masa pemerintahan Abdul Malik bin Marwan.
Ketika Dinasti Abbasiyah berkuasa dan Harun Ar-Rasyid menjadi khalifah, beliau berniat merobohkan Ka’bah dan membangunnya kembali di atas fondasi Nabi Ibrahim sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Abdullah bin Zubair.
Namun Imam Malik rahimahullah berkata kepadanya:
يا أمير المؤمنين لا تجعل الكعبة ألعوبة للملوك لا يشاء أحد أن يهدمها إلا هدمها.
> “Wahai Amirul Mukminin, janganlah engkau menjadikan Ka’bah sebagai permainan para penguasa; setiap kali ada seorang raja yang ingin merobohkannya, ia merobohkannya, dan setiap kali ada yang ingin membangunnya kembali, ia membangunnya kembali.”
Maka Harun Ar-Rasyid pun membatalkan niatnya tersebut, sehingga Ka’bah tetap dalam bentuknya seperti sekarang hingga zaman kita ini.
Kesimpulan:
Para ulama sepakat bahwa Ka’bah telah dibangun atau direnovasi sebanyak lima kali yang disepakati secara umum, yaitu:
1. Pembangunan oleh Nabi Ibrahim dan putranya Nabi Ismail alaihimassalam
Pembangunan ini dilakukan atas perintah Allah Rabb Yang Maha Mulia dan Maha Agung, sebagaimana firman-Nya:
> ﴿وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ﴾
“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan fondasi-fondasi Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): ‘Wahai Rabb kami, terimalah amal dari kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.'” (QS. Al-Baqarah: 127)
2. Pembangunan oleh kaum Quraisy
Ketika dinding Ka’bah mengalami keretakan beberapa tahun sebelum diutusnya Nabi Muhammad ﷺ, tepatnya sekitar lima tahun sebelum kenabian, seluruh kabilah Quraisy berkumpul untuk membangunnya kembali dan membagi tugas pembangunan di antara mereka.
Ketika mereka sampai pada tahap peletakan Hajar Aswad, mereka berselisih tentang siapa yang berhak meletakkannya pada tempatnya, hingga hampir terjadi peperangan di antara mereka.
Akhirnya mereka sepakat menunjuk Nabi Muhammad ﷺ, yang saat itu dikenal dengan julukan Al-Amīn (orang yang terpercaya), sebagai penengah.
Beliau meminta sehelai kain, lalu meletakkan Hajar Aswad di atas kain tersebut. Setiap pemimpin kabilah memegang salah satu sisi kain dan mengangkatnya bersama-sama. Setelah sampai di tempatnya, Rasulullah ﷺ mengambil Hajar Aswad dengan tangan beliau yang mulia dan meletakkannya pada posisinya.
3. Pembangunan oleh Abdullah bin Zubair radhiyallahu ‘anhuma
Ketika dinding Ka’bah mengalami kerusakan dan terbakar, Abdullah bin Zubair merobohkannya lalu membangunnya kembali sesuai bentuk yang diinginkan oleh Rasulullah ﷺ sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih.
Beliau memasukkan kembali bagian Hijr Ismail ke dalam bangunan Ka’bah dan menambahkan sebuah pintu di sisi barat, sehingga Ka’bah memiliki dua pintu yang sejajar dengan permukaan tanah.
4. Pembangunan oleh Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi (74 H)
Pada tahun 74 Hijriah, Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi atas perintah khalifah Abdul Malik bin Marwan merobohkan bangunan Ka’bah yang dibangun oleh Ibnu Zubair dan mengembalikannya kepada bentuk sebelumnya sebagaimana bangunan Quraisy.
Ia menutup pintu sebelah barat dan mengeluarkan kembali bagian Hijr Ismail dari bangunan Ka’bah.
Hal itu terjadi karena saat itu Al-Hajjaj belum mengetahui hadits Nabi ﷺ yang menjadi dasar tindakan Abdullah bin Zubair. Ketika hadits tersebut sampai kepadanya setelah pembangunan selesai, Abdul Malik bin Marwan berkata:
ليتني ما فعلت.
> “Seandainya aku mengetahui hadits ini sebelumnya, niscaya aku tidak akan melakukan apa yang telah aku lakukan.”
5. Pembangunan terakhir pada masa Kesultanan Utsmaniyah (1040 H)
Renovasi besar terakhir Ka’bah terjadi pada masa pemerintahan Daulah Utsmaniyah pada tahun 1040 Hijriah.
Saat itu Kota Makkah dilanda banjir besar yang menenggelamkan Masjidil Haram hingga air mencapai lampu-lampu gantung yang berada di dalam masjid. Banjir tersebut menyebabkan bangunan Ka’bah melemah dan mengalami kerusakan.
Karena itu, Muhammad Ali Pasha memerintahkan para insinyur dan pekerja ahli untuk merobohkan bagian-bagian yang rusak lalu membangun kembali Ka’bah.
Pekerjaan pembangunan tersebut berlangsung selama sekitar enam bulan penuh.
Ukuran Ka’bah Saat Ini
Ka’bah Al-Musyarrafah berbentuk bangunan menyerupai kubus dengan ukuran sebagai berikut:
Tinggi Ka’bah: sekitar 15 meter.
Panjang sisi yang terdapat pintunya: sekitar 12 meter.
Sisi yang berhadapan dengan pintu: sekitar 12 meter.
Sisi yang terdapat Mizab (talang emas): sekitar 10 meter.
Sisi yang berhadapan dengan Mizab: sekitar 10 meter.
Dengan demikian, ukuran Ka’bah saat ini kurang lebih adalah:
12 meter × 10 meter × 15 meter.
Gambar-gambar di atas menunjukkan beberapa bagian penting Ka’bah, seperti pintu Ka’bah, Hajar Aswad, Maqam Ibrahim, dan Hijr Ismail yang memiliki kaitan erat dengan sejarah pembangunan Ka’bah sepanjang zaman.
Dan Allah-lah Yang Maha Memberi taufik.
Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad ﷺ.



