Tatsqif

Darb Zubaidah

Darb Zubaidah

Darb Zubaidah atau Jalur Haji Kufah merupakan salah satu jalur haji dan perdagangan bersejarah di Kerajaan Arab Saudi. Jalur darat ini menghubungkan Irak dengan Makkah Al-Mukarramah, dan melintasi lima wilayah di Arab Saudi, yaitu: Perbatasan Utara (Al-Hudud Asy-Syamaliyah), Ha’il, Al-Qassim, Madinah Al-Munawwarah, dan Makkah Al-Mukarramah.

Kerajaan Arab Saudi memiliki banyak situs bersejarah yang merupakan salah satu potensi ekonomi yang dapat diinvestasikan pada era pasca-minyak. Namun di sisi lain, banyak situs dan jalur sejarah menghadapi kerusakan fisik dan hilangnya sebagian peninggalannya akibat kelalaian manusia maupun pengaruh faktor-faktor alam.

Visi Kerajaan Arab Saudi 2030 memberikan perhatian besar terhadap berbagai inisiatif dan arah strategis untuk mendukung sektor pariwisata dan warisan nasional, sehingga dapat menonjolkan dimensi budaya, sejarah, dan peradaban Arab Saudi.

Darb Zubaidah atau Jalur Haji Kufah merupakan salah satu dari tujuh jalur bersejarah terpenting di Jazirah Arab yang usianya telah melampaui 1.000 tahun. Jalur ini juga termasuk salah satu situs yang dicalonkan untuk masuk dalam daftar situs warisan dunia UNESCO.

Menentukan dan mendokumentasikan lokasi-lokasi penting pada jalur-jalur sejarah merupakan langkah awal dalam upaya melindunginya dari ancaman kerusakan fisik maupun kepunahan.

Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menelusuri jalur historis Darb Zubaidah sebagai salah satu peninggalan sejarah penting di Jazirah Arab, serta menentukan data spasial dari stasiun-stasiun dan titik-titik persinggahannya melalui pemanfaatan perangkat lunak Sistem Informasi Geografis (GIS).

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dan historis untuk melacak rute Darb Zubaidah mulai dari kota Kufah hingga Makkah Al-Mukarramah.

Selain itu, penelitian ini juga berhasil menentukan kerangka spasial jalur sejarah tersebut dalam sebuah platform elektronik yang diharapkan dapat menjadi embrio bagi proyek masa depan yang dapat diadopsi oleh lembaga-lembaga pemerintah yang terkait dengan sektor pariwisata dan pelestarian warisan arsitektur serta sejarah.

Pada akhirnya, penelitian ini merekomendasikan penyusunan strategi nasional untuk melestarikan jalur-jalur sejarah di Kerajaan Arab Saudi, sejalan dengan arah dan tujuan Visi Arab Saudi 2030 dalam mendukung sektor pariwisata dan pelestarian warisan nasional.

Sejak masa sebelum Islam, para musafir telah menggunakan jalur ini sebagai rute perdagangan. Kemudian, pada masa Islam, jalur ini menjadi lintasan utama bagi para jamaah haji dan peziarah yang datang dari Irak dan wilayah utara Jazirah Arab menuju dua kota suci, yaitu Makkah dan Madinah.

Jalur ini adalah Jalur Haji Kufah (Darb al-Hajj al-Kufi), yaitu jalur resmi kerajaan yang terkenal dengan nama Darb Zubaidah. Namun pada hakikatnya, jalur ini bukanlah dibangun oleh Zubaidah seorang diri.

Pembangunan jalur ini merupakan hasil kerja kolektif dari pemerintahan Daulah Abbasiyah sejak masa-masa awal berdirinya, kemudian terus disempurnakan, diperbaiki, dan ditambahkan berbagai fasilitas serta bangunan pendukung sepanjang tahun dan generasi yang silih berganti.

Bahkan dapat dikatakan bahwa sebagian penguasa di wilayah timur dunia Islam dari kalangan bangsa Persia, Turki, dan Kurdi turut berkontribusi dalam pembangunan berbagai fasilitas dan sarana di sepanjang jalur ini.

Selain itu, banyak pula kaum dermawan dari kalangan masyarakat umum yang bukan berasal dari golongan penguasa maupun pejabat negara turut berpartisipasi, seperti dengan menggali sumur atau membangun kubah-kubah dan fasilitas lainnya, sebagaimana akan disebutkan dalam laporan-laporan berikutnya.

Karena itu, penamaan jalur ini dengan “Darb Zubaidah” merupakan bentuk penghormatan dan penghargaan yang memang layak diberikan kepada Zubaidah binti Ja’far. Akan tetapi, kita juga tidak boleh mengabaikan jasa dan kontribusi para dermawan lainnya yang turut berperan dalam pembangunan dan pemeliharaan jalur tersebut.

Di antara kekeliruan yang umum terjadi di tengah masyarakat adalah penyebutan “Ain Zubaidah” untuk seluruh jalur ini atau untuk kolam-kolam penampungan air di sepanjangnya. Penyebutan tersebut tidak tepat, karena istilah Ain Zubaidah sebenarnya merujuk secara khusus kepada saluran dan mata air yang dibangun di Makkah, bukan kepada keseluruhan jalur ataupun kolam-kolam di sepanjang Darb Zubaidah.

Meskipun nama resmi jalur ini adalah Jalur Haji Kufah, mayoritas orang yang melaluinya sepanjang sejarah bukanlah penduduk Irak semata.

Sebaliknya, sebagian besar pengguna jalur ini adalah kaum Muslimin dari seluruh wilayah timur dunia Islam, mulai dari negeri-negeri di balik Sungai Oxus (Mawarannahr/Transoxiana), wilayah Afghanistan, Persia, hingga negeri-negeri kaum Kurdi.

Dengan demikian, Darb Haji Kufah sesungguhnya merupakan jalur internasional terbesar bagi jamaah haji dari kawasan timur dunia Islam selama berabad-abad.

Darb Zubaidah Sebelum Islam

Jalur ini termasuk salah satu jalan yang telah dikenal sejak masa pra-Islam. Kepentingannya berasal dari posisinya sebagai penghubung antara pusat-pusat perdagangan di bagian utara dan selatan Jazirah Arab.

Setelah munculnya Islam, jalur ini dilalui oleh pasukan kaum Muslimin untuk pertama kalinya menuju Irak pada masa kekhalifahan sahabat Umar bin Al-Khattab, di bawah komando Sa’ad bin Abi Waqqash.

Sejak peristiwa tersebut, muncul sejumlah tempat yang kemudian menjadi stasiun utama bagi para jamaah haji di sepanjang jalur ini, di antaranya: Ats-Tsa’labiyyah, Zarud, Asy-Syaraf, Al-‘Adzib, dan Al-Qadisiyah.

Pentingnya jalur ini semakin meningkat ketika pusat pemerintahan Khilafah berpindah dari Damaskus di Syam ke Baghdad di Irak.

Pada masa Daulah Umayyah, Darb Zubaidah menjadi jalur dengan lalu lintas paling ramai dibandingkan jalur-jalur haji dan perdagangan lainnya, karena menjadi penghubung antara pusat pemerintahan di Baghdad dengan kota-kota suci Makkah dan Madinah.

Perhatian terhadap Darb Zubaidah

Jalur ini mendapatkan perhatian khusus dari para penguasa Muslim. Sebagian ruasnya dipaving menggunakan batu, medan pegunungan dan daerah terjal diratakan agar mudah dilalui, serta disediakan sumber-sumber air di sepanjang jalur tersebut.

Selain itu, dipasang pula tanda-tanda jalan, menara penunjuk, dan obor yang membantu para musafir mengetahui perkiraan jarak menuju tujuan mereka dan memudahkan perjalanan baik siang maupun malam hari.

Di sepanjang jalur ini juga dibangun berbagai stasiun persinggahan dan tempat istirahat bagi para pelancong dan jamaah haji.

Di antara situs bersejarah penting yang dahulu menjadi kota dan stasiun utama di jalur ini adalah:

Zubalah

Ats-Tsa’labiyyah

Faid

Sumaira’

Ar-Rabdzah

Rute Darb Zubaidah

Secara geografis, jalur ini melintasi dataran rendah, daerah berbatu dan terjal, gurun pasir, hingga mencapai Pegunungan Hijaz dengan melewati lembah-lembah yang sempit dan dalam.

Panjang jalur ini di wilayah Arab Saudi mencapai sekitar 1.400 kilometer, yang mencakup sekitar 89% dari keseluruhan panjang jalur yang mencapai 1.571 kilometer.

Rute ini dimulai dari Stasiun Al-‘Aqabah di bagian utara dan berakhir di Makkah Al-Mukarramah.

Tempat-Tempat Persinggahan di Jalur Haji Kufah (Darb Zubaidah)

Jumlah tempat persinggahan (manzil) dari Kufah hingga Makkah adalah 27 persinggahan, sedangkan Makkah merupakan persinggahan ke-28.

Seluruh persinggahan tersebut berada di dalam wilayah Arab Saudi, kecuali lima persinggahan pertama yang berada di luar wilayah Saudi, yaitu di Irak.

Jarak antara satu persinggahan dengan persinggahan lainnya tidaklah tetap, karena para pendahulu memilih lokasi persinggahan sedekat mungkin dengan kolam penampungan air atau sumber air yang tersedia.

Rata-rata jarak antara dua persinggahan berkisar antara 40 hingga 50 kilometer.

Menurut perkiraan, kafilah menempuh perjalanan sejauh antara 1.360 hingga 1.400 kilometer dari Kufah menuju Makkah.

Biasanya, di antara dua persinggahan utama terdapat sebuah stasiun kecil atau tempat singgah sementara yang disebut “Muta‘asysha” (متعشى), yaitu tempat di mana rombongan beristirahat dan tidur sebentar pada sebagian malam sebelum melanjutkan perjalanan.

Selain itu, di antara dua persinggahan utama juga terdapat berbagai sumur dan kolam air yang tersebar di sepanjang jalur, yang dibangun di lokasi-lokasi yang memungkinkan dan sesuai.

Asal Penamaan Darb Zubaidah

Nama Darb Zubaidah diambil dari sebuah mata air di Makkah yang diperintahkan pembangunannya oleh Zubaidah binti Ja’far, istri dari Khalifah Harun Ar-Rasyid.

Keberadaan sumber air tersebut berkontribusi besar dalam meningkatkan aktivitas dan penggunaan jalur ini oleh para jamaah dan pedagang.

Hingga saat ini, sisa-sisa peninggalan Ain Zubaidah beserta saluran-saluran air cabangnya masih dapat ditemukan di sepanjang jalur tersebut dan berada di bawah pengawasan lembaga wakaf pemerintah Arab Saudi.

Darb Zubaidah pada Masa Modern

Darb Zubaidah saat ini merupakan salah satu warisan sejarah yang menggambarkan keindahan dan keunikan arsitektur Islam di Jazirah Arab.

Penemuan arkeologis di kota kuno Faid yang terletak di sepanjang Darb Zubaidah menunjukkan adanya jaringan yang sangat maju berupa:

sumur-sumur,

mata air,

saluran air,

kolam penampungan air,

istana-istana berbenteng,

rumah-rumah,

masjid-masjid,

serta jaringan jalan yang terencana dengan baik.

Pemerintah Arab Saudi memberikan perhatian besar terhadap jalur ini karena nilainya yang tinggi sebagai warisan sejarah dan budaya Islam.

Stasiun-Stasiun Darb Zubaidah di Wilayah Ha’il

Stasiun-stasiun Darb Zubaidah di Ha’il merupakan situs-situs arkeologi yang terletak di wilayah Ha’il, bagian utara Kerajaan Arab Saudi. Darb Zubaidah sendiri dikenal pula dengan nama “Jalur Haji Kufah”, yaitu jalur yang membentang dari kota Kufah di Irak, melewati bagian utara dan tengah Arab Saudi, hingga mencapai Makkah Al-Mukarramah.

Panjang jalur ini di wilayah Arab Saudi mencapai lebih dari 1.400 kilometer, melintasi lima wilayah administratif, yaitu:

Perbatasan Utara (Al-Hudud Asy-Syamaliyah),

Ha’il,

Al-Qassim,

Madinah Al-Munawwarah,

dan Makkah Al-Mukarramah.

Jalur Darb Zubaidah yang berada dalam wilayah administratif Ha’il memiliki panjang lebih dari 350 kilometer, atau sekitar seperempat dari keseluruhan jalur Darb Zubaidah berada di wilayah ini.

Di sepanjang jalur tersebut terdapat banyak stasiun arkeologi utama maupun sekunder yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas, bangunan, dan layanan bagi kafilah dagang serta para musafir.

Asal Penamaan Darb Zubaidah

Jalur ini dinamakan Darb Zubaidah sebagai bentuk penghormatan kepada Zubaidah binti Ja’far, istri dari Khalifah Abbasiyah Harun Ar-Rasyid, atas berbagai amal kebajikan yang beliau lakukan, termasuk pembangunan banyak stasiun dan fasilitas di sepanjang jalur tersebut.

Stasiun-Stasiun Bersejarah di Jalur Darb Zubaidah di Ha’il

Wilayah Ha’il merupakan salah satu daerah terpenting dalam sejarah Darb Zubaidah. Hingga saat ini telah berhasil didata dan didokumentasikan sebanyak 31 stasiun yang berada dalam kawasan Ha’il.

Di antara stasiun tersebut adalah:

Al-‘Asysyar, stasiun pertama di wilayah Ha’il dari arah utara, yang terdiri dari sisa-sisa sekitar 30 unit bangunan dengan ukuran dan fungsi yang beragam, tersusun memanjang dalam satu barisan.

Al-‘Arayisy, yang memiliki tujuh unit bangunan yang tersebar pada area sekitar 150 meter dari timur ke barat dan 240 meter dari utara ke selatan.

Al-Bida’, salah satu stasiun besar setelah stasiun Faid di jalur Darb Zubaidah.

Syamah Kabd, yang memiliki tujuh unit bangunan yang tersebar di berbagai titik.

Al-Wasith, sebuah stasiun berukuran sedang yang memiliki sekitar 25 unit bangunan dengan ukuran dan fungsi yang berbeda-beda.

Selain itu terdapat pula situs-situs:

Al-Khuzaimiyah,

Kolam Al-Ajfar,

As-Saqiyah,

Kolam Al-Millah,

Kolam Al-Huwaidh,

Asy-Syaghwah,

Abu Rawadif,

Al-Makhruqah,

Al-Mudairibat,

Al-Jufaliyah,

Sumaira’,

Huraid,

Kutaifah,

Al-Ba’aits,

dan sejumlah lokasi lainnya.

Survei dan Pelestarian Darb Zubaidah di Ha’il

Komisi Umum Pariwisata dan Warisan Nasional Arab Saudi dahulu telah melakukan survei menyeluruh terhadap peninggalan Darb Zubaidah di Ha’il.

Lembaga tersebut telah:

membuat peta jalur,

melakukan penelitian ilmiah,

merestorasi sebagian peninggalannya,

melaksanakan penelitian arkeologi pada beberapa situs utama,

melakukan penggalian arkeologi,

serta menyiapkan berbagai fasilitas wisata sejarah.

Di antara proyek terpenting adalah penggalian dan restorasi situs arkeologi Faid, yang merupakan salah satu stasiun utama di sepanjang Darb Zubaidah.

Selain itu, lembaga tersebut juga bekerja sama dengan pemerintah wilayah Ha’il dan lembaga pengembangan wilayah Ha’il untuk:

melakukan penggalian arkeologi,

memugar peninggalan sejarah,

membersihkan dan memperbaiki kolam-kolam air,

menyediakan jalur khusus bagi wisatawan,

memasang papan informasi,

dan membangun museum khusus untuk situs tersebut.

Festival Darb Zubaidah di Ha’il

Sejak tahun 1440 H / 2018 M, wilayah Ha’il secara rutin menyelenggarakan Festival Darb Zubaidah setiap tahun.

Festival ini meliputi berbagai kegiatan, antara lain:

seminar ilmiah,

forum budaya dan sejarah,

pameran fotografi,

pameran seni rupa,

kegiatan kepemudaan dan olahraga,

bus wisata,

pameran museum,

serta pertunjukan hiburan dan teater.

Salah satu agenda utama festival adalah Kafilah Darb Zubaidah, yaitu perjalanan simbolis yang setiap tahunnya mengunjungi salah satu stasiun di sepanjang jalur tersebut, seperti kota bersejarah Faid Archaeological Site yang terletak di pertengahan jalur antara Makkah dan Baghdad.

Festival ini bertujuan untuk menghidupkan kembali ingatan masyarakat terhadap Darb Zubaidah sebagai jalur para jamaah haji dan kafilah perdagangan, sekaligus memperkenalkan kota bersejarah Faid serta mengembangkan wisata sejarah dan budaya di wilayah Ha’il.

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button