Keutamaan dan Kehormatan Kota Madinah

Keutamaan dan Kehormatan Kota Madinah
Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Amma ba’du.
Sesungguhnya kota Rasulullah ﷺ, yaitu Ṭayyibah (الطيبة), merupakan kota yang suci lagi baik. Ia adalah tempat kembali (berhimpunnya) iman, tempat berkumpulnya kaum Muhajirin dan Anshar, serta tempat turunnya Malaikat Jibril al-Amīn kepada Nabi ﷺ.
Kota yang penuh berkah ini telah Allah muliakan, Allah lebihkan, dan Allah jadikan sebagai bumi terbaik setelah Makkah. Banyak sekali nash Al-Qur’an dan Sunnah yang menjelaskan tentang keutamaannya, kesuciannya, serta kedudukannya, baik berupa pemberitahuan, doa, anjuran maupun peringatan. [Keutamaan Kota Madinah dan Adab Berziarah, karya Dr. Sulaiman Al-Ghushn, hlm. 9].
Di antara keutamaannya ialah bahwa Allah menjadikannya sebagai tanah haram (kawasan suci).
Dalam Shahih Muslim, dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallāhu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:
> «اللَّهُمَّ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ حَرَّمَ مَكَّةَ فَجَعَلَهَا حَرَمًا، وَإِنِّي حَرَّمْتُ الْمَدِينَةَ حَرَامًا، مَا بَيْنَ مَأْزِمَيْهَا، أَنْ لَا يُهْرَاقَ فِيهَا دَمٌ، وَلَا يُحْمَلَ فِيهَا سِلَاحٌ لِقِتَالٍ، وَلَا تُخْبَطَ فِيهَا شَجَرَةٌ إِلَّا لِعَلْفٍ»
“Ya Allah, sesungguhnya Ibrahim telah menjadikan Makkah sebagai tanah haram. Aku pun menjadikan Madinah sebagai tanah haram, yaitu wilayah yang berada di antara dua batasnya (Ma’zim). Di dalamnya tidak boleh ditumpahkan darah, tidak boleh membawa senjata untuk berperang, dan tidak boleh menggugurkan daun pepohonannya kecuali untuk keperluan pakan ternak.” (HR. Muslim) [Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, no. 1374].
Al-Ma’zim (المأزم) adalah celah sempit di antara pegunungan, yaitu tempat bertemunya dua gunung yang kemudian terbuka menjadi kawasan yang lebih luas setelahnya. Lihat: An-Nihāyah fī Gharīb al-Ḥadīts, karya Ibnu Al-Atsir (4/288). Istilah ini terkadang juga digunakan untuk menyebut gunung itu sendiri, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Fatḥ al-Bārī (4/83).
Batas tanah haram Madinah adalah di antara dua harrah (daerah berbatu hitam vulkanik) di sebelah timur dan barat, serta antara Gunung ‘Air hingga Gunung Tsur di sebelah selatan dan utara.
Dalam Shahih Muslim, dari Ali bin Abi Thalib radhiyallāhu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:
> «الْمَدِينَةُ حَرَامٌ مَا بَيْنَ عَيْرٍ إِلَى ثَوْرٍ»
“Madinah adalah tanah haram antara Gunung ‘Air hingga Gunung Tsur.” (HR. Muslim) [Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, no. 1370].
Dalam riwayat lain dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:
> «مَا بَيْنَ لَابَتَيْهَا حَرَامٌ»
“Wilayah yang berada di antara dua harrah Madinah adalah tanah haram.” (HR. Muslim) [Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, no. 1372].
Lābatāhā (لابتيها) berarti dua daerah berbatu hitam vulkanik (ḥarrah) yang mengapit Madinah. Al-Aṣma‘i berkata, “Al-lābah adalah tanah yang dipenuhi batu-batu hitam.” Al-Qadhi ‘Iyadh berkata, “Ibnu Habib menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan dua lābah adalah dua ḥarrah, yaitu ḥarrah di sebelah timur dan ḥarrah di sebelah barat Madinah.” Lihat: Ikmāl al-Mu‘lim bi Fawā’id Muslim (4/450).
Di antara keutamaannya pula, Nabi ﷺ menamainya dengan nama Ṭayyibah dan Ṭābah.
Dalam Shahih Muslim, pada hadis Al-Jassasah, dari Fatimah binti Qais radhiyallāhu ‘anha, Rasulullah ﷺ bersabda:
> «هَذِهِ طَيْبَةُ، هَذِهِ طَيْبَةُ، هَذِهِ طَيْبَةُ»
“Inilah Ṭayyibah, inilah Ṭayyibah, inilah Ṭayyibah,” yakni Madinah. (HR. Muslim) [Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, no. 2942].
Dalam riwayat Al-Bukhari disebutkan:
> «هَذِهِ طَابَةُ»
“Inilah Ṭābah.” (HR. Al-Bukhari) [Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, no. 1872].
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata,
> “والطاب والطيب لغتان بمعنى، واشتقاقها من الشيء الطيب، وقيل: لطهارة تربتها، وقيل: لطيبها لساكنها، وقيل: من طيب العيش بها، قال بعض أهل العلم: وفي طيب ترابها وهوائها دليل شاهد على صحة هذه التسمية؛ لأن من أقام بها يجد من تربتها وحيطانها رائحة طيبة لا تكاد توجد في غيرها.”
_”Kata Ṭāb dan Ṭayyib merupakan dua bentuk bahasa yang memiliki makna sama. Nama itu berasal dari kata ṭayyib (baik, harum). Ada yang mengatakan karena tanahnya yang suci, ada yang mengatakan karena kebaikannya bagi para penghuninya, dan ada pula yang mengatakan karena kehidupan di dalamnya yang baik. Sebagian ulama berkata, ‘Harumnya tanah dan udaranya menjadi bukti yang menguatkan nama tersebut, karena siapa saja yang tinggal di sana akan merasakan aroma harum dari tanah dan dinding-dindingnya, yang hampir tidak ditemukan di tempat lain.'”** [Fatḥ al-Bārī (4/89)].
Ada seseorang yang pernah menceritakan kepadaku—ia telah tinggal di Madinah selama bertahun-tahun—bahwa ia hampir tidak pernah mencium bau-bau tidak sedap yang lazim ditemukan di kota-kota lain. Ia juga menceritakan bahwa di Madinah tidak terdapat kebisingan dan hiruk-pikuk sebagaimana lazimnya kota-kota yang padat penduduk.
Ia pernah mendiskusikan hal tersebut dengan sebagian penduduk Madinah. Di antara penjelasan yang mereka kemukakan sebagai bentuk ijtihad adalah bahwa mungkin hal itu merupakan salah satu kekhususan dan keberkahan bumi Madinah, yaitu seakan-akan bumi itu menyerap suara-suara yang mengganggu sehingga suasana tetap dipenuhi ketenangan, kedamaian, dan rasa tenteram.
Ia juga menceritakan bahwa tanah dan pegunungan Madinah tampak begitu indah, elok, dan mempesona bagi siapa pun yang memandangnya, suatu keindahan yang sulit ditemukan di tempat lain.
Di antara keutamaannya lagi adalah bahwa iman akan kembali dan berkumpul di Madinah.
Maksudnya, iman akan kembali, berkumpul, dan berhimpun di Madinah, sehingga sebagian iman bertemu dan bergabung dengan sebagian yang lain di kota tersebut.
Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda:
> «إِنَّ الْإِيمَانَ لَيَأْرِزُ إِلَى الْمَدِينَةِ، كَمَا تَأْرِزُ الْحَيَّةُ إِلَى جُحْرِهَا»
“Sesungguhnya iman akan kembali dan berkumpul di Madinah sebagaimana seekor ular kembali ke liangnya.” (Muttafaq ‘alaih) [Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, no. 1876, dan Imam Muslim dalam Shahih Muslim, no. 147].
Di antara keutamaannya pula, Nabi ﷺ menganjurkan agar bersabar menghadapi kesulitan hidup di Madinah, serta menjanjikan pahala yang sangat besar bagi orang yang bersabar.
Dalam Shahih Muslim, Abu Sa’id maula Al-Mahri menceritakan bahwa ia datang menemui Abu Sa’id Al-Khudri pada malam-malam terjadinya peristiwa Al-Harrah. Ia meminta nasihat tentang keinginannya meninggalkan Madinah. Ia mengeluhkan mahalnya biaya hidup serta banyaknya tanggungan keluarga, dan mengatakan bahwa ia tidak sanggup lagi menghadapi kesulitan serta beratnya kehidupan di Madinah.
Abu Sa’id berkata kepadanya,
> “ويحك، لا آمرك بذلك، إني سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: «لا يصبر أحد على لأوائها فيموت إلا كنت له شفيعًا أو شهيدًا يوم القيامة إذا كان مسلمًا».”
“Celaka engkau! Aku tidak akan menyuruhmu melakukan itu. Aku pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda,
> «لَا يَصْبِرُ أَحَدٌ عَلَى لَأْوَائِهَا فَيَمُوتَ إِلَّا كُنْتُ لَهُ شَفِيعًا أَوْ شَهِيدًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِذَا كَانَ مُسْلِمًا.
‘Tidaklah seseorang bersabar menghadapi kesulitan hidup di Madinah hingga ia meninggal dunia, melainkan aku akan menjadi pemberi syafaat atau saksi baginya pada hari Kiamat, apabila ia seorang Muslim.'” (HR. Muslim) [Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, no. 1374].
Dalam Shahih Muslim pula, dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:
> «يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ يَدْعُو الرَّجُلُ ابْنَ عَمِّهِ وَقَرِيبَهُ: هَلُمَّ إِلَى الرَّخَاءِ، هَلُمَّ إِلَى الرَّخَاءِ، وَالْمَدِينَةُ خَيْرٌ لَهُمْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ»
“Akan datang suatu masa ketika seseorang mengajak sepupu dan kerabatnya, ‘Mari menuju kehidupan yang lebih makmur! Mari menuju kehidupan yang lebih makmur!’ Padahal Madinah lebih baik bagi mereka, seandainya mereka mengetahui.” (HR. Muslim) [Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, no. 1381].
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan,
> “والحال أن الإقامة في المدينة خير لهم لأنها حرم الرسول صلى الله عليه وسلم وجواره، ومهبط الوحي، ومنزل البركات، لو كانوا يعلمون ما في الإقامة بها من الفوائد الدينية بالعوائد الأخروية التي يُستحقر دونها ما يجدونه من الحظوظ العاجلة بسبب الإقامة في غيرها.”
“Sesungguhnya tinggal di Madinah lebih baik bagi mereka, karena Madinah adalah tanah haram Rasulullah ﷺ, tempat berada di sisi beliau, tempat turunnya wahyu, dan negeri yang dipenuhi keberkahan. Seandainya mereka mengetahui berbagai manfaat agama dan pahala akhirat yang diperoleh dengan tinggal di sana, niscaya mereka akan menganggap remeh seluruh keuntungan duniawi yang mereka peroleh dengan tinggal di tempat lain.” [Fatḥ al-Bārī (4/93)].
Di antara keutamaan Madinah adalah bahwa Nabi ﷺ menyifatinya sebagai “kota yang memakan kota-kota lainnya.”
Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dalam kitab Shahih mereka dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda:
> «أُمِرْتُ بِقَرْيَةٍ تَأْكُلُ الْقُرَى، يَقُولُونَ: يَثْرِبُ، وَهِيَ الْمَدِينَةُ، تَنْفِي النَّاسَ كَمَا يَنْفِي الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ»
“Aku diperintahkan (berhijrah) ke sebuah kota yang akan ‘memakan’ kota-kota lain. Orang-orang menyebutnya Yatsrib, padahal itulah Madinah. Ia akan menyingkirkan manusia (yang buruk) sebagaimana alat peniup api pandai besi menghilangkan kotoran besi.” [Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, no. 1871, dan Imam Muslim dalam Shahih Muslim, no. 1382].
Yang dimaksud dengan “memakan kota-kota” ialah Allah menolong Islam melalui penduduk Madinah. Berbagai negeri ditaklukkan melalui tangan mereka sehingga harta rampasan perang dibawa ke Madinah dan dinikmati oleh penduduknya. Penyandaran kata “memakan” kepada kota hanyalah majas, sedangkan yang dimaksud adalah penduduk kota tersebut. [Lihat: An-Nihāyah fī Gharīb al-Ḥadīts karya Ibnu Al-Atsir (1/434), Syarḥ as-Sunnah karya Al-Baghawi (7/320), dan Jāmi‘ al-Uṣūl (9/320)].
Di antara keutamaannya adalah Nabi ﷺ mendoakan keberkahan bagi Madinah.
Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallāhu ‘anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda:
> «اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي مَدِينَتِنَا، اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي صَاعِنَا، اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي مُدِّنَا، اللَّهُمَّ اجْعَلْ مَعَ الْبَرَكَةِ بَرَكَتَيْنِ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، مَا مِنَ الْمَدِينَةِ شِعْبٌ وَلَا نَقْبٌ إِلَّا عَلَيْهِ مَلَكَانِ يَحْرُسَانِهَا حَتَّى تَقْدَمُوا إِلَيْهَا»
“Ya Allah, berkahilah kota kami. Ya Allah, berkahilah takaran ṣā’ kami. Ya Allah, berkahilah takaran mudd kami. Ya Allah, jadikan bersama satu keberkahan itu dua keberkahan. Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidak ada satu jalan sempit maupun celah masuk ke Madinah melainkan dijaga oleh dua malaikat hingga kalian memasukinya.” [Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, no. 1374].
Di antara hal yang telah dikenal oleh banyak orang yang pindah dari kota lain ke Makkah atau Madinah ialah bahwa pengeluaran mereka sering kali tidak sampai setengah dari biaya hidup yang dahulu mereka keluarkan di kota asal mereka. Fenomena ini merupakan sesuatu yang banyak diketahui.
Di antara keutamaannya adalah bahwa wabah tha’un dan Dajjal tidak akan memasuki Madinah.
Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda:
> «عَلَى أَنْقَابِ الْمَدِينَةِ مَلَائِكَةٌ، لَا يَدْخُلُهَا الطَّاعُونُ وَلَا الدَّجَّالُ»
“Di setiap pintu masuk Madinah terdapat para malaikat. Tha’un dan Dajjal tidak akan dapat memasukinya.” [Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, no. 1880, dan Imam Muslim dalam Shahih Muslim, no. 1379].
Di antara keutamaannya adalah di dalamnya terdapat Masjid Rasulullah ﷺ.
Masjid Nabawi merupakan salah satu dari tiga masjid yang disyariatkan untuk melakukan perjalanan khusus menuju kepadanya.
Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda:
> «لَا تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ: الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ، وَمَسْجِدِ الرَّسُولِ ﷺ، وَالْمَسْجِدِ الْأَقْصَى»
“Tidak boleh melakukan perjalanan khusus (dengan tujuan ibadah) kecuali menuju tiga masjid: Masjidil Haram, Masjid Rasulullah ﷺ, dan Masjid Al-Aqsa.” [Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, no. 1189, dan Imam Muslim dalam Shahih Muslim, no. 1397].
Shalat di Masjid Nabawi juga dilipatgandakan pahalanya.
Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda:
> «صَلَاةٌ فِي مَسْجِدِي هَذَا، أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ، إِلَّا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ»
“Satu kali shalat di masjidku ini lebih utama daripada seribu kali shalat di masjid selainnya, kecuali Masjidil Haram.” [Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, no. 1190, dan Imam Muslim dalam Shahih Muslim, no. 1394].
Di antara keutamaannya adalah terdapat Masjid Quba, dan shalat di dalamnya senilai pahala umrah.
Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnad-nya dari Sahl bin Hunaif radhiyallāhu ‘anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda:
> «مَنْ خَرَجَ حَتَّى يَأْتِيَ هَذَا الْمَسْجِدَ يَعْنِي مَسْجِدَ قُبَاءَ فَيُصَلِّيَ فِيهِ، كَانَ كَعَدْلِ عُمْرَةٍ»
“Barang siapa keluar menuju masjid ini, yaitu Masjid Quba, lalu melaksanakan shalat di dalamnya, maka ia memperoleh pahala seperti pahala satu umrah.” [Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad Imam Ahmad (25/358), no. 15981. Para pentahqiq kitab tersebut menyatakan bahwa hadis ini sahih karena dikuatkan oleh jalur-jalur periwayatan lain (ṣaḥīḥ bi syawāhidih)].
Di antara keutamaannya adalah keutamaan Raudhah yang mulia.
Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda:
> «مَا بَيْنَ بَيْتِي وَمِنْبَرِي رَوْضَةٌ مِنْ رِيَاضِ الْجَنَّةِ، وَمِنْبَرِي عَلَى حَوْضِي»
“Antara rumahku dan mimbarku terdapat satu taman di antara taman-taman surga, dan mimbarku berada di atas telagaku.” [Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, no. 1196, dan Imam Muslim dalam Shahih Muslim, no. 1391].
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata,
> “Dalam hadis ini terdapat anjuran untuk tinggal di Madinah. Sabda beliau, ‘taman di antara taman-taman surga’, maksudnya adalah tempat turunnya rahmat dan diperolehnya kebahagiaan melalui ibadah yang dilakukan di sana yang mengantarkan seseorang ke surga. Atau yang dimaksud adalah taman surga yang sebenarnya, yaitu tempat tersebut kelak akan dipindahkan ke dalam surga pada hari kiamat.” [Lihat: Syarḥ Shahih Muslim (3/161) dan Fatḥ al-Bārī (4/100)].
Di antara keutamaannya adalah terdapat Gunung Uhud.
Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Humaid radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata:
> «أَقْبَلْنَا مَعَ النَّبِيِّ ﷺ مِنْ غَزْوَةِ تَبُوكَ، حَتَّى إِذَا أَشْرَفْنَا عَلَى الْمَدِينَةِ قَالَ: هَذِهِ طَابَةُ، وَهَذَا أُحُدٌ جَبَلٌ يُحِبُّنَا وَنُحِبُّهُ»
“Kami kembali bersama Nabi ﷺ dari Perang Tabuk. Ketika telah mendekati Madinah, beliau bersabda, ‘Inilah Thabah (Madinah), dan ini adalah Gunung Uhud; gunung yang mencintai kami dan kami pun mencintainya.'” [Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, no. 4422, dan Imam Muslim dalam Shahih Muslim, no. 1391].
Di antara keutamaannya adalah terdapat Wadi Al-‘Aqiq.
Al-Bukhari meriwayatkan dari Umar bin Al-Khaththab radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata:
> «أَتَانِي اللَّيْلَةَ آتٍ مِنْ رَبِّي، فَقَالَ: صَلِّ فِي هَذَا الْوَادِي الْمُبَارَكِ، وَقُلْ: عُمْرَةً فِي حَجَّةٍ»
“Tadi malam telah datang kepadaku seorang utusan dari Rabbku, lalu ia berkata, ‘Shalatlah di lembah yang diberkahi ini, dan ucapkanlah: Umrah dalam satu haji (yakni berniat haji yang disertai umrah).'” [Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, no. 1534].
Di antara keutamaannya adalah terdapat kurma Ajwah.
Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Sa’ad radhiyallāhu ‘anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
> «مَنْ تَصَبَّحَ كُلَّ يَوْمٍ سَبْعَ تَمَرَاتٍ عَجْوَةً، لَمْ يَضُرَّهُ فِي ذَلِكَ الْيَوْمِ سُمٌّ وَلَا سِحْرٌ»
“Barang siapa setiap pagi memakan tujuh butir kurma Ajwah, pada hari itu ia tidak akan terkena bahaya racun maupun sihir.” [Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, no. 5445, dan Imam Muslim dalam Shahih Muslim, no. 2047].
Di antara keutamaannya adalah bahwa Madinah akan mengeluarkan segala keburukannya.
Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah radhiyallāhu ‘anhumā bahwa seorang Arab Badui pernah berbaiat kepada Rasulullah ﷺ untuk memeluk Islam. Setelah tinggal di Madinah, ia terserang demam sehingga datang kepada Nabi ﷺ seraya berkata,
“Wahai Rasulullah, batalkanlah baiatku.”
Namun Rasulullah ﷺ menolaknya. Orang itu datang lagi hingga tiga kali dengan permintaan yang sama, dan setiap kali Rasulullah ﷺ menolak. Setelah itu orang Badui tersebut keluar meninggalkan Madinah.
Maka Rasulullah ﷺ bersabda:
> «إِنَّمَا الْمَدِينَةُ كَالْكِيرِ، تَنْفِي خَبَثَهَا وَيَنْصَعُ طَيِّبُهَا»
“Sesungguhnya Madinah itu seperti alat peniup api pandai besi; ia mengeluarkan kotorannya dan menyisakan yang baik lagi murni.” [Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, no. 721, dan Imam Muslim dalam Shahih Muslim, no. 1383].
Makna sabda Nabi ﷺ “وَيَنْصَعُ طَيِّبُهَا” adalah “menyisakan dan memurnikan yang baik.” Maksudnya, apabila Madinah telah mengeluarkan orang-orang yang buruk, maka orang-orang yang baik akan tampak jelas dan tetap menetap di dalamnya. Lihat: Fatḥ al-Bārī (4/97) dan An-Nihāyah fī Gharīb al-Ḥadīts karya Ibnu Al-Atsir (5/655).
Di antara keutamaannya adalah bahwa siapa saja yang berniat jahat kepada penduduk Madinah, Allah akan membinasakannya.
Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallāhu ‘anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda:
> «مَنْ أَرَادَ أَهْلَ الْمَدِينَةِ بِسُوءٍ، أَذَابَهُ اللهُ كَمَا يَذُوبُ الْمِلْحُ فِي الْمَاءِ»
“Barang siapa berniat jahat terhadap penduduk Madinah, Allah akan meleburkannya sebagaimana garam larut di dalam air.” [Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, no. 1877, dan Imam Muslim dalam Shahih Muslim, no. 1387. Lafaz yang dikutip adalah riwayat Imam Muslim].
Dalam riwayat Muslim disebutkan:
> «وَلَا يُرِيدُ أَحَدٌ أَهْلَ الْمَدِينَةِ بِسُوءٍ، إِلَّا أَذَابَهُ اللهُ فِي النَّارِ ذَوْبَ الرَّصَاصِ، أَوْ ذَوْبَ الْمِلْحِ فِي الْمَاءِ»
“Tidaklah seseorang berniat jahat terhadap penduduk Madinah, melainkan Allah akan meleburkannya di dalam neraka sebagaimana timah yang meleleh, atau sebagaimana garam yang larut di dalam air.” Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, no. 1363.]
Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah berkata,
“قوله: “مَنْ أَرَادَ أَهْلَ الْمَدِينَةَ بِسُوءٍ، أَذَابَهُ اللهُ فِي النَّارِ ذَوْبَ الرَّصَاصِ”، هذه الزيادة ترفع إشكال الأحاديث التي لم تذكر فيها وأن هذا حكمه في الآخرة، ويحتمل أن يكون المراد من أرادها في حياة النبي صلى اللهُ عليه وسلم بسوءٍ اضْمَحَلَّ أمره كما يَضْمَحِلُّ الرصاص في النار، فيكون في اللفظ تقديم وتأخير، ويؤيده قوله في الحديث: “كَمَا يَذُوبُ الْمِلْحُ فِي الْمَاءِ”، ويحتمل أن يكون المراد: لمن أرادها في الدنيا فلا يمهله الله ولا يمكن سلطانه، ويذهبه عن قرب، كما انقضى من شأن من حاربها أيام بني أمية مثل مسلم بن عقبة، وهلاكه في منصرفه عنها، ثم هلاك يزيد بن معاوية على إثر ذلك، وغيرهم ممن صنع مثل صنيعهم.
ويحتمل أن يكون المراد: من كادها اغتيالًا وطلبًا لغرتها في غفلة، فلا يتم له أمر بخلاف من أتى ذلك جهارًا، كما استباحها مسلم بن عقبة وغيره”[31]. روى الإمام أحمد في مسنده مِن حَدِيثِ السَّائِبِ بنِ خَلَّادٍ رضي اللهُ عنه: أَنَّ النَّبِيَّ صلى اللهُ عليه وسلم قَالَ: “مَنْ أَخَافَ أَهْلَ الْمَدِينَةِ ظُلْمًا أَخَافَهُ اللهُ، وَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ، لَا يَقْبَلُ اللهُ مِنْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ صَرْفًا وَلَا عَدْلًا”.
> “Sabda Nabi ﷺ, ‘Barang siapa berniat jahat terhadap penduduk Madinah, niscaya Allah akan meleburkannya di dalam neraka sebagaimana timah meleleh,’ tambahan lafaz ini menghilangkan kesamaran yang terdapat pada riwayat-riwayat lain yang tidak menyebutkan bahwa hukuman tersebut terjadi di akhirat.
> Kemungkinan pertama, yang dimaksud ialah orang yang berniat jahat terhadap Madinah pada masa Rasulullah ﷺ. Maka urusannya akan lenyap dan hancur sebagaimana timah meleleh di dalam api. Dengan demikian, pada susunan kalimat hadis terdapat taqdim dan ta’khir (pergeseran susunan kata). Hal ini diperkuat oleh lafaz hadis yang lain, ‘sebagaimana garam larut di dalam air.’
> Kemungkinan kedua, yang dimaksud ialah siapa saja yang berniat jahat terhadap Madinah di dunia, maka Allah tidak akan membiarkannya, tidak akan mengokohkan kekuasaannya, bahkan akan segera membinasakannya. Hal itu sebagaimana yang terjadi pada orang-orang yang memerangi Madinah pada masa Bani Umayyah, seperti Muslim bin ‘Uqbah yang binasa ketika kembali dari Madinah, kemudian disusul dengan kematian Yazid bin Mu’awiyah tidak lama setelah itu, demikian pula orang-orang lain yang melakukan perbuatan serupa.
> Kemungkinan ketiga, yang dimaksud ialah orang yang berusaha mencelakakan Madinah dengan tipu daya, pengkhianatan, atau serangan diam-diam ketika penduduknya lengah. Orang seperti ini tidak akan berhasil mencapai tujuannya. Berbeda dengan orang yang menyerangnya secara terang-terangan, sebagaimana yang dilakukan oleh Muslim bin ‘Uqbah dan selainnya.”** [Ikmāl al-Mu’allim bi Fawā’id Muslim, karya Al-Qadhi ‘Iyadh (4/453)].
Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnad-nya dari As-Sa’ib bin Khallad radhiyallāhu ‘anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda:
> «مَنْ أَخَافَ أَهْلَ الْمَدِينَةِ ظُلْمًا أَخَافَهُ اللهُ، وَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ، لَا يَقْبَلُ اللهُ مِنْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ صَرْفًا وَلَا عَدْلًا»
“Barang siapa menakut-nakuti penduduk Madinah secara zalim, maka Allah akan membuatnya ketakutan. Atasnya laknat Allah, para malaikat, dan seluruh manusia. Pada hari Kiamat Allah tidak akan menerima darinya ṣarf maupun ‘adl.” Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad Imam Ahmad (27/92), no. 16557. Para pentahqiq Musnad menyatakan bahwa sanad hadis ini sahih.
Lihat: Faḍl al-Madīnah wa Ādāb Sukkānihā wa Ziyāratihā karya Dr. Abdul Muhsin Al-Badr; Al-Aḥādīts al-Wāridah fī Faḍl al-Madīnah karya Dr. Shalih Ar-Rifa’i; dan Faḍl al-Madīnah wa Ādāb az-Ziyārah karya Dr. Sulaiman Al-Ghushn.
Ṣarf di sini bermakna amalan sunnah (nafilah), sedangkan ‘adl bermakna tebusan, atau menurut pendapat lain, amalan wajib. Maksudnya, tidak ada sesuatu pun yang dapat menyelamatkannya dari hukuman Allah apabila ia melakukan kezaliman tersebut.
Segala puji hanya milik Allah, Rabb semesta alam. Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad, beserta keluarga dan seluruh sahabat beliau.
Semoga bermanfaat



