Merenungi Dahsyatnya Hari Kiamat dan Mematahkan Keraguan akan Kebangkitan

Merenungi Dahsyatnya Hari Kiamat dan Mematahkan Keraguan akan Kebangkitan
(Tadabbur Surah Al-Hajj Bag.1)
Surah Al-Hajj adalah salah satu surat yang sangat agung di dalam Al-Qur’anul Karim. Surat ini mengumpulkan antara perkara akidah yang kokoh, tadabbur alam semesta, hingga syariat ibadah yang menyentuh jiwa. Mari kita merenungkan beberapa mutiara hikmah dan tadabbur (fawaid) yang terkandung di dalam surat yang mulia ini.
1. Keguncangan Hari Kiamat: Sebuah Peringatan yang Menggetarkan Jiwa
Allah Jalla Jalaaluhu membuka surat ini dengan sebuah nida’ (seruan) kepada seluruh manusia:
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُوا۟ رَبَّكُمْ ۚ إِنَّ زَلْزَلَةَ ٱلسَّاعَةِ شَىْءٌ عَظِيمٌۭ
“Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu; sesungguhnya guncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat).”
يَوْمَ تَرَوْنَهَا تَذْهَلُ كُلُّ مُرْضِعَةٍ عَمَّآ أَرْضَعَتْ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى ٱلنَّاسَ سُكَـٰرَىٰ وَمَا هُم بِسُكَـٰرَىٰ وَلَـٰكِنَّ عَذَابَ ٱللَّهِ شَدِيدٌۭ
“(Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya, dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat kerasnya”. (QS. Al-Hajj: 1-2)
Para ulama kita, ketika membedah ayat ini, mengajak kita melihat keindahan dan ketepatan bahasa (sirr badi’) yang Allah gunakan untuk menggambarkan dahsyatnya hari tersebut. Allah berfirman bahwa pada hari itu, setiap wanita murdhi’ah(مُرْضِعَة) akan lalai dari anak yang disusuinya.
Dalam bahasa Arab, Ibn Qayyim menjelaskan ada perbedaan antara kata murdhi’ dan murdhi’ah. Kata murdhi’ adalah sebutan untuk wanita yang memiliki anak kecil yang masih dalam usia menyusui. Namun, ketika Allah menambahkan huruf ta’ marbuthah sehingga menjadi murdhi’ah, maknanya berubah secara spesifik. Murdhi’ah artinya wanita yang sedang mendekap bayinya, yang sedang menempelkan payudaranya ke mulut sang bayi.
Secara tabiat, seorang ibu mungkin bisa lupa pada bayinya jika bayi itu diletakkan di kamar lain. Tetapi, jika bayi itu sedang berada di pangkuannya, sedang menyusu kepadanya, tidak ada satu pun hal di dunia ini yang bisa mengalihkan perhatian sang ibu, kecuali satu hal: yaitu ketakutan dan kepanikan yang luar biasa dahsyat akibat kegoncangan hari kiamat!
Begitu pula ketika Allah berfirman mengenai wanita hamil. Allah tidak menggunakan kata hamil, melainkan frasa dzati hamlin (ذَاتِ حَمْلٍ). Kata hamil adalah wanita yang mengandung secara umum, bisa bermakna wanita yang baru mengandung di bulan-bulan pertama. Adapun dzati hamlinadalah wanita yang kandungannya sudah besar, sudah matang, dan sudah siap untuk melahirkan. Saking dahsyatnya rasa takut pada hari kiamat, janin yang sudah matang di dalam rahim itu akan gugur seketika sebelum waktunya. Subhanallah, betapa lemahnya kita di hadapan hari akhir tersebut.
2. Mematahkan Keraguan Kaum Pengingkar Kebangkitan
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِن كُنتُمْ فِى رَيْبٍۢ مِّنَ ٱلْبَعْثِ فَإِنَّا خَلَقْنَـٰكُم مِّن تُرَابٍۢ ثُمَّ مِن نُّطْفَةٍۢ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍۢ ثُمَّ مِن مُّضْغَةٍۢ مُّخَلَّقَةٍۢ وَغَيْرِ مُخَلَّقَةٍۢ لِّنُبَيِّنَ لَكُمْ ۚ وَنُقِرُّ فِى ٱلْأَرْحَامِ مَا نَشَآءُ إِلَىٰٓ أَجَلٍۢ مُّسَمًّۭى ثُمَّ نُخْرِجُكُمْ طِفْلًۭا ثُمَّ لِتَبْلُغُوٓا۟ أَشُدَّكُمْ ۖ وَمِنكُم مَّن يُتَوَفَّىٰ وَمِنكُم مَّن يُرَدُّ إِلَىٰٓ أَرْذَلِ ٱلْعُمُرِ لِكَيْلَا يَعْلَمَ مِنۢ بَعْدِ عِلْمٍۢ شَيْـًۭٔا ۚ وَتَرَى ٱلْأَرْضَ هَامِدَةًۭ فَإِذَآ أَنزَلْنَا عَلَيْهَا ٱلْمَآءَ ٱهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَأَنۢبَتَتْ مِن كُلِّ زَوْجٍۭ بَهِيجٍۢ
Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan, dan (ada pula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah. (QS. Al-Hajj: 5)
Di dalam surat ini, Allah Ta’ala membantah orang-orang yang ragu terhadap hari kebangkitan (al-ba’ts). Allah menantang akal manusia melalui dua argumen yang sangat logis:
Pertama, melalui fase penciptaan manusia (an-nasy’ah al-ula).
Allah mengingatkan bahwa kita dahulu diciptakan dari tanah, kemudian menjadi setetes mani (nuthfah), lalu segumpal darah (’alaqah), kemudian segumpal daging (mudhghah) yang sempurna dan tidak sempurna. Logikanya, Dzat yang mampu menciptakan manusia dari ketiadaan pada kali pertama, tentu jauh lebih mampu untuk mengembalikan manusia yang sudah mati dan hancur menjadi hidup kembali pada kali kedua (an-nasy’ah ath-thaniyah). Ini adalah pembuktian yang tidak terbantahkan oleh akal yang sehat.
Kedua, melalui perumpamaan bumi yang mati.
Kita melihat bumi yang kering kerontang, gersang tanpa kehidupan. Namun, ketika Allah menurunkan hujan dari langit, bumi itu bergerak, menjadi subur, dan menumbuhkan berbagai jenis tanaman yang indah (baheej). Para ulama menjelaskan bahwa dihidupkannya bumi setelah mati ini merupakan dalil atas lima perkara agung:
- Bahwa Allah adalah Al-Haqq (Dzat Yang Maha Benar).
- Bahwa Allah Mahakuasa menghidupkan yang mati.
- Bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.
- Bahwa hari kiamat pasti datang tanpa ada keraguan.
- Bahwa Allah akan membangkitkan semua yang ada di dalam kubur.
Referensi
- Al-Jauziyyah, Muhammad bin Abi Bakar bin Ayyub bin Qayyim. Al-Tafsir Al-Qayyim lil Imam Ibn Al-Qayyim. Dikumpulkan oleh Muhammad Uwais An-Nadwi, Ditahqiq oleh Muhammad Hamid Al-Fiqi. Beirut: Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah.
- Tahmaz, Abdul Hamid Mahmud. At-Tafsir Al-Madhu’i li Suwar Al-Qur’an Al-Adzhim. Damaskus: Dar Al-Qalam



