Etika dan Seni Memuji dalam Islam (2)

Etika dan Seni Memuji dalam Islam (2)
SIKAP PARA TABI’IN DAN TABI’UT TABI’IN TERHADAP PUJIAN
Dari Abdullah bin Abu Al-Hudzail[1] berkata, ‘Ada seseorang yang memuji seorang ahli ibadah tepat di depan orang itu. Lalu, si ahli ibadah tersebut (yang merasa tidak nyaman dipuji) langsung berdoa, ‘Ya Allah, orang ini berusaha mengambil hatiku dengan cara yang justru Engkau benci, dan aku bersaksi bahwa aku membenci dengan apa yang dia lakukan itu’.[2]
Dari ‘Ashim, aku berkata kepada Al-Qasim, Apakah makruh memuji seseorang di hadapannya langsung? dia menjawab: “Ya.” Aku bertanya lagi: “Bagaimana jika dia tidak ada (di belakangnya)?” Beliau menjawab: “Dahulu dikatakan, Janganlah engkau memuji saudaramu.”[3]
Sebagian ahli hikmah berkata, “Barangsiapa yang senang dipuji dengan sesuatu yang tidak ada pada dirinya, maka sungguh ia telah memberikan kesempatan bagi orang lain untuk mengejeknya.”[4]
Penyair berkata,
Wahai orang bodoh yang teperdaya oleh pujian berlebihan dari orang yang memujinya…
Jangan sampai kebodohan orang yang memujimu mengalahkan pengetahuanmu tentang dirimu sendiri.
Dia memuji dan berucap tanpa ilmu yang meliputi (kenyataan tentangmu)…
Padahal engkau lebih tahu tentang yang engkau peroleh dari Tuhanmu.
Dan di antara pujian yang dilarang :
Memuji manusia dengan sesuatu yang tidak terpuji dalam syariat.
عَنْ عَائِشَةَ، أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ دَخَلَ عَلَيْهَا وَعِنْدَهَا امْرَأَةٌ، قَالَ: «مَنْ هَذِهِ؟» قَالَتْ:
فُلَانَةُ، تَذْكُرُ مِنْ صَلَاتِهَا، قَالَ: «مَهْ، عَلَيْكُمْ بِمَا تُطِيقُونَ، فَوَاللَّهِ لَا يَمَلُّ اللَّهُ حَتَّى
تَمَلُّوا» وَكَانَ أَحَبَّ الدِّينِ إِلَيْهِ مَادَامَ عَلَيْهِ صَاحِبُهُ.
Dari Aisyah radiyallahu ‘anha, bahwa Nabi ﷺ masuk menemuinya dan di sisinya ada seorang wanita. Nabi ﷺ bertanya: “Siapakah ini?” Aisyah menjawab: “Ini adalah fulanah, ia menceritakan (banyaknya) salatnya.” Nabi ﷺ bersabda: “Hentikanlah! Hendaklah kalian beramal sesuai dengan kemampuan kalian. Demi Allah, Allah tidak akan bosan (memberi pahala) sampai kalian sendiri yang bosan.” Dan amalan yang paling dicintaiNya adalah yang dilakukan secara berkelanjutan.[5]
Penjelasan Ibnu Rajab Al-Hanbali :
Ibnu Rajab Al-Hanbali Rahimahullah berkata: “Dan ucapan Nabi ﷺ ‘Hentikanlah!’ merupakan teguran bagi Aisyah atas perkataannya tentang wanita tersebut mengenai banyaknya salatnya dan bahwa wanita itu tidak tidur di malam hari. Hal itu merupakan perintah bagi Aisyah untuk menahan diri dari apa yang diucapkannya.
Maka ada kemungkinan bahwa larangan tersebut karena ketidaksukaan terhadap pujian di hadapan orangnya secara langsung, mengingat wanita tersebut berada di sana.
Namun ada kemungkinan lain (dan ini yang lebih kuat serta didukung oleh konteks hadis) bahwa larangan itu sebenarnya karena memuji wanita tersebut dengan perbuatan yang tidak terpuji dalam syariat. Berdasarkan hal ini, sering kali apa yang disebutkan mengenai keutamaan para hamba (dalam beribadah) merupakan hasil dari ijtihad yang menyimpang.
Bab Larangan Berlebih-lebihan (Ghuluw) dalam Memuji Nabi ﷺ
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا ، سَمِعَ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، يَقُولُ عَلَى الْمِنْبَرِ:
سَمِعْتُ النَّبِيَّ ﷺ يَقُولُ: ((لَا تُطْرُونِي، كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ،
فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ، فَقُولُوا عَبْدُ اللَّهِ، وَرَسُولُهُ)).
Dari Ibnu Abbas radiyallahu ‘anhuma, ia mendengar Umar radiyallahu ‘anhu berkata di atas mimbar, Aku mendengar Nabi ﷺ bersabda, “Janganlah kalian menyanjungku secara berlebihan sebagaimana kaum Nasrani menyanjung (secara berlebihan) kepada Ibnu Maryam (Isa). Karena sesungguhnya aku hanyalah hamba-Nya, maka sesungguhnya Muhammad adalah hamba Allah dan RasulNya.”[6]
Penjelasan Hadis:
Perkataan beliau ﷺ , “Janganlah kalian menyanjungku secara berlebihan sebagaimana kaum Nasrani menyanjung Isa putra Maryam, katakanlah: (Muhammad) Hamba Allah, karena sesungguhnya aku adalah hamba Allah dan RasulNya.”
Artinya: Janganlah kalian menyifati diriku dengan sifat-sifat yang tidak ada pada diriku dengan tujuan mencari pujian untukku, sebagaimana kaum Nasrani menyifati Isa dengan sifat yang tidak ada pada dirinya. Mereka menisbatkannya sebagai anak Allah, sehingga mereka menjadi kafir dan sesat.
Adapun menyifati beliau dengan apa yang Allah lebihkan dan muliakan untuknya, maka itu adalah hak yang wajib bagi setiap makhluk yang diutus oleh Allah kepadanya. Hal itu seperti pensifatan beliau terhadap dirinya sendiri dengan bersabda: “Aku adalah pemimpin anak cucu Adam, dan ini bukan kesombongan, dan aku adalah orang pertama yang bumi terbelah darinya (dibangkitkan dari kubur).”
Dalam hal ini terdapat pemahaman dan pelajaran bahwa barangsiapa yang mengangkat atau memuji seseorang di atas batas kedudukannya, dan melampaui kadar yang semestinya dengan sifat yang tidak ada pada dirinya, maka ia telah melampaui batas dan berdosa.
Karena sekiranya hal itu dibolehkan bagi seseorang, niscaya makhluk yang paling berhak mendapatkan hal tersebut adalah Rasulullah ﷺ.
Akan tetapi, kewajiban yang sebenarnya adalah menempatkan setiap orang terbatas pada apa yang telah Allah berikan kepadanya dari kedudukannya, dan tidak melampauinya kepada kedudukan yang lain tanpa adanya dalil pasti yang mendasarinya.[7]
Oleh karena itu, ketika sekelompok orang mendatangi Nabi ﷺ lalu mereka memuji beliau dengan pujian yang mengandung sikap berlebih-lebihan (ghuluw), beliau segera mengingkari mereka.
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الشِّخِّيرِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ :أَنَّهُ وَفَدَ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ فِي رَهْطٍ مِنْ بَنِي عَامِرٍ قَالَ: فَأَتَيْنَاهُ فَسَلَّمْنَا عَلَيْهِ فَقُلْنَا: أَنْتَ وَلِيُّنَا، وَأَنْتَ سَيِّدُنَا، وَأَنْتَ أَطْوَلُ عَلَيْنَا، وَأَنْتَ أَطْوَلُ لَنَا عَلَيْنَا طَوْلًا، وَأَنْتَ أَفْضَلُنَا عَلَيْنَا فَضْلًا، وَأَنْتَ الْجَفْنَةُ الْغَرَّاءُ، فَقَالَ: «قُولُوا قَوْلَكُمْ ، وَلَا
يَسْتَجِرَّنَّكُمُ الشَّيْطَانُ» ، قَالَ: وَرُبَّمَا قَالَ: ((وَلَا يَسْتَهْوِيَنَّكُمْ)).
Dari Abdullah bin Asy-Syikhkhir radiyallahu ‘anhu Bahwa ia pergi bersama delegasi Bani Amir menemui Nabi ﷺ. Ia berkata: Kami mendatangi beliau lalu kami mengucapkan salam kepada beliau, kemudian kami berkata, “Engkau adalah pelindung kami, engkau adalah tuan kami, engkau adalah orang yang paling tinggi kedudukannya di antara kami, engkau adalah orang yang paling panjang pemberiannya kepada kami, engkau adalah orang yang paling utama kelebihannya bagi kami, dan engkau adalah wadah (makanan) yang putih bersinar[8].”
Maka Nabi ﷺ bersabda: “Ucapkanlah perkataan kalian yang biasa saja, dan jangan sampai setan menjadikan kalian sebagai agen-agennya (menyeret kalian ke dalam kesesatan)[9].” Ia Abdullah bin Asy-Syikhkhir berkata, “Dan terkadang beliau ﷺ bersabda: ‘Dan jangan sampai kalian diseret oleh hawa nafsu kalian.'”[10]
وَعَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ :أَنَّ نَاسًا قَالُوا لِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ: يَا خَيْرَنَا وَابْنَ خَيْرِنَا، وَيَا سَيِّدَنَا وَابْنَ سَيِّدِنَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «يَا أَيُّهَا النَّاسُ، عَلَيْكُمْ بِقَوْلِكُمْ وَلَا يَسْتَهْوِيَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ، إِنِّي
لَا أُرِيدُ أَنْ تَرْفَعُونِي فَوْقَ مَنْزِلَتِي الَّتِي أَنْزَلَنِيهَا اللَّهُ تَعَالَى، أَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ».
Dan dari Anas radiyallahu ‘anhu: Bahwa ada sekelompok orang berkata kepada Rasulullah ﷺ: “Wahai orang terbaik di antara kami dan putra dari orang terbaik di antara kami, wahai tuan kami dan putra dari tuan kami.”
Maka Rasulullah ﷺ bersabda: “Wahai sekalian manusia! Hendaklah kalian menjaga ucapan kalian, dan jangan sampai kalian disesatkan oleh setan. Sesungguhnya aku tidak ingin kalian mengangkatku di atas kedudukanku yang telah Allah Ta’ala tempatkan untukku. Aku adalah Muhammad bin Abdullah, hamba Allah dan rasul-Nya.”[11]
Ketika Rasulullah ﷺ mendengar seorang anak perempuan memuji beliau dengan pujian yang mengandung sikap berlebih-lebihan (ghuluw), beliau segera melarangnya dari hal tersebut.
Ar-Rubayyi’ binti Mu’awwidz ibn ‘Afra’ radiyallahu ‘anha berkata, “Nabi ﷺ datang lalu masuk menemuiku ketika pernikahan/kemandahan diriku dilangsungkan. Beliau lalu duduk di atas tempat tidurku seperti posisi dudukmu dariku. Kemudian mulailah anak-anak perempuan kami memukul rebana sambil menyebutkan kebaikan orang tua-orang tua kami yang gugur (syahid) pada hari Perang Badar. Tiba-tiba salah seorang dari mereka berkata: ‘Dan di tengah-tengah kita ada seorang Nabi yang mengetahui apa yang akan terjadi esok hari.’ Maka Nabi ﷺ bersabda: ‘Tinggalkanlah ucapan ini[12], dan ucapkanlah apa yang biasa kamu ucapkan sebelumnya.'”[13]
dalam sebuah riwayat disebutkan, Salah seorang dari mereka berkata: “Dan di tengah-tengah kita ada seorang Nabi yang mengetahui apa yang akan terjadi esok hari.” Maka Nabi ﷺ bersabda kepadanya: “Diamlah dari ucapan ini, dan ucapkanlah apa yang biasa kamu ucapkan sebelumnya.”[14]
Dan riwayat lain, “Dan keduanya mengucapkan (di antara apa yang mereka ucapkan), ‘Dan di tengah-tengah kita ada seorang Nabi yang mengetahui apa yang akan terjadi esok hari.’ Maka beliau bersabda: ‘Adapun ucapan ini, maka janganlah kalian mengucapkannya. Tidak ada yang mengetahui apa yang akan terjadi esok hari kecuali Allah.'”[15]
Peringatan:
Di antara bentuk sikap berlebih-lebihan (ghuluw) yang dilarang tersebut adalah:
Pujian orang-orang ahli bidah dari kalangan mutashawwifah (ahli sufi) dan selain mereka di zaman kita sekarang ini kepada Rasulullah ﷺ, duhai sekiranya mereka mau belajar.
Dan terkadang mereka memuji Nabi ﷺ dengan perkara syirik, di mana mereka meminta pertolongan (istighatsah) kepada beliau dan meminta keberkahan/bantuan kekuatan (madad) dari beliau. Maka kita berlindung kepada Allah dari kesesatan.
- Abdullah bin Abi al-Hudzail adalah seorang tabi’in besar yang tepercaya (tsiqah). Beliau mendengar (riwayat) dari Ibnu Mas’ud radiyallahu ‘anhu dan sahabat lainnya. Beliau adalah seorang ahli ibadah yang wara’, sebagaimana disifati oleh Imam Adz-Dzahabi dalam kitab “Tarikh al-Islam”. ↑
- Hasan, Diriwayatkan kan oleh Ibnu Abi ad-Dunya dalam kitab “As-Samt” (No. 598), ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Bahr, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Qabishah, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Abu Sinan, dari Abdullah bin Abi al-Hudzail dengan riwayat tersebut. Dan di dalam sanadnya terdapat Qabishah yang berstatus saduq (jujur/tepercaya). ↑
- Shahih, Diriwayatkankan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam kitab “Al-Mushannaf” (5/298), ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ghundar, dari Syu’bah, dari Ashim, ia berkata: Aku bertanya kepada Al-Qasim dengan riwayat tersebut. ↑
- Disebutkan oleh Al-Mawardi dalam kitab “Adab ad-Dunya wa ad-Din” (Hlm. 240). ↑
- HR. Al-Bukhari (No. 43). ↑
- HR. Al-Bukhari (No. 3445). ↑
- Dikatakan oleh Ibnu Baththal dalam “Syarh Shahih al-Bukhari” (9/254). ↑
- “Engkau adalah wadah (makanan) yang putih bersinar“: Dahulu orang Arab menyebut seorang pemimpin yang suka memberi makan (dermawan) dengan sebutan jafnah (wadah makanan besar), karena ia selalu menghidangkan wadah tersebut dan memberi makan orang-orang di dalamnya, sehingga ia dinamai dengan nama wadah tersebut.
Dan kata al-gharra’ berarti yang putih bersinar; maksudnya adalah wadah yang dipenuhi dengan lemak dan minyak (kuah daging). Lihat “An-Nihayah fi Gharib al-Hadith” (1/280). ↑
- Dikatakan para ulama: Yaitu jangan sampai setan menguasai kalian lalu menjadikan kalian sebagai utusan atau agennya. Hal itu karena mereka (para sahabat) memuji beliau, maka beliau tidak menyukai sikap berlebih-lebihan dalam memuji yang mereka lakukan, lalu beliau melarang mereka dari perbuatan tersebut.
Dan dikatakan (pula): Jangan sampai setan mempergunakan kalian dalam hal yang ia inginkan berupa pengagungan kepada makhluk dengan kadar yang tidak diperbolehkan. Lihat “Aun al-Ma’bud”. ↑
- Shahih, Diriwayatkan oleh Qatadah sebagaimana terdapat dalam riwayat Ahmad dalam “Musnad-nya” (26/234), dan Ibnu Abi Ashim dalam “Al-Ahad wal-Matsani”. ↑
- Shahih syarat imam muslim, Diriwayatkan oleh Hasan bin Musa, dan Affan sebagaimana terdapat dalam “Al-Musnad” (21/216 – 20/23), wal-Hajjaj bin Minhal sebagaimana terdapat dalam riwayat Abdu bin Humaid dalam “Musnad-nya” (1337), dan Bahz sebagaimana terdapat dalam riwayat An-Nasai dalam “Al-Kubra” (9/103), dan Hudbah bin Khalid sebagaimana terdapat dalam riwayat Ibnu Hibban dalam “Sahih-nya” (14/133), dan Adam bin Abi Iyas sebagaimana terdapat dalam riwayat Al-Baihaqi dalam “Ad-Dala’il” (5/498); mereka semua berkata: Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah, dari Tsabit Al-Bunani, dari Anas dengan riwayat tersebut secara marfu’ (bersumber langsung dari Nabi ﷺ). ↑
- “Tinggalkanlah (ucapan) ini” : Yaitu tinggalkanlah apa yang berkaitan dengan pujian kepadaku yang di dalamnya mengandung unsur sanjungan berlebihan (ithra’) yang dilarang. Hal ini dikatakan oleh Ibnu Hajar dalam “Fath al-Bari” (9/203). ↑
- Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (No. 5147). ↑
- Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (No. 1090), dan An-Nasai dalam “As-Sunan al-Kubra” (No. 5538), dan riwayat ini sahih. ↑
- Diriwayatkan oleh Ahmad dalam “Al-Musnad” (44/570), Ibnu Majah (No. 1897), dan riwayat ini sahih. ↑



