Khutbah Jumat: Tawadhu’ dan Tercelanya Kesombongan

Download Pdfnya Klik
Khutbah Pertama
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا.
Amma ba’du.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Aku berwasiat kepada diri saya pribadi dan kepada jamaah sekalian agar senantiasa bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Karena takwa adalah bekal terbaik, jalan keselamatan, dan kunci semua kebaikan.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Pada khutbah hari ini kita akan membahas satu perkara yang sangat berbahaya. Ia berkaitan dengan tauhid, dan sangat berpengaruh dalam hubungan sosial antar manusia. Tema kita adalah: tawadhu’ dan tercelanya kesombongan.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Terkadang ada sebuah kalimat yang tampak ringan di lisan, kecil di mata manusia, tetapi sangat berat dalam timbangan Allah. Kalimat itu pernah diucapkan oleh Iblis, yang karenanya ia terusir dan terlaknat sampai hari kiamat. Iblis berkata:
﴿ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ ﴾ الأعراف: 12
“Aku lebih baik daripadanya.”
Lihatlah, betapa kalimat ini masih terus bergema hingga hari ini. Dalam bentuk yang berbeda-beda, seseorang berkata dalam hatinya atau lisannya: “Aku lebih baik darinya… aku lebih pandai… aku lebih layak… aku lebih mulia…”
Padahal sering kali ia tidak sadar, bahwa bisikan itu adalah bibit kesombongan. Ia adalah bentuk ketidakridhaan terhadap pembagian Allah, sikap meragukan hikmah-Nya, dan kelalaian terhadap keadilan-Nya.
Wahai hamba-hamba Allah,
Kesombongan itu kadang tidak perlu diucapkan terang-terangan. Ia bisa tampak dari pandangan yang meremehkan, senyum yang mengejek, kata-kata yang merendahkan, atau diam yang penuh penghinaan.
Orang kaya bisa terjatuh ke dalamnya saat menghina orang miskin.
Orang berpangkat bisa terjatuh ke dalamnya saat memandang rendah orang kecil.
Orang berilmu bisa terjatuh ke dalamnya saat merasa dirinya di atas yang lain.
Bahkan orang yang tampak saleh pun bisa terjatuh ke dalamnya ketika memandang hina orang yang bermaksiat, atau merasa bahwa kebenaran hanya ada pada dirinya.
Padahal, wahai jamaah sekalian, keagungan dan kesombongan adalah milik Allah semata. Seorang hamba tidak boleh menyandangnya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meriwayatkan dari Rabb-nya:
الْكِبْرِيَاءُ رِدَائِي، وَالْعَظَمَةُ إِزَارِي، فَمَنْ نَازَعَنِي وَاحِدًا مِنْهُمَا أَلْقَيْتُهُ فِي جَهَنَّمَ
“Kesombongan adalah selendang-Ku, dan keagungan adalah pakaian-Ku. Maka barang siapa menyaingi-Ku dalam salah satunya, Aku lemparkan dia ke dalam Jahannam.”
Karena itu, tawadhu’ adalah sifat para nabi, akhlak orang-orang saleh, dan ciri orang-orang beriman.
Allah ta’ala berfirman:
﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ ﴾ المائدة: 54
“Wahai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kalian murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, mereka bersikap lemah lembut kepada sesama orang beriman dan bersikap tegas kepada orang-orang kafir.”
Dan Allah berfirman:
﴿ وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ ﴾ الشعراء: 215
“Rendahkanlah sayapmu kepada orang-orang beriman yang mengikutimu.”
Dan Allah berfirman:
﴿ وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ ﴾ لقمان: 18
“Janganlah engkau memalingkan wajahmu dari manusia karena sombong, dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.”
Dan Allah juga berfirman:
﴿ كَذَٰلِكَ يَطْبَعُ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ قَلْبِ مُتَكَبِّرٍ جَبَّارٍ ﴾ غافر: 35
“Demikianlah Allah mengunci setiap hati orang yang sombong lagi sewenang-wenang.”
Ma’asyiral muslimin,
Salah satu bahaya terbesar dari kesombongan adalah: pelakunya merasa dirinya sedang naik, padahal sebenarnya ia sedang jatuh. Ia menyangka dirinya mulia, padahal Allah sedang merendahkannya. Ia merasa besar di mata dirinya, padahal bisa jadi ia kecil di sisi Allah dan jatuh di mata manusia.
Sebaliknya, orang yang tawadhu’, meskipun tampak biasa di mata manusia, justru Allah angkat derajatnya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ
“Tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah, kecuali Allah akan mengangkat derajatnya.”
Jamaah rahimakumullah,
Marilah kita melihat teladan terbaik kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau adalah pemimpin anak Adam, manusia paling mulia, makhluk yang paling dicintai Allah. Namun, lihatlah bagaimana tawadhu’ beliau.
Di antara bentuk tawadhu’ beliau, sebagaimana diriwayatkan, beliau ikut memindahkan tanah pada saat penggalian parit dalam perang Khandaq sampai perut beliau dipenuhi debu.
Beliau juga pernah menggembala kambing. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَا بَعَثَ اللَّهُ نَبِيًّا إِلَّا رَعَى الْغَنَمَ
“Allah tidak mengutus seorang nabi pun kecuali dia pernah menggembala kambing.”
Para ulama menjelaskan, di antara hikmah menggembala kambing adalah agar jiwa dididik dengan tawadhu’, kesabaran, dan ketundukan kepada Allah.
Bukan hanya itu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga sangat tawadhu’ kepada orang-orang lemah, miskin, janda, orang sakit, dan anak-anak.
Beliau mendatangi orang-orang lemah dari kaum muslimin, menjenguk orang sakit mereka, dan menghadiri jenazah mereka.
Beliau juga memberi salam kepada anak-anak. Bahkan disebutkan bahwa beliau mendatangi anak-anak Anshar, mengucapkan salam kepada mereka, dan mengusap kepala mereka.
Bandingkan dengan sebagian manusia hari ini. Ada yang merasa gengsi menyapa orang yang dianggap rendah. Ada yang enggan memberi salam kepada orang yang dianggap kecil. Padahal boleh jadi orang yang direndahkan itu lebih tinggi derajatnya di sisi Allah.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Perhatikan pula tawadhu’ beliau di dalam rumah.
Ketika Aisyah radhiyallahu ‘anha ditanya tentang apa yang dikerjakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di rumah, beliau menjawab bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menambal sandal beliau, menjahit pakaian beliau, dan membantu pekerjaan rumah sebagaimana salah seorang dari kita membantu urusan rumahnya.
Dalam riwayat lain, Aisyah berkata:
كَانَ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ، فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلَاةُ قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ
“Beliau membantu pekerjaan keluarganya, lalu jika waktu salat tiba, beliau keluar untuk menunaikan salat.”
Subhanallah, itulah kemuliaan sejati. Semakin tinggi kedudukan seseorang di sisi Allah, justru semakin tawadhu’ akhlaknya.
Adapun kesombongan, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan peringatan yang sangat keras tentangnya.
Beliau bersabda:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat seberat zarrah dari kesombongan.”
Lalu ada seseorang bertanya, “Sesungguhnya seseorang suka pakaiannya bagus dan sandalnya bagus.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:
إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ، الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
“Sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan. Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.”
Maka perhatikanlah, kesombongan bukan semata-mata pakaian yang bagus atau penampilan yang baik. Kesombongan adalah menolak kebenaran ketika datang, dan menghina manusia.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
إِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا، حَتَّى لَا يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ، وَلَا يَبْغِيَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ
“Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku agar kalian saling bertawadhu’, sehingga tidak ada seorang pun yang berbangga diri atas yang lain, dan tidak ada seorang pun yang berbuat zalim atas yang lain.”
Dan beliau bersabda:
أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ النَّارِ؟ كُلُّ عُتُلٍّ جَوَّاظٍ مُسْتَكْبِرٍ
“Maukah aku beritahukan kepada kalian siapa penghuni neraka? Yaitu setiap orang yang keras, kasar, rakus, dan sombong.”
Jamaah sekalian,
Kesombongan bukan hanya merusak hati pelakunya, tetapi juga merusak kehidupan masyarakat. Ia menanamkan hasad, kebencian, permusuhan, merusak ukhuwah, dan memutus rasa hormat sesama manusia.
Karena itu, jangan jadikan nikmat Allah sebagai sebab untuk merendahkan orang lain. Jangan jadikan harta, ilmu, jabatan, kedudukan, nasab, atau kelebihan duniawi sebagai jalan menuju kesombongan. Semua itu hanyalah titipan. Yang memberinya adalah Allah, dan Allah pula mampu mencabutnya kapan saja.
Allah ta’ala berfirman:
﴿ أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ ﴾ الملك: 14
“Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui, padahal Dia Maha Lembut lagi Maha Mengetahui?”
Dan Allah berfirman:
﴿ تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ ﴾ القصص: 83
“Itulah negeri akhirat, Kami jadikan bagi orang-orang yang tidak menghendaki ketinggian di muka bumi dan tidak pula kerusakan. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.”
Lihat pula Nabi Yusuf ‘alaihis salam. Ketika beliau berkata:
﴿ اجْعَلْنِي عَلَىٰ خَزَائِنِ الْأَرْضِ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ ﴾ يوسف: 55
“Jadikanlah aku bendaharawan negeri, sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berilmu.”
Beliau tidak mengucapkannya dengan bahasa kesombongan, tetapi dengan bahasa amanah dan tanggung jawab.
Sebagian salaf mengatakan:
“Tawadhu’ adalah ketika engkau keluar dari rumahmu, lalu tidaklah engkau bertemu seorang muslim pun kecuali engkau melihat dia memiliki keutamaan atas dirimu.”
Sungguh, inilah akhlak yang agung.
Maka, wahai kaum muslimin, takutlah kepada Allah. Bersihkan hati kita dari kesombongan. Hiasilah ia dengan tawadhu’. Karena siapa yang merendahkan diri karena Allah, Allah akan meninggikan derajatnya.
أقول قولي هذا، وأستغفر الله لي ولكم ولسائر المسلمين من كل ذنب، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.
Khutbah Kedua
الحمد لله حمدًا كثيرًا طيبًا مباركًا فيه كما يحب ربنا ويرضى، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله، صلى الله وسلم وبارك عليه وعلى آله وصحبه أجمعين.
Amma ba’du.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Sekali lagi aku berwasiat kepada diriku dan kepada jamaah sekalian untuk bertakwa kepada Allah.
Wahai hamba-hamba Allah,
Jika di dalam diri mulai muncul rasa bangga, suka dipuji, suka merasa lebih tinggi, atau ingin tampak lebih mulia dari orang lain, maka ingatlah bahwa dunia ini fana. Nikmat yang hari ini kita miliki, besok bisa hilang. Kedudukan yang sekarang kita sandang, suatu saat bisa lepas. Harta yang kita banggakan hari ini, bisa lenyap dalam sekejap.
Karena itu, tundukkanlah hati kita dan biasakan tawadhu’.
Jika engkau melihat orang lain diberi kelebihan dalam harta, kedudukan, atau rezeki, maka jangan biarkan hatimu dipenuhi iri dan sempit. Katakanlah dalam doa:
“Ya Allah, berkahilah dia, dan karuniakan kepadaku keridhaan terhadap apa yang Engkau tetapkan untukku.”
Karena ridha itu lebih menenangkan hati daripada banyaknya harta. Dan doa yang baik lebih membersihkan jiwa daripada hasad dan keluhan.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Sadarilah bahwa kehidupan ini tidak tetap. Hari-hari berputar. Keadaan berubah. Kadang seseorang berada di atas, kadang di bawah. Kadang kaya, kadang miskin. Kadang kuat, kadang lemah. Kadang mulia, kadang hina.
Allah ta’ala berfirman:
﴿ وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ ﴾ آل عمران: 140
“Dan hari-hari itu Kami pergilirkan di antara manusia.”
Maka orang yang berbahagia adalah orang yang menjaga satu prinsip dalam seluruh keadaan: tetap bertakwa kepada Allah dan tetap tawadhu’ kepada sesama.
Disebutkan bahwa Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah terlihat memikul qirbah air di pundaknya. Lalu dikatakan kepadanya, “Wahai Amirul Mukminin, hal ini tidak pantas bagimu.” Maka beliau menjawab, “Ketika para utusan datang kepadaku dalam keadaan taat dan patuh, muncul rasa bangga dalam diriku, maka aku ingin mematahkannya.”
Lihatlah, orang sebesar Umar pun takut pada bibit kesombongan dalam dirinya. Maka bagaimana dengan kita yang begitu banyak kekurangan?
Ada pula kisah Malik bin Dinar rahimahullah. Pernah lewat seorang yang berjalan dengan sombong dan membusungkan diri. Maka Malik berkata kepadanya, “Tidakkah engkau tahu bahwa ini adalah cara berjalan yang dibenci Allah, kecuali di antara dua barisan dalam peperangan?” Orang itu menjawab, “Apakah engkau tidak mengenalku?” Malik berkata, “Tentu aku mengenalmu. Awalmu adalah setetes air yang hina, akhirmu adalah bangkai yang busuk, dan di antara keduanya engkau membawa kotoran.”
Mendengar itu, hancurlah kesombongan orang tersebut.
Jamaah rahimakumullah,
Siapa yang mengenal hakikat dirinya, ia tidak akan sempat menyombongkan diri.
Bahkan tawadhu’ itu semakin dituntut kepada orang-orang yang memiliki keutamaan atas kita, seperti kedua orang tua, para guru, para ulama, dan orang-orang yang telah berjasa kepada kita. Mereka lebih berhak untuk kita hormati, kita rendahkan diri kepada mereka dengan adab, dan kita akui kebaikan mereka.
Maka marilah kita memohon kepada Allah agar membersihkan hati kita dari segala penyakit sombong, riya’, ujub, dan suka meremehkan orang lain.
اللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ الْكِبْرِ، وَنُفُوسَنَا مِنَ الرِّيَاءِ، وَأَلْسِنَتَنَا مِنَ الْفُحْشِ وَالْبَغْيِ.
Ya Allah, bersihkan hati kami dari kesombongan, jiwa kami dari riya’, dan lisan kami dari ucapan keji dan kezaliman.
اللَّهُمَّ زَيِّنَّا بِالتَّوَاضُعِ، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الْخَاشِعِينَ الْمُخْبِتِينَ.
Ya Allah, hiasilah kami dengan tawadhu’, dan jadikan kami termasuk hamba-hamba-Mu yang khusyuk dan tunduk.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِينَا وَلِمُعَلِّمِينَا وَلِجَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
Ya Allah, ampunilah kami, kedua orang tua kami, guru-guru kami, dan seluruh kaum muslimin dan muslimat, yang masih hidup maupun yang telah wafat.
ثم صلوا وسلموا على نبيكم كما أمركم الله بذلك، فقال سبحانه:
﴿ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا ﴾
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
عباد الله،
﴿ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ ﴾
فاذكروا الله العظيم يذكركم، واشكروه على نعمه يزدكم، ولذكر الله أكبر، والله يعلم ما تصنعون.



