Akidah

Di mana Allah? (Bag. 2)

5. Malu yang paling besar adalah kepada Allah

Wahai saudaraku…
Malulah kepada Allah yang melihatmu ketika engkau berdiri, dan ketika engkau berbolak-balik di antara orang-orang yang sujud.

Tidakkah kalian mengetahui bahwa di antara sifat-Nya adalah bahwa Dia mengetahui pandangan mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh dada,
sebagaimana firman Allah:

يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ

“Dia mengetahui pandangan mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh dada.”
(QS. Ghafir: 19)

Dia mengetahui keadaan kalian, yang terang-terangan maupun yang rahasia, di malam dan siang hari. Dia bersama kalian di mana pun kalian berada.
Jangan sekali-kali kalian mengira bahwa Allah lalai dari apa yang kalian lakukan. Jangan menyangka bahwa Dia tidak melihat apa yang kalian perbuat.

Apakah kalian menyangka bahwa Dia tidak mengawasi kalian? Bahkan Dia — Subhanahu wa Ta’ala — sendiri telah mengabarkan tentang diri-Nya bahwa Dia mengawasi setiap jiwa terhadap apa yang diusahakannya, termasuk dirimu wahai pembaca.

Humaid ath-Thawil berkata, kepada Sulaiman bin ‘Ali:

“Jika engkau bermaksiat kepada Allah dalam keadaan sendirian, dan engkau meyakini bahwa Dia melihatmu, maka sungguh engkau telah berani melakukan perkara yang sangat besar.

Dan jika engkau bermaksiat dalam keadaan engkau yakin bahwa Dia tidak melihatmu, maka sungguh engkau telah jatuh kepada kekufuran.”

Celakalah engkau…

Abu al-Faraj Ibnul Jauzi berkata:

“Allah… Allah… Allah adalah pembelamu sebelum engkau ada, maka Allah berfirman dalam rangka membela penciptaanmu:

Sesungguhnya Aku tahu apa yang tidak kalian ketahui. (Albaqarah: 30)

Lalu Allah menganggap banyak amal kalian yang sedikit dengan firmannya:

وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ

‘Laki-laki dan perempuan yang banyak mengingat Allah…’
(QS. Al-Ahzab: 35)

Allah juga telah memaklumi kesalahan nenek moyang kalian dengan firman Nya:

“Maka setan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya.” (Al A’raf: 22)

Allah juga telah menutupi perbuatan buruk kalian dengan firman Nya:

“Wahai manusia, apakah yang telah memperdayakanmu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Mahamulia?” (Al Infithar: 6)

Allah juga telah memberikan keuntungan atas perdagangan kalian dengan Nya dengan firman Nya:

“maka baginya (balasan) sepuluh kali lipat (dari amalnya)” (Al An’am: 160)

Allah juga yang membela kalian saat kalian tak di tempat, dan tak menghinakan kalian saat kalian ada.

Maka sebagaimana Allah telah menjadikan kedudukan kalian paling terdepan jadikanlah Allah sebagai yang terdepan dalam hatimu di antara seluruh kesibukan.

Allah atau raja?

Awasilah Allah dalam setiap gerak dan diammu, dalam lintasan hati dan pikiranmu serta ucapanmu.
Apakah engkau tidak ridha mengawasi dan berinteraksi dengan Allah sebagaimana engkau berinteraksi dengan para raha di dunia? Bayangkanlah kondisimu jika mereka memberikan tugas padamu untuk menjaga sang raja?

Ibnul Qayyim telah memikirkan jawabannya mewakili mu dan beliau berkata:

“Begadang sepanjang malam tidak ada artinya bagi mereka ketika mereka tahu bahwa suara mereka didengar oleh sang raja.”

Contoh-contoh yang menakjubkan

A. Ibnu Umar dan penggembala

Abdullah bin Umar keluar menuju Makkah. Di tengah perjalanan, ia singgah di suatu tempat. Lalu datanglah seorang penggembala dari arah gunung. Maka Ibnu Umar berkata kepadanya:

“Juallah kepadaku seekor kambing dari kambing-kambing ini.”

Penggembala itu menjawab,
“Aku ini hanya budak milik orang.”

Ibnu Umar berkata,
“Katakan saja kepada tuanmu: kambing itu dimakan serigala.”

Maka penggembala itu berkata,
“Lalu di mana Allah?”

Ibnu Umar pun menangis. Keesokan harinya ia mendatangi majikannya, lalu membeli budak itu dan memerdekakannya. Ia juga membeli kambing-kambing itu lalu memberikannya kepada si budak.

Siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah dari perkara yang haram, maka Allah akan menggantinya dengan yang halal. Ia menahan diri dari satu kambing saja, lalu Allah memberinya seluruh kambing itu.

B. Rasa malu yang menundukkan syahwat

Ada seorang pemuda dari penduduk Madinah yang selalu menghadiri seluruh shalat berjamaah bersama Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Jika ia tidak hadir, Umar merasa kehilangannya.

Lalu seorang wanita dari penduduk Madinah terpikat kepadanya. Wanita itu menceritakan perasaannya kepada sebagian wanita lain. Maka teman Wanita tersebut berkata:

“Saya akan memperdayanya dan kemudian akan saya masukkan dia ke tempatmu.”

Lalu wanita itu duduk di jalan yang dilalui oleh pemuda itu, saat pemuda itu lewat wanita itu berkata, “Saya adalah wanita yang sudah tua, dan saya punya seekor domba yang saya tidak kuat untuk memerah susunya, apakah kamu bersedia membantu saya dengan balasan pahala dari Allah?” Lalu pemuda itu masuk ke dalam rumah wanita itu, ternyata wanita yang menyukai pemuda itu ada di dalamnya. Lalu wanita itu pun terus menggodanya dan pemuda itu tetap bertahan, ketika pemuda itu terus menerus menolaknya, ia pun berteriak. Orang-orang segera berkumpul mengerumuninya. Wanita itu berkata,

“Laki-laki ini masuk ke rumahku untuk berbuat buruk kepadaku!”

Maka orang-orang pun memukulinya dan membawanya kepada Umar. Umar berkata:

“Ya Allah, janganlah Engkau sia-siakan prasangkaku terhadapnya.” Lalu orang-orang itu pun menceritakan kisahnya, lalu Umar menoleh kepada pemuda itu dan berkata,
“Katakan yang sebenarnya.”

Pemuda itu pun menceritakan kisahnya.

Kemudian Umar berkata padanya, “Jika kamu melihat wanita tua itu apakah engkau mengenalinya?” Pemuda itu berkata, “Iya”. Lalu Umar menyuruh seseorang mendatangi para tetangga wanita itu. Lalu mereka datang kepada Umar di hadapan pemuda itu, namun pemuda itu tidak mengenali wanita tua itu sampai wanita tua itu lewat di depannya, lalu pemuda itu berkata, “Ini orangnya wahai Amirul Mukminin”. Lalu Umar mengangkat tongkatnya dan berkata, “Berkatalah jujur padaku!” Lalu wanita tua itu menceritakan kisahnya sebagaimana yang diceritakan oleh pemuda itu. Maka Umar berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan di tengah kita orang yang serupa dengan Yusuf.”

C. Pernikahan al-Mubarak yang diberkahi

Dialah al-Mubarak, ayah dari Imam besar, Syaikhul Islam Abdullah bin al-Mubarak. Dahulu ia seorang budak dari bangsa Romawi, kemudian tuannya memerdekakannya. Setelah itu ia bekerja sebagai buruh pada seorang pemilik kebun.

Pada suatu hari, pemilik kebun keluar menuju kebunnya bersama beberapa sahabatnya. Ia berkata kepada al-Mubarak,
“Petikkan untuk kami buah delima yang manis.”

Maka al-Mubarak memetik beberapa buah delima. Ternyata buah itu asam. Pemilik kebun berkata,
“Tidakkah engkau tahu mana yang manis dan mana yang asam?”

Ia menjawab,
“Engkau tidak pernah mengizinkanku untuk mencicipinya, lalu bagaimana aku tahu mana yang manis dan mana yang asam?”

Pemilik kebun berkata, “Selama setahun penuh kamu menjaga kebun itu, namun kamu tidak pernah memakan satu buah delima pun?” Lalu majikannya itu bertanya kepada para tetangga kebun itu dan mereka berkata, “Ya, dia belum pernah makan satu buah delimapun selama bekerja di sini.”

Pemilik kebun lalu berkata,
“Wahai Mubarak, aku tidak memiliki anak selain seorang putri. Menurutmu, dengan siapa sebaiknya aku menikahkannya?”

Al-Mubarak menjawab,
“Orang Yahudi memilih karena harta, orang Nasrani memilih karena kecantikan, orang Arab memilih karena keturunan, sedangkan kaum Muslimin memilih karena ketakwaan, lalu termasuk golongan yang manakah kamu, maka nikahkanlah putrimu sesuai dengan kriteria itu.”

Pemilik kebun itu berkata,
“Lalu adakah orang yang lebih bertaqwa darimu? Aku akan menikahkannya denganmu.”

Maka ia pun menikahkan putrinya dengan al-Mubarak. Dari pernikahan itu lahirlah Imam Abdullah bin al-Mubarak yang semoga Allah merahmati beliau, seorang anak yang harum namanya.

Allah Ta’ala berfirman:

“Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah; dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana.” (Al A’raf: 58)

(Diterjemahkan dari kita Hibbi Ya Rihal Iman, karya Khalid Abu Syadi)

Yusta Rizaldi, S.Pd.

Mahasiswa S2, Jurusan Tarbiyah, Qassim University

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button