Tatsqif

Jangan Merendahkan Orang Lain: Kemuliaan Sejati Ada pada Takwa, Bukan Harta dan Penampilan

Jangan Merendahkan Orang Lain:

Kemuliaan Sejati Ada pada Takwa, Bukan Harta dan Penampilan[1]

Salah satu penyakit hati yang sering kali tidak disadari adalah sikap meremehkan dan menghina orang lain. Penyakit ini dapat muncul karena seseorang merasa dirinya lebih kaya, lebih berpendidikan, lebih terpandang, atau memiliki penampilan yang lebih baik dibandingkan orang lain. Padahal, ukuran kemuliaan di sisi manusia tidak pernah menjadi ukuran kemuliaan di sisi Allah. Islam mengajarkan bahwa kemuliaan yang hakiki bukanlah karena harta, jabatan, keturunan, ataupun rupa, melainkan karena ketakwaan kepada Allah.

Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā telah menetapkan standar kemuliaan yang tidak berubah oleh zaman, budaya, maupun status sosial. Allah berfirman:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

“Wahai manusia! Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Ḥujurāt: 13)

Ayat ini menjadi landasan utama bahwa seluruh manusia berasal dari asal yang sama. Tidak ada alasan bagi seseorang untuk merasa lebih tinggi dari yang lain hanya karena faktor duniawi. Yang membedakan hanyalah ketakwaan, dan hanya Allah yang mengetahui kadar ketakwaan setiap hamba.

Allah Melihat Hati dan Amal, Bukan Penampilan

Manusia pada umumnya mudah tertipu oleh penampilan luar. Seseorang yang berpakaian mewah sering kali dihormati, sedangkan orang yang berpakaian sederhana terkadang dipandang sebelah mata. Padahal Rasulullah ﷺ telah mengingatkan:

إِنَّ اللهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ وَأَعْمَاِلكُمْ

“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat kepada hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)

Hadis ini memberikan pelajaran yang sangat mendalam. Penampilan hanyalah sesuatu yang tampak di mata manusia, sedangkan hati dan amal merupakan ukuran yang sebenarnya di sisi Allah.

Boleh jadi seseorang memiliki wajah yang tampan, pakaian yang indah, kendaraan yang mewah, serta kedudukan yang tinggi di mata manusia, tetapi hatinya dipenuhi kesombongan, riya, dengki, dan jauh dari ketakwaan. Sebaliknya, ada orang yang sederhana penampilannya, hidup dalam keterbatasan, bahkan tidak dikenal manusia, tetapi hatinya dipenuhi keikhlasan, rasa takut kepada Allah, dan amal-amal saleh yang sangat dicintai-Nya.

Karena itu, seorang muslim tidak boleh menjadikan penampilan sebagai ukuran untuk menilai kemuliaan seseorang.

Meremehkan Orang Lain Adalah Tanda Lemahnya Akal dan Iman

Merendahkan orang lain karena kemiskinan, rendahnya kedudukan sosial, atau kekurangan fisik merupakan tanda kelemahan akal dan kurang sempurnanya iman. Orang yang memiliki pandangan luas akan menyadari bahwa kehidupan dunia terus berubah. Kekayaan dapat hilang dalam sekejap, jabatan dapat dicabut kapan saja, kecantikan dan ketampanan akan memudar oleh usia, dan kesehatan dapat berubah menjadi sakit.

Betapa banyak orang yang dahulu hidup miskin kemudian Allah melapangkan rezekinya hingga menjadi kaya. Sebaliknya, tidak sedikit orang kaya yang jatuh miskin karena musibah atau kesalahan dalam mengelola hartanya.

Demikian pula dengan kedudukan. Banyak orang yang dahulu tidak memiliki kedudukan, kemudian Allah mengangkat derajatnya melalui ilmu, amal saleh, atau sebab-sebab lainnya. Sebaliknya, banyak pula orang yang dahulu sangat dihormati, kemudian kehilangan kehormatan karena kesombongan dan perbuatannya sendiri.

Oleh sebab itu, orang yang meremehkan orang lain sebenarnya sedang mempertaruhkan nikmat yang dimilikinya. Ia seharusnya takut jika Allah mencabut kenikmatan yang membuatnya sombong.

Dunia Bersifat Sementara

Harta, jabatan, kecantikan, popularitas, dan seluruh perhiasan dunia hanyalah titipan. Semuanya dapat berpindah dari satu tangan ke tangan lainnya sesuai kehendak Allah.

Sejarah dipenuhi dengan kisah orang-orang yang dahulu hidup dalam kemewahan namun akhirnya kehilangan segalanya. Sebaliknya, tidak sedikit orang yang memulai hidup dalam kesulitan lalu Allah mengangkat derajat mereka karena kesabaran dan ketakwaannya.

Kesadaran akan kefanaan dunia akan melahirkan sifat rendah hati. Orang yang memahami hakikat dunia tidak akan membanggakan sesuatu yang sewaktu-waktu dapat hilang.

Tawaduk Adalah Buah Keimanan

Sikap tawaduk merupakan salah satu tanda kuatnya iman. Orang yang bertawaduk menyadari bahwa semua nikmat berasal dari Allah. Karena itu, ia tidak merasa lebih tinggi dibandingkan orang lain.

Kerendahan hati juga menunjukkan kedewasaan berpikir. Orang yang berakal memahami bahwa dirinya memiliki banyak kekurangan sehingga tidak layak menyombongkan diri.

Selain itu, tawaduk mencerminkan kelembutan hati. Orang yang rendah hati mudah menghargai orang lain, senang membantu sesama, dan tidak merasa hina ketika bergaul dengan orang-orang sederhana.

Penjelasan Ibnu Rajab

Ulama besar Ibnu Rajab rahimahullah menjelaskan bahwa boleh jadi seseorang memiliki wajah yang tampan, kekayaan melimpah, kedudukan tinggi, serta pengaruh besar di dunia, tetapi hatinya kosong dari ketakwaan.

Sebaliknya, seseorang yang tidak memiliki semua kelebihan dunia itu justru memiliki hati yang penuh dengan ketakwaan sehingga lebih mulia di sisi Allah.

Beliau bahkan menegaskan bahwa keadaan seperti inilah yang lebih sering terjadi[2].

Pelajaran ini mengingatkan kita agar tidak tertipu oleh penampilan luar. Yang terpenting bukan bagaimana manusia memandang kita, tetapi bagaimana Allah menilai hati kita.

Siapakah Penghuni Surga?

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ الجَنَّةِ كُلُّ ضَعِيْفٍ مُتَضَعِّفٍ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللهِ لَأبَرَّهُ، أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ النَّارِ كُلُّ عُتُلٍّ جَوَّاظٍ مُسْتَكْبِرٍ.

“Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang penghuni surga? Mereka adalah setiap orang yang lemah dan dipandang lemah. Seandainya ia bersumpah atas nama Allah, niscaya Allah akan mengabulkannya. Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang penghuni neraka? Mereka adalah setiap orang yang keras, rakus, dan sombong.” (Muttafaq ‘Alaih)

Hadis ini menunjukkan bahwa ukuran kemuliaan di sisi Allah sangat berbeda dengan ukuran manusia.

Orang yang dianggap tidak berarti oleh masyarakat bisa jadi memiliki kedudukan yang sangat tinggi di sisi Allah karena keikhlasan, kesabaran, dan ketakwaannya.

Sebaliknya, orang yang disegani manusia karena kekayaan dan kekuasaan belum tentu memiliki nilai di sisi Allah apabila hatinya dipenuhi kesombongan.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

مَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللهُ

“Tidaklah seseorang bersikap tawaduk karena Allah melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim)

Janji Rasulullah ﷺ ini berlaku di dunia maupun di akhirat.

Di dunia, orang yang rendah hati akan dicintai masyarakat. Ia mudah diterima dalam berbagai kalangan karena tidak memandang rendah siapa pun.

Di akhirat, Allah akan meninggikan derajatnya sebagai balasan atas kerendahan hatinya ketika hidup di dunia.

Salah satu contoh indah adalah seorang ahli hadis besar, Abu Musa al-Madani. Walaupun memiliki kedudukan ilmiah yang tinggi dan dihormati banyak orang, beliau tetap mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anak kecil menggunakan papan tulis sederhana.

Beliau tidak merasa pekerjaan tersebut merendahkan martabatnya. Justru beliau melihat bahwa mengajarkan Al-Qur’an merupakan kemuliaan yang besar.

Inilah akhlak para ulama terdahulu. Semakin tinggi ilmu mereka, semakin rendah hati pula sikap mereka.

Imam Syafi’i pernah berkata:

“Manusia yang paling tinggi kedudukannya adalah orang yang tidak melihat dirinya memiliki kedudukan. Dan manusia yang paling besar keutamaannya adalah orang yang tidak melihat dirinya memiliki keutamaan.”

Ungkapan yang sangat indah ini menggambarkan hakikat tawaduk.

Orang yang benar-benar mulia justru tidak sibuk memamerkan kemuliaannya. Ia lebih banyak melihat kekurangan dirinya daripada kelebihan yang dimilikinya.

Sebaliknya, orang yang selalu merasa dirinya paling hebat biasanya justru belum memahami hakikat ilmu dan keimanan.

Agar hati terhindar dari penyakit merendahkan sesama, seorang muslim hendaknya membiasakan beberapa hal, di antaranya:

Pertama : Selalu mengingat bahwa seluruh nikmat berasal dari Allah dan dapat dicabut kapan saja.

Kedua : Menyadari bahwa kita tidak mengetahui keadaan hati seseorang. Orang yang kita pandang biasa saja bisa jadi jauh lebih dicintai Allah daripada diri kita.

Ketiga : Memperbanyak muhasabah dan melihat kekurangan diri sendiri daripada mencari-cari kekurangan orang lain.

Keempat : Bergaul dengan semua lapisan masyarakat tanpa membeda-bedakan status sosial mereka.

Kelima : Memperbanyak doa agar Allah membersihkan hati dari kesombongan, ujub, dan penyakit hati lainnya.

Merendahkan orang lain bukanlah sifat seorang mukmin. Kemuliaan yang sejati tidak terletak pada harta, keturunan, jabatan, maupun penampilan, melainkan pada ketakwaan yang hanya Allah mengetahuinya.

Seorang muslim hendaknya selalu menghormati setiap orang, karena boleh jadi orang yang dipandang rendah oleh manusia justru memiliki kedudukan yang sangat tinggi di sisi Allah. Sebaliknya, orang yang dipandang mulia oleh manusia belum tentu memiliki kemuliaan di sisi-Nya.

Marilah kita menghiasi diri dengan tawaduk, menjaga lisan dari meremehkan orang lain, serta senantiasa memperbaiki hati dan amal. Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang rendah hati, membersihkan hati kita dari kesombongan, dan mengangkat derajat kita di dunia maupun di akhirat dengan sebab ketakwaan. Āmīn.

  1. . Disadur bebas dari kitab khutuwaat ila as sa’adah karya Syekh Abdul Muhsin bin Muhammad al Qasim (Imam dan Khatib Mesjid Nabawi).
  2. . Jami’ al ‘ulum wal hikam (1/276).

Darul Idam, Lc., M.A.

Kandidat Doktor Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button