Tatsqif

Ummahatul Ibadah (Ibadah-ibadah utama) 

Ummahatul Ibadah (Ibadah-ibadah utama)

Di antara kemurahan Allah Ta‘ālā adalah bahwa ketika Dia melihat hati seorang hamba yang menyambut sepuluh hari pertama Dzulhijjah dengan jujur, penuh semangat, dan sangat ingin beramal serta bermuamalah dengan Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā, maka hati itu menjadi mulia di sisi-Nya. Allah pun memberinya taufik untuk mengagungkan hari-hari tersebut. Amal-amal wajib pada hari-hari itu lebih utama dibandingkan amal wajib pada hari lainnya, dan pelipatgandaannya lebih besar. Demikian pula amal-amal sunnah pada hari-hari itu lebih utama daripada amal sunnah di waktu lainnya.

Berkata Al-Ḥāfiẓ Ibnu Hajar al-‘Asqalani:

“والذي يظهر أن ‌السبب ‌في ‌امتياز ‌عشر ذي الحجة لمكان اجتماع أمهات العبادة فيه، وهي: الصلاة، والصيام، والصدقة، والحج، ولا يتأتى ذلك في غيره” [فتح الباري، (٢/٤٦٠)].

 “Yang tampak, sebab keistimewaan sepuluh hari Dzulhijjah adalah karena pada hari-hari tersebut berkumpul induk-induk ibadah, yaitu: salat, puasa, sedekah, dan haji. Hal itu tidak terdapat pada waktu selainnya.” [Fathul Bārī, 2/460]

Al-Qasṭalānī menukil dari Abu Umāmah bin an-Naqqāsy:

“فإن قلت: أيهما أفضل، عشر ذي الحجة، أو العشر الأواخر من رمضان؟ فالجواب: أن أيام عشر ذي الحجة أفضل؛ لاشتمالها على اليوم الذي ما رؤي الشيطان في يوم – غير يوم بدر – أدحر ولا أغيظ ولا أحقر منه فيه وهو يوم عرفة، ولكون صيامه يكفر سنتين، ولاشتمالها على أعظم الأيام عند الله حُرمة وهو يوم النحر الذي سماه الله تعالى يوم الحج الأكبر، وليالي عشر رمضان الأخير أفضل؛ لاشتمالها على ليلة القدر التي هي خير من ألف شهر” [المواهب اللدنية، (٣/٤٤٢)].

“Jika engkau bertanya: manakah yang lebih utama, sepuluh hari Dzulhijjah atau sepuluh malam terakhir Ramadan? Maka jawabannya: hari-hari sepuluh Dzulhijjah lebih utama, karena di dalamnya terdapat hari yang setan tidak pernah terlihat lebih hina, lebih terusir, dan lebih marah padanya selain pada hari Badar, yaitu hari Arafah. Selain itu, puasa Arafah menghapus dosa dua tahun. Di dalamnya juga terdapat hari yang paling agung kehormatannya di sisi Allah, yaitu hari Nahr (Iduladha), yang Allah namakan sebagai Hari Haji Akbar. Adapun malam-malam sepuluh terakhir Ramadan lebih utama karena di dalamnya terdapat Lailatul Qadar yang lebih baik daripada seribu bulan.” [Al-Mawāhib al-Ladunniyyah, 3/442]

Al-Ḥāfiẓ Ibnu Katsir berkata:

“… وفي سنن أبي داود: “أن رسولَ اللهِ ﷺ كان يصومُ هذا العشرَ”، وهذا العشر مشتمل على يوم عرفة الذي ثبت في صحيح مسلم، عن أبي قتادة قال: سئل رسول الله ﷺ، عن صيام يوم عرفة، فقال: «صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ، أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ، وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ…» [مسلم: ١١٦٢]، ويشتمل على يوم النحر الذي هو يوم الحج الأكبر، وقد ورد في حديث أنه أفضل الأيام عند الله، وبالجملة فهذا العشر قد قيل: إنه أفضل أيام السنة، كما نطق به الحديث، وفضّله كثير على عشر رمضان الأخير؛ لأن هذا يشرع فيه ما يشرع في ذلك من صلاة وصيام وصدقة وغيره، ويمتاز هذا باختصاصه بأداء فرض الحج فيه.

وقيل: ذلك أفضل؛ لاشتماله على ليلة القدر التي هي خير من ألف شهر، وتوسط آخرون فقالوا: أيام هذا أفضل، وليالي ذاك أفضل، وبهذا يجتمع شمل الأدلة، والله أعلم” [تفسير القرآن العظيم].

 “Dalam Sunan Abī Dāwud disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ biasa berpuasa pada sepuluh hari ini. Sepuluh hari ini mencakup hari Arafah yang dalam Shahih Muslim disebutkan dari Abu Qatādah bahwa Rasulullah ﷺ ditanya tentang puasa Arafah, lalu beliau bersabda:

«صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ، أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ، وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ»

“Puasa hari Arafah, aku berharap kepada Allah agar menghapus dosa setahun sebelumnya dan setahun sesudahnya.” [HR. Muslim no. 1162]

Hari-hari itu juga mencakup hari Nahr yang merupakan Hari Haji Akbar. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa ia adalah hari paling utama di sisi Allah. Secara umum, sepuluh hari ini dikatakan sebagai hari-hari terbaik sepanjang tahun, sebagaimana ditunjukkan oleh hadis. Banyak ulama mengutamakannya di atas sepuluh malam terakhir Ramadan, karena pada hari-hari ini disyariatkan salat, puasa, sedekah, dan amalan lainnya, serta memiliki keistimewaan adanya pelaksanaan ibadah haji.

Ada pula yang mengatakan bahwa sepuluh malam terakhir Ramadan lebih utama karena di dalamnya terdapat Lailatul Qadar yang lebih baik daripada seribu bulan. Sebagian ulama menengahi dengan mengatakan: hari-hari Dzulhijjah lebih utama, sedangkan malam-malam Ramadan lebih utama. Dengan demikian seluruh dalil dapat dipadukan. Wallāhu a‘lam.” [Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm]

Ibnu al-Jauzi berkata:

“اعلموا رحمكم الله أن عشركم هذا ليس كعشر، وهو يحتوي على فضائل عشر:

الأولى: أن الله عز وجل أقسم به فقال: {وَلَیَالٍ عَشۡرࣲ} [الفجر: ٢].

والثانية: أنه سماه الأيام المعلومات؛ فقال تعالى: {وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ} [الحج: ٢٨]، قال ابن عباس رضي الله عنهما: هي أيام العشر.

والثالثة: أن رسول الله ﷺ شهد له بأنه أفضل أيام الدنيا.

والرابعة: حث على أفعال الخير فيه.

والخامسة: أنه أمر بكثرة التسبيح والتحميد والتهليل فيه.

والسادسة: أن فيه يوم التروية… قال الزاهدي: وإنما سمي بيوم التروية؛ لأن عرفات لم يكن بها ماء فكانوا يتروون من الماء إليها.

والسابعة: أن فيه يوم عرفة وصومه بسنتين.

والثامنة: أن فيه ليلة جمع وهي ليلة المزدلفة.

والتاسعة: أن فيه الحج الذي هو ركن من أركان الإسلام.

والعاشرة: وقوع الأضحية التي هي علم للملة الإبراهيمية والشريعة المحمدية، ومن أراد أن يضحي كره له إذا دخل عليه عشر ذي الحجة أن يأخذ بشرته وأن يقلم أظفاره أو يحلق شعره، وليتشبه بالمحرمين…” [التبصرة لابن الجوزي].

 “Ketahuilah, semoga Allah merahmati kalian, bahwa sepuluh hari kalian ini bukanlah sepuluh hari biasa. Ia mengandung sepuluh keutamaan:

1. Allah ‘Azza wa Jalla bersumpah dengannya:

﴿وَلَيَالٍ عَشْرٍ﴾

“Demi malam yang sepuluh.” (QS. Al-Fajr: 2)

2. Allah menamakannya sebagai “hari-hari yang diketahui”:

﴿وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ﴾

“Agar mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan.” (QS. Al-Ḥajj: 28)

Ibnu ‘Abbās raḍiyallāhu ‘anhumā berkata: “Yang dimaksud adalah sepuluh hari pertama Dzulhijjah.”

3. Rasulullah ﷺ bersaksi bahwa hari-hari itu adalah hari-hari terbaik di dunia.

4. Rasulullah ﷺ mendorong untuk memperbanyak amal kebaikan di dalamnya.

5. Rasulullah ﷺ memerintahkan memperbanyak tasbih, tahmid, dan tahlil pada hari-hari tersebut.

6. Di dalamnya terdapat hari Tarwiyah. Az-Zāhidī berkata: “Hari itu dinamakan Tarwiyah karena dahulu di Arafah tidak ada air, sehingga mereka membawa bekal air menuju ke sana.”

7. Di dalamnya terdapat hari Arafah, dan puasanya bernilai penghapus dosa dua tahun.

8. Di dalamnya terdapat malam Jam‘, yaitu malam Muzdalifah.

9. Di dalamnya terdapat ibadah haji yang merupakan salah satu rukun Islam.

10. Di dalamnya terdapat ibadah kurban yang menjadi syiar millah Ibrahimiyyah dan syariat Muhammadiyyah. Orang yang ingin berkurban dimakruhkan ketika telah masuk sepuluh hari Dzulhijjah untuk memotong kulit, kuku, atau rambutnya, agar menyerupai orang-orang yang berihram…” [At-Tabṣirah karya Ibnu al-Jauzi]

Gambaran indah keadaan para sahabat dalam memanfaatkan sepuluh hari Dzulhijjah

Sungguh para sahabat yang mulia raḍiyallāhu ‘anhum telah menorehkan teladan paling indah dalam memanfaatkan setiap detik pada sepuluh hari ini. Sebagian sahabat raḍiyallāhu ‘anhum keluar menuju pasar-pasar pada hari-hari tersebut sambil bertakbir, lalu kaum muslimin ikut bertakbir bersama mereka.

Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari berkata:

“وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ، وَأَبُو هُرَيْرَةَ: يَخْرُجَانِ إِلَى السُّوقِ فِي أَيَّامِ الْعَشْرِ، يُكَبِّرَانِ وَيُكَبِّرُ ‌النَّاسُ ‌بِتَكْبِيرِهِمَا” [البخاري تعليقا: ٢/٢٠].

“Dahulu Ibnu ‘Umar dan Abu Hurairah keluar ke pasar pada hari-hari sepuluh itu, lalu keduanya bertakbir dan orang-orang pun ikut bertakbir karena takbir keduanya.” [Diriwayatkan secara mu‘allaq oleh Al-Bukhari, 2/20]

وَكَانَ سيدنا عُمَرُ بن الخطاب رضي الله عنه يُكَبِّرُ فِي قُبَّتِهِ بِمِنًى، فَيَسْمَعُهُ أَهْلُ المَسْجِدِ فَيُكَبِّرُونَ، وَيُكَبِّرُ أَهْلُ الأَسْواقِ، حَتَّى تَرْتَجَّ مِنًى تَكْبِيرًا.

Sayyidina Umar bin al-Khattab raḍiyallāhu ‘anhu dahulu bertakbir di kemahnya di Mina. Lalu para jamaah di masjid mendengarnya dan ikut bertakbir. Para pedagang di pasar juga ikut bertakbir, hingga Mina bergemuruh dengan takbir.

وَكانَ سيدنا عبد الله بْنُ عُمَرَ يُكَبِّرُ بِمِنًى تِلْكَ الأَيَّامَ، وَخَلْفَ الصَّلَواتِ، وَعَلَى فِراشِهِ، وَفِي فُسْطاطِهِ وَمَجْلِسِهِ وَمَمْشاهُ، تِلْكَ الأَيَّامَ جَمِيعًا، وَكانَتْ السيدة مَيْمُونَةُ تُكَبِّرُ يَوْمَ النَّحْرِ، وَكُنَّ النِّساءُ يُكَبِّرْنَ خَلْفَ أَبانَ بْنِ عُثْمانَ وَعُمَرَ بْنِ عَبْدِ العَزِيزَ، لَيالِيَ التَّشْرِيقِ مَعَ الرِّجالِ فِي المَسْجِدِ. [البخاري تعليقا: ٢/ ٢٠].

Sayyidina Abdullah bin Umar raḍiyallāhu ‘anhumā juga bertakbir di Mina pada hari-hari tersebut, setelah salat, di atas tempat tidurnya, di tendanya, di majelisnya, dan ketika berjalan, sepanjang hari-hari itu semuanya.

Demikian pula Sayyidah Maimunah binti al-Harith raḍiyallāhu ‘anhā bertakbir pada hari Nahr (Iduladha). Para wanita juga dahulu bertakbir di belakang Abān bin ‘Utsmān dan ‘Umar bin ‘Abdul ‘Azīz pada malam-malam Tasyriq bersama kaum laki-laki di masjid. [Diriwayatkan secara mu‘allaq oleh Al-Bukhari, 2/20]

Diriwayatkan dari sahabat mulia Anas bin Malik raḍiyallāhu ‘anhu bahwa beliau berkata:

“كَانَ يُقَال فِي أَيَّام الْعشْر بِكُل يَوْم ألف يَوْم وَيَوْم عَرَفَة عشرَة آلَاف يَوْم، قَالَ: يَعْنِي فِي الْفضل”،

 “Dahulu dikatakan bahwa pada hari-hari sepuluh itu, setiap harinya sebanding dengan seribu hari, dan hari Arafah sebanding dengan sepuluh ribu hari.” Beliau berkata: “Maksudnya dalam keutamaannya.” [Disebutkan oleh Al-Ḥāfiẓ Al-Mundziri dalam At-Targhīb wat-Tarhīb, 3/128. Beliau berkata setelahnya: “Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dan Al-Aṣbahāni, dan sanad Al-Baihaqi tidak mengapa.”]

Riwayat ini menggambarkan betapa para sahabat sangat merasakan agungnya pahala dan besarnya pelipatgandaan amal pada hari-hari yang penuh berkah ini, serta bagaimana mereka berlomba-lomba di dalamnya dengan perlombaan yang luar biasa.

Tabi‘in yang mulia, Abu Utsman an-Nahdi, yang sempat bertemu para sahabat senior, menggambarkan keadaan generasi pertama dalam mengagungkan musim-musim ibadah utama. Beliau berkata:

“كانوا يعظمون ثلاث عشرات: العشر الأخير من رمضان، والعشر الأول من ذي الحجة، والعشر الأول من المحرم”.

“Mereka dahulu mengagungkan tiga kelompok sepuluh hari: sepuluh hari terakhir Ramadan, sepuluh hari pertama Dzulhijjah, dan sepuluh hari pertama Muharram.” [Laṭā’if al-Ma‘ārif fīmā li Mawāsim al-‘Ām min al-Waẓā’if, hlm. 68]

Penggunaan kata ganti jamak “mereka dahulu” menunjukkan bahwa hal ini merupakan manhaj umum dan keadaan kolektif yang dijalani para sahabat dan tabi‘in setelah mereka, bukan sekadar ijtihad individu.

Maka berjalan di atas manhaj para sahabat raḍiyallāhu ‘anhum dalam sepuluh hari Dzulhijjah merupakan pintu menuju tobat yang tulus dan perbaikan hubungan dengan Allah ‘Azza wa Jalla, melalui ragam bentuk pendekatan diri kepada-Nya. Menghidupkan hari-hari ini dengan puasa, qiyamul lail, sedekah, dan membantu kebutuhan orang-orang yang memerlukan merupakan jalan nyata untuk meraih hembusan rahmat Allah yang luas. Memanfaatkan detik-detik berharga ini akan selalu menjadi timbangan yang membedakan antara orang cerdas yang “berniaga” dengan Rabb-nya dan orang lalai yang melewati musim-musim ampunan tanpa bekas.

Keagungan keadaan para sahabat raḍiyallāhu ‘anhum pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah tampak dari besarnya pengagungan mereka terhadap hari-hari yang penuh berkah ini, karena padanya berkumpul induk-induk ibadah. Mereka menorehkan teladan terbaik dalam senantiasa bertakbir dan bertahlil di pasar, masjid, dan jalan-jalan, serta bersegera melakukan puasa, sedekah, dan ibadah kurban demi mengharap ampunan dosa. Meneladani jejak mereka pada musim yang mulia ini merupakan perdagangan yang paling menguntungkan, yang membedakan orang cerdas yang bersemangat meraih hembusan rahmat Rabb-nya dari orang lalai yang terhalang darinya.

Semoga bermanfaat.

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button