Ramadan 1447

Tuntunan Nabi ﷺ Di Bulan Ramadhan

TUNTUNAN NABI ﷺ DI BULAN RAMADHAN

Bulan Ramadhan adalah bulan yang sangat istimewa. Sebagai suri teladan termulia, Rasulullah ﷺ telah memberikan tuntunan terbaik dalam menyambut, mengisi dan memaksimalkan ibadah di bulan penuh berkah ini.

Bila Ramadhan tiba, Rasulullah ﷺ memberikan kabar gembira kepada para sahabat atas kedatangannya. Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata: Ketika Ramadhan tiba, Rasulullah ﷺ bersabda: “Telah datang kepadamu Ramadhan, bulan yang penuh keberkahan. Allah mewajibkan bagimu berpuasa di dalamnya. Di bulan ini, pintu-pintu surga dibuka lebar, pintu-pintu neraka ditutup rapat, dan setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa yang terhalang dari kebaikannya, maka sungguh ia telah terhalang (dari kebaikan yang sangat besar).” (HR. Ahmad dan Nasa’i).

Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitabnya Lathā’if al-Ma’ārif berkata: “Bagaimana mungkin seorang mukmin tidak gembira dengan dibukanya pintu-pintu surga? Bagaimana mungkin seorang pendosa tidak gembira dengan ditutupnya pintu-pintu neraka? Dan bagaimana mungkin seorang yang berakal tidak gembira dengan waktu di mana setan-setan dibelenggu?”

Kegembiraan itu direalisasikan dengan memanfaatkan setiap saat dari bulan suci ini dengan ibadah dan amal saleh. Maka, marilah kita mempelajari petunjuk Rasulullah ﷺ, untuk kemudian diamalkan dengan penuh keimanan dan ketulusan.

  1. Bersiap dan melatih diri di bulan Sya’ban.

Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu anha berkata: “Aku tidak pernah melihat Rasulullah ﷺ menyempurnakan puasa satu bulan penuh kecuali pada bulan Ramadhan. Dan aku juga tidak pernah melihat beliau paling banyak melakukan puasa (sunnah) selain di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ibnu Rajab al-Hanbali berkata:“Karena bulan Sya’ban ibarat sebuah mukadimah bagi bulan Ramadhan, maka disyariatkan di dalamnya amalan-amalan yang juga disyariatkan di bulan Ramadhan, seperti berpuasa dan membaca Al-Qur’an. Agar tercipta kesiapan untuk menyambut Ramadhan, dan melatih jiwa dalam ketaatan kepada Ar-Rahman.”

2. Tidak berpuasa satu atau dua hari sebelum Ramadhan.

Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah ﷺ bersabda: “Janganlah kalian mendahului Ramadhan dengan berpuasa sehari atau dua hari sebelumnya, kecuali bagi seseorang yang memang sudah terbiasa menjalankan puasa tertentu, maka silahkan ia berpuasa.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Termasuk puasa pada hari syak (30 Sya’ban), yaitu hari yang diragukan; apakah hari itu termasuk Ramadhan atau bukan. Ammar bin Yasir radhiyallahu anhu berkata: “Barang siapa berpuasa pada hari syak, maka ia telah mendurhakai Abal-Qasim (Muhammad) ﷺ.” (Shahih Bukhari, 3/27).

Puasa pada hari-hari ini dilarang kecuali bagi yang punya kebiasaan berpuasa sunnah, seperti hari Senin atau Kamis, kemudian bertepatan dengan satu atau dua hari sebelum Ramadhan, maka tidak mengapa baginya untuk tetap berpuasa.

3. Menetapkan awal dan akhir Ramadhan dengan rukyah hilal.

Syariat Islam menetapkan rukyah hilal dan istikmal sebagai metode valid dalam menentukan awal dan akhir Ramadhan. Metode ini dapat diterapkan di setiap masa dan di semua tempat, jika hilal tidak kelihatan karena terhalang awan dan sebagainya, maka diterapkan metode istikmal, yakni menyempurnakan bulan Sya’ban 30 hari untuk awal Ramadhan, atau menyempurnakan Ramadhan 30 hari untuk awal Syawal.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda: “Berpuasalah kalian karena melihatnya (hilal Ramadhan), dan berharirayalah kalian karena melihatnya (hilal Syawal). Jika penglihatan kalian tertutup oleh awan mendung, maka genapkanlah (bilangan bulan) menjadi tiga puluh hari.” (HR. Bukhari dan Muslim).

4. Berpuasa dan berlebaran bersama jama’ah kaum muslimin.

Jika kaum Muslimin di suatu negara telah melakukan rukyah hilal, kemudian terjadi perbedaan pendapat, maka sebaiknya seorang muslim berpuasa dan berlebaran bersama jama’ah kaum muslimin dan pemipin mereka. Apalagi jika keputusannya ditetapkan berdasarkan ijtihad kolektif seperti sidang itsbat, maka persatuan umat harus diutamakan,

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwasannya Rasulullah ﷺ bersabda: “Puasa (Ramadhan) itu adalah pada hari kalian semua berpuasa, Idul Fitri adalah pada hari kalian semua berbuka (berhari raya), dan Idul Adha adalah pada hari kalian semua menyembelih kurban.” (HR. At-Tirmidzi, ia mengatakan hadits ini Hasan Gharib)

Imam Abu Isa at-Tirmidzi berkata: “Maksud hadits ini, adalah agar puasa dan berbuka (ied) bersama jama’ah dan mayoritas manusia.” (Sunan Tirmidzi, no. 697)

5. Berniat puasa setiap malamnya.

Jumhur ulama menyatakan bahwa berniat setiap malam (sebelum terbit fajar) hukumnya wajib, berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ: “Barang siapa yang tidak berniat sebelum terbit fajar maka puasanya tidak sah.” (HR. Nasa’i).

Maksudnya adalah menetapkan niat untuk berpuasa di dalam hati pada malam hari. Tidak harus diucapkan secara lisan, cukup hati sudah sadar dan berniat bahwa esok hari akan berpuasa.

6. Maksimalkan qiyam ramadhan.

Shalat qiyam Ramadhan atau yang lebih dikenal dengan shalat tarawih hukumnya sunnah muakkadah. Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa shalat qiyam Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala dari Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang terdahulu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jika shalat ini dilaksanakan secara berjama’ah, maka lebih afdhal dan pahalanya lebih besar. Dari Abu Dzar radhiyallahu anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya barangsiapa yang shalat (malam) bersama imam hingga ia selesai, maka dituliskan baginya pahala shalat semalam suntuk.” (HR. Tirmidzi, hadits ini hasan shahih).

Rasulullah ﷺ juga pernah shalat qiyam bersama para sahabatnya, kemudian beliau tinggalkan saat melihat antusias sahabat dalam mengikutinya, karena beliau kahwatir shalat ini diwajibkan atas kaum muslimin. Beliau ﷺ bersabda: ” ‘Amma ba’du. Sesungguhnya aku bukannya tidak tahu keberadaan kalian (di masjid semalam), akan tetapi aku merasa khawatir jika shalat ini (shalat malam di bulan Ramadhan) diwajibkan atas kalian, lalu kalian tidak sanggup melaksanakannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hingga masa Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu anhu, beliau kembali menghidupkan sunnah baik yang pernah ditinggalkan tersebut, setelah Rasulullah ﷺ wafat dan wahyu terpustus.

7. Mengakhirkan makan sahur.

Rasulullah ﷺ biasanya mengakhirkan sahurnya hingga menjelang shalat fajar. Dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu anhu, ia berkata: “Kami pernah makan sahur bersama Nabi ﷺ, kemudian beliau bergegas bangkit untuk menunaikan shalat (Subuh). Aku (Anas bin Malik) bertanya kepada Zaid: Berapa lama jarak antara adzan (Subuh) dan makan sahur tersebut?” Zaid menjawab: “Kira-kira selama bacaan lima puluh ayat.” (HR. Bukhari)

8. Menyegerakan berbuka puasa.

Rasulullah ﷺ menganjurkan orang yang berpuasa agar segera berbuka begitu azan berkumandang. Dari Sahl bin Sa’d radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda: “Manusia senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka puasa.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kedua sunnah ini membawa kebaikan yang besar, utamanya adalah mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ.

Ketika berbuka puasa disunnahkan berdoa dengan doa yang ma’tsur, di antaranya, hadits Ibnu Umar radhiyallahu anhuma: Apabila Rasulullah ﷺ telah berbuka puasa, beliau mengucapkan:

«ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ»

“Telah hilang rasa haus, telah basah urat-urat (kerongkongan), dan telah tetap pahala, insya Allah.” (HR. Abu Dawud)

Disunnahkan juga memberi makanan berbuka untuk orang yang berpuasa. Rasulullah ﷺ bersabda: “Barangsiapa yang memberi hidangan berbuka bagi orang yang berpuasa, maka baginya pahala yang sama seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Tirmidzi, hadits shahih lighairihi).

9. Intensif tilawah Al-Qur’an.

Bulan Ramadhan dikenal dengan bulan Al-Qur’an, karena Al-Qur’an diturunkan seluruhnya ke langit dunia pada malam lailatul qadr. Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata: “Malaikat Jibril biasanya menyimak bacaan Al-Qur’an Nabi ﷺ sekali dalam setiap tahun. Namun, ia menyimak bacaan beliau dua kali pada tahun saat beliau wafat. Biasanya beliau beri’tikaf selama 10 hari dalam setiap tahun, namun beliau beri’tikaf selama 20 hari pada tahun saat beliau wafat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Rasulullah ﷺ mencontohkan pentingnya muraja’ah hafalan dan pemahaman Al-Qur’an bersama orang lain. Di bulan Ramadhan, kegiatan ini menjadi berkali-kali lipat lebih utama.

Menjelang akhir hayatnya, Rasulullah ﷺ justru semakin meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadahnya. Ini menjadi teladan bagi kita agar tidak mengendurkan semangat di akhir Ramadhan, melainkan justru semakin kencang dalam beribadah.

10. Kedermawanan tanpa batas.

Ibnu Abbas radhiallahu’anhuma berkata: “Rasulullah ﷺ adalah orang yang paling dermawan. Dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan saat beliau bertemu Jibril. Jibril menemuinya setiap malam untuk mengajarkan Al Qur’an. Dan kedermawanan Rasulullah ﷺ melebihi angin yang berhembus.” (HR. Bukhari)

Perumpamaan ini menunjukkan betapa sedekah beliau cepat diberikan, tidak pilih-pilih, dan menyentuh siapa saja yang membutuhkan, persis seperti angin yang menyentuh apa pun yang dilewatinya. Kedermawanan itu juga membawa manfaat besar bagi penerimanya.

11. Jihad tetap jalan.

Meski kondisi berpuasa biasanya menyebabkan tubuh lemah, tetapi bukan berarti bulan puasa adalah bulan istirahat atau bermalas-malasan. Nabi ﷺ tidak meninggalkan jihad di bulan Ramadhan. Bahkan perang-perang besar dipimpin langsung oleh beliau, seperti Perang Badar yang merupakan awal kebangkitan Islam dan Fathu Makkah yang merupakan puncak kejayaan Islam di masa beliau ﷺ, hingga Ramadhan disebut sebagai bulan jihad. Dalam sejarah Islam, banyak kemenangan besar dalam peperangan di raih di bulan suci ini.

Kendati demikian, seorang mujahid yang mengadakan safar untuk jihad, diberi pilihan antara tetap berpuasa jika ia mampu, atau berbuka dan mengqadanya di hari lain.

12. I’tikaf di sepuluh akhir Ramadhan.

I’tikaf merupakan puncak dari segala ibadah di bulan Ramadhan. Rasulullah konsisten beri’tikaf semasa beliau hidup. Ibnu Umar dan Aisyah radhiyallahu anhuma meriwayatkan: “Bahwa Nabi ﷺ terus melakukan itikaf di sepuluh malam terakhir hingga beliau wafat, kemudian kebiasaan ini diteruskan oleh istri-istri beliau.” (HR. Bukhari & Muslim).

Selama beri’tikaf, beliau ﷺ benar-benar menghidupkan ruh itikaf, yaitu menyendiri bersama Allah Ta’ala. Beliau menjaga kebersihan diri, menerima kunjungan istrinya, tidak keluar masjid kecuali untuk buang hajat, tidak mengunjungi orang sakit, tidak pula melayat jenazah. Intinya, beliau meninggalkan aktifitas duniawi untuk fokus taqarrub kepada Allah dengan memaksimalkan berbagai macam ibadah, sampai Ramadhan berakhir.

13. Menghidupkan malam sepuluh akhir Ramadhan.

Selama i’tikaf, tepatnya di sepuluh malam terakhir, Rasulullah ﷺ lebih giat lagi menghidupkan sebagian besar waktu malamnya dengan ibadah, utamanya qiyamullalil.

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: “Apabila telah masuk sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan), Rasulullah ﷺ mengencangkan ikat pinggangnya, menghidupkan malamnya (dengan ibadah), dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Beliau juga menjelaskan, bahwa Rasulullah ﷺ biasanya shalat lail 11 rakaat, baik di bulan Ramadhan, maupun di bulan lainnya. Abu Salamah bin Abdurrahman bertanya kepada Ummul Mukinin Aisyah radhiyallahu ‘anha: “Bagaimanakah shalat Rasulullah ﷺ di bulan Ramadhan?” Aisyah menjawab: “Rasulullah ﷺ tidak pernah menambah (jumlah rakaat shalat malam), baik di dalam bulan Ramadhan maupun di luarnya, lebih dari sebelas rakaat.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Tujuan utama dari i’tikaf dan menghidupkan sepuluh malam terakhir adalah untuk menggapai lailatul qadr, dimana pahala ibadah di malam ini lebih mulia dari seribu bulan. Kesempatan emas yang sangat berharga ini, tidak pantas seorang muslim menyia-nyiakannya dan membiarkannya berlalu begitu saja.

Demikianlah tuntunan Rasulullah ﷺ dalam menyambut dan mengisi bulan suci yang penuh berkah ini, marilah kita meneladani beliau sehingga kita dapat meraih semua keutamaan yang dijanjikan; rahmat, ampunan, fadilah malam lailatul qadr dan pahala berlipat ganda. Wallahu A’lam

Abu Mutsanna, Lc., M.A., Ph.D.

Doktor Bidang Fiqih dan Ushul, King Saud University, Riyadh, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button