Tatsqif

Al-Masfalah: Kawasan Bersejarah yang Pernah Dihuni Kabilah Arab dan Hamzah bin Abdul Malik

Al-Masfalah: Kawasan Bersejarah yang Pernah Dihuni Kabilah Arab dan Hamzah bin Abdul Malik

Sekitar Masjidil Haram Makkah: Nama-Nama Kawasan dan Arah Lokasinya

Kenali kawasan-kawasan terkenal dan jalan-jalan di sekitar Masjidil Haram beserta arah lokasinya.

Ajyad (أجياد)

Di sebelah selatan Masjidil Haram.

Salah satu kawasan yang paling dekat dengan Masjidil Haram. Banyak terdapat hotel-hotel terkenal dan akses langsung menuju Masjidil Haram.

Ajyad As-Sud (أجياد السد)

Selatan – Tenggara Masjidil Haram.

Dekat dengan Terowongan Ajyad dan pintu-pintu masuk Masjidil Haram bagian selatan.

Jalan Ibrahim Al-Khalil (شارع إبراهيم الخليل)

Di sebelah barat Masjidil Haram.

Merupakan salah satu jalan terpanjang dan terpenting di Makkah.

Jalan ini membentang sejajar dengan Masjidil Haram dan melayani banyak kawasan.

Menghubungkan:
Jarwal, Jabal Umar, Asy-Syubaikah, Al-Masfalah

Di sepanjang jalan ini terdapat banyak hotel, pusat perbelanjaan, dan merupakan jalur utama bagi pejalan kaki menuju Masjidil Haram.

Jalan Ghazzah (شارع غزة)

Di sebelah utara Masjidil Haram.

Merupakan jalan bersejarah yang mengarah ke pintu-pintu masuk Masjidil Haram bagian utara.

Jarwal (جرول)

Barat Laut Masjidil Haram.

Kawasan yang relatif dekat dengan Masjidil Haram dan dilalui Jalan Ibrahim Al-Khalil.

At-Taysir (التيسير)

Utara – Timur Laut Masjidil Haram.

Merupakan salah satu kawasan modern yang dilayani jalan-jalan lebar dan terowongan langsung menuju Masjidil Haram.

Al-Jumayzah (الجمّيزة)

Di sebelah utara Masjidil Haram.

Dekat dengan area perluasan Masjidil Haram bagian utara dan memiliki banyak hotel.

Kawasan lain yang berdekatan:

Asy-Syubaikah (الشبيكة): di sebelah barat Masjidil Haram.

Al-Hindawiyyah (الهنداوية): di sebelah timur laut Masjidil Haram.

Asy-Syamiyyah (الشامية): di sebelah utara Masjidil Haram.

Pada masa lampau, Kota Makkah terbagi menjadi dua wilayah utama, yaitu Al-Ma‘lāh (المعلاة) dan Al-Masfalah (المسفلة).

Wilayah bagian atas kota, yang dimulai dari sisi utara Masjidil Haram, disebut Al-Ma‘lāh, sedangkan wilayah yang dimulai dari Rukun Yamani Ka’bah, ke arah selatan antara Tower Jam dan jalan Ibrahim Al Khalil sampai Kuday disebut Al-Masfalah. Meskipun kini telah terjadi banyak perubahan tata kota, penduduk Makkah hingga sekarang masih mengenal kawasan tersebut dengan nama Al-Masfalah.

Sejarawan Syekh Rājih bin Ali Al-Kuraimī Al-‘Abdalī menjelaskan bahwa bangsa Arab sejak dahulu mengenal Makkah dengan pembagian menjadi dua bagian: Al-Ma‘lāh dan Al-Masfalah.

Menurut beliau, Al-Ma‘lāh dimulai dari kawasan Shafa dan mencakup sebagian area Ka’bah. Adapun Rukun Yamani termasuk wilayah Al-Masfalah. Garis pembatasnya membentang dari Shafa hingga sejajar dengan sisi selatan Ka’bah, kemudian menuju Jabal Ahmar (Gunung Merah)—lokasi bekas Hotel Makkah sebelum perluasan pelataran utara Masjidil Haram pada masa Raja Abdullah bin Abdul Aziz. Selanjutnya batas itu meliputi sebagian wilayah Qaiqi’an, Kudai, kawasan yang kini dikenal sebagai Al-Aziziyah, hingga Jamrah Aqabah.

Semua daerah yang berada di bawah garis tersebut termasuk Al-Masfalah, sedangkan yang berada di atasnya termasuk Al-Ma‘lāh.

Beliau juga menambahkan bahwa kawasan yang sekarang dikenal sebagai Jarwal, Jalan Al-Mansur, Wadi Tuwa, serta sebagian daerah At-Taisir hingga sekitar Masjidil Haram, dahulu termasuk wilayah Al-Masfalah.

Al-Masfalah adalah salah satu kampung bersejarah di Kota Makkah. Nama Al-Masfalah diberikan karena letaknya yang lebih rendah secara geografis dibandingkan Masjidil Haram. Semua wilayah yang berada di sebelah selatan dan lebih rendah dari Masjidil Haram oleh penduduk Makkah disebut Al-Masfalah, sedangkan wilayah yang berada di sebelah utara dan timur laut serta lebih tinggi dari Masjidil Haram disebut Al-Ma‘lāh (المعلاة).

Sejarawan Al-Azraqi dalam kitab Tārīkh Makkah menjelaskan:
“من الصفا إلى أجيادين فيما أسفل منه، فذلك كله من المسفلة، وما حازت دار الأرقم بن أبي الأرقم والزقاق الذي على الصفا يصعد منه إلى جبل أبي قبيس مصعدا فى الوادى، ومصعدا إلى قيقعان، وما حازت سيل قيقعان إلى سويقة مصعدا فذلك المعلاة”.
> “Wilayah dari Shafa hingga Ajyadain pada bagian yang menurun termasuk Al-Masfalah. Adapun wilayah yang mencakup rumah Al-Arqam bin Abi Al-Arqam, gang di Bukit Shafa yang menanjak menuju Gunung Abu Qubais, jalan yang menanjak di lembah, jalan menuju Qiqi‘ān, serta daerah yang dilalui aliran lembah Qiqi‘ān hingga Suwaiqah pada bagian yang menanjak, semuanya termasuk Al-Ma‘lāh.”

Batas-batas Al-Masfalah zaman dahulu adalah sebagai berikut:

Dari bagian tengah: dimulai dari gang pertama Al-Bukhariyyah di sisi tenggara yang berhadapan dengan Al-Hamidiyyah, serta rumah pertama keluarga Al-Manshuri dari arah timur.

Dari arah barat laut: berbatasan dengan Pasar Ash-Shaghir (Sūq Ash-Shaghīr).

Dari arah selatan: berbatasan dengan Gunung Asy-Syarasyif, membentang hingga Gunung Abu Thabanjah, tempat dahulu terdapat pabrik (Babur) Al-Ka‘ki.

Di antara kampung dan kawasan bersejarah yang termasuk wilayah Al-Masfalah ialah:

Dahlat Ar-Rashd (دحلة الرشد)

Al-Wilayah (الولاية)

Abu Thabanjah (أبو طبنجة)

Al-Kankariyyah (الكنكارية)

Al-Kadwah (الكدوة)

Qauz An-Nakāsah (قوز النكاسة)

Al-Ka‘kiyyah (الكعكية)

Sejak dahulu, Al-Masfalah dikenal sebagai kawasan yang dihuni oleh masyarakat dari berbagai suku dan etnis, sehingga menjadi salah satu wilayah Makkah yang memiliki keragaman penduduk yang tinggi.

Asal Penamaan

Kitab-kitab sejarah menyebutkan beberapa pendapat mengenai asal nama Al-Masfalah.

Pendapat pertama menyatakan bahwa nama tersebut berkaitan dengan Abdurrahman bin Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhuma, yang pernah tinggal di kawasan itu pada masa Islam dan wafat ketika sedang tidur di sana. Karena peristiwa tersebut, tempat itu kemudian dikenal dengan nama Daff ar-Rāqid (دف الراقد).

Pendapat lain menyebutkan bahwa kawasan itu dinamakan Al-Masfalah karena letaknya memang berada di bagian bawah Kota Makkah. Pada masa jahiliah, daerah ini dihuni oleh Kabilah Qathurah (قطورة).

Penduduk Al-Masfalah

Syekh Rājih Al-‘Abdalī menjelaskan bahwa kawasan Asy-Syubaikah dan Al-Hajlah merupakan bagian dari Al-Masfalah. Di Asy-Syubaikah dahulu tinggal Bani ‘Adi, yaitu kabilah Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Umar dilahirkan di lereng Jabal Al-Ghāfid, nama gunung pada masa jahiliah yang sekarang dikenal sebagai Jabal Umar.

Di antara penduduk terkenal Al-Masfalah pada masa jahiliah sebelum Islam adalah:

Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu

Bani ‘Adi

Bani Taim

Pada masa Islam, kawasan ini juga dihuni oleh:

Kabilah Khuza’ah

Kabilah Hudzail

Bani Hasyim

Pada abad ke-7 Hijriah, Raja Takrur dari Afrika datang dan menetap di kawasan ini. Keturunannya yang dikenal sebagai At-Takarinah termasuk komunitas tertua di Makkah. Hingga kini, banyak di antara mereka tinggal di Al-Masfalah dan Jalan Al-Mansur. Mereka memiliki peran besar dalam pembentukan kehidupan sosial masyarakat Makkah.

Mereka berasal dari wilayah yang kini menjadi Nigeria dan Ghana, yang pada masa itu masih berada dalam Kekaisaran Songhai, pada zaman Imam As-Suyuthi. Setelah itu datang pula sejumlah kecil pendatang dari Benggala dan Mesir.

Jejak Sejarah yang Masih Bertahan

Berbagai referensi sejarah menyebutkan banyak situs dan peninggalan bersejarah di Al-Masfalah yang masih dikenal hingga sekarang, meskipun Makkah telah mengalami perkembangan pesat selama berabad-abad.

Kawasan ini masih mempertahankan sebagian karakter khasnya berupa gang-gang dan jalan-jalan tua, di antaranya Jalan Ibrahim Al-Khalil, yang merupakan jalur Lembah Ibrahim. Menurut riwayat, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam pernah melewati jalan tersebut sehingga lembah itu dinamai Wadi Ibrahim sekitar 4.200 tahun yang lalu. Di kawasan ini juga terdapat beberapa tempat yang pernah dilalui Rasulullah ﷺ.

Hamzah bin Abdul Malik dan Peninggalan Lainnya

Di antara tokoh yang pernah tinggal di Al-Masfalah adalah Hamzah bin Abdul Malik, yang disebut sebagai satu-satunya anggota Bani Hasyim yang pernah bermukim di kawasan tersebut. Setelah itu, Bani Hasyim kemudian menetap di daerah yang dikenal sebagai Dahlat Ar-Rasyad.

Daerah Al-Ka’kiyyah, yang termasuk wilayah Al-Masfalah, dahulu dikenal dengan nama Al-Maghash.

Di Al-Masfalah juga terdapat kebun Muawiyah bin Abu Sufyan radhiyallahu ‘anhuma, yang mendapatkan pasokan air dari kolam Majil (ماجل). Kolam tersebut masih ada hingga masa yang tidak terlalu lama. Kata Majil berarti genangan atau tampungan air. Kebun Muawiyah dahulu membentang dari pertengahan Kolam Majil hingga pertengahan Taman Al-Masfalah yang ada sekarang.

Kolam Majil dan Hari-Hari Rabu di Kebun-Kebun Al-Masfalah

Kategori: Tempat dan Penamaan di Makkah

Mulai dari sebelah selatan Masjidil Haram, membentang kawasan dataran rendah Makkah yang dahulu dikenal sebagai Misyāl Al-Harsānī, hingga melewati bangunan Mansyiyyah Al-Masfalah, sebuah bangunan yang terkenal sebagai pusat kegiatan ekonomi sekaligus memiliki nilai sosial yang tinggi.

Sekitar kurang dari seratus meter dari sana terdapat pintu masuk Kampung Abu Thabanjah di sebelah kiri menuju arah timur. Setelah itu terdapat Babur Al-Ka‘ki beserta masjidnya, kemudian Kolam Majil Besar disusul Kolam Majil Kecil. Berikutnya terdapat pintu masuk Kampung Al-Kidwah, lalu Kedai Kopi Hasan Bahaj, kemudian Kedai Kopi Shalih Abdul Hay dengan fasad baratnya yang indah serta suasana paginya yang teduh dan sejuk. Setelah itu terdapat Kampung dan Kedai Kopi Al-Khunkār (atau Al-Kunkār), diikuti lorong-lorong berkelok menuju bagian dalam perkampungan yang dipenuhi rumah-rumah, lembah-lembah kecil, serta puncak-puncak gunung di arah timur dan selatan.

Di sebelah barat daya, sepanjang Jalan Al-Hajlah, berdiri Sekolah Dasar An-Nashiriyyah, yang didirikan pada tahun 1373 H. Awalnya sekolah ini berada di daerah Al-Misyāl Al-Khalfī, di rumah keluarga Al-Asymuni. Kemudian berpindah ke dekat toko kelontong Panda, lalu ke belakang Kedai Kopi Shalih Abdul Hay, kemudian ke rumah Sayyid Muhsin ‘Anqawi di belakang gedung Muhammad Ali Farisi. Setelah itu pindah ke bangunan wakaf di kawasan Mansyiyyah sebelah timur Jalan Ibrahim Al-Khalil, kemudian ke gedung Ad-Du’aijani di samping Hotel Palestina, hingga akhirnya berada sebelum tanjakan Kudai di samping Sekolah Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Jika kembali ke arah barat daya setelah Gedung Farisi, di sisi kanan jalan menuju bawah terdapat Pasar Al-Barnu, lalu pintu masuk Dahlah Ar-Rasyad, kemudian Kedai Kopi Hanasy Az-Zahrani yang sejajar dengan Mansyiyyah Al-Masfalah di sebelah timur.

Ke arah barat terdapat Kuttab Syekh Malim Abdullah, tempat anak-anak kampung belajar membaca dan menulis Al-Qur’an. Di tempat itulah dahulu lahir banyak cita-cita anak-anak, namun sejarah kemudian menguburkannya di tempat yang sama.

Selanjutnya terdapat rumah-rumah keluarga Al-Kabli, Kedai Kopi Hasan Mathar, rumah-rumah keluarga Farisi, lalu Kedai Kopi Hasan Bajrad, semuanya berada di sisi kanan jalan menuju Al-Ka’kiyyah dan Asy-Syawqiyyah di bagian selatan.

Di antara seluruh bangunan dan tempat bersejarah tersebut terbentang kebun-kebun, ladang, dan taman yang hijau serta indah. Kebun-kebun itu dikelilingi bangunan, penginapan, pasar, dan jalan-jalan terbuka dari segala arah sehingga penduduk sekitar dapat melewatinya hampir setiap hari untuk beristirahat, menghirup udara segar, dan menikmati kesejukannya.

Hari Rabu di Kebun-Kebun Kolam Majil

Hingga sekitar satu abad yang lalu, pada Rabu terakhir bulan Safar, menjelang datangnya bulan Rabi’ul Awal, masyarakat Makkah dari berbagai kampung datang ke Kolam Majil dan kebun-kebun hijau di sekitarnya.

Yang hadir bukan hanya masyarakat biasa, tetapi juga para sastrawan, penyair, kepala kampung, tokoh masyarakat, para pemuda, hingga orang-orang yang gemar berkumpul di kampung. Mereka datang untuk berekreasi, berbincang, berjalan-jalan menikmati pemandangan, serta berlomba-lomba menyusuri hamparan kebun dengan penuh kegembiraan.

Kolam Majil

Kolam Majil di Al-Masfalah menjadi asal penamaan Jalan Al-Barakah.

Kolam ini berbentuk persegi dengan ukuran sekitar 50 × 50 meter. Kedalamannya sangat menakutkan bagi para perenang. Di sampingnya terdapat kolam kecil yang lebih aman digunakan untuk berenang.

Air bah yang mengalir deras dari dataran tinggi Makkah di sebelah utara, serta dari lereng-lereng gunung di sebelah timur, semuanya bermuara ke kolam besar tersebut. Dari sana air dialirkan melalui saluran-saluran bercabang yang mengairi kebun-kebun dan lahan pertanian luas yang membentang di tanah subur kawasan itu.

Di tengah kebun terdapat sebuah kolam kecil yang dijaga oleh Abu Tharbusy, Al-Haithali, serta Hizam, ayah dari Manshur, Sultan, Nashir, dan Salim.

Pada pagi hari mereka keluar berkelompok untuk berjalan-jalan dan beristirahat di antara pepohonan tamariska, pohon-pohon akasia, rerumputan hijau, sambil menikmati suara burung tekukur, kicauan burung, aliran air, rintik hujan, dan embun pagi.

Kehidupan di Sekitar Kolam

Salah satu pemandangan yang paling menarik adalah suara keras Babur Al-Ka’ki, yaitu pabrik pembuat balok-balok es.

Banyak orang sengaja menikmati gemuruh mesin tersebut. Dentingan pelat-pelat besi dan benturan balok-balok es yang putih dan dingin justru menjadi bagian dari kenangan indah mereka.

Hamparan hijau pada masa itu bukan sekadar lambang keindahan, tetapi menjadi sumber kehidupan dan tempat melepas lelah setelah bekerja keras mencari nafkah di bawah teriknya matahari. Kelelahan berubah menjadi tawa, canda, dan cerita-cerita lucu.

Aliran air, pepohonan rindang, dan taman-taman itu menjadi tempat bermain, tempat beristirahat, sekaligus tempat menyegarkan jiwa. Pertemuan-pertemuan mereka berlangsung secara spontan, penuh adab, persahabatan, dan akhlak mulia.

Mereka duduk santai di tempat-tempat yang teduh, menikmati luasnya hamparan kebun yang memikat, seolah alam mengundang mereka untuk berlama-lama di sana.

Kenangan yang Tak Terlupakan

Mereka saling bertemu tanpa perlu membuat janji. Di tepian kolam mereka meninggalkan kenangan-kenangan indah.

Sering kali mereka membeli balok es dari Babur Al-Ka’ki seharga dua riyal, lalu tanpa sengaja balok es itu jatuh ke dalam kolam hingga mencair. Uang mereka memang hilang, tetapi hal itu justru menjadi bahan tertawaan bersama, tanpa penyesalan.

Jika ada teman yang tidak hadir, yang lain akan mengingatnya dengan penuh kasih sayang, bahkan sedikit mencelanya karena tidak ikut menikmati kebersamaan tersebut.

Alam yang Menyegarkan Jiwa

Kebun-kebun itu dipenuhi aroma tanah yang basah dan percikan air yang menyegarkan. Bukan hanya manusia yang menikmati suasana itu, bahkan hewan-hewan ternak mereka pun merumput dengan tenang di padang-padang hijau tersebut.

Pada malam hari, di bawah cahaya bulan, suasananya berubah menjadi lebih indah dan menenangkan.

Pemilihan hari Rabu sebagai hari berkumpul diyakini bertepatan dengan datangnya musim semi, musim yang melambangkan mekarnya alam sekaligus kegembiraan hati.

Sejak Zaman Abbasiyah

Kebun-kebun dan Kolam Majil telah berkembang sejak masa Khalifah Al-Ma’mun dari Dinasti Abbasiyah. Para amir dan keluarga syarif memperluas serta memakmurkannya dengan berbagai tanaman buah, sayuran, dan padang rumput selama berabad-abad.

Keindahan tempat itu mengingatkan penulis kepada syair penyair Umawiyah Ash-Shimmah Al-Qusyairi, yang mengenang tanah kelahirannya dengan penuh kerinduan:

> بِرُوحِي تِلْكَ الْأَرْضُ مَا أَطْيَبَ الرُّبَى
وَمَا أَحْسَنَ الْمُصْطَافَ وَالْمُتَرَبَّعَا

Demi jiwaku, alangkah harum dan indah dataran itu; betapa elok tempat beristirahat dan bermukim di sana.

> وَأَذْكُرُ أَيَّامَ الْحِمَى ثُمَّ أَنْثَنِي
عَلَى كَبِدِي مِنْ خَشْيَةٍ أَنْ تَصَدَّعَا

Aku mengenang hari-hari di tanah tercinta, lalu kurangkul hatiku karena takut ia pecah oleh kerinduan.

> وَلَيْسَتْ عَشِيَّاتُ الْحِمَى بِرَاجِعٍ
إِلَيْكَ وَلَكِنْ خَلِّ عَيْنَيْكَ تَدْمَعَا

Senja-senja di tanah itu tak akan kembali kepadamu, namun biarkan kedua matamu meneteskan air mata.

> كَأَنَّا خُلِقْنَا لِلنَّوَى وَكَأَنَّمَا
حَرَامٌ عَلَى الْأَيَّامِ أَنْ نَتَجَمَّعَا

Seakan-akan kita diciptakan untuk berpisah, dan seolah-olah zaman mengharamkan kita untuk kembali berkumpul.

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button