Khutbah Jumat: Puasa Enam Hari di Bulan Syawal: Keutamaan dan Hukum

Puasa Download Pdfnya Klik
Puasa Enam Hari di Bulan Syawal: Keutamaan dan Hukumnya
Khutbah pertama:
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ مُحَمَّدٍ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنْ خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِينَ، أَبِي بَكْرٍ، وَعُمَرَ، وَعُثْمَانَ، وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِينَ..
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ﴾
﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا﴾
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا﴾
أما بعد:
فَإِنَّ أَصْدَقَ ٱلْحَدِيثِ كِتَابُ ٱللَّهِ، وَأَحْسَنَ ٱلْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى ٱللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ ٱلْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي ٱلنَّارِ.
Ma‘āsyiral muslimīn raḥimakumullāh.
Wahai kaum muslimin, di antara karunia Allah adalah dijadikannya musim-musim ketaatan, di antaranya puasa enam hari di bulan Syawal.
Nabi ﷺ bersabda:
«مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ».
“Barangsiapa berpuasa Ramadan lalu mengikutinya dengan enam hari di bulan Syawal, maka seperti puasa sepanjang tahun.”[1]
Puasa ini adalah sunnah yang dianjurkan, memiliki keutamaan besar, dan menjadi penyempurna kekurangan puasa Ramadan.
Boleh dilakukan berturut-turut ataupun terpisah, dan semuanya diperbolehkan. Namun yang lebih utama adalah segera melaksanakannya setelah Idul Fitri.
Ma‘āsyiral muslimīn raḥimakumullāh.
Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla mensyariatkan ibadah dan ketaatan untuk menyucikan jiwa dan membersihkannya. Semakin seorang mukmin bertambah dalam ketaatan, maka ia akan semakin baik dan semakin dekat kepada Allah. Sebaliknya, semakin ia banyak melakukan maksiat, maka hatinya akan semakin keras.
Musim-musim ketaatan dan ibadah datang silih berganti. Ketika Ramadan berakhir, datanglah bulan Syawal, yang juga merupakan bulan yang penuh berkah dan bulan ketaatan. Ia adalah awal dari bulan-bulan haji, dan di dalamnya terdapat puasa enam hari. Oleh karena itu, seorang muslim dianjurkan untuk berpuasa enam hari di bulan ini, karena pentingnya puasa ini yang ditetapkan dengan hadis-hadis shahih. Maka disyariatkan bagi seorang muslim untuk berpuasa enam hari di bulan Syawal setelah Ramadan.
Setiap muslim mengetahui bahwa puasa termasuk ibadah yang membersihkan hati dari kotorannya, menyucikan jiwa dari keburukan, dan menyembuhkannya dari penyakit-penyakitnya. Oleh karena itu, Allah mewajibkan puasa Ramadan agar hati menjadi bersih dan jiwa menjadi suci. Setelah puasa Ramadan selesai, Nabi ﷺ menganjurkan umatnya untuk berpuasa enam hari di bulan Syawal, karena pentingnya dan keutamaannya sebagai tambahan setelah puasa Ramadan.
Ma‘āsyiral muslimīn raḥimakumullāh.
Puasa enam hari di bulan Syawal setelah Ramadan adalah kesempatan berharga yang dimanfaatkan oleh seorang mukmin. Di sana, seorang yang berpuasa berdiri di ambang ketaatan berikutnya setelah selesai dari puasa Ramadan. Nabi ﷺ telah mendorong umatnya untuk berpuasa enam hari ini dengan metode yang memotivasi dan membuat mereka tertarik untuk melaksanakannya. Beliau bersabda:
«مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ».
“Barangsiapa berpuasa Ramadan kemudian mengikutinya dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa sepanjang tahun.”
Puasa enam hari di bulan Syawal merupakan tanda syukur seorang hamba kepada Rabb-nya atas taufik dalam menjalankan puasa Ramadan, sekaligus sebagai tambahan kebaikan. Ia juga menjadi bukti kecintaan seorang hamba terhadap ketaatan kepada Allah dan keinginannya untuk terus melanjutkan jalan amal saleh.
Ma‘āsyiral muslimīn raḥimakumullāh.
Puasa enam hari di bulan Syawal dan (puasa) di bulan Sya‘ban ibarat shalat sunnah rawatib sebelum dan sesudah shalat wajib. Dengan itu, kekurangan dan cacat yang terjadi pada ibadah wajib dapat disempurnakan. Sesungguhnya amalan wajib akan disempurnakan dengan amalan sunnah pada hari kiamat. Kebanyakan manusia dalam puasa wajibnya memiliki kekurangan dan cacat, sehingga membutuhkan amalan yang dapat menutupinya. Oleh karena itu, puasa enam hari di bulan Syawal dapat menutupi kekurangan yang terjadi pada puasa Ramadan, sebagaimana disebutkan dalam hadis Nabi ﷺ:
«إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ، فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ، فَإِنِ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيضَتِهِ شَيْءٌ، قَالَ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ: انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ فَيُكَمَّلَ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنَ الفَرِيضَةِ، ثُمَّ يَكُونُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذَلِكَ»
“Sesungguhnya yang pertama kali dihisab dari amalan seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya. Jika shalatnya baik, maka ia beruntung dan sukses. Jika rusak, maka ia merugi dan gagal. Jika ada kekurangan pada shalat wajibnya, Allah berfirman: ‘Lihatlah apakah hamba-Ku memiliki amalan sunnah, sehingga dapat disempurnakan dengannya kekurangan pada amalan wajibnya.’ Kemudian seluruh amalannya akan diperlakukan demikian.”[2]
Mengulangi puasa setelah puasa Ramadan merupakan tanda diterimanya puasa Ramadan. Sesungguhnya jika Allah menerima amalan seorang hamba, Dia akan memberinya taufik untuk melakukan amalan saleh setelahnya.
Sebagian ulama berkata: Balasan dari kebaikan adalah kebaikan setelahnya. Barangsiapa melakukan suatu kebaikan lalu mengikutinya dengan kebaikan lain, maka itu adalah tanda diterimanya kebaikan yang pertama. Sebaliknya, jika seseorang melakukan kebaikan lalu mengikutinya dengan keburukan, maka itu adalah tanda ditolaknya kebaikan tersebut.
Puasa Ramadan menyebabkan diampuninya dosa-dosa yang telah lalu, dan orang-orang yang berpuasa Ramadan akan disempurnakan pahala mereka pada hari Idul Fitri, yaitu hari pemberian ganjaran. Maka kembali berpuasa setelah Idul Fitri merupakan bentuk syukur atas nikmat tersebut. Tidak ada nikmat yang lebih besar daripada ampunan dosa.
Dahulu Nabi ﷺ berdiri (shalat malam) hingga kedua kakinya bengkak. Ketika ditanya: “Mengapa engkau melakukan ini, padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang?” Beliau menjawab:
«أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا»
“Tidakkah aku ingin menjadi hamba yang bersyukur?”[3]
Bersyukur atas Nikmat Puasa Ramadan
Ma‘āsyiral muslimīn raḥimakumullāh.
Allah Azza wa Jalla memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk mensyukuri nikmat puasa Ramadan dengan memperbanyak dzikir kepada-Nya dan berbagai bentuk syukur lainnya. Allah berfirman:
﴿وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ﴾
“Dan hendaklah kalian menyempurnakan bilangannya (Ramadan), serta mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepada kalian, agar kalian bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185)
Puasa enam hari di bulan Syawal termasuk bagian dari amal saleh setelah puasa Ramadan dan bentuk pertolongan (taufik) dari Allah untuk melaksanakannya.
Amalan-amalan yang dahulu seorang hamba mendekatkan diri kepada Rabb-nya di bulan Ramadan tidaklah terputus dengan berakhirnya Ramadan, bahkan tetap berlanjut selama ia masih hidup.
Amalan Nabi ﷺ adalah kontinu dan konsisten. Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah ditanya:
«كَيْفَ كَانَ عَمَلُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، هَلْ كَانَ يَخُصُّ شَيْئًا مِنَ الأَيَّامِ؟» قَالَتْ: «لَا، كَانَ عَمَلُهُ دِيمَةً»
“Bagaimana amalan Nabi ﷺ, apakah beliau mengkhususkan hari-hari tertentu?”
Ia menjawab: “Tidak, amalan beliau itu terus-menerus (konsisten).”[4]
أَقُولُ هَذَا الْقَوْلَ، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
Khutbah kedua:
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. أَمَّا بَعْدُ:
Ma‘āsyiral muslimīn raḥimakumullāh.
Wahai hamba-hamba Allah, bertakwalah kepada Allah. Ketahuilah bahwa di antara tanda diterimanya suatu amal adalah Allah memberikan taufik untuk melakukan amal kebaikan setelahnya.
Puasa enam hari Syawal adalah tanda diterimanya puasa Ramadan dan bukti bahwa seorang hamba terus berada dalam ketaatan.
Ma‘āsyiral muslimīn raḥimakumullāh.
Maka manfaatkanlah kesempatan ini, dan teruslah dalam kebaikan. Sesungguhnya amalan yang paling dicintai Allah adalah yang terus-menerus walaupun sedikit.
Puasa enam hari di bulan Syawal memiliki keutamaan dan kedudukan penting. Imam At-Tirmidzi menjelaskan hukum-hukumnya setelah menyebutkan hadis tentang keutamaannya:
«مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ فَذَاكَ صِيَامُ الدَّهْرِ»
“Barangsiapa berpuasa Ramadan kemudian mengikutinya dengan enam hari di bulan Syawal, maka itu seperti puasa sepanjang tahun.”
Imam At-Tirmidzi berkata:
«وَقَدِ اسْتَحَبَّ قَوْمٌ صِيَامَ سِتَّةِ أَيَّامٍ مِنْ شَوَّالٍ بِهٰذَا الحَدِيثِ».
“Sebagian ulama menganjurkan puasa enam hari di bulan Syawal berdasarkan hadis ini.”
Ibnu Al-Mubarak berkata:
«هُوَ حَسَنٌ، هُوَ مِثْلُ صِيَامِ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ»، وَاخْتَارَ ابْنُ المُبَارَكِ أَنْ تَكُونَ سِتَّةُ أَيَّامٍ فِي أَوَّلِ الشَّهْرِ، وَقَدْ رُوِيَ عَنْ ابْنِ المُبَارَكِ أَنَّهُ قَالَ: «إِنْ صَامَ سِتَّةَ أَيَّامٍ مِنْ شَوَّالٍ مُتَفَرِّقًا فَهُوَ جَائِزٌ».
“Itu baik, dan ia seperti puasa tiga hari setiap bulan.”
Beliau juga memilih agar enam hari tersebut dilakukan di awal bulan. Namun diriwayatkan pula darinya bahwa beliau berkata:
“Jika ia berpuasa enam hari di bulan Syawal secara terpisah (tidak berurutan), maka itu boleh.” Sunan At-Tirmidzi.
Imam At-Tirmidzi juga menyebutkan perkataan Imam Al-Hasan Al-Bashri tentang pentingnya puasa Ramadan:
«عَنِ الحَسَنِ البَصْرِيِّ قَالَ: كَانَ إِذَا ذُكِرَ عِنْدَهُ صِيَامُ سِتَّةِ أَيَّامٍ مِنْ شَوَّالٍ، يَقُولُ: وَاللَّهِ لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ بِصِيَامِ هٰذَا الشَّهْرِ عَنِ السَّنَةِ كُلِّهَا».
“Dari Al-Hasan Al-Bashri, bahwa apabila disebutkan di hadapannya puasa enam hari di bulan Syawal, ia berkata: ‘Demi Allah, sungguh Allah telah ridha dengan puasa bulan ini (Ramadan) untuk seluruh tahun.’” Sunan At-Tirmidzi.
Ma‘āsyiral muslimīn raḥimakumullāh.
Apakah Puasa Ini Harus Berturut-turut atau Boleh Terpisah?
Boleh berpuasa enam hari di bulan Syawal secara berturut-turut ataupun terpisah dalam bulan Syawal, sesuai dengan kemudahan masing-masing. Jika diakhirkan pun tidak mengapa, terutama bagi orang yang memiliki tamu atau berkumpul dengan keluarga saat Idul Fitri dan setelahnya. Dalam hal ini terdapat kelonggaran.
Demikian pula, boleh menggabungkan niat antara puasa enam hari Syawal dengan puasa ayyamul bidh (tanggal 13, 14, 15), atau puasa Senin-Kamis. Diharapkan ia mendapatkan dua pahala sekaligus, sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz dan Ibnu Utsaimin rahimahumallah.
Imam An-Nawawi menjelaskan tentang sabda Nabi ﷺ:
«مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ».
“Barangsiapa berpuasa Ramadan kemudian mengikutinya dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa sepanjang tahun.”
Hadis ini merupakan dalil yang jelas bagi mazhab Syafi‘i, Ahmad, Dawud, dan yang sependapat dengan mereka tentang dianjurkannya puasa enam hari ini.
Sedangkan Malik dan Abu Hanifah berpendapat makruh. Imam Malik berkata dalam Al-Muwaththa’:
“Aku tidak melihat seorang pun dari ahli ilmu yang melakukannya.”
Mereka beralasan: agar tidak disangka sebagai kewajiban.
Namun dalil Imam Syafi‘i dan yang sependapat dengannya adalah hadis shahih yang jelas ini. Jika suatu sunnah telah tetap, maka tidak boleh ditinggalkan hanya karena sebagian orang atau kebanyakan mereka tidak melakukannya.
Adapun alasan “dikhawatirkan dianggap wajib”, maka hal ini terbantahkan dengan puasa Arafah, Asyura, dan puasa sunnah lainnya.
Para ulama kami mengatakan: yang paling utama adalah dilakukan secara berturut-turut setelah hari Idul Fitri. Namun jika dipisah atau diakhirkan hingga akhir bulan Syawal, maka tetap mendapatkan keutamaan mengikuti Ramadan, karena tetap disebut “mengikutinya dengan enam hari di bulan Syawal”.
Para ulama juga menjelaskan bahwa puasa ini seperti puasa setahun karena satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh. Maka Ramadan setara sepuluh bulan, dan enam hari setara dua bulan.
Mulla ‘Ali Al-Qari menjelaskan makna hadis ini, mengutip penjelasan Ath-Thibi rahimahullah:
“Disebut seperti puasa sepanjang tahun secara hukum, karena satu kebaikan dibalas sepuluh kali lipat. Sebagaimana dijelaskan dalam riwayat An-Nasa’i dengan sanad hasan:
صِيَامُ شَهْرِ رَمَضَانَ بِعَشَرَةِ أَشْهُرٍ، وَصِيَامُ سِتَّةِ أَيَّامٍ بِشَهْرَيْنِ، فَذَٰلِكَ صِيَامُ السَّنَةِ.
‘Puasa Ramadan setara dengan sepuluh bulan, dan puasa enam hari setara dengan dua bulan, maka itulah puasa satu tahun.’”
Maka, telah diketahui dari hadis-hadis Nabi, atsar para salaf, dan pendapat para ulama terkait masalah puasa enam hari di bulan Syawal, bahwa keutamaannya adalah tetap (pasti), dan hukumnya sunnah yang dianjurkan berdasarkan dalil-dalil shahih yang ada.
Hal itu dilakukan setelah dipisahkan dari Ramadan dengan berbuka pada hari Idul Fitri.
Baik dilakukan secara berturut-turut maupun terpisah, semuanya diperbolehkan, dan keutamaan yang diharapkan tetap dapat diraih.
Marilah kita bershalwat kepada baginda Nabi kita Muuhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana Allah berfirman:
﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَقِيَامَنَا، وَوَفِّقْنَا لِصِيَامِ سِتٍّ مِنْ شَوَّالٍ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الشَّاكِرِينَ.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ قُلُوبَنَا، وَثَبِّتْنَا عَلَى دِينِكَ، وَارْزُقْنَا حُسْنَ الْخَاتِمَةِ.
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ.
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ، وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.
فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَىٰ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.
﴿ سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ * وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ * وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ﴾
+6285333345252
- Shahih Muslim: Bab anjuran (disunnahkannya) berpuasa enam hari di bulan Syawal sebagai kelanjutan setelah Ramadan, hadis no. 1164. ↑
- Sunan At-Tirmidzi: Bab tentang amalan pertama yang dihisab pada hari kiamat adalah shalat, hadis no. 413. ↑
- Shahih Al-Bukhari: Bab: “Agar Allah mengampuni dosamu yang telah lalu dan yang akan datang,” hadis no. 4836. ↑
-
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari. ↑



