Perkataan Ulama tentang Hari Raya

Perkataan Ulama Salaf tentang Hari Raya
Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada semulia-mulia para nabi dan rasul, Nabi kita Muhammad, beserta keluarga dan seluruh sahabat beliau. Amma ba‘du:
Setiap umat memiliki hari raya khusus mereka masing-masing. Kaum muslimin memiliki dua hari raya, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Di antara yang membedakan kaum muslimin dari selain mereka dalam merayakan hari raya adalah bahwa kaum muslimin merayakannya sebagai bentuk pendekatan diri dan ketaatan kepada Allah عز وجل. Adapun selain mereka, mereka merayakan hari raya yang dibangun di atas khurafat, mitos, syahwat, dan hawa nafsu. Mereka mendapatkan darinya kelezatan yang cepat berlalu, namun akibatnya adalah rasa sakit dan penyesalan di dunia dan akhirat.
Hari raya dinamakan demikian karena ia berulang setiap tahun. Ada juga yang mengatakan karena kembalinya kegembiraan dengan datangnya hari itu. Ada pula yang mengatakan karena banyaknya karunia Allah yang kembali kepada para hamba-Nya padanya.
Para salaf memiliki banyak perkataan tentang hari raya. Aku memilihkan sebagian darinya. Aku memohon kepada Allah Yang Mahamulia agar memberikan manfaat dengannya kepada semuanya.
Definisi Hari Raya
قال شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله:
العِيدُ اسْمٌ لِمَا يَعُودُ مِنَ الِاجْتِمَاعِ الْعَامِّ عَلَى وَجْهٍ مُعْتَادٍ عَائِدٍ، إِمَّا بِعَوْدِ السَّنَةِ، أَوْ بِعَوْدِ الْأُسْبُوعِ، أَوِ الشَّهْرِ، أَوْ نَحْوِ ذَلِكَ، فَالْعِيدُ يَجْمَعُ أُمُورًا: مِنْهَا: يَوْمٌ عَائِدٌ؛ كَيَوْمِ الْفِطْرِ، وَيَوْمِ الْجُمُعَةِ. وَمِنْهَا: اجْتِمَاعٌ فِيهِ، وَمِنْهَا: أَعْمَالٌ تَتْبَعُ ذَلِكَ مِنَ الْعِبَادَاتِ وَالْعَادَاتِ، وَقَدْ يَخْتَصُّ الْعِيدُ بِمَكَانٍ بِعَيْنِهِ، وَقَدْ يَكُونُ مُطْلَقًا، وَكُلٌّ مِنْ هَذِهِ الْأُمُورِ تُسَمَّى عِيدًا.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله berkata:
“‘Id adalah nama bagi sesuatu yang berulang berupa pertemuan umum dengan bentuk yang terbiasa dan berulang, baik dengan berulangnya tahun, atau pekan, atau bulan, atau semisal itu. Maka ‘id mencakup beberapa perkara: di antaranya hari yang berulang, seperti hari Idul Fitri dan hari Jumat. Di antaranya ada pertemuan padanya. Di antaranya lagi amalan-amalan yang mengikuti itu, baik berupa ibadah maupun kebiasaan. Kadang suatu ‘id terkait dengan tempat tertentu, dan kadang bersifat mutlak. Semua perkara ini disebut ‘id.”
وقال العلامة ابن القيم رحمه الله:
العِيدُ مَا يُعْتَادُ مَجِيئُهُ وَقَصْدُهُ مِنْ مَكَانٍ أَوْ زَمَانٍ.
Al-‘Allamah Ibnul Qayyim رحمه الله berkata:
“‘Id adalah sesuatu yang terbiasa didatangi dan dituju, baik berupa tempat maupun waktu.”
وقال الإمام البغوي رحمه الله:
العِيدُ يَوْمُ السُّرُورِ، وَسُمِّيَ بِهِ لِلْعَوْدِ مِنَ الْفَرَحِ إِلَى الْفَرَحِ.
Imam Al-Baghawi رحمه الله berkata:
“‘Id adalah hari kegembiraan, dan dinamakan demikian karena kembali dari kegembiraan kepada kegembiraan.”
قال الإمام الشوكاني رحمه الله:
قِيلَ لِيَوْمِ الْفِطْرِ وَالْأَضْحَى عِيدَانِ؛ لِأَنَّهُمَا يَعُودَانِ فِي كُلِّ سَنَةٍ.
Imam Asy-Syaukani رحمه الله berkata:
“Idul Fitri dan Idul Adha dinamakan dua hari raya karena keduanya kembali setiap tahun.”
Hari Raya yang Disyariatkan
قال العلامة محمد بن صالح العثيمين رحمه الله:
الْأَعْيَادُ الشَّرْعِيَّةُ ثَلَاثَةٌ: عِيدُ الْفِطْرِ، وَعِيدُ الْأَضْحَى، وَعِيدُ الْجُمُعَةِ، لَيْسَ هُنَاكَ عِيدٌ سِوَاهَا.
Al-‘Allamah Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin رحمه الله berkata:
“Hari raya yang syar‘i ada tiga: Idul Fitri, Idul Adha, dan hari Jumat. Tidak ada hari raya selain itu.”
قال العلامة صالح الفوزان:
قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ((قَدْ أَبْدَلَكُمُ اللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا: يَوْمَ النَّحْرِ، وَيَوْمَ الْفِطْرِ))، فَلَا يَجُوزُ الزِّيَادَةُ عَلَى هَذَيْنِ الْعِيدَيْنِ بِإِحْدَاثِ أَعْيَادٍ أُخْرَى.
Al-‘Allamah Shalih Al-Fauzan berkata:
Nabi ﷺ bersabda:
“Allah telah mengganti bagi kalian dengan dua hari yang lebih baik: hari Nahr dan hari Fitri.”
Karena itu, tidak boleh menambah di atas dua hari raya ini dengan membuat hari raya lain.
Setiap Hari yang Tidak Digunakan untuk Bermaksiat kepada Allah adalah Hari Raya
قال الحسن رحمه الله:
كُلُّ يَوْمٍ لَا يُعْصَى اللَّهُ فِيهِ فَهُوَ عِيدٌ، كُلُّ يَوْمٍ يَقْطَعُهُ الْمُؤْمِنُ فِي طَاعَةِ مَوْلَاهُ وَذِكْرِهِ وَشُكْرِهِ فَهُوَ لَهُ عِيدٌ.
Al-Hasan رحمه الله berkata:
“Setiap hari yang di dalamnya Allah tidak didurhakai, maka itu adalah hari raya. Setiap hari yang dilalui seorang mukmin dalam ketaatan kepada Rabbnya, dalam berzikir dan bersyukur kepada-Nya, maka itu adalah hari raya baginya.”
Hari Raya bagi Orang yang Diampuni Dosanya dan Bertambah Ketaatannya
قال الحافظ ابن رجب رحمه الله:
لَيْسَ الْعِيدُ لِمَنْ لَبِسَ الْجَدِيدَ، إِنَّمَا الْعِيدُ لِمَنْ طَاعَاتُهُ تَزِيدُ… لَيْسَ الْعِيدُ لِمَنْ تَجَمَّلَ بِاللِّبَاسِ وَالرُّكُوبِ، إِنَّمَا الْعِيدُ لِمَنْ غُفِرَتْ لَهُ الذُّنُوبُ.
Al-Hafizh Ibnu Rajab رحمه الله berkata:
“Bukanlah hari raya itu bagi orang yang memakai pakaian baru. Sesungguhnya hari raya adalah bagi orang yang ketaatannya bertambah. Bukanlah hari raya itu bagi orang yang berhias dengan pakaian dan kendaraan, tetapi hari raya itu bagi orang yang diampuni dosa-dosanya.”
Hari Raya Mengingatkan akan Karunia dan Kebaikan Allah kepada Hamba-Hamba-Nya
قال العلامة عبدالرحمن السعدي رحمه الله:
جَعَلَ اللَّهُ تَعَالَى أَعْيَادَ الْمُسْلِمِينَ وَمَنَاسِكَهُمْ مُذَكِّرَةً لِآيَاتِهِ، وَمُنَبِّهَةً عَلَى سُنَنِ الْمُرْسَلِينَ وَطُرُقِهِمُ الْقَوِيمَةِ، وَفَضْلِهِ وَإِحْسَانِهِ عَلَيْهِمْ.
Al-‘Allamah Abdurrahman As-Sa‘di رحمه الله berkata:
“Allah Ta‘ala menjadikan hari raya dan manasik kaum muslimin sebagai pengingat terhadap ayat-ayat-Nya, pengingat terhadap sunnah para rasul dan jalan mereka yang lurus, serta pengingat terhadap karunia dan kebaikan-Nya kepada mereka.”
Menampakkan Kegembiraan pada Hari Raya
قال الإمام الخطابي رحمه الله:
إِظْهَارُ السُّرُورِ فِي الْعِيدِ مِنْ شِعَارِ الدِّينِ.
Imam Al-Khaththabi رحمه الله berkata:
“Menampakkan kegembiraan pada hari raya termasuk syiar agama.”
قال الحافظ ابن حجر العسقلاني رحمه الله:
إِظْهَارُ السُّرُورِ فِي الْأَعْيَادِ مِنْ شِعَارِ الدِّينِ.
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani رحمه الله berkata:
“Menampakkan kegembiraan pada hari-hari raya termasuk syiar agama.”
قال الإمام الصنعاني رحمه الله:
إِظْهَارُ السُّرُورِ فِي الْعِيدِ مَنْدُوبٌ.
Imam Ash-Shan‘ani رحمه الله berkata:
“Menampakkan kegembiraan pada hari raya hukumnya dianjurkan.”
Hari Raya adalah Musim Gembira karena Selesainya Ketaatan kepada Allah
قال الحافظ ابن رجب رحمه الله:
الْعِيدُ هُوَ مَوْسِمُ الْفَرَحِ وَالسُّرُورِ، وَأَفْرَاحُ الْمُؤْمِنِينَ وَسُرُورُهُمْ فِي الدُّنْيَا إِنَّمَا هُوَ بِمَوْلَاهُمْ، إِذَا فَازُوا بِإِكْمَالِ طَاعَتِهِ، وَحَازُوا ثَوَابَ أَعْمَالِهِمْ بِوُثُوقِهِمْ بِوَعْدِهِ لَهُمْ عَلَيْهَا بِفَضْلِهِ وَمَغْفِرَتِهِ.
Al-Hafizh Ibnu Rajab رحمه الله berkata:
“Hari raya adalah musim kegembiraan dan kebahagiaan. Kegembiraan dan kebahagiaan orang-orang beriman di dunia sesungguhnya adalah dengan Rabb mereka, yaitu ketika mereka berhasil menyempurnakan ketaatan kepada-Nya dan memperoleh pahala amal-amal mereka, karena keyakinan mereka terhadap janji Allah kepada mereka berupa karunia dan ampunan-Nya.
كما قال تعالى:
﴿ قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ ﴾
Sebagaimana firman Allah Ta‘ala:
“Katakanlah: dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, maka dengan itu hendaklah mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.”
قال العلامة صالح الفوزان:
سُمِّيَ الْعِيدُ عِيدًا؛ لِأَنَّهُ يَعُودُ وَيَتَكَرَّرُ كُلَّ عَامٍ بِالْفَرَحِ وَالسُّرُورِ بِمَا يَسَّرَ اللَّهُ مِنْ عِبَادَةِ الصِّيَامِ وَالْحَجِّ اللَّذَيْنِ هُمَا رُكْنَانِ مِنْ أَرْكَانِ الْإِسْلَامِ.
Al-‘Allamah Shalih Al-Fauzan berkata:
“Disebut ‘id karena ia kembali dan berulang setiap tahun dengan kegembiraan dan kebahagiaan atas kemudahan yang Allah berikan dalam ibadah puasa dan haji, yang keduanya merupakan dua rukun di antara rukun-rukun Islam.”
Di antara Sunnah Dua Hari Raya
قالت أم الدرداء رضي الله عنها:
كُلْ قَبْلَ أَنْ تَغْدُوَ يَوْمَ الْفِطْرِ وَلَوْ تَمْرَةً.
Ummud Darda’ رضي الله عنها berkata:
“Makanlah sebelum engkau berangkat pada hari Idul Fitri, walaupun hanya sebutir kurma.”
عن نافع رحمه الله عن ابن عمر رضي الله عنهما:
أَنَّهُ كَانَ يَغْدُو يَوْمَ الْعِيدِ، وَيُكَبِّرُ، وَيَرْفَعُ صَوْتَهُ، حَتَّى يَدْخُلَ الْإِمَامُ.
Dari Nafi‘ رحمه الله, dari Ibnu Umar رضي الله عنهما:
“Bahwa beliau biasa berangkat pada hari raya, bertakbir, dan mengeraskan suaranya, hingga imam masuk.”
عن ابن المسيب، ونضرة رحمهما الله قالوا:
الْغُسْلُ فِي يَوْمِ الْعِيدَيْنِ سُنَّةٌ، وَقَالَ ابْنُ الْمُسَيَّبِ: كَغُسْلِ الْجَنَابَةِ.
Dari Ibnul Musayyib dan Nadhrah رحمهما الله, mereka berkata:
“Mandi pada dua hari raya adalah sunnah.”
Dan Ibnul Musayyib berkata:
“Seperti mandi janabah.”
كتب عمر بن عبدالعزيز رحمه الله:
مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَأْتِيَ الْعِيدَ مَاشِيًا فَلْيَفْعَلْ.
Umar bin Abdul Aziz رحمه الله menulis:
“Siapa di antara kalian yang mampu datang ke shalat Id dengan berjalan kaki, maka hendaklah ia melakukannya.”
قال الإمام ابن الجوزي رحمه الله:
وَقَدْ كَانَ السَّلَفُ يَلْبَسُونَ الثِّيَابَ الْمُتَوَسِّطَةَ لَا الْمُرْتَفِعَةَ وَلَا الدُّونَ، وَيَتَخَيَّرُونَ أَجْوَدَهَا لِلْجُمُعَةِ وَالْعِيدِ وَلِقَاءِ الْإِخْوَانِ، وَلَمْ يَكُنْ تَخَيُّرُ الْأَجْوَدِ عِنْدَهُمْ قَبِيحًا.
Imam Ibnul Jauzi رحمه الله berkata:
“Para salaf dahulu memakai pakaian pertengahan, tidak yang terlalu mewah dan tidak pula yang rendah, dan mereka memilih yang terbaik untuk hari Jumat, hari raya, dan ketika bertemu saudara-saudara mereka. Memilih yang baik menurut mereka bukanlah sesuatu yang tercela.”
قال الإمام ابن قدامة رحمه الله:
يُسْتَحَبُّ أَنْ يَتَطَهَّرَ بِالْغُسْلِ لِلْعِيدِ.
Imam Ibnu Qudamah رحمه الله berkata:
“Disunnahkan bersuci dengan mandi untuk hari raya.”
قال الإمام ابن القيم رحمه الله:
هَدْيُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْعِيدَيْنِ: كَانَ يَلْبَسُ لِلْخُرُوجِ إِلَيْهِمَا أَجْمَلَ ثِيَابِهِ.
Imam Ibnul Qayyim رحمه الله berkata:
“Petunjuk Nabi ﷺ pada dua hari raya adalah beliau mengenakan pakaian terbaiknya ketika keluar menuju keduanya.”
Menundukkan Pandangan pada Hari Raya
عن وكيع رحمه الله قال:
خَرَجْنَا مَعَ الثَّوْرِيِّ فِي يَوْمِ عِيدٍ، فَقَالَ: إِنَّ أَوَّلَ مَا نَبْدَأُ بِهِ فِي يَوْمِنَا هَذَا غَضُّ الْبَصَرِ.
Dari Waki‘ رحمه الله, ia berkata:
“Kami keluar bersama Ats-Tsauri pada hari raya. Lalu beliau berkata: ‘Sesungguhnya perkara pertama yang kita mulai pada hari ini adalah menundukkan pandangan.’”
خرج حسان بن أبي سنان رحمه الله يوم العيد، فلما رجع قالت له امرأته:
كَمْ مِنِ امْرَأَةٍ حَسَنَةٍ نَظَرْتَ إِلَيْهَا الْيَوْمَ وَرَأَيْتَهَا؟
فَلَمَّا أَكْثَرَتْ عَلَيْهِ، قَالَ: وَيْحَكِ، مَا نَظَرْتُ إِلَّا فِي إِبْهَامِي مُنْذُ خَرَجْتُ مِنْ عِنْدِكِ حَتَّى رَجَعْتُ إِلَيْكِ.
Hassan bin Abi Sinan رحمه الله keluar pada hari raya. Ketika pulang, istrinya berkata kepadanya:
“Berapa banyak wanita cantik yang engkau lihat hari ini?”
Tatkala istrinya terus mendesaknya, ia berkata:
“Celaka engkau. Aku tidak melihat kecuali ibu jariku semenjak aku keluar darimu sampai aku kembali kepadamu.”
Mengharap Kebaikan dari Kehadiran Orang-Orang pada Hari Raya
قال العلامة العثيمين رحمه الله:
يُرْجَى الْخَيْرُ مِنْ حُضُورِ النَّاسِ يَوْمَ الْعِيدِ؛ لِقَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ((وَلْيَشْهَدْنَ الْخَيْرَ))، وَذَلِكَ أَنَّ الْمُسْلِمِينَ يَجْتَمِعُونَ لِأَدَاءِ صَلَاةٍ تُعْتَبَرُ شُكْرًا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى مَا أَنْعَمَ بِهِ مِنْ إِتْمَامِ الصِّيَامِ فِي عِيدِ الْفِطْرِ، وَمِنْ إِتْمَامِ الْعَشْرِ الْأَوَائِلِ مِنْ ذِي الْحِجَّةِ فِي عِيدِ الْأَضْحَى.
Al-‘Allamah Al-‘Utsaimin رحمه الله berkata:
“Diharapkan adanya kebaikan dari حضور الناس يوم العيد, berdasarkan sabda Nabi ﷺ: ‘Dan hendaklah mereka menyaksikan kebaikan.’ Hal itu karena kaum muslimin berkumpul untuk melaksanakan shalat yang dianggap sebagai bentuk syukur kepada Allah عز وجل atas nikmat penyempurnaan puasa pada Idul Fitri dan penyempurnaan sepuluh hari pertama Dzulhijjah pada Idul Adha.”
Keluarnya Wanita ke Shalat Id dalam Keadaan Menutup Diri
عن عبدالرزاق عن عبدالله عن سعيد عن منصور عن إبراهيم رحمهم الله، قال:
كَانَتِ امْرَأَةُ عَلْقَمَةَ جَلِيلَةً وَكَانَتْ تَخْرُجُ فِي الْعِيدَيْنِ.
Dari Abdurrazzaq, dari Abdullah, dari Sa‘id, dari Manshur, dari Ibrahim رحمهم الله, ia berkata:
“Istri ‘Alqamah adalah seorang wanita mulia, dan ia keluar pada dua hari raya.”
عن نافع رحمه الله قال:
كَانَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يُخْرِجُ إِلَى الْعِيدَيْنِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْ أَهْلِهِ.
Dari Nafi‘ رحمه الله, ia berkata:
“Abdullah bin Umar رضي الله عنهما biasa mengajak keluar menuju dua hari raya siapa saja dari keluarganya yang mampu.”
قال العلامة محمد بن صالح العثيمين رحمه الله:
قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِحْدَانَا لَا يَكُونُ لَهَا جِلْبَابٌ، قَالَ: ((لِتُلْبِسْهَا أُخْتُهَا مِنْ جِلْبَابِهَا))، الْجِلْبَابُ مِثْلُ الْعَبَاءَةِ، فَدَلَّ ذَلِكَ عَلَى أَنَّ الْمَرْأَةَ لَا تَخْرُجُ كَمَا يَخْرُجُ الرِّجَالُ، بَلْ لَا بُدَّ لَهَا مِنْ شَيْءٍ تَتَجَلْبَبُ بِهِ حَتَّى تَسْتُرَ بِذَلِكَ عَوْرَتَهَا.
Al-‘Allamah Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin رحمه الله berkata:
Mereka berkata: “Wahai Rasulullah, salah seorang dari kami tidak memiliki jilbab.” Beliau bersabda: “Hendaklah saudarinya memakaikan untuknya jilbabnya.” Jilbab itu seperti ‘abaya. Ini menunjukkan bahwa wanita tidak keluar sebagaimana keluarnya laki-laki. Bahkan ia harus memiliki sesuatu yang dikenakan sebagai jilbab agar dengannya ia menutupi auratnya.
Keluarnya Orang-Orang untuk Hari Raya Diibaratkan dengan Keluarnya Mereka pada Hari Kebangkitan
قال الإمام النووي رحمه الله:
تُسَنُّ الْقِرَاءَةُ بِهِمَا فِي الْعِيدَيْنِ – يَقْصِدُ: سُورَتَيِ الْقَمَرِ وَق – قَالَ الْعُلَمَاءُ: الْحِكْمَةُ فِي قِرَاءَتِهِمَا لِمَا اشْتَمَلَتَا عَلَيْهِ مِنَ الْأَخْبَارِ بِالْبَعْثِ، وَالْأَخْبَارِ عَنِ الْقُرُونِ الْمَاضِيَةِ، وَإِهْلَاكِ الْمُكَذِّبِينَ، وَتَشْبِيهِ بُرُوزِ النَّاسِ لِلْعِيدِ بِبُرُوزِهِمْ لِلْبَعْثِ، وَخُرُوجِهِمْ مِنَ الْأَجْدَاثِ كَأَنَّهُمْ جَرَادٌ مُنْتَشِرٌ.
Imam An-Nawawi رحمه الله berkata:
“Disunnahkan membaca kedua surah itu pada dua hari raya,” maksudnya Surah Qaf dan Al-Qamar. Para ulama berkata: “Hikmah dibacanya kedua surah itu adalah karena keduanya memuat berita tentang kebangkitan, berita tentang umat-umat terdahulu, kebinasaan para pendusta, dan penyerupaan keluarnya manusia menuju hari raya dengan keluarnya mereka untuk kebangkitan, serta keluarnya mereka dari kubur seakan-akan mereka belalang yang bertebaran.”
Diam Mendengarkan Khutbah pada Hari Raya
عن ابن عباس رضي الله عنهما قال:
وَجَبَ الْإِنْصَاتُ فِي أَرْبَعَةِ مَوَاطِنَ: الْجُمُعَةِ، وَالْفِطْرِ، وَالْأَضْحَى، وَالِاسْتِسْقَاءِ.
Dari Ibnu Abbas رضي الله عنهما beliau berkata:
“Wajib diam mendengarkan khutbah pada empat tempat: Jumat, Idul Fitri, Idul Adha, dan istisqa’.”
Berhias pada Hari Raya
عن علي بن أبي حميد أن طاووسًا كان لا يَدَعُ جَارِيَةً لَهُ سَوْدَاءَ وَلَا غَيْرَهَا إِلَّا أَمَرَهُنَّ فَيَخْضِبْنَ أَيْدِيَهُنَّ وَأَرْجُلَهُنَّ لِيَوْمِ الْفِطْرِ وَيَوْمِ الْأَضْحَى، يَقُولُ: يَوْمُ عِيدٍ.
Dari Ali bin Abi Humaid, bahwa Thawus tidak membiarkan seorang budak wanitanya, baik yang berkulit hitam maupun lainnya, kecuali ia memerintahkan mereka untuk mewarnai tangan dan kaki mereka pada hari Idul Fitri dan Idul Adha. Ia berkata: “Ini hari raya.”
Bermain pada Hari-Hari Raya
قال العلامة العثيمين رحمه الله:
لَا حَرَجَ عَلَى الْإِنْسَانِ أَنْ يَجْعَلَ أَيَّامَ الْعِيدِ أَيَّامَ لَعِبٍ؛ لَكِنْ بِشَرْطِ أَلَّا يَخْرُجَ هَذَا اللَّعِبُ عَنِ الْحُدُودِ الشَّرْعِيَّةِ، فَإِنْ كَانَ لَعِبًا فِيهِ اخْتِلَاطُ رِجَالٍ وَنِسَاءٍ، فَإِنَّهُ يَكُونُ حَرَامًا، وَكَذَلِكَ إِنِ اشْتَمَلَ عَلَى صُوَرٍ مُحَرَّمَةٍ أَوِ اشْتَمَلَ عَلَى أَغَانٍ مُحَرَّمَةٍ… فَإِنَّهُ لَا يَجُوزُ.
Al-‘Allamah Al-‘Utsaimin رحمه الله berkata:
“Tidak mengapa seseorang menjadikan hari-hari raya sebagai hari bermain, tetapi dengan syarat permainan itu tidak keluar dari batas-batas syariat. Jika permainan itu mengandung campur baur laki-laki dan wanita maka itu haram. Demikian pula jika mengandung gambar-gambar yang diharamkan atau lagu-lagu yang diharamkan, maka tidak boleh.”
قال العلامة ابن باز رحمه الله:
الرِّجَالُ فَلَا يَجُوزُ لَهُمُ الدُّفُّ وَلَا الطَّبْلُ وَلَا غَيْرُ ذَلِكَ؛ لِأَنَّهَا مِنْ آلَاتِ الْمَلَاهِي… اللَّعِبُ بِالدُّفُوفِ وَالطُّبُولِ وَالْأَغَانِي عَلَيْهَا، هَذَا لَا يَجُوزُ.
Al-‘Allamah Ibnu Baz رحمه الله berkata:
“Adapun laki-laki, maka tidak boleh bagi mereka rebana, drum, ataupun selain itu, karena itu termasuk alat-alat permainan. Bermain dengan rebana, tabuh-tabuhan, dan lagu-lagu di atasnya, ini tidak boleh.”
Menghidupkan Malam Dua Hari Raya
قال العلامة ابن القيم رحمه الله:
لَا يَصِحُّ عَنْهُ فِي إِحْيَاءِ لَيْلَتَيِ الْعِيدَيْنِ شَيْءٌ.
Al-‘Allamah Ibnul Qayyim رحمه الله berkata:
“Tidak ada satu pun riwayat sahih dari beliau tentang menghidupkan malam dua hari raya.”
Hari Raya Orang-Orang Beriman di Surga
قال الحافظ ابن رجب رحمه الله:
أَعْيَادُ الْمُؤْمِنِينَ فِي الْجَنَّةِ؛ فَهِيَ أَيَّامُ زِيَارَتِهِمْ لِرَبِّهِمْ عَزَّ وَجَلَّ، فَيَزُورُونَهُ وَيُكْرِمُهُمْ غَايَةَ الْكَرَامَةِ، وَيَتَجَلَّى لَهُمْ وَيَنْظُرُونَ إِلَيْهِ، فَمَا أَعْطَاهُمْ شَيْئًا هُوَ أَحَبُّ إِلَيْهِمْ مِنْ ذَلِكَ، وَهُوَ الزِّيَادَةُ الَّتِي قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِيهَا: ﴿ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ ﴾، لَيْسَ لِلْمُحِبِّ عِيدٌ سِوَى قُرْبِ مَحْبُوبِهِ.
Al-Hafizh Ibnu Rajab رحمه الله berkata:
“Hari raya orang-orang beriman di surga adalah hari-hari kunjungan mereka kepada Rabb mereka عز وجل. Mereka mengunjungi-Nya, lalu Dia memuliakan mereka dengan kemuliaan yang sangat besar. Dia menampakkan diri kepada mereka dan mereka memandang kepada-Nya. Allah tidak memberikan sesuatu yang lebih mereka cintai daripada itu. Itulah tambahan nikmat yang Allah Ta‘ala firmankan: ‘Bagi orang-orang yang berbuat baik ada pahala terbaik dan tambahannya.’ Bagi seorang pecinta, tidak ada hari raya selain dekat dengan yang dicintainya.”
Penutup
Pada akhirnya, perayaan dan kegembiraan di hari raya tidak berarti membuang akhlak, meninggalkan adab, dan bermaksiat kepada Ar-Rahman. Betapa banyak orang yang tampak gembira, padahal ia terusir dan dijauhkan.
قال الإمام ابن الجوزي رحمه الله:
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ يَوْمَكُمْ هَذَا يَوْمُ الْعِيدِ، قَدْ مُيِّزَ فِيهِ الشَّقِيُّ وَالسَّعِيدُ، فَكَمْ فَرِحَ بِهَذَا الْيَوْمِ مَسْرُورٌ وَهُوَ مَطْرُودٌ مَهْجُورٌ… كَيْفَ تَقَرُّ بِالْعِيدِ عَيْنُ مَطْرُودٍ عَنِ الصَّلَاحِ… كَيْفَ يَضْحَكُ سِنُّ مَرْدُودٍ عَنِ الْفَلَاحِ، كَيْفَ يُسَرُّ مَنْ يُصِرُّ عَلَى الْأَفْعَالِ الْقِبَاحِ… كَيْفَ يُسَرُّ بِعِيدِهِ مَنْ تَابَ ثُمَّ عَادَ، كَيْفَ يَفْرَحُ بِالسَّلَامَةِ مَنْ آثَامُهُ فِي ازْدِيَادٍ.
Imam Ibnul Jauzi رحمه الله berkata:
“Wahai hamba-hamba Allah, sesungguhnya hari kalian ini adalah hari raya. Pada hari ini dibedakan antara orang celaka dan orang bahagia. Betapa banyak orang yang bergembira pada hari ini padahal ia terusir dan dijauhkan. Bagaimana mata orang yang terusir dari kebaikan bisa merasa sejuk dengan hari raya? Bagaimana gigi orang yang tertolak dari keberuntungan bisa tertawa? Bagaimana orang yang terus-menerus melakukan perbuatan buruk bisa bergembira? Bagaimana seseorang bergembira dengan hari rayanya padahal ia telah bertaubat lalu kembali lagi? Bagaimana orang yang dosanya terus bertambah bisa bergembira karena keselamatan?”
Doa
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِي هَذَا الْعِيدِ فَرَحًا بِطَاعَتِكَ، وَشُكْرًا عَلَى نِعْمَتِكَ، وَقَبُولًا لِأَعْمَالِنَا، وَمَغْفِرَةً لِذُنُوبِنَا.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ عِيدَنَا عِيدَ خَيْرٍ وَبَرَكَةٍ وَإِيمَانٍ وَتَقْوَى.
اللَّهُمَّ زَيِّنَّا فِيهِ بِالطَّاعَةِ، وَلَا تَجْعَلْ حَظَّنَا مِنْهُ اللَّعِبَ وَاللَّهْوَ وَالْمَعْصِيَةَ.
اللَّهُمَّ أَعِنَّا فِيهِ عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِينَا وَلِأَهْلِينَا وَلِأَحِبَّتِنَا وَلِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ فَرَحَنَا فِي الْعِيدِ فَرَحًا بِفَضْلِكَ وَرَحْمَتِكَ، لَا فَرَحًا يُنْسِينَا ذِكْرَكَ وَلَا يُبْعِدُنَا عَنْ طَاعَتِكَ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنْ غُفِرَتْ ذُنُوبُهُ، وَزَادَتْ طَاعَاتُهُ، وَحَسُنَتْ خَاتِمَتُهُ.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ قُلُوبَنَا، وَطَهِّرْ نِيَّاتِنَا، وَاحْفَظْ جَوَارِحَنَا، وَارْزُقْن



