Aisyah Dan Gemuruh Fitnah Yang Menerpa

Aisyah dan gemuruh fitnah yang menerpa
Ada kisah-kisah yang tidak sekadar tersimpan di lembaran sejarah, tetapi tetap hidup dalam ingatan manusia, salah satunya adalah kisah ini. Kisah yang menyingkap hakikat jiwa ketika tergoda. Kisah yang menampakkan indahnya keadilan ketika ditegakkan, serta memperlihatkan bagaimana Allah menjaga hamba-hamba-Nya pada saat-saat yang sangat krusial.
Kisah itu disebut sebagai Haditsatul Ifk. Kisah yang menimpa Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, dan bersamaan dengannya mengguncang seluruh masyarakat Madinah.
Kala itu, ‘Aisyah turut bersama Nabi ﷺ dalam Perang Bani al-Musthaliq (al-Muraisi‘). Di dalam perjalanan, saat rombongan singgah di suatu tempat, Aisyah menjauh sejenak untuk menunaikan hajatnya.
Rombongan pun kembali bertolak, sekedup (tandu) yang membawanya pun telah diangkat padahal ia tidak berada di dalamnya, orang-orang mengira ia sudah di sana karena tubuhnya yang ringan, sehingga tak seorang pun menyadari ia tertinggal.
Aisyah kembali, ia mendapati ternyata rombongan telah berangkat.
Ia duduk di tempatnya menunggu. Pada saat itu, lewatlah Shafwan bin al-Mu‘aththal. Shafwan mengenalnya sebelum turunnya kewajiban hijab. Ketika melihatnya, ia mengucapkan kalimat istirja, “Innalillah wa inna ilaihi raji’un, istri Rasulullah.”
Ia menurunkan tunggangannya tanpa mendekat dan tanpa berbicara. ‘Aisyah pun naik, lalu Sahfwan pun menuntunnya hingga menyusul pasukan.
Itu adalah kejadian yang sederhana, dan jelas, tampak masing-masing menjaga kesucian diri mereka.
Namun jiwa-jiwa yang sakit tidak memandang sesuatu sebagaimana adanya.
Dari sinilah fitnah bermula, Fitnah itu disebarkan oleh tokoh kemunafikan, Abdullah bin Ubay bin Salul, yang tidak menyia-nyiakan peluang untuk menyakiti Nabi ﷺ.
Sebagian kaum mukminin pun tanpa sadar ikut menyebarkan fitnah tersebut, di antaranya: Mistah bin Utsatsah, Hassan bin Tsabit, dan Hamnah binti Jahsy.
Ucapan itu berubah menjadi desas-desus yang meluas di Madinah.
Allah menggambarkan suasana ini dengan begitu presisi dan mengagumkan,
إِذْ تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُم
“(Ingatlah) ketika kalian menerimanya dari mulut ke mulut”
Seakan-akan kata itu tidak tersaring oleh hati dan akal, dengan sekonyong-konyong berpindah dari satu lisan ke lisan.
Pada awalnya, ‘Aisyah tidak mengetahui apa-apa. Ia sakit beberapa hari. Ia merasakan Nabi ﷺ tetap bersikap lembut kepadanya, namun kehangatan yang biasanya terasa tidak terlihat. Ia tidak menaruh curiga, hingga suatu hari ia keluar bersama Ummu Mistah. Ummu Mistah tersandung di jalan lalu berkata,
“Celakalah Mistah!”
‘Aisyah bertanya, “Mengapa?”
Ummu Mistah pun menceritakan kabar besar itu.
‘Aisyah pun berkata, “Maka bertambahlah sakitku di atas sakit yang sudah ada…” Ia merasa dizalimi, tetapi tidak mampu membela diri.
Nabi ﷺ mengumpulkan orang-orang dan bersabda, “Berilah aku pendapat tentang istriku…”
Beliau tidak menuduh, tidak meluapkan amarah, dan tidak berbuat zalim.
Beliau mengumpulkan akal dan hati, di saat orang-orang sedang bergolak dan saling panas.
Beliau meminta pendapat Usamah bin Zaid, yang menegaskan kesucian ‘Aisyah. Beliau juga meminta pendapat ‘Ali bin Abi Thalib, yang menyarankan agar bertanya kepada jariyah (pelayan perempuan). Pelayan itu pun menegaskan bahwa tidak ada hal yang dipersangsikan dari ‘Aisyah.
Kemudian Nabi ﷺ mendatangi ‘Aisyah dan mengatakan sebuah kalimat yang begitu mengaduk perasaannya,
“Jika engkau pernah melakukan dosa, maka mohonlah ampun kepada Allah!”
Kalimat ini bukan menunjukkan keraguan, melainkan ungkapan betapa beratnya ujian seorang nabi menanti wahyu, dan tidak ingin memutuskan tanpa bukti.
Sikap Abu Bakar, seorang ayah diuji pada orang yang paling ia cintai.
Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu merasakan sakit berlipat, putrinya dituduh, dan rumah Nabi ﷺ disakiti.
Rasa pedih bertambah ketika ia tahu bahwa Mistah, yang selama ini ia beri nafkah, ikut menukil kabar itu. Maka ia berkata,
“Demi Allah, aku tidak akan menafkahinya lagi setelah hari ini!”
Lalu turun firman Allah Ta‘ala,
وَلَا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنكُم
“Janganlah orang-orang yang memiliki keutamaan di antara kalian bersumpah untuk tidak memberi.”
Abu Bakar pun kembali menafkahinya dan berkata,
“Benar, demi Allah, aku ingin Allah mengampuniku.”
Di masjid, perselisihan memanas antara Sa‘d bin Mu‘adz dan Sa‘d bin ‘Ubadah serta Usaid bin Hudhair.
Ada keinginan untuk membela Nabi ﷺ, dan semangat menjaga kesucian nama beliau, serta kekhawatiran atas masyarakat. Hampir saja terjadi perpecahan besar, namun kebijaksanaan Nabi ﷺ meredakan keguncangan itu.
‘Aisyah pada puncak dilema. Ia menuturkan bahwa ia menangis hingga air matanya kering, dan tidak menemukan tempat bersandar selain kedua orang tuanya.
Hingga Nabi ﷺ datang, duduk, lalu berkata,
“Wahai ‘Aisyah, telah sampai kepadaku tentangmu begini dan begitu.”
‘Aisyah menjawab,
“Demi Allah, sungguh aku tahu kalian telah mendengar ini hingga ia menetap dalam diri kalian…”
Lalu ia mengucapkan kalimat yang tercatat oleh sejarah,
“Demi Allah, aku tidak mengatakan kecuali seperti yang dikatakan Nabi Yakub, ‘Maka (bagiku) sabar yang indah, dan Allah-lah tempat memohon pertolongan atas apa yang kalian sifatkan’.”
Lalu datanglah sebuah kabar gembira dari atas tujuh langit.
Turunlah wahyu berupa ayat-ayat yang dibaca hingga hari kiamat. Ayat-ayat itu membebaskan ‘Aisyah, membuka aib kaum munafik, mendidik masyarakat, dan meletakkan pedoman akhlak,
إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِّنْكُمْ
“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah segolongan dari kamu. Janganlah kamu kira berita bohong itu buruk bagi kamu, bahkan ia baik bagi kamu. Setiap orang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan orang yang paling besar dosanya di antara mereka akan mendapat azab yang besar.Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu, orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan tidak berbaik sangka terhadap diri mereka sendiri dan berkata, “Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.” Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu? Karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi, maka mereka itu di sisi Allah adalah orang-orang yang dusta. Sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu di dunia dan di akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar karena pembicaraanmu tentang berita bohong itu. (Ingatlah) ketika kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu mengatakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit pun, dan kamu menganggapnya perkara yang ringan, padahal di sisi Allah itu perkara yang besar. Dan mengapa ketika kamu mendengarnya kamu tidak berkata, “Tidak pantas bagi kita memperbincangkan ini. Mahasuci Engkau (ya Allah), ini adalah dusta yang besar.” Allah memperingatkan kamu agar jangan mengulangi perbuatan seperti itu untuk selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman. Dan Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya kepadamu. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Sesungguhnya orang-orang yang suka agar perbuatan yang keji itu tersiar di kalangan orang-orang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. Dan sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya atas kamu, dan bahwa Allah Maha Penyantun lagi Maha Penyayang (niscaya kamu ditimpa azab itu).” (Surah an-Nur: 11–20)
Ketika Nabi ﷺ mengabarkan kepada ‘Aisyah, beliau bersabda, “Bersyukurlah kepada Allah.”
‘Aisyah pun menjawab,
“Demi Allah, aku tidak akan berdiri kepadanya, dan aku tidak memuji kecuali Allah. Dialah yang menurunkan ayat yang memberishanku dari fitnah.”
Ini adalah ucapan seorang perempuan yang memahami nilai seorang hamba di hadapan Allah, dan memahami bahwa pembebasan yang sejati tidak datang kecuali dari langit.
Kisah ini bukan sekadar peristiwa kezaliman. Ia adalah pelajaran tentang:
1. Bahaya sebuah ucapan
2. Satu kata tanpa bukti bisa melukai seluruh masyarakat.
3. Kewajiban tabayyun dan kehati-hatian.
4. Al-Qur’an menegur orang-orang beriman karena mereka tidak segera mengatakan, “Mahasuci Engkau, ini adalah dusta yang besar.”
5. Orang-orang suci pun diuji oleh Allah. Jika ‘Aisyah, manusia yang paling dicintai Rasulullah ﷺ, diuji, maka siapakah kita hingga heran pada ujian?
6. Allah tidak membiarkan orang yang dizalimi
7. Allah secara langsung membersihkan nama baik Aisyah, dengan menurunkan ayat dari atas tujuh langit. Adakah pemuliaan yang lebih mulia dari padaitu?
8. Sebuah masyarakat atau komunitas bukan hanya bisa hancur karena musuh-musuhnya, tetapi sering kali hancur oleh kata-katanya sendiri ketika hikmah hilang, tabayyun ditinggalkan, dan rasa takut kepada Allah memudar
Disadur dari tulisan Syekh Abdul Karim Bakkar dalam kanal Telegram beliau.



