Mimbar Jumat

Khutbah Jumat: Bulan Rajab Nan Istimewa

 

Kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah azza wajalla.

Abu Bakar al-Warraq mengatakan,

رَجَبُ شَهْرُ الزَّرْعِ وَشَعْبَانُ شَهْرُ السَّقْيِ وَرَمَضَانُ شَهْرُ الحَصَادِ

“Bulan Rajab adalah bulan menanam (mulai memperbanyak melakukan amalan kebaikan), bulan Syakban adalah bulan menyiram (menambah dan memperbaiki amalan kebaikan), dan bulan Ramadan adalah bulan menuai (terbiasa melakukan amalan kebaikan).”[1]

Ketika bulan Rajab datang menjelang maka itu menandakan bahwa lonceng bulan Ramadan telah berdenting menandakan dekatnya kedatangannya, makanya sebagian ulama salaf mulai menyingsingkan lengan baju untuk menyiapkan diri dengan kedatangannya, yaitu dengan bersungguh-sungguh dalam beramal.

Jamaah salat Jumat yang dirahmati oleh Allah azza wajalla.

Nama bulan Rajab diambil dari kalimat tarjīb yang maknanya adalah mengagungkan, sebab masyarakat Jahiliah sangat mengagungkan bulan ini dengan berhenti berperang jika bulan ini tiba bahkan mereka mengharamkannya[2].

Sebagai umat Nabi Muhammad hallallāhu ‘alaihi wasallam seyogyanya kita mengetahui bahwa bulan Rajab merupakan bagian bulan Haram, yaitu bulan yang mulia dan agung. Ada empat bulan Haram dalam kalender Hijriah, yaitu Zulkaidah, Zulhijah dan Muharam –tiga bulan berturut-turut-, dan bulan Rajab yang terpisah. Empat bulan ini memiliki keistimewaan yang sama, disebut sebagai bulan-bulan haram dikarenakan besarnya kemuliaannya

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ

“Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah ketika menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan Haram. Itulah agama yang lurus”. (QS At-Taubah 36).

Yang di maksud dengan bulan Haram adalah bulan yang dimuliakan dan di agungkan oleh Allah azza wajalla, karena tingginya kehormatannya , nama bagi bulan-bulan ini secara spesifik disebutkan di dalam hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

إِنَّ الزَّمَانَ قَدْ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلَاثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

Baca Juga  Khutbah Jumat: Meraup Berkah Di Bulan Nan Mulia

“Sesungguhnya zaman telah berputar sebagaimana bentuknya ketika Allah ta’ala menciptakan langit dan bumi, satu tahun itu ada dua belas bulan, empat di antaranya bulan-bulan Haram; tiga bulan Haram datang secara berurutan; Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, (dan satu lagi) bulan Rajab Mudhar yang terletak di antara bulan Jumadas sani dan Sya’ban”. (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Jamaah salat Jumat yang dirahmati oleh Allah azza wajalla.

Bulan yang mulia sangat identik dengan keutamaan, oleh karena itu biasanya kaum muslimin berlomba-lomba untuk memanfaatkannya dengan melakukan ritual-ritual ibadah di bulan-bulan tersebut, namun hal yang sangat perlu untuk diperhatikan adalah jangan sampai semangat yang menyala-nyala dalam beribadah di bulan-bulan haram tersebut dapat menjerumuskan ke amalan bid’ah, sehingga dikhawatirkan bukannya pahala yang didulang di bulan-bulan tersebut, namun justru dosa yang semakin berbilang.

Di antara perkara yang penting untuk ditinggalkan di bulan-bulan haram adalah maksiat –meskipun maksiat wajib untuk ditinggalkan di semua waktu dan bulan–, sebab nilai dosa kemaksiatan di bulan-bulan tersebut berlipat ganda dan membesar, Allah azza wajalla secara khusus memperingatkan hal tersebut dalam firmannya,

فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

Maka janganlah kalian menzalimi diri kalian dalam empat bulan tersebut”. (QS. At-Taubah 36).

Maknanya adalah janganlah kalian berbuat kezaliman (kemaksiatan) di dalam bulan-bulan Haram, sebab dosanya lebih besar dan lebih berat dibandingkan di bulan yang lainnya, sebagaimana dosa kemaksiatan yang dilaksanakan di tanah haram (Mekah dan Medinah) juga dilipatgandakan.[3]

Qatadah rahimahullah yang merupakan seorang ulama tabiin mengatakan,

إِنَّ الظُّلْمَ فِي الأَشْهُرِ الْحُرمِ أَعْظَمُ خَطِيْئَةً وَوِزْرًا مِنَ الظُّلْمِ فِيْمَا سِوَاهَا، وَإِنْ كَانَ الظُّلْمُ عَلَى كُلِّ حَالٍ عَظِيْمًا

Baca Juga  Khutbah Jumat: Renungan Bersama Wabah COVID-19

“Sesungguhnya perbuatan zalim yang dikerjakan di bulan-bulan Haram lebih besar dosanya apabila dibandingkan dengan perbuatan zalim di selain bulan Haram, kendati perbuatan zalim dilarang di semua keadaan dan waktu”.[4]

Jamaah salat Jumat yang dirahmati oleh Allah azza wajalla.

Keagungan bulan Rajab menggelitik sebagian kaum muslimin untuk melakukan ritual dan ibadah di bulan tersebut bahkan sampai melakukan ritual yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para ulama salaf, sebab mereka meyakini keutamaan tertentu di bulan Rajab ini. Agar kita berhati-hati dalam hal ini, maka perlu bagi kita untuk menyimak perkataan Ibnu Hajar terkait bulan Rajab, beliau mengatakan,

لَمْ يَرِدْ فِي فَضْلِ شَهْرِ رَجَبَ، وَلَا فِي صِيَامِهِ، وَلَا صِيَامِ شَيْءٍ مِنْهُ مُعَيَّن، وَلَا فِي قِيَامِ لَيْلَةٍ مَخْصُوْصَةٍ فِيْهِ حَدِيْثٌ صَحِيْحٌ يَصْلُحُ لِلْحُجَّةِ

“Tidak terdapat riwayat yang sahih yang layak dijadikan dalil tentang keutamaan bulan Rajab, tidak pula ada riwayat yang sahih tentang puasa Rajab, atau puasa di tanggal tertentu bulan Rajab, atau salat Tahajud di malam tertentu bulan Rajab.”[5]

Maka sebagian ulama berpendapat bahwa tidak boleh mengkhususkan bulan Rajab dengan ibadah khusus yang diyakini keutamaannya, seperti berpuasa dengan keyakinan ada keutamaan khususnya, atau melaksanakan salat malam dengan keyakinan ada keutamaan khususnya.

Syekh Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Adapun berpuasa di bulan Rajab secara khusus, maka semua hadis-hadis yang berkaitan dengannya lemah, bahkan palsu, sehingga para ulama tidak mengamalkannya. Hadis-hadis tersebut bukan bagian dari hadis lemah terkait faḍhail ala’mal (keutamaan-keutamaan amalan) yang boleh diamalkan, tetapi justru masuk dalam kategori hadis palsu dan dusta.”[6]

Namun bukan berarti dilarang beribadah secara mutlak pada bulan Rajab, yang dilarang adalah mengkhususkan ibadah pada bulan tersebut dan meyakini keutamaan khusus, adapun jika seseorang ingin berpuasa hari Senin dan Kamis, atau puasa Ayyamu Al-Bidh (puasa tiga hari dalam setiap bulan) atau puasa Nabi Dawud maka diperbolehkan, karena puasa-puasa tersebut ada dalilnya dan disyariatkan di semua bulan kecuali Ramadan, atau berpuasa karena Rajab bulan haram sebagaimana bulan Zulkaidah, Zulhijah dan Muharam maka diperbolehkan berdasarkan sabda Nabi,

Baca Juga  Khutbah Jumat: Amalan-amalan Penghapus Dosa

صُمْ مِنَ الْحُرُمِ وَاتْرُكْ

“Berpuasalah di bulan-bulan Haram dan juga (boleh) tinggalkan.”[7]


[1] Laāifu al-Ma’ārif, hal. 121.

[2] Mu’jam Maqāyīsi al-Lugah (2/495).

[3] Tafsir Ibnu Kaṡir (4/148).

[4] Tafsir al-Tabari (14/238).

[5] Tabyinu al-‘Ajab Bima Warada fi Fadli Rajab, hal. 6.

[6] Majmu’u al-Fatawa (25/290).

[7] HR Abu Dawud.

Lukmanul Hakim, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Bidang Tafsir & Hadits, King Saud University, Riyadh, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button
Klik
Kami siap melayani anda
Anda terhubung dengan admin
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Afwan, ada yang bisa kami bantu?