Khutbah Jumat: Beriman kepada Hari Akhir dan mempersiapkan diri untuknya

Khutbah Pertama:
إن الحمد لله، نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا، وسيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أما بعد: فإن أصدق الحديث كتاب الله، وخير الهدي هدي محمد ﷺ، وشر الأمور محدثاتها، وكل محدثة بدعة، وكل بدعة ضلالة، وكل ضلالة في النار.
Ma’aasyiral Mukminin rahimakumullah,
Sebaik-baik bekal dan sebaik-baik nasehat adalah takwa, tiada jalan keselamatan di dunia dan di akhirat melainkan jalan ketakwaan, dan tiada jalan menuju surga Allah Ta’ala melainkan jalan ketakwaan:
( تِلۡكَ ٱلۡجَنَّةُ ٱلَّتِي نُورِثُ مِنۡ عِبَادِنَا مَن كَانَ تَقِيّٗا )
Itulah surga yang akan Kami wariskan kepada hamba-hamba Kami yang selalu bertakwa. (Surat Maryam: 63)
Ummatal Islam,
Iman kepada hari akhir merupakan salah satu rukun dari enam rukan iman yang menjadi bagian pokok dalam ajaran Islam. Keyakinan akan kebangkitan di akhirat merupakan pondasi penting setelah keyakinan terhadap keesaan Allah Ta‘ala.
Keimanan terhadap segala hal yang berkaitan dengan hari akhir beserta tanda-tandanya, termasuk bagian dari iman kepada hal-hal gaib, sesuatu yang tidak dapat dijangkau oleh akal dan tidak mungkin diketahui kecuali melalui nash yang datang melalui wahyu.
Karena begitu agung dan pentingnya hari itu, Allah Ta‘ala kerap kali mengaitkan keimanan kepada-Nya dengan keimanan kepada hari akhir. Sebagaimana firman-Nya:
)لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِر(
“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, tetapi sesungguhnya kebajikan adalah (perbuatan) orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir.” (Al-Baqarah: 177)
Dan firman-Nya:
) ذَلِكُمْ يُوعَظُ بِهِ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ )
“Demikianlah pengajaran itu diberikan bagi orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir.” (At-Thalaq: 2)
Hampir tak ada satu halaman pun di dalam Al-Qur’an kecuali menyebutkan tentang hari akhir, tentang pahala dan hukuman yang akan diterima. Hampir di setiap halaman kita diingatkan akan kehidupan setelah mati, di mana segala amal perbuatan akan dipertanggungjawabkan.
Dalam pandangan Islam, kehidupan ini bukanlah kehidupan dunia yang singkat dan terbatas, bukan pula usia manusia yang hanya sekejap di dunia ini. Sebaliknya, kehidupan menurut Islam adalah perjalanan yang tak terhingga, melampaui batasan ruang dan waktu. Kehidupan ini terus meluas dalam waktu yang abadi, menuju kehidupan yang tak berujung, yang berlangsung selamanya.
Keabadian itu juga meluas dalam dimensi tempat, menuju kehidupan di alam yang lain, yaitu surga yang luasnya bagaikan langit dan bumi, atau neraka yang cukup untuk memuat banyak manusia yang turun temurun hidup di muka bumi ini selama berabad-abad lamanya.
Ma’aasyiaral Mukminin a’azzakumullah
Iman kepada Allah dan hari akhir adalah penuntun sejati bagi perilaku manusia, yang akan selalu mengarahkannya pada jalan kebaikan. Tak ada satu pun hukum buatan manusia yang mampu menuntun perilaku manusia agar tetap lurus dan benar, sebagaimana iman kepada hari akhir mampu melakukannya.
Karena itu, terdapat perbedaan yang sangat mendalam antara perilaku seseorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, yang memahami dengan hati bahwa dunia ini hanyalah ladang bagi kehidupan akhirat, dan bahwa amal saleh adalah bekal yang akan menyelamatkan di hari yang tiada akhir itu.
Ada perbedaan yang mendasar antara perilaku orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, dan perilaku orang yang tidak beriman kepada-Nya.
Orang yang meyakini hari pembalasan hidup dengan pandangan yang jauh lebih tinggi dan luas. dia bertindak bukan dengan mengacu pada timbangan dunia, tetapi dengan timbangan akhirat, Kita akan melihat pada dirinya ada keteguhan, ada keluasan dalam berpikir, kekuatan iman, keteguhan hati dalam menghadapi ujian, dan kesabaran yang luar biasa ketika ditimpa musibah, semua itu dilakukan untuk mencari ridha Allah, agar mendapat pahala dan ganjaran-Nya. Dia tahu dengan pasti bahwa apa yang ada di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih abadi.
Demikianlah kehidupan seseorang yang beriman kepada Allah Ta’ala dan hari akhir, kita akan melihat kesungguhannya dalam mempersiapkan diri untuk menghadapinya, bahkan hal itu tergambar bukan hanya pada perilakunya, lingkungan dan tempat tinggalnya pun seakan mengisahkan tentang tekad kuat itu.
Malik bin Dinar rahimahullah berkata:
“Sesungguhnya seorang alim yang sejati adalah dia yang ketika engkau datang ke rumahnya dan tidak menemukannya, maka rumahnya akan ‘berbicara’ kepadamu.”
Maksudnya, rumahnya akan mengisahkan kepadamu tentang pemiliknya, karena keadaan dan suasana rumah itu sendiri sudah menggambarkan pemiliknya.
Ia berkata lagi:
“Engkau akan melihat tikar shalatnya, mushafnya, dan tempat wudhunya di sudut rumah, semua itu memancarkan jejak akhirat.”
(Shifat ash-Shafwah, 3/286)
Hendaklah kita mengambil pelajaran dari generasi terbaik Umat ini, bagaimana torehan keimanan kepada hari akhir begitu membekas dalam qalbu mereka, dan bagaimana mereka mempersiapkan diri untuknya.
Ibnu Mājah meriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdillah ra., ia berkata:
“Ketika kami kembali kepada Rasulullah ﷺ dari hijrah ke Habasyah, beliau bersabda:
‘Tidakkah kalian mau menceritakan kepadaku keajaiban-keajaiban yang kalian lihat di negeri Habasyah?’”
Beberapa pemuda di antara kami berkata,
“Tentu, wahai Rasulullah!”
Mereka mulai bercerita:
“Suatu ketika, saat kami sedang duduk, lewat di hadapan kami seorang wanita tua di antara para rahib mereka. Di atas kepalanya ia membawa sebuah kendi berisi air. Lalu lewatlah seorang pemuda (yang jahil) di dekatnya. Ia meletakkan salah satu tangannya di antara kedua bahu wanita tua itu, lalu mendorongnya.”
Wanita itu pun tersungkur berlutut, dan kendi airnya pecah berantakan. Ketika ia bangkit dan menoleh kepada pemuda itu, ia berkata:
‘Ketahuilah wahai orang yang berbuat jahat! Suatu hari kelak engkau akan tahu (balasan perbuatanmu), ketika Allah meletakkan kursi-Nya, mengumpulkan manusia yang pertama hingga yang terakhir, dan ketika tangan serta kaki berbicara menyampaikan apa yang dahulu mereka lakukan.
Saat itulah engkau akan mengetahui bagaimana keadaanku dan keadaanmu di hadapan-Nya esok hari.’”
Jabir berkata:
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Benar… benar apa yang ia katakan. Bagaimana mungkin Allah mengangkat derajat suatu umat jika hak orang yang lemah di antara mereka tidak diambil dari orang yang kuat.”
(HR. Ibnu Mājah: 4009, dan dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Shahih Ibnu Mājah: 3239)
Diriwayatkan oleh An-Nasā’ī rahimahullah dari Syaddād bin Al-Aus:
“Ada seorang laki-laki dari kalangan Arab Badui (dan di antara Arab Badui ada yang faqih dalam agama, beriman kepada Allah dan hari akhir, hingga kedudukannya menjadi agung, seperti lelaki Badui ini) ia datang kepada Nabi ﷺ, lalu beriman kepadanya dan mengikutinya.
Kemudian ia berkata:
‘Aku ingin berhijrah bersamamu.’
Maka Nabi ﷺ mewasiatkan kepada sebagian sahabat agar memperhatikannya.
Ketika terjadi perang Khaybar, Rasulullah ﷺ memperoleh tawanan sebagai ghanīmah, lalu beliau membagikannya. Beliau memberikan bagian kepada para sahabatnya, termasuk bagian untuk lelaki Badui itu. Para sahabat yang dititipi pun membawa bagian itu untuk disampaikan kepadanya, karena lelaki Badui itu sedang menjaga tunggangan mereka.
Ketika ia datang, mereka menyerahkan bagiannya. Ia lalu bertanya:
“Apa ini?”
Mereka menjawab:
“Ini bagian yang Rasulullah ﷺ bagikan untukmu.”
Ia mengambilnya lalu membawanya kepada Rasulullah ﷺ dan berkata:
“Apa ini?”
Beliau ﷺ menjawab:
“Itu bagian yang aku berikan untukmu.”
Lelaki itu berkata:
“Bukan karena ini aku mengikutimu! Aku mengikutimu agar aku ditembak dengan anak panah di sini” ia menunjuk ke tenggorokannya, “lalu aku mati sehingga aku dapat masuk surga.”
Maka Rasulullah ﷺ bersabda:
“Jika engkau jujur kepada Allah, Allah akan membenarkanmu.”
Tak lama setelah itu mereka berangkat berperang melawan musuh. Lalu lelaki Badui itu dibawa kepada Nabi ﷺ, dalam keadaan gugur, terkena anak panah tepat di tempat yang ia tunjukkan sebelumnya. Ia adalah lelaki yang jujur, maka Allah pun membenarkannya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Benarkah ini dia?”
Mereka menjawab:
“Ya.”
Beliau ﷺ bersabda:
“Ia jujur kepada Allah, maka Allah membenarkannya.”
Kemudian Nabi ﷺ mengafani jenazahnya dengan jubbah beliau sendiri, lalu menyelenggarakan shalat untuknya. Dalam doa yang terdengar dari shalat Rasulullah ﷺ berucap:
“Ya Allah, ini adalah hamba-Mu; ia keluar berhijrah di jalan-Mu, lalu ia terbunuh sebagai syahid. Dan aku menjadi saksi atas hal itu.”
(HR. An-Nasā’ī: 2080, dan hadits ini sahih; dinyatakan sahih oleh Al-Albani dalam Sahih Al-Jāmi‘: 1415)
أقول قولي هذا وأستغفر الله لي ولكم من كل ذنب فاستغفروه؛ إنه هو الغفور الرحيم.
Khutbah Kedua:
الحمد لله قاهر المتجبرين، وناصر المستضعفين، وقيوم السموات والأرضين، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، المَلِكُ الحق المبين، ذل لكبريائه جبابرة السلاطين، وبطل أمام قدرته كيد الكائدين، قضى قضاءه كما شاءه على الخاطئين، وسبق اختياره من اختاره من العالمين، فهؤلاء أهل الشمال وهؤلاء أهل اليمين، ولولا ذاك ما امتلأت النار من المجرمين: (وَلَوْ شِئْنَا لآتَيْنَا كُلَّ نَفْسٍ هُدَاهَا وَلَكِنْ حَقَّ الْقَوْلُ مِنِّي لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ)، تلك حكمته سبحانه وهو أحكم الحاكمين.
وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله، العبد الصادق الأمين، صلى الله عليه وعلى آله وصحبه الغر الميامين، ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين.
أما بعد:
Ma’aasyiral Mukminin rahimakumullah,
Sebagai Kesimpulan pada khutbah kedua ini, bagaimana seorang mukmin mempersiapkan diri untuk hari akhir, diantaranya Adalah:
1. Mentauhidkan Allah Ta’ala
Salah satu persiapan terbesar yang dapat dilakukan oleh seorang mukmin untuk menghadapi hari akhir adalah dengan mentauhidkan Allah dan mengikhlaskan setiap amal ibadah hanya untuk-Nya.
Tauhid adalah amal ibadah yang paling mulia, iamenjadi salah satu sebab utama yang akan mengantarkan seorang hamba menuju pintu surga-Nya,
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barangsiapa yang ucapan terakhirnya adalah ‘Laa ilaaha illallah’ (tiada Tuhan selain Allah), maka dia akan masuk surga.” (HR. Abu Dawud, disahihkan oleh Al-Albani)
2. Menjaga dan mengawasi Hati
Rasulullah ﷺ bersabda:
”Allah Ta’ala tidak melihat kepada rupa atau harta kalian, tetapi Dia melihat kepada hati kalian dan amal perbuatan kalian.” (HR. Muslim)
Hati menjadi tempat dimana Allah menilai seorang hamba, bagaimana ia di hadapan Allah sangat bergantung bagaimana kondisi hatinya, karenanya hati membutuhkan pengawasan yang terus-menerus agar kita bisa menyadari setiap perubahan yang terjadi padanya, setiap kelalaian, dan setiap gejolak yang datang. Abdullah bin Rawahah berkata, “Hati itu lebih cepat berubah dan bergejolak daripada panci yang sedang mendidih ketika airnya telah mencapai titik didih.” (Az-Zuhd dan al-Raqa’iq – Ibnu Mubarak).
Semoga Allah Ta’ala senantiasa meneguhkan keimanan didalam hati kita, dan memudahkan setiap langkah kita untuk menyiapkan bekal terbaik menghadapi hari akhir.
هذا؛ وصلُّوا رحمكم الله على خير البرية، وأزكى البشرية: محمد بن عبد الله صاحب الحوض والشفاعة، فقد أمركم الله بأمرٍ بدأ فيه بنفسه، وثنَّى بملائكته المُسبِّحة بقُدسه، وثلث بكم
أيها المؤمنون، فقال جل وعلا: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا




