Tatsqif

Keutamaan Baitul ‘Atiq (Ka’bah)

Keutamaan Baitul ‘Atiq (Ka’bah)

Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan Baitullah sebagai rumah pertama yang dibangun untuk manusia, sebagai kiblat kaum muslimin, tempat turunnya rahmat, serta tujuan ibadah haji dan umrah hingga Hari Kiamat.

Keutamaan-keutamaan Baitullah

1. Allah telah menetapkan sejak azali bahwa di tempat ini akan tumbuh keturunan suci Nabi Ibrahim

Di antara keutamaan Baitullah ialah bahwa Allah ﷻ telah menetapkan dalam ilmu-Nya yang terdahulu agar di sekitar rumah ini tumbuh keturunan yang suci dari Nabi Ibrahim `alaihis salam. Mereka menjadi fondasi bagi tegaknya Islam hingga Hari Kiamat.

Hal ini sebagaimana doa Nabi Ibrahim:

> ﴿رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ﴾

“Ya Rabb kami, jadikanlah kami berdua orang yang berserah diri kepada-Mu, dan jadikanlah dari keturunan kami umat yang berserah diri kepada-Mu.” (QS. Al-Baqarah: 128)

2. Allah memerintahkan Nabi Ibrahim membangun Ka’bah sebagai pusat dunia Islam

Allah memerintahkan kekasih-Nya, Nabi Ibrahim `alaihis salam, untuk membangun Ka’bah agar menjadi pusat tauhid dan kiblat seluruh kaum muslimin.

Allah Ta’ala berfirman:

> ﴿وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ﴾

“Dan ketika Ibrahim meninggikan fondasi-fondasi Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): ‘Ya Rabb kami, terimalah (amal) dari kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.'” (QS. Al-Baqarah: 127)

3. Allah menjadikan Makkah sebagai negeri yang didatangi rezeki dari berbagai penjuru

Allah menjadikan negeri Makkah sebagai tempat yang didatangkan berbagai macam buah-buahan dan rezeki dari seluruh penjuru dunia, padahal tanahnya tandus dan tidak memiliki sumber daya alam yang melimpah.

Allah berfirman:

> ﴿يُجْبَىٰ إِلَيْهِ ثَمَرَاتُ كُلِّ شَيْءٍ رِزْقًا مِنْ لَدُنَّا﴾

“Kepada negeri itu didatangkan buah-buahan dari segala macam sebagai rezeki dari sisi Kami.” (QS. Al-Qashash: 57)

4. Allah menjadikan tanah haram sebagai tempat yang aman bahkan bagi binatang

Di antara keistimewaan tanah haram ialah Allah menjadikan binatang-binatang liar hidup berdampingan dengan aman. Sebagian tidak mengganggu sebagian yang lain selama berada di kawasan haram.

Ini termasuk bentuk pemuliaan Allah terhadap tanah suci tersebut.

Allah berfirman:

> ﴿وَمَنْ دَخَلَهُ كَانَ آمِنًا﴾

“Barang siapa memasukinya, niscaya ia memperoleh keamanan.” (QS. Ali ‘Imran: 97)

5. Allah menyelamatkan Ka’bah dari pasukan bergajah

Allah menyelamatkan Ka’bah beserta penduduk Makkah—meskipun ketika itu mereka masih berada dalam kekafiran—dari serangan pasukan bergajah yang dipimpin Abrahah.

Allah menghancurkan pasukan yang sangat besar itu hanya dengan burung-burung yang melempari mereka menggunakan batu dari tanah yang terbakar.

Peristiwa ini merupakan mukjizat besar yang Allah abadikan dalam Al-Qur’an, sekaligus kemuliaan bagi Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad ﷺ, serta buah dari doa Nabi Ibrahim `alaihis salam.

Allah berfirman:

> ﴿أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيلِ ۝ أَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِي تَضْلِيلٍ ۝ وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيلَ ۝ تَرْمِيهِمْ بِحِجَارَةٍ مِنْ سِجِّيلٍ ۝ فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَأْكُولٍ﴾

> “Tidakkah engkau memperhatikan bagaimana Rabbmu bertindak terhadap pasukan bergajah? Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka sia-sia? Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung-burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan ulat.” (QS. Al-Fil: 1–5)

6. Allah menjadikan Makkah berada di lembah yang tandus karena hikmah yang sangat agung

Allah meletakkan Ka’bah di sebuah lembah yang gersang, dikelilingi pegunungan berbatu, hampir tidak memiliki air, pepohonan maupun buah-buahan. Hal ini bukan tanpa tujuan, tetapi mengandung banyak hikmah yang agung.

Di antaranya:

Agar tampak kemurnian ibadah kepada Allah semata, tanpa terganggu oleh pesona keindahan dunia.

Seandainya pegunungan Makkah seindah pegunungan Italia atau negeri-negeri lainnya, niscaya banyak manusia datang karena keindahan alamnya, bukan karena ibadah kepada Allah. Akibatnya, kekhusyukan dan ruh ibadah akan berkurang.

Allah memutus ambisi para penjajah dan penguasa dunia untuk menguasai Makkah demi kepentingan ekonomi atau politik.

Allah menjadikan penduduk tanah haram bergantung kepada-Nya semata dalam memperoleh rezeki, bukan kepada sebab-sebab duniawi.

Allah menjadikan cuaca Makkah sangat panas dan alamnya tidak menarik sebagai tempat wisata agar manusia datang hanya karena tujuan ibadah, bukan untuk rekreasi atau perdagangan semata.

Allah mengisyaratkan hikmah tersebut melalui doa Nabi Ibrahim:

> ﴿رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ﴾

> “Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di sebuah lembah yang tidak mempunyai tanaman, di dekat rumah-Mu yang mulia, agar mereka menegakkan shalat.” (QS. Ibrahim: 37)

7. Keberkahan Baitullah

Di antara keutamaan terbesar Ka’bah ialah bahwa Allah ﷻ menyifatinya sebagai rumah yang penuh keberkahan.

Allah Ta’ala berfirman:

> ﴿إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ﴾

“Sesungguhnya rumah pertama yang dibangun untuk manusia ialah rumah yang berada di Bakkah (Makkah), yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam.” (QS. Ali ‘Imran: 96)

Keberkahan (البركة) memiliki dua makna.

Makna Pertama: Bertambah dan Berkembang (النماء والزيادة)

Yang dimaksud ialah bertambahnya kebaikan dan pahala.

Ka’bah adalah tempat di mana pahala amal dilipatgandakan. Shalat di Masjidil Haram tidak sama nilainya dengan shalat di tempat lain.

Rasulullah ﷺ bersabda:

> «صَلَاةٌ فِي مَسْجِدِي هَذَا خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلَّا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ، وَصَلَاةٌ فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَفْضَلُ مِنْ مِائَةِ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ»

“Satu shalat di masjidku ini lebih utama daripada seribu shalat di masjid lainnya, kecuali Masjidil Haram. Dan satu shalat di Masjidil Haram lebih utama daripada seratus ribu shalat di masjid lainnya.”

Karena pahala shalat dilipatgandakan, para ulama juga menyebutkan bahwa amal-amal saleh lainnya memiliki keutamaan yang besar di tanah haram, terlebih lagi ibadah haji.

Rasulullah ﷺ bersabda:

> «مَنْ حَجَّ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ، رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ»

“Barang siapa menunaikan haji lalu tidak berkata-kata kotor dan tidak berbuat maksiat, maka ia kembali (bersih dari dosa) seperti pada hari ia dilahirkan oleh ibunya.”

Beliau ﷺ juga bersabda:

> «الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ»

“Haji yang mabrur tidak ada balasan baginya selain surga.”

Makna keberkahan sebagai bertambahnya pahala tampak sangat jelas pada berbagai ibadah yang dilakukan di Baitullah.

Makna Kedua: Tetap dan Berkesinambungan (البقاء والدوام)

Keberkahan juga bermakna tetap berlangsung dan tidak pernah terputus.

Ka’bah tidak pernah sepi dari orang-orang yang:

berthawaf,

beri’tikaf,

rukuk,

sujud,

berdoa,

berdzikir,
Agar
membaca Al-Qur’an,

dan melaksanakan shalat,

siang maupun malam.

Allah Ta’ala berfirman:

> ﴿وَطَهِّرْ بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْقَائِمِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ﴾

“Sucikanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang berthawaf, berdiri (shalat), rukuk dan sujud.” (QS. Al-Hajj: 26)

Inilah salah satu bentuk keberkahan yang tidak dimiliki tempat lain di muka bumi.

8. Ka’bah Menjadi Petunjuk bagi Seluruh Alam

Allah ﷻ juga menyebut Ka’bah sebagai:

> ﴿هُدًى لِلْعَالَمِينَ﴾

“…menjadi petunjuk bagi seluruh alam.” (QS. Ali ‘Imran: 96)

Salah satu bentuk petunjuk tersebut ialah seluruh kaum muslimin di berbagai penjuru bumi menghadap ke satu arah ketika shalat.

Seseorang yang menggunakan akal sehatnya akan melihat bahwa jutaan manusia dari timur hingga barat menghadap kepada satu titik yang sama. Hal itu merupakan salah satu tanda kebesaran Allah dan bukti kebenaran risalah Nabi Muhammad ﷺ.

Perkataan Para Ulama Salaf

Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه berkata:

> «هُوَ أَوَّلُ بَيْتٍ خُصَّ بِالْبَرَكَةِ»

“Ka’bah adalah rumah pertama yang secara khusus diberi keberkahan oleh Allah.”

Al-Hasan Al-Bashri رحمه الله berkata:

> «هُوَ أَوَّلُ مَسْجِدٍ عُبِدَ اللَّهُ فِيهِ فِي الْأَرْضِ»

“Ka’bah adalah masjid pertama di bumi yang digunakan untuk beribadah kepada Allah.”

Mutharrif رحمه الله berkata:

> «هُوَ أَوَّلُ بَيْتٍ جُعِلَ قِبْلَةً»

“Ka’bah adalah rumah pertama yang dijadikan kiblat.”

Penjelasan Imam Ar-Razi dan Al-Alusi

Imam Fakhruddin Ar-Razi رحمه الله dan Imam Al-Alusi رحمه الله menjelaskan:

> قال الرازي والآلوسي رحمهما الله:

«يجب على العاقل أن يستحضر في ذهنه أن الكعبة كالنقطة، ويتصور صفوف المصلين إليها كالدوائر المحيطة بالمركز، ثم يتأمل كثرة المصلين المتوجهين إليها من أقطار الأرض، فإن فيهم عبادًا صالحين، وقلوبًا قدسية، وأرواحًا نورانية، فإذا توجهت تلك الأرواح إلى الله، واجتمعت مع استقبال الكعبة، كان لذلك من البركة ما لا يحيط به الوصف.»

“Orang yang berakal hendaknya membayangkan Ka’bah sebagai sebuah titik pusat, sedangkan barisan orang-orang yang shalat menghadap kepadanya bagaikan lingkaran-lingkaran yang mengelilingi titik tersebut. Kemudian ia merenungkan begitu banyak manusia dari seluruh penjuru bumi yang menghadap kepadanya. Di antara mereka terdapat para hamba yang saleh, hati-hati yang suci, dan ruh-ruh yang bercahaya. Ketika ruh-ruh mereka menghadap kepada Allah bersamaan dengan jasad mereka menghadap Ka’bah, maka lahirlah keberkahan yang tidak mampu digambarkan dengan kata-kata.”

Jika yang dimaksud dengan ‘cahaya’ adalah cahaya ibadah yang lahir dari kecintaan kepada Allah, keikhlasan kepada-Nya, serta keberkahan yang Allah alirkan melalui semua itu, maka perkataan tersebut adalah perkataan yang baik. Allah-lah yang lebih mengetahui maksud yang sebenarnya.

Beberapa Faedah tentang Makkah dan Ka’bah

Faedah Pertama: Makkah Memiliki Banyak Nama

Pertama, Makkah memiliki banyak nama yang masyhur dalam kitab-kitab sejarah, khususnya kitab-kitab yang membahas tentang Makkah. Oleh karena itu, kami tidak akan memperpanjang pembahasannya di sini.”

Di antara nama-nama Makkah yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah adalah:

مكة (Makkah), sebagaimana firman Allah:

> ﴿وَهُوَ الَّذِي كَفَّ أَيْدِيَهُمْ عَنْكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ عَنْهُمْ بِبَطْنِ مَكَّةَ﴾

“Dialah yang menahan tangan mereka dari (membinasakan) kalian dan tangan kalian dari (membinasakan) mereka di tengah kota Makkah.” (QS. Al-Fath: 24)

بكة (Bakkah), sebagaimana firman Allah:

> ﴿إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا﴾

“Sesungguhnya rumah pertama yang dibangun untuk manusia ialah yang berada di Bakkah, yang diberkahi.” (QS. Ali ‘Imran: 96)

أم القرى (Ummul Qura)
> ﴿وَلِتُنْذِرَ أُمَّ الْقُرَى وَمَنْ حَوْلَهَا﴾

“Agar engkau memberi peringatan kepada Ummul Qura (Makkah) dan orang-orang yang berada di sekitarnya.” (QS. Al-An’am: 92)

البلد الأمين (Negeri yang Aman)

> ﴿وَهَذَا الْبَلَدِ الْأَمِينِ﴾

“Dan demi negeri yangaman ini.” (QS. At-Tin: 3)

البلد الحرام (Negeri yang Suci)

Sebagaimana banyak disebutkan dalam ayat-ayat Al-Qur’an.

Faedah Kedua: Asal Penamaan “Makkah”

Kedua, para ulama berbeda pendapat mengenai asal penamaan ‘Makkah’.

Di antara pendapat mereka adalah:

Pendapat pertama

Makkah berasal dari kata:

> تمك الذنوب
“Menghapus dosa-dosa.”

Yakni Allah menjadikan Makkah sebagai tempat dihapusnya dosa melalui ibadah haji, umrah, thawaf, shalat, dzikir dan amal-amal saleh lainnya.

Pendapat kedua

Disebut Makkah karena menarik manusia dari seluruh penjuru bumi.

Sebagaimana anak unta mengisap susu dari induknya.

Karena itu manusia dari seluruh penjuru dunia terus berdatangan menuju Baitullah.

Pendapat ketiga

Disebut Makkah karena mengusir orang-orang kafir dan para pelaku maksiat darinya.

Sebagaimana syair Arab:

> يَا مَكَّةَ الْفَاجِرَ مُكِّي مَكًّا

وَلَا تَمُكِّي مَذْحِجًا وَعَكَّا

“Wahai Makkah, usirlah orang-orang durhaka dengan sebenar-benarnya. Janganlah engkau mengusir kabilah Madzhij dan ‘Akka.”

Faedah Ketiga: Nama-nama Ka’bah

Ka’bah yang mulia memiliki banyak nama.

Di antaranya:

1. البيت الحرام (Al-Baitul Haram)

Karena Allah mengharamkan berbagai bentuk pelanggaran di dalamnya.

Allah Ta’ala berfirman:

> ﴿جَعَلَ اللَّهُ الْكَعْبَةَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ قِيَامًا لِلنَّاسِ﴾

“Allah telah menjadikan Ka’bah, rumah suci itu, sebagai penopang kehidupan manusia.” (QS. Al-Ma’idah: 97)

2. الكعبة

Dinamakan Ka’bah karena bentuknya tinggi dan menjulang.

Kata الكعب dalam bahasa Arab menunjukkan sesuatu yang meninggi.

3. البيت العتيق (Baitul ‘Atiq)

Ada beberapa sebab penamaannya.

Pertama

Karena ia merupakan rumah ibadah tertua di muka bumi.

Allah berfirman:

> ﴿إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ﴾

“Sesungguhnya rumah pertama yang dibangun untuk manusia….” (QS. Ali ‘Imran: 96)

Kedua

Karena Allah menyelamatkannya dari banjir besar.

Sebagian ulama menafsirkan kata العتيق dengan makna المعتق (yang dibebaskan).

Ketiga

Karena Allah selalu menghancurkan setiap orang yang hendak merobohkannya.

Peristiwa Abrahah merupakan bukti paling nyata.

Allah berfirman:

> ﴿أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيلِ﴾
“Tidakkah engkau memperhatikan bagaimana Rabbmu bertindak terhadap pasukan bergajah?” (QS. Al-Fil: 1)

Keempat

Karena Ka’bah tidak pernah dimiliki oleh seorang manusia pun.

Ia adalah milik Allah semata.

Kelima

Karena Allah membebaskan dari Neraka orang yang mengunjunginya dengan niat yang ikhlas serta amal yang benar.

Hal ini termasuk dalam keutamaan haji yang mabrur.

Rasulullah ﷺ bersabda:

> «الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ»

_”Haji yang mabrur tidak ada balasan baginya selain surga.”

> Muttafaq ‘alaih dari Abu Hurairah. Diriwayatkan dalam Sahih al-Bukhari no. 1773 dan Sahih Muslim no. 1349.

Faedah Keempat: Tafsir Firman Allah

> ﴿وَمَنْ دَخَلَهُ كَانَ آمِنًا﴾

“Barang siapa memasukinya, niscaya ia akan memperoleh keamanan.” (QS. Ali ‘Imran: 97)

Ayat ini termasuk tanda-tanda kebesaran Allah.

Allah mengabarkan keadaan yang telah dikenal oleh bangsa Arab sejak masa jahiliah, yaitu siapa saja yang memasuki Tanah Haram akan memperoleh perlindungan dan keamanan.

Seseorang bahkan dapat bertemu dengan pembunuh ayah atau saudaranya di dalam Masjidil Haram, namun ia tidak akan menyerangnya selama berada di tanah haram.

Hal ini merupakan salah satu bentuk pengagungan manusia terhadap rumah Allah, meskipun mereka saat itu masih berada dalam kesyirikan.

Diriwayatkan dari Abd Allah ibn Umar radliallahu anhuma bahwa beliau berkata:

> «لَوْ وَجَدْتُ فِيهِ قَاتِلَ عُمَرَ مَا نَدَهْتُهُ.

_”Seandainya aku menjumpai pembunuh Umar berada di tanah haram, niscaya aku tidak akan mengusiknya.”_²

> ² Diriwayatkan oleh Abd al-Razzaq al-San’ani dalam Al-Mushannaf no. 9229.

Sebagian ulama ahli tafsir mengatakan bahwa ayat ini berbentuk khabar (berita) tetapi mengandung makna perintah.

> “Barang siapa memasukinya maka berilah ia keamanan.”

Sebagaimana firman Allah:

> ﴿فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ﴾

“Maka tidak boleh rafats, tidak boleh berbuat fasik, dan tidak boleh berbantah-bantahan ketika haji.” (QS. Al-Baqarah: 197)

Maknanya adalah larangan bagi kaum muslimin untuk melakukan semua itu.

Keutamaan Baitul ‘Atiq (Ka’bah) – Bagian Keempat

Tafsir Firman Allah: ﴿وَمَنْ دَخَلَهُ كَانَ آمِنًا﴾

Allah Ta’ala berfirman:

> ﴿وَمَنْ دَخَلَهُ كَانَ آمِنًا﴾

“Barang siapa memasukinya, niscaya dia memperoleh keamanan.” (QS. Ali ‘Imran: 97)

Ayat ini termasuk ayat-ayat yang nyata (آيات بينات) tentang kemuliaan Tanah Haram.

Pendapat Sebagian Ahli Tafsir

Sebagian ulama ahli tafsir berpendapat bahwa bentuk ayat ini adalah khabar (berita), tetapi maknanya adalah perintah.

Mereka menafsirkan ayat tersebut:

> “Barang siapa memasuki Tanah Haram, maka berilah ia keamanan.”

Sebagaimana firman Allah:

> ﴿فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ﴾

“Maka tidak boleh berkata-kata kotor, berbuat maksiat, dan berbantah-bantahan dalam haji.” (QS. Al-Baqarah: 197)

Lafaz ayat berbentuk berita, tetapi maksudnya adalah larangan bagi kaum muslimin.

Pendapat Ibnu Abbas radliallahu anhuma

Diriwayatkan dari Ibn Abbas رضي الله عنهما bahwa beliau termasuk di antara para salaf yang memahami ayat ini sebagai perintah untuk memberikan rasa aman kepada siapa pun yang memasuki Tanah Haram.

> Lihat: Tafsir Ibn Kathir pada tafsir QS. Ali ‘Imran ayat 97.

Kritik terhadap Pendapat Imam Ibnul ‘Arabi

Syaikh Ad-Dausari kemudian menukil perkataan Abu Bakr ibn al-Arabi rahimahullah.

Beliau berkata:

> وقال ابن العربي المالكي: وكل من قال هذا فقد وهم من جهتين:

“Setiap orang yang mengatakan penafsiran tersebut telah keliru dari dua sisi.”

Beliau menyebutkan dua alasan:

Pertama

> أنه لم يفهم من الآية أنه خبر عما مضى، ولم يقصد بها إثبات حكم مستقبل.

“Ia tidak memahami bahwa ayat tersebut adalah berita tentang keadaan yang telah terjadi di masa lampau, bukan untuk menetapkan hukum bagi masa yang akan datang.”

Kedua

> أنه لم يعلم أن ذلك الأمن قد ذهب، وأن القتل والقتال قد وقع بعد ذلك فيها، وخبر الله لا يقع بخلاف مخبره.

“Ia tidak mengetahui bahwa keamanan seperti itu telah berakhir, karena setelahnya telah terjadi pembunuhan dan peperangan di Tanah Haram. Padahal berita Allah tidak mungkin bertentangan dengan kenyataan yang diberitakan-Nya.”

Yang dimaksud ayat adalah pemberitahuan tentang salah satu keistimewaan besar Tanah Haram, yaitu Allah menjadikannya sebagai negeri yang aman sejak zaman Nabi Ibrahim hingga masa jahiliah, walaupun masyarakat ketika itu telah menyimpang dari tauhid.

Keamanan itu merupakan nikmat besar yang Allah karuniakan kepada penduduk Makkah.

Hal ini ditegaskan oleh firman Allah:

> ﴿فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَذَا الْبَيْتِ ۝ الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ﴾

“Maka hendaklah mereka menyembah Rabb pemilik rumah ini, yang telah memberi mereka makanan untuk menghilangkan lapar dan memberikan keamanan dari rasa takut.” (QS. Quraisy: 3–4)

Allah juga berfirman:

> ﴿أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا جَعَلْنَا حَرَمًا آمِنًا وَيُتَخَطَّفُ النَّاسُ مِنْ حَوْلِهِمْ﴾
“Tidakkah mereka memperhatikan bahwa Kami telah menjadikan (Makkah) sebagai tanah haram yang aman, sementara manusia di sekeliling mereka saling dirampok?” (QS. Al-‘Ankabut: 67)

Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa keamanan Makkah adalah nikmat dan keutamaan yang Allah berikan kepada negeri tersebut.

Atsar Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah

Berkata Al-Hasan al-Basri rahimahullah:

> «كَانَ الرَّجُلُ يَقْتُلُ، فَيَضَعُ فِي عُنُقِهِ صُوفَةً، فَيَدْخُلُ الْحَرَمَ، فَيَلْقَاهُ ابْنُ الْمَقْتُولِ، فَلَا يُهَيِّجُهُ حَتَّى يَخْرُجَ، وَهَذَا مِنْ تَكْرِيمِ اللَّهِ لِهَذَا الْحَرَمِ.»
_”Dahulu seseorang membunuh orang lain, kemudian ia mengenakan tanda pada lehernya lalu memasuki Tanah Haram. Anak dari orang yang terbunuh bertemu dengannya, namun ia tidak mengganggunya hingga orang itu keluar dari Tanah Haram. Semua itu merupakan bentuk pemuliaan Allah terhadap Tanah Haram.”

> Lihat: Tafsir Ibn Kathir pada tafsir QS. Ali ‘Imran ayat 97.

Hadis Sahih tentang Pengharaman Kota Makkah

Syaikh Ad-Dausari kemudian menegaskan bahwa hadis Nabi ﷺ merupakan penjelasan paling kuat dalam masalah ini.

Dari Ibn Abbas radhiyallahu anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda pada hari penaklukan Makkah:

> «إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ مَكَّةَ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ، فَهِيَ حَرَامٌ بِحُرْمَةِ اللَّهِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَإِنَّهَا لَمْ تَحِلَّ لِأَحَدٍ قَبْلِي، وَلَا تَحِلُّ لِأَحَدٍ بَعْدِي، وَإِنَّمَا أُحِلَّتْ لِي سَاعَةً مِنْ نَهَارٍ، لَا يُعْضَدُ شَوْكُهَا، وَلَا يُنَفَّرُ صَيْدُهَا، وَلَا يُخْتَلَى خَلَاهَا، وَلَا تَحِلُّ لُقَطَتُهَا إِلَّا لِمُنْشِدٍ.»

_”Sesungguhnya Allah telah mengharamkan Makkah sejak hari Dia menciptakan langit dan bumi. Maka Makkah tetap menjadi tanah haram dengan ketetapan Allah hingga Hari Kiamat. Negeri ini tidak pernah dihalalkan bagi seorang pun sebelumku dan tidak akan dihalalkan bagi seorang pun setelahku. Negeri ini hanya dihalalkan bagiku selama sesaat pada siang hari. Pohon berdurinya tidak boleh ditebang, hewan buruannya tidak boleh diusir, rerumputannya tidak boleh dicabut, dan barang temuannya tidak boleh diambil kecuali oleh orang yang bermaksud mengumumkannya.”_

> Muttafaq ‘alaih. Diriwayatkan oleh Sahih al-Bukhari no. 4313 dan beberapa tempat lainnya, serta Sahih Muslim no. 1353, dari Ibn Abbas radhiyallāhu anhu.

Ketika Abu Sufyan ibn Harb menyampaikan kepada Nabi ﷺ ucapan Sa’d bin Ubadah, pembawa panji kaum Anshar:

> اليوم يوم الملحمة، اليوم يوم تستحل فيه الكعبة

“Hari ini adalah hari peperangan besar. Hari ini Ka’bah dihalalkan (untuk diperangi).”

Maka Nabi ﷺ bersabda:

> «كَذَبَ سَعْدٌ، وَلَكِنْ هَذَا يَوْمٌ يُعَظِّمُ اللَّهُ فِيهِ الْكَعْبَةَ، وَيَوْمٌ تُكْسَى فِيهِ الْكَعْبَةُ»

“Sa’d keliru. Bahkan hari ini adalah hari ketika Allah memuliakan Ka’bah, dan hari ketika Ka’bah dipakaikan kiswah.”

Kemudian beliau mengumumkan seruan yang masyhur:

> «مَنْ أَغْلَقَ عَلَيْهِ بَابَهُ فَهُوَ آمِنٌ، وَمَنْ دَخَلَ دَارَ أَبِي سُفْيَانَ فَهُوَ آمِنٌ، وَمَنْ دَخَلَ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ فَهُوَ آمِنٌ»

“Barang siapa menutup pintu rumahnya maka ia aman. Barang siapa masuk ke rumah Abu Sufyan maka ia aman. Dan barang siapa masuk ke Masjidil Haram maka ia aman.”

Sebagaimana disebutkan dalam kitab-kitab sirah.

Adapun orang yang menjadikan kebolehan Rasulullah ﷺ berperang di Makkah sebagai dalil bahwa kebolehan itu berlaku selamanya, maka ia telah keliru atau sengaja menyesatkan. Sebab, Makkah hanya dihalalkan bagi beliau sesaat pada siang hari, semata-mata untuk membersihkannya dari kesyirikan. Makkah tidak pernah dihalalkan bagi seorang pun sebelum beliau, dan tidak pula sesudah beliau.

Penjelasan Imam Ibnu Qayyim

Ibn Qayyim al-Jawziyyah membuat pembahasan yang sangat indah mengenai kandungan khutbah Nabi ﷺ pada hari Penaklukan Makkah. Di antara yang beliau sebutkan adalah sabda Nabi ﷺ:

> «إِنَّ مَكَّةَ حَرَّمَهَا اللَّهُ، وَلَمْ يُحَرِّمْهَا النَّاسُ»

“Sesungguhnya Allah-lah yang menjadikan Makkah sebagai tanah haram, bukan manusia yang mengharamkannya.”

Maksudnya, pengharaman Makkah merupakan ketetapan syariat sekaligus ketetapan takdir Allah yang telah ditentukan sejak hari Allah menciptakan alam semesta. Kemudian Allah menampakkan ketetapan tersebut melalui lisan kekasih-Nya, yaitu Ibrahim dan Muhammad.

Dalam hadis sahih disebutkan:

> «إِنَّ إِبْرَاهِيمَ حَرَّمَ مَكَّةَ وَدَعَا لَهَا، وَإِنِّي حَرَّمْتُ الْمَدِينَةَ وَدَعَوْتُ لَهَا»

“Sesungguhnya Ibrahim telah mengharamkan Makkah dan mendoakannya. Sedangkan aku mengharamkan Madinah dan mendoakannya.”

Hadis ini menunjukkan bahwa pengharaman tersebut sebenarnya telah ditetapkan sejak penciptaan langit dan bumi, lalu diumumkan melalui para nabi.

Di antara sabda beliau tentang Makkah ialah:

> «فَلَا يَحِلُّ لِأَحَدٍ أَنْ يَسْفِكَ بِهَا دَمًا»

“Tidak halal bagi siapa pun menumpahkan darah di dalamnya.”

Larangan ini khusus berkaitan dengan tanah haram Makkah. Pertumpahan darah yang pada asalnya dibolehkan di tempat lain menjadi haram dilakukan di Makkah karena kemuliaan tanah haram tersebut.

Kaum yang Menolak Baiat Tidak Boleh Diperangi di Tanah Haram

Di antara bentuk larangan tersebut adalah bahwa sekelompok kaum yang menolak berbaiat kepada imam tidak boleh diperangi di tanah haram, terlebih bila mereka memiliki syubhat atau takwil.

Sebagaimana dahulu penduduk Makkah enggan berbaiat kepada Yazid bin Muawiyah dan justru berbaiat kepada Abdullah bin az-Zubair. Oleh karena itu, memerangi mereka, mengepung mereka dengan manjaniq (alat pelontar batu), serta menghalalkan tanah haram bukanlah sesuatu yang dibenarkan, bahkan merupakan perbuatan yang haram.

Yang menyelisihi ketentuan ini hanyalah Amr bin Sa’id al-Ashdaq beserta pengikutnya. Ia menentang nash Rasulullah ﷺ karena dorongan ambisi politik.

Dalam hadis sahih riwayat Abu Syuraih al-Adawi disebutkan bahwa beliau berkata kepada Amr bin Sa’id ketika ia mengirim pasukan menuju Makkah:

> “Izinkan aku menyampaikan kepadamu sebuah hadis yang Rasulullah ﷺ sampaikan pada keesokan hari setelah Fathu Makkah. Kedua telingaku mendengarnya, hatiku menghafalnya, dan kedua mataku melihat beliau ketika mengucapkannya.”

Kemudian beliau menyampaikan sabda Nabi ﷺ:

> «إِنَّ مَكَّةَ حَرَّمَهَا اللَّهُ، وَلَمْ يُحَرِّمْهَا النَّاسُ، فَلَا يَحِلُّ لِامْرِئٍ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ أَنْ يَسْفِكَ بِهَا دَمًا، وَلَا يَعْضُدَ بِهَا شَجَرَةً، فَإِنْ أَحَدٌ تَرَخَّصَ بِقِتَالِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فِيهَا، فَقُولُوا: إِنَّ اللَّهَ أَذِنَ لِنَبِيِّهِ، وَلَمْ يَأْذَنْ لَكُمْ، وَإِنَّمَا أَذِنَ لِي سَاعَةً مِنْ نَهَارٍ، وَقَدْ عَادَتْ حُرْمَتُهَا الْيَوْمَ كَحُرْمَتِهَا بِالْأَمْسِ، فَلْيُبَلِّغِ الشَّاهِدُ الْغَائِبَ»

“Sesungguhnya Allah telah mengharamkan Makkah, bukan manusia yang mengharamkannya. Maka tidak halal bagi orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir menumpahkan darah di dalamnya dan tidak boleh menebang pohonnya. Jika ada seseorang yang menjadikan peperangan Rasulullah ﷺ di Makkah sebagai alasan, maka katakanlah kepadanya: Sesungguhnya Allah mengizinkan Rasul-Nya dan tidak mengizinkan kalian. Allah hanya mengizinkanku sesaat pada siang hari, kemudian kehormatannya kembali seperti semula. Maka hendaklah yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir.”

Lalu dikatakan kepada Abu Syuraih:

> “Apa jawaban Amr bin Sa’id kepadamu?”

Beliau menjawab:

> “Ia berkata:”

> «أَنَا أَعْلَمُ بِذَلِكَ مِنْكَ يَا أَبَا شُرَيْحٍ، إِنَّ الْحَرَمَ لَا يُعِيذُ عَاصِيًا، وَلَا فَارًّا بِخَرِبَةٍ»

“Wahai Abu Syuraih, aku lebih mengetahui hal itu darimu. Tanah Haram tidak melindungi pelaku maksiat dan tidak pula orang yang melarikan diri karena kejahatan.”

Al-kharibah (الخربة) maksudnya adalah pencurian.

Perkataan Imam Ibnu Qayyim

Ibn Qayyim al-Jawziyyah berkata:

> “فَقَدْ عَارَضَ النَّصَّ النَّبَوِيَّ بِرَأْيِهِ وَهَوَاهُ.”

“Ia telah menentang nash Nabi dengan pendapat dan hawa nafsunya.”

Kemudian beliau menjelaskan:

> “فَقَالَ: إِنَّ الْحَرَمَ لَا يُعِيذُ عَاصِيًا، فَنَقُولُ: هُوَ لَا يُعِيذُ عَاصِيًا مِنْ عَذَابِ اللَّهِ، وَلَوْ لَمْ يُعِذْهُ مِنْ سَفْكِ دَمِهِ لَمْ يَكُنْ حَرَمًا بِالنِّسْبَةِ إِلَى الْآدَمِيِّينَ، وَإِنَّمَا لَمْ يُعِذْ طَوَاغِيتَ الْكُفْرِ كَمِقْيَسِ بْنِ صَبَابَةَ وَابْنِ خَطَلٍ؛ لِأَنَّهُ فِي تِلْكَ السَّاعَةِ لَمْ يَكُنْ حَرَمًا، بَلْ كَانَ حِلًّا لِلْحَرْبِ الْمُبَاحِ لِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ لِتَطْهِيرِ مَكَّةَ مِنَ الشِّرْكِ، فَلَمَّا انْقَضَتْ سَاعَةُ الْحَرْبِ عَادَتْ حُرْمَتُهُ.”

“Benar, tanah haram tidak melindungi pelaku maksiat dari azab Allah. Namun jika ia juga tidak melindunginya dari penumpahan darah, maka tidak ada lagi makna kehormatan tanah haram bagi manusia. Yang tidak memperoleh perlindungan hanyalah para tokoh kekafiran seperti Miqyas bin Shubabah dan Ibnu Khathal, karena pada saat itu Makkah memang dihalalkan sementara bagi Rasulullah ﷺ untuk memerangi mereka demi membersihkan Makkah dari kesyirikan. Setelah waktu itu berlalu, kehormatan tanah haram kembali seperti sediakala.”

Beliau juga menjelaskan bahwa Nabi ﷺ telah mengetahui akan muncul orang-orang yang berdalil dengan peperangan beliau di Makkah untuk membolehkan peperangan sesudahnya. Oleh karena itu beliau menutup pintu istidlal tersebut dengan sabdanya:

> «إِنَّ اللَّهَ أَذِنَ لِرَسُولِهِ، وَلَمْ يَأْذَنْ لَكَ»

“Sesungguhnya Allah mengizinkan Rasul-Nya, tetapi tidak mengizinkanmu.”

Komentar tentang Peristiwa Hajjaj

Adapun tindakan gubernur Yazid—semoga Allah membalas kezalimannya—maka itu termasuk penyimpangan politik. Allah telah menghukumnya. Demikian pula Amr bin Sa’id, Allah menghukumnya melalui sepupunya, Abd al-Malik bin Marwan, yang kemudian membunuhnya dengan kematian yang hina.

Perkataan Penulis Tafsir Al-Manar

Penulis Tafsir Al-Manar, Muhammad Rashid Rida, menukil penjelasan gurunya Muhammad Abduh:

> “وأما فعل الحجاج بن يوسف الثقفي – أخزاه الله – فإنه من الشذوذ الذي لا ينافي الاتفاق على احترام البيت وتعظيمه وتأمين من دخله.”

“Adapun tindakan Al-Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi—semoga Allah menghinakannya—maka itu merupakan penyimpangan yang tidak menafikan adanya kesepakatan umat tentang wajibnya menghormati Ka’bah, memuliakannya, dan memberikan keamanan kepada orang yang memasukinya.”

Beliau menjelaskan bahwa keamanan di Tanah Haram bukan berarti manusia secara fisik tidak mampu mencelakakan orang lain di sana. Akan tetapi, Allah menanamkan dalam hati mereka kewajiban menghormati tanah haram serta mengharamkan segala bentuk kezaliman di dalamnya. Hanya saja, ambisi politik sering kali mendorong seseorang untuk menyelisihi keyakinannya sendiri sehingga terjerumus dalam kezaliman.

Kemudian beliau berkata:

> “وكان الأستاذ الإمام يعتقد اعتقادًا جازمًا أنه إذا حج ألقى بيديه إلى التهلكة، وأنه لا أمان له في الحرم… وإن كاتب هذه السطور يعتقد مثل هذا الاعتقاد، فنسأل الله تعالى أن يحقق لنا ثانية مضمون قوله تعالى: ﴿وَمَنْ دَخَلَهُ كَانَ آمِنًا﴾.”

“Guru kami (Muhammad Abduh) berkeyakinan kuat bahwa jika beliau berhaji pada masa itu, berarti beliau menyerahkan dirinya kepada kebinasaan karena tidak lagi merasakan keamanan di Tanah Haram. Penulis (Muhammad Rasyid Ridha) pun memiliki keyakinan yang sama. Maka kami memohon kepada Allah agar Dia kembali mewujudkan makna firman-Nya:

> ﴿وَمَنْ دَخَلَهُ كَانَ آمِنًا﴾

‘Barang siapa memasukinya, niscaya ia memperoleh keamanan.’ (QS. Ali ‘Imran: 97).”

Kelima: Faedah Penting

Pelaksanaan hukuman hudud di Tanah Haram terbagi menjadi dua keadaan:

Keadaan pertama, seseorang melakukan perbuatan yang mewajibkan ditegakkannya hukuman hudud di dalam Tanah Haram, seperti membunuh, berzina, mencuri, atau murtad dari Islam dengan berbagai bentuknya.

Orang seperti ini tetap ditegakkan hukuman hudud atasnya, karena ia sendiri telah merusak kehormatan Tanah Haram dan tidak menghormati kesuciannya. Inilah pendapat yang lebih kuat (rajih) menurut mayoritas ulama dari berbagai mazhab.

Adapun orang yang melakukan tindak pidana di luar Tanah Haram, kemudian ia berlindung ke dalam Tanah Haram, maka para ulama berbeda pendapat:

Sebagian ulama berpendapat bahwa hukuman tetap ditegakkan atasnya, meskipun ia berada di Tanah Haram.

Sebagian lainnya berpendapat bahwa hudud tidak ditegakkan selama ia masih berada di dalam Tanah Haram, tetapi ia dipaksa keluar melalui boikot sosial secara menyeluruh, yaitu tidak diajak berbicara, tidak dilayani, tidak diberi tempat tinggal, dan tidak dibantu hingga ia terpaksa keluar. Setelah keluar, barulah hukuman ditegakkan atasnya.

Atsar dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma

Abdullah bin Abbas berkata:

> «مَنْ سَرَقَ أَوْ قَتَلَ فِي الْحِلِّ، ثُمَّ دَخَلَ الْحَرَمَ، فَإِنَّهُ لَا يُجَالَسُ، وَلَا يُكَلَّمُ، وَلَا يُؤْوَى حَتَّى يَخْرُجَ، فَيُقَامَ عَلَيْهِ الْحَدُّ، وَإِنْ قَتَلَ أَوْ سَرَقَ فِي الْحَرَمِ، أُقِيمَ عَلَيْهِ الْحَدُّ فِي الْحَرَمِ»

“Barang siapa mencuri atau membunuh di luar Tanah Haram, kemudian masuk ke Tanah Haram, maka ia tidak boleh diajak duduk bersama, tidak diajak berbicara, dan tidak diberi tempat tinggal hingga ia keluar, lalu hukuman hudud ditegakkan atasnya. Namun apabila ia membunuh atau mencuri di dalam Tanah Haram, maka hukuman hudud ditegakkan atasnya di dalam Tanah Haram.”

Kemudian beliau berdalil dengan firman Allah Ta’ala:

> ﴿وَلَا تُقَاتِلُوهُمْ عِنْدَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ حَتَّىٰ يُقَاتِلُوكُمْ فِيهِ ۖ فَإِنْ قَاتَلُوكُمْ فَاقْتُلُوهُمْ﴾

“Janganlah kalian memerangi mereka di dekat Masjidil Haram hingga mereka memerangi kalian di sana. Jika mereka memerangi kalian, maka bunuhlah mereka.”

(QS. Al-Baqarah: 191)

Perkataan Imam Ibnu Qayyim rahimahullah

Ibn Qayyim al-Jawziyyah berkata:

> «وَالْفَرْقُ بَيْنَ اللَّاجِئِ وَالْمُنْتَهِكِ فِيهِ مِنْ عِدَّةِ وُجُوهٍ»

Perbedaan antara orang yang berlindung di Tanah Haram dan orang yang melanggar kehormatannya di dalam Tanah Haram dapat dijelaskan dari beberapa sisi.”

Pertama

> «أَنَّ الْجَانِيَ فِيهِ هَاتِكٌ لِحُرْمَتِهِ بِإِقْدَامِهِ عَلَى الْجِنَايَةِ فِيهِ، بِخِلَافِ الْجَانِي خَارِجَهُ إِذَا جَنَى ثُمَّ لَجَأَ إِلَيْهِ، فَهُوَ مُعَظِّمٌ لِحُرْمَتِهِ، مُسْتَشْعِرٌ لَهَا بِالْتِجَائِهِ إِلَيْهِ، فَقِيَاسُ أَحَدِهِمَا عَلَى الْآخَرِ بَاطِلٌ.»

“Orang yang melakukan kejahatan di dalam Tanah Haram berarti telah merusak kehormatan Tanah Haram dengan tindakannya. Berbeda dengan orang yang melakukan kejahatan di luar Tanah Haram lalu berlindung ke dalamnya; ia justru masih mengakui kemuliaan Tanah Haram dan mencari perlindungan di sana. Karena itu, menyamakan kedua keadaan tersebut adalah qiyas yang tidak benar.”

Kedua

> «أَنَّ الْجَانِيَ فِيهِ بِمَنْزِلَةِ الْمُفْسِدِ الْجَانِي عَلَى بِسَاطِ الْمَلِكِ فِي دَارِهِ وَحَرَمِهِ، بِخِلَافِ مَنْ جَنَى خَارِجَهُ ثُمَّ لَجَأَ إِلَيْهِ، فَإِنَّهُ بِمَنْزِلَةِ مَنْ جَنَى خَارِجَ بِسَاطِ الْمَلِكِ وَحَرَمِهِ، ثُمَّ لَجَأَ إِلَى حَرَمِ الْمَلِكِ مُسْتَجِيرًا.»

“Orang yang melakukan kejahatan di dalam Tanah Haram seperti seseorang yang berbuat makar di hadapan singgasana raja, di dalam istana dan wilayah sucinya sendiri. Sedangkan orang yang berbuat kejahatan di luar, lalu datang berlindung ke wilayah raja, ibarat seseorang yang memohon perlindungan kepada raja setelah melakukan kejahatan di luar wilayah kekuasaannya.”

Ketiga

> «أَنَّهُ لَوْ لَمْ تُقَمِ الْحُدُودُ فِي الْحَرَمِ عَلَى الْجُنَاةِ، لَعَمَّ الْفَسَادُ فِي حَرَمِ اللَّهِ، فَإِنَّ أَهْلَ الْحَرَمِ فِي حَاجَةٍ إِلَى صِيَانَةِ نُفُوسِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ وَأَعْرَاضِهِمْ، وَلَوْ لَمْ يُشْرَعِ الْحَدُّ فِي حَقِّ مُرْتَكِبِ الْجَرَائِمِ فِي الْحَرَمِ، لَتَعَطَّلَتْ حُدُودُ اللَّهِ، وَعَمَّ الْهَوْلُ الْحَرَمَ وَأَهْلَهُ.»

“Seandainya hukuman hudud tidak ditegakkan terhadap para pelaku kejahatan yang melakukan tindak pidana di Tanah Haram, niscaya kerusakan akan merajalela di negeri suci tersebut. Penduduk Tanah Haram sangat membutuhkan perlindungan atas jiwa, harta, dan kehormatan mereka. Jika hukuman bagi para pelaku kejahatan di Tanah Haram tidak disyariatkan, maka hukum-hukum Allah akan terbengkalai, dan rasa takut serta kerusakan akan menyelimuti Tanah Haram beserta penduduknya.”

(Selesai, diringkas dan sedikit disesuaikan dari penjelasan Imam Ibnu Qayyim rahimahullāh).

Semoga bermanfaat.

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button