Motivasi Islami

Janji: Surga Bag 4

“Berbahagialah engkau, wahai Sa‘id.”

Hisyam bin Yahya al-Kalbi berkata: “Kami pernah berperang/menyerbu Romawi pada tahun tiga puluh delapan (H), dan pemimpin kami saat itu adalah Maslamah bin ‘Abdul Malik. Bersama kami ada seorang lelaki bernama Sa‘id bin al-Harits, seorang yang memiliki bagian besar dalam ibadah.”

Ia berpuasa di siang hari dan qiyamul-lail di malam hari. Aku tidak pernah melihatnya—baik malam maupun siang—kecuali dalam keadaan sungguh-sungguh (mujahadah). Bila bukan waktu shalat dan kami berada dalam perjalanan, ia tidak pernah berhenti dari dzikir kepada Allah dan mengulang-ulang pelajaran Al-Qur’an. Pada suatu malam, aku dan dia mendapat giliran jaga. Saat itu kami sedang mengepung sebuah benteng Romawi yang sangat sulit ditaklukkan.

Aku berkata kepadanya, “Tidurlah sebentar, agar jika terjadi sesuatu, kamu nanti dalam keadaan siap dan sigap. karena kamu tidak tahu apa yang akan terjadi dari pihak musuh.”

Lalu ia pun tidur di dekat tenda, sementara aku tetap di tempatku berjaga. Ketika aku sedang begitu, tiba-tiba aku mendengar Sa‘id berbicara dan tertawa. Kemudian ia mengulurkan tangan kanannya seakan-akan mengambil sesuatu, lalu menariknya kembali dengan lembut sambil tertawa. Setelah itu ia berkata, “Malam ini saja ya?”

Lalu ia tersentak bangun dari tidurnya, dan ia pun terjaga sepenuhnya. Ia mulai bertahlil, bertakbir, dan memuji Allah Subhanahu wa Ta‘ala.

Aku berkata, “Ada kabar baik, wahai Abu al-Walid? Sungguh aku melihat sesuatu yang mengagumkan darimu malam ini. Ceritakan kepadaku apa yang kamu lihat.”
Ia berkata, “Apa boleh aku tidak ceritakan padamu?” Lalu aku terus mendesaknya dengan alasa karena kebersamaan kami (sebagai sahabat seperjalanan).

Akhirnya ia berkata, “Aku melihat dua orang laki-laki yang belum pernah sama sekali aku lihat sebelumnya yang sebanding dengan ketampanan dan kesempurnaan rupa keduanya. Keduanya berkata kepadaku, ‘Wahai Sa‘id… bergembiralah! Sungguh Allah telah mengampuni dosamu, mensyukuri usahamu, menerima amalmu, dan mengabulkan doamu. Berangkatlah bersama kami agar kami perlihatkan kepadamu apa yang Allah siapkan untukmu dari kenikmatan (surga).’”

“Lalu, apa yang ia lihat di surga?!”

Sa‘id terus menceritakan apa yang ia lihat: istana-istana dan bidadari-bidadari surga, hingga sampailah ia pada sebuah ranjang. Di atasnya ada seorang bidadari, laksana mutiara yang tersimpan. Ia berkata kepadanya:

“Sudah lama kami menantimu.”

Aku berkata kepadanya, “Di mana aku?”

Ia menjawab, “Di Jannatul Ma’wā (Surga Ma’wā).”

Aku bertanya, “Siapa engkau?”

Ia menjawab, “Aku istrimu yang kekal.”

Aku pun mengulurkan tanganku hendak menyentuhnya, namun ia menolakku dengan lembut seraya berkata:

“Untuk hari ini belum. Tapi kembalilah dulu ke dunia.”

Aku berkata, “Aku tidak suka kembali.”

Ia berkata, “Kamu harus kembali. Kamu akan tinggal (di dunia) tiga hari lagi, lalu kamu berbuka (datang) kepada kami pada malam ketiga, insyaAllah.”

Aku berkata, “Malam ini saja ya?”

Ia menjawab, “Tidak bisa, itu sudah menjadi ketetapan (qadha) yang diputuskan.”

Lalu ia bangkit dari majelisnya. Aku pun ikut berdiri karena bangkitnya dia, dan saat itulah aku tersentak sadar: ternyata aku sudah terbangun.

Hisyam berkata: Aku memuji Allah sebagai rasa syukur kepada Rabbku, lalu aku berkata kepada Sa‘id, “Allah telah memperlihatkan kepadamu balasan amalmu.”

Sa‘id berkata, “Adakah seseorang melihatku tadi seperti yang kamu lihat?”
Aku menjawab, “Tidak.”

Sa‘id berkata, “Aku mohon atas nama Allah, rahasiakanlah selama aku masih hidup.”
Aku berkata, “Ya.”

Lalu Sa‘id pun kembali (beramal): di siang hari tetap berpuasa, dan di malam hari ia shalat malam sambil menangis… sampai datang waktu yang dijanjikan. Ketika malam ketiga tiba, ia terus memerangi musuh: ia mengenai mereka, sementara mereka tidak mampu mengenainya.

Aku melihatnya dari jauh—sampai aku tidak bisa tidur karena (memikirkan) dirinya—hingga ketika matahari condong menuju terbenam, tiba-tiba ada seorang (musuh) dari atas benteng melepaskan panah. Panah itu mengenai lehernya. Ia pun roboh tersungkur, sementara aku melihatnya.

Aku bergegas menghampirinya dan berkata, “Berbahagialah engkau atas apa yang engkau raih malam ini… andaikan aku bersamamu.”

Ia memberi isyarat dengan lembut—menahan agar aku diam—lalu menunjuk (seakan berkata) sambil tersenyum: “Rahasiakan urusanku sampai aku wafat.”

Kemudian ia berkata: “Segala puji bagi Allah yang membenarkan janji-Nya kepada kami…”
Lalu ia wafat—semoga Allah merahmatinya.

Keesokan harinya aku menyeru dengan suara keras: “Wahai hamba-hamba Allah! Inilah teladan orang yang beramal!” Aku pun menyampaikan kabar gembira itu. Orang-orang saling mengingatkan dan menguatkan satu sama lain; hati mereka rindu untuk bertemu Allah. Dan belumlah siang sempurna, Allah pun membukakan benteng itu—berkat keberkahan lelaki saleh ini.

Surga Tempat yang Merindukan dan Dirindukan

Dalam sebuah hadis dari Nabi ﷺ disebutkan bahwa surga merindukan tiga orang: Ali, Ammar, dan Salman. (hadis hasan sebagaimana dalam Shahih al-Jāmi‘ al-Shaghir no. 1598)

Apakah Engkau tidak merindukan surga?!

  • Sampai-sampai kamu melihat sedekah yang kamu keluarkan di jalan Allah itu terasa besar di matamu, sementara uang yang kamu habiskan untuk hal remeh terasa biasa saja untuk dibawa ke pasar!!
  • Sampai-sampai kamu melihat satu jam yang kamu habiskan untuk taat kepada Allah terasa panjang dan membosankan, tetapi betapa cepatnya waktu itu ketika dipakai menonton pertandingan bola atau film semalam suntuk!!
  • Sampai-sampai kamu senang kalau pertandingan diberi tambahan waktu, tetapi kamu mengeluh dan gelisah ketika khutbah Jumat lebih panjang dari waktu biasanya!!
  • Sampai-sampai kamu berdesak-desakan untuk dapat kursi paling depan di permainan atau acara hiburan, sementara kamu memilih berdesak (atau berlomba) untuk duduk di shaf paling belakang di masjid saat shalat!!
  • Sementara kamu… belum juga merindukan surga?!

Saudaraku…

Berapa banyak waktumu yang kamu kosongkan agar bisa “menyongsong” surga-Nya?
Siang hari sibuk mencari nafkah… malam hari tidur di kasur…

Hatimu lemah dipenuhi oleh: kekhawatiran tahun dan hari, harga mahal dan harga murah, urusan anak-anak, urusan istri, biaya musim panas sebelum musim panas tiba, dan biaya musim dingin sebelum musim dingin datang…

Lalu, apa yang kamu sisakan (untuk akhirat) dari semua itu?

Kamu sudah menyiapkan anak perempuanmu (urusan pernikahannya) dan juga sudah menikahkan anak laki-lakimu…

Lalu kamu… bekal apa yang kamu siapkan untuk perjalanan pulang (kematian)?
Bekal apa yang kamu siapkan? Bekal apa?!

Singgasana Balqis telah berlalu, kecantikan Zulaikha telah sirna, harta Qarun telah tenggelam…

Namun yang tetap (mengangkat derajat) adalah: zuhudnya Mush‘ab, keadilan Umar, dan ketakwaan Abu Bakar.

Di surga kelak, pertemuan itu indah… semoga Allah mempertemukan kita di sana, insyaAllah…

Apa yang Harus Dilakukan Setelah Bicara Tentang Surga?

Bagaimana cara masuk surga?

  • Taat kepada suami

Rasulullah ﷺ bersabda: “Lihatlah, di mana posisi dirimu darinya (suamimu), karena sesungguhnya ia adalah surgamu dan nerakamu.” (hadis shahih sebagaimana dalam Shahih al-Jāmi‘ al-Shaghir no. 1509)

  • Menyingkirkan gangguan dari jalan

Rasulullah ﷺ bersabda: “Ada dahan pohon yang mengganggu orang-orang di jalan. Lalu seseorang menyingkirkannya, maka ia pun masuk surga.” (hadis hasan sebagaimana dalam Shahih al-Jāmi‘ al-Shaghir no. 4458)

  • Memohon surga tiga kali

Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidaklah Seorang muslim meminta surga tiga kali, kecuali surga akan berkata: ‘Ya Allah, masukkanlah dia ke surga.’” (hadis shahih sebagaimana dalam Shahih al-Jāmi‘ al-Shaghir no. 5630)

  • Menjaga lisan dan kemaluan

Rasulullah ﷺ bersabda: “Siapa yang menjamin untukku apa yang ada di antara dua rahangnya (lisannya) dan apa yang ada di antara dua kakinya (kemaluannya), aku jamin baginya surga.” (hadis shahih sebagaimana dalam Shahih al-Jāmi‘ al-Shaghir no. 6617)

  • Shalat Subuh dan Ashar

Rasulullah ﷺ bersabda: “Barangsiapa shalat dua waktu yang dingin (Subuh dan Ashar), ia masuk surga.” (hadis shahih sebagaimana dalam Shahih al-Jāmi‘ al-Shaghir no. 6337)

  • Berbakti kepada ibu

Rasulullah ﷺ bersabda: “Tetaplah (berkhidmat) di kakinya, karena di sana ada surga.” (hadis hasan sebagaimana dalam Shahih al-Jāmi‘ al-Shaghir no. 1248)

  • Meninggalkan debat, meninggalkan dusta, dan berakhlak mulia

Rasulullah ﷺ bersabda: “Aku menjamin sebuah rumah di pinggiran surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan walau ia benar; dan rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta walau ia bercanda; dan rumah di bagian tertinggi surga bagi orang yang bagus akhlaknya.” (hadis hasan sebagaimana dalam Shahih al-Jāmi‘ al-Shaghir no. 1464)

(Diterjemahkan dari kita Hibbi Ya Rihal Iman, karya Khalid Abu Syadi)

Yusta Rizaldi, S.Pd.

Mahasiswa S2, Jurusan Tarbiyah, Qassim University

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button