Jabal Abi Qubais

Jabal Abi Qubais
Di Makkah al-Mukarramah, tanah paling suci di muka bumi, terdapat berbagai peninggalan dan lokasi bersejarah yang usianya mencapai ribuan tahun. Jejak-jejak yang dahulu tersembunyi di perut bumi kini tampak di permukaannya sebagai saksi atas keagungan Sang Pencipta. Di antara lokasi paling terkenal di Makkah adalah Gunung Abu Qubais, yang dianggap sebagai gunung pertama di dunia dan salah satu landmark terindah di kota suci ini, terlebih setelah dihiasi oleh Pemerintah Penjaga Dua Tanah Suci dengan pembangunan istana-istana tamu di sekitarnya. Hampir tidak ada seorang pun yang melewati kawasan ini tanpa menikmati duduk dan bersantai di kaki gunungnya atau memandang keindahan dan kemegahannya.
Benar bahwa di berbagai negara di dunia seseorang harus mengeluarkan biaya besar untuk melihat peninggalan sejarah, bahkan museum-museum sering kali tidak mengizinkan pengunjung menyentuh benda bersejarah kecuali dengan biaya tertentu karena semuanya berbayar. Adapun di Makkah al-Mukarramah, banyak peninggalan sejarah dapat disaksikan secara langsung, sehingga impian untuk menyentuh dan merasakan bagian dari alam tertua yang Allah ciptakan di bumi seakan menjadi kenyataan.
Abu Qubais — dengan huruf qaf berharakat dhammah, huruf ba berharakat fathah, kemudian huruf ya yang sukun, dan diakhiri dengan huruf sin tanpa titik (س) — adalah nama yang sering disebut dalam kitab-kitab sirah dan buku-buku geografi serta sejarah negeri-negeri.
Gunung Abu Qubais merupakan salah satu dari dua gunung besar (Al-Akhsyabain) yang mengapit Makkah. Gunung ini terletak di sebelah timur Masjidil Haram dan memiliki ketinggian sekitar 375 meter di atas permukaan laut.
Hadits “Apakah Engkau Ingin Aku Menimpakan Kepada Mereka Dua Gunung Besar?”
Hadits ini adalah hadits muttafaq ‘alaih, diriwayatkan oleh Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari dan Muslim bin al-Hajjaj dalam kitab shahih mereka.
Dari Aisyah binti Abu Bakar radhiyallahu ‘anha, beliau berkata:
> قُلْتُ لِلنَّبِيِّ ﷺ: هَلْ أَتَى عَلَيْكَ يَوْمٌ كَانَ أَشَدَّ مِنْ يَوْمِ أُحُدٍ؟
“Aku bertanya kepada Nabi ﷺ: ‘Apakah pernah datang kepadamu suatu hari yang lebih berat daripada hari Uhud?’
Beliau menjawab:
> «لَقَدْ لَقِيتُ مِنْ قَوْمِكِ مَا لَقِيتُ، وَكَانَ أَشَدَّ مَا لَقِيتُ مِنْهُمْ يَوْمَ الْعَقَبَةِ، إِذْ عَرَضْتُ نَفْسِي عَلَى ابْنِ عَبْدِ يَالِيلَ بْنِ عَبْدِ كُلَالٍ، فَلَمْ يُجِبْنِي إِلَى مَا أَرَدْتُ…»
“Sungguh aku telah mengalami dari kaummu apa yang telah aku alami. Dan yang paling berat yang aku alami dari mereka adalah pada hari Aqabah (di Thaif), ketika aku menawarkan diriku kepada Ibnu Abdi Yalil bin Abdi Kulal, namun ia tidak memenuhi apa yang aku inginkan…”
Beliau melanjutkan:
> «فَانْطَلَقْتُ وَأَنَا مَهْمُومٌ عَلَى وَجْهِي، فَلَمْ أَسْتَفِقْ إِلَّا وَأَنَا بِقَرْنِ الثَّعَالِبِ، فَرَفَعْتُ رَأْسِي فَإِذَا أَنَا بِسَحَابَةٍ قَدْ أَظَلَّتْنِي، فَنَظَرْتُ فَإِذَا فِيهَا جِبْرِيلُ…»
“Aku pun pergi dengan perasaan sedih dan bingung, hingga aku tidak sadar kecuali ketika telah sampai di Qarn Ats-Tsa’alib. Aku mengangkat kepalaku, ternyata ada awan yang menaungiku. Aku melihat ke dalamnya dan ternyata di sana ada Jibril…”
Kemudian Jibril berkata:
> «إِنَّ اللَّهَ قَدْ سَمِعَ قَوْلَ قَوْمِكَ لَكَ وَمَا رَدُّوا عَلَيْكَ، وَقَدْ بَعَثَ إِلَيْكَ مَلَكَ الْجِبَالِ لِتَأْمُرَهُ بِمَا شِئْتَ فِيهِمْ»
“Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan kaummu kepadamu dan bagaimana mereka menolakmu. Allah telah mengutus Malaikat Gunung kepadamu agar engkau memerintahkannya sesuai kehendakmu terhadap mereka.”
Malaikat gunung lalu berkata:
> «يَا مُحَمَّدُ، إِنْ شِئْتَ أَنْ أُطْبِقَ عَلَيْهِمُ الْأَخْشَبَيْنِ»
“Wahai Muhammad, jika engkau menghendaki, aku akan menghimpit mereka dengan dua gunung besar.”
Namun Rasulullah ﷺ menjawab:
> «بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا»
“Bahkan aku berharap Allah akan mengeluarkan dari keturunan mereka orang-orang yang menyembah Allah semata dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.”
(HR. Bukhari no. 3231 dan Muslim no. 1795)
Makna Beberapa Kata dalam Hadits
1. أُطْبِقَ عَلَيْهِمْ
Artinya:
> أُغْلِقَ وَأُضِمَّ عَلَيْهِمْ
“Ditutup dan dihimpit atas mereka dari kedua sisi.”
Yakni dua gunung tersebut dijatuhkan dan dihimpitkan kepada mereka hingga mereka binasa.
2. الأَخْشَبَانِ
Kata الأخشب berarti:
> الْجَبَلُ الْغَلِيظُ الصَّلْبُ
“Gunung yang besar, kokoh dan keras.”
Adapun Al-Akhsyabain adalah dua gunung besar yang mengapit kota Makkah, yaitu:
Jabal Abu Qubais di sebelah timur Masjidil Haram.
Jabal Qu’aiqi’an di sebelah barat Masjidil Haram.
3. أَصْلَابِهِمْ
Artinya:
> جَمْعُ صُلْبٍ وَهُوَ الظَّهْرُ، وَالْمُرَادُ ذُرِّيَّتُهُمْ
“Bentuk jamak dari kata shulb (tulang punggung), dan yang dimaksud adalah keturunan mereka.”
Penjelasan Hadits
Aisyah radhiyallahu ‘anha bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang hari yang paling berat yang pernah beliau alami setelah Perang Uhud.
Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa musibah yang paling berat justru terjadi pada peristiwa dakwah ke Thaif. Hal itu terjadi setelah wafatnya dua orang yang paling beliau cintai dan menjadi pelindung dakwah beliau, yaitu:
Khadijah binti Khuwailid radhiyallahu ‘anha.
Abu Talib bin Abdul Muththalib.
Peristiwa tersebut terjadi pada tahun yang dikenal dengan:
> عَامُ الْحُزْنِ
“Tahun Kesedihan.”
Rasulullah ﷺ pergi ke Thaif untuk mengajak penduduknya kepada Islam dan meminta perlindungan bagi dakwah beliau. Namun para pemuka Thaif menolak beliau, bahkan menghasut anak-anak dan para budak untuk melempari beliau dengan batu hingga darah mengalir dari kedua kaki beliau.
Ketika sampai di Qarn Ats-Tsa’alib, Allah mengutus Malaikat Gunung yang menawarkan untuk menghancurkan penduduk Makkah dengan menghimpit mereka menggunakan dua gunung besar yang mengapit kota tersebut.
Namun Rasulullah ﷺ memilih jalan rahmat dan hidayah dibandingkan pembalasan.
Beliau berharap:
> «بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ»
“Aku berharap Allah mengeluarkan dari keturunan mereka orang-orang yang hanya menyembah Allah semata.”
Harapan itu benar-benar terwujud. Dari keturunan orang-orang yang dahulu memusuhi beliau lahir banyak kaum muslimin, ulama, dan pejuang Islam yang menyebarkan agama ini ke seluruh penjuru dunia.
Pelajaran dari Hadits
1. Rasulullah ﷺ adalah manusia yang paling penyabar terhadap gangguan manusia.
2. Seorang da’i tidak boleh tergesa-gesa mendoakan kebinasaan bagi kaumnya.
3. Rahmat dan kasih sayang Nabi ﷺ lebih besar daripada keinginan untuk membalas dendam.
4. Allah senantiasa menolong para pembela agama-Nya.
5. Semangat menuntut ilmu dan bertanya yang dimiliki oleh Aisyah binti Abu Bakar merupakan teladan bagi kaum muslimin.
6. Kesabaran dalam berdakwah sering kali membuahkan hasil yang tidak terlihat pada saat itu, tetapi muncul pada generasi berikutnya.
Allah Ta’ala berfirman:
> ﴿وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ﴾
“Tidaklah Kami mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”
(QS. Al-Anbiya: 107)
Gunung ini termasuk salah satu gunung yang paling terkenal di Makkah, meskipun bukan yang terbesar di antara gunung-gunungnya. Letaknya menjulang menghadap Ka’bah dari arah terbitnya matahari (sebelah timur).
Penduduk Makkah memiliki ungkapan terkenal:
> «الْوَاقِفُ عَلَى أَبِي قُبَيْسٍ يَرَى الطَّائِفَ»
“Orang yang berdiri di atas Gunung Abu Qubais dapat melihat kota Thaif.”
Ungkapan ini menggambarkan tingginya posisi Gunung Abu Qubais dan luasnya pemandangan yang dapat disaksikan dari puncaknya, terutama ke arah timur menuju kawasan Thaif.
Gunung Abu Qubais merupakan bagian dari rangkaian Pegunungan Khandamah. Letaknya berada di antara kawasan Pegunungan As-Sadd dan Syi’b Ali, serta merupakan gunung yang paling dekat dengan Ka’bah.
Gunung ini dinamakan Abu Qubais karena menurut sebagian riwayat ada seorang lelaki bernama Abu Qubais yang pertama kali membangun di atasnya.
Gunung Abu Qubais juga dikenal dalam sebagian riwayat sebagai gunung pertama yang diletakkan di bumi. Selain itu, ia dijuluki Al-Jabal Al-Amin (Gunung yang Terpercaya) karena, menurut riwayat, Allah memerintahkannya untuk menjaga dan menyimpan Hajar Aswad di dalamnya hingga tiba waktu penempatannya di Ka’bah.
Perlu dicatat bahwa penyebutan Abu Qubais sebagai gunung pertama di bumi dan kisah penyimpanan Hajar Aswad di dalamnya merupakan riwayat-riwayat sejarah yang dikenal di kalangan ahli sejarah Makkah, namun tingkat kesahihannya diperselisihkan oleh para ulama.
Gunung Abu Qubais, Gunung Pertama di Bumi
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
> «أَوَّلُ بُقْعَةٍ وُضِعَتْ مِنَ الْأَرْضِ مَوْضِعُ الْبَيْتِ، ثُمَّ مُدَّتْ مِنْهَا الْأَرْضُ، وَإِنَّ أَوَّلَ جَبَلٍ وَضَعَهُ اللَّهُ عَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ أَبُو قُبَيْسٍ، ثُمَّ مُدَّتْ مِنْهُ الْجِبَالُ»
“Tempat pertama yang diletakkan di bumi adalah lokasi Baitullah, kemudian bumi dibentangkan darinya. Dan gunung pertama yang Allah letakkan di muka bumi adalah Abu Qubais, kemudian gunung-gunung lainnya dibentangkan darinya.”
. Al-Baihaqi meriwayatkan dalam kitab Syu’ab al-Iman dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma:
> «إِنَّ أَوَّلَ جَبَلٍ وَضَعَهُ اللَّهُ تَعَالَى عَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ أَبُو قُبَيْسٍ، ثُمَّ مُدَّتْ مِنْهُ الْجِبَالُ»
“Sesungguhnya gunung pertama yang Allah Ta’ala letakkan di muka bumi adalah Abu Qubais, kemudian darinya dibentangkan gunung-gunung yang lainnya.”
Riwayat ini disebutkan oleh Al-Baihaqi dalam kitab Syu’ab al-Iman dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Namun, para ulama berbeda pendapat mengenai kekuatan dan kesahihan sanad riwayat tersebut, sehingga ia lebih banyak disebut dalam kitab-kitab sejarah dan keutamaan Makkah daripada dijadikan landasan dalam masalah akidah atau hukum.
4,6 Miliar Tahun
Menurut ilmu geologi dan para ahlinya, usia bumi diperkirakan sekitar 4 miliar 600 juta tahun. Allah Ta’ala berfirman:
> ﴿وَالْجِبَالَ أَوْتَادًا﴾
“Dan gunung-gunung sebagai pasak-pasak.” (QS. An-Naba’: 7)
Gunung merupakan pasak-pasak bumi. Sebagaimana sebuah tenda tidak dapat berdiri kokoh tanpa pasak, demikian pula bumi. Berdasarkan pandangan ini, Gunung Abu Qubais dianggap sebagai bagian dari ciptaan tertua di muka bumi. Jika seseorang menyentuh salah satu batu dari gunung yang sangat tua ini, seakan ia menyentuh sesuatu yang telah berusia sekitar 4,6 miliar tahun. Sebuah perasaan yang sangat menakjubkan.
Letak dan Penamaannya
Gunung Abu Qubais merupakan salah satu dari dua gunung besar (al-Akhsyabain) yang mengapit Makkah, terletak di sebelah timur Masjidil Haram dengan ketinggian sekitar 420 meter.
Disebutkan bahwa gunung ini dinamakan Abu Qubais karena seorang lelaki bernama Abu Qubais adalah orang pertama yang membangun di atasnya. Ada pula yang mengatakan bahwa nama tersebut berasal dari hubungan gunung ini dengan Hajar Aswad yang pernah disimpan di sana.
Gunung ini juga dikenal dengan nama Al-Amin (gunung yang terpercaya) karena Allah memerintahkannya untuk menjaga Hajar Aswad. Pada masa jahiliyah, Abu Qubais telah disebut Al-Amin karena Hajar Aswad disimpan di sana ketika terjadi banjir besar pada masa Nabi Nuh ‘alaihissalam.
Ketika Nabi Ibrahim ‘alaihissalam membangun Ka’bah, Allah memerintahkan Gunung Abu Qubais untuk mengeluarkan Hajar Aswad yang dititipkan padanya. Ada pula riwayat yang menyebutkan bahwa Malaikat Jibril membawa Hajar Aswad dari gunung tersebut lalu menyerahkannya kepada Nabi Ibrahim ‘alaihissalam untuk dipasang pada Ka’bah.
Gunung Abu Qubais juga menghadap langsung ke Ka’bah, bahkan bukit tempat Ka’bah dibangun terhubung dengan bagian dasar gunung tersebut.
Peristiwa Terbelahnya Bulan
Pada tahun 73 H, Abd al-Malik ibn Marwan memutuskan untuk mengakhiri perlawanan Abdullah bin az-Zubair. Ia mengirim pasukan besar di bawah komando Al-Hajjaj bin Yusuf untuk mengepung Makkah. Dalam pengepungan tersebut, manjaniq dipasang di atas Gunung Abu Qubais untuk menyerang kota.
Gunung Abu Qubais memiliki kedudukan istimewa karena dikaitkan dengan peristiwa mukjizat terbelahnya bulan (Insyiqaq al-Qamar). Disebutkan bahwa Nabi Muhammad ﷺ berada di dekat atau di atas Abu Qubais ketika mukjizat tersebut terjadi.
Allah Ta’ala berfirman:
> ﴿اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ﴾
“Hari Kiamat telah dekat dan bulan pun telah terbelah.” (QS. Al-Qamar: 1)
Dalam sebuah riwayat dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma disebutkan bahwa kaum musyrikin meminta Nabi ﷺ membelah bulan sebagai bukti kenabian beliau. Mereka berkata:
> “Jika engkau benar, belahlah bulan menjadi dua bagian; satu bagian berada di atas Abu Qubais dan bagian lainnya di atas Qu’aiqi’an.”
Rasulullah ﷺ bertanya:
إن فعلت تؤمنوا؟
> “Apakah kalian akan beriman jika aku melakukannya?”
Mereka menjawab:
> “Ya.”
Maka Rasulullah ﷺ berdoa kepada Allah, lalu bulan terbelah menjadi dua; satu bagian tampak di atas Abu Qubais dan bagian lainnya di atas Gunung Qu’aiqi’an. Rasulullah ﷺ kemudian berseru:
> «اشْهَدُوا، اشْهَدُوا»
“Saksikanlah! Saksikanlah!”
Tempat Tinggal Bilal radhiyallahu ‘anhu
Pada masa berikutnya, Bilal bin Rabah pernah tinggal di puncak Abu Qubais. Oleh sebab itu, masjid yang dahulu berada di puncak gunung tersebut dikenal dengan nama Masjid Bilal.
Sejarawan Hamad Al-Shuwai menyebutkan bahwa asal Bukit Shafa, tempat dimulainya sa’i, berada di bagian bawah Abu Qubais yang berhadapan dengan sudut Hajar Aswad. Beliau juga menegaskan bahwa peristiwa terbelahnya bulan terjadi di kawasan tersebut sebagai salah satu mukjizat Rasulullah ﷺ.
Beliau menambahkan bahwa Gunung Abu Qubais memiliki kedudukan istimewa di hati penduduk Makkah secara khusus dan kaum muslimin secara umum. Sejarahnya yang panjang, keteguhannya, kemegahannya, serta penyebutannya dalam berbagai riwayat telah menjadikan kecintaan terhadap gunung ini tertanam kuat di dalam hati banyak orang.
Maka gunung yang mulia ini memiliki sejumlah keistimewaan dibandingkan gunung-gunung lainnya, di antaranya:
1. Disebut dalam sebagian riwayat sebagai gunung pertama yang diletakkan di muka bumi.
2. Menurut sebagian riwayat, Allah Ta’ala menitipkan Hajar Aswad di dalamnya pada masa banjir besar Nabi Nuh ‘alaihissalam.
3. Gunung ini menghadap langsung ke Ka’bah al-Mu’azzhamah, bahkan bukit tempat Ka’bah dibangun disebut terhubung dengan bagian dasarnya.
4. Di kaki gunung ini terdapat rumah yang menjadi salah satu tempat awal penyebaran Islam, yaitu Dar Al-Arqam. Di tempat itulah Nabi ﷺ bersama para sahabat yang telah beriman berkumpul, bersembunyi dari gangguan kaum musyrikin, dan melaksanakan shalat secara sembunyi-sembunyi pada masa awal dakwah.
5. Di bagian bawahnya terdapat asal Bukit Shafa yang menjadi tempat dimulainya ibadah sa’i antara Shafa dan Marwah.
6. Di gunung ini, menurut sebagian riwayat sejarah, terjadi peristiwa mukjizat terbelahnya bulan bagi Rasulullah ﷺ.
7. Dalam salah satu riwayat disebutkan adanya makam Hawa’ dan Syits bin Adam ‘alaihissalam di kawasan gunung ini.
8. Disebut pula bahwa Hajar Aswad berasal atau pernah berada di gunung ini. Oleh sebab itu, pada masa jahiliah Abu Qubais dikenal dengan sebutan Al-Amin (yang terpercaya) karena Allah menitipkan Hajar Aswad di dalamnya ketika terjadi banjir besar. Ketika Nabi Ibrahim Al-Khalil ‘alaihissalam membangun Ka’bah, Abu Qubais menyeru:
> «الرُّكْنُ مِنِّي بِمَكَانِ كَذَا وَكَذَا»
> “Hajar (sudut Ka’bah/Hajar Aswad) berada padaku di tempat ini dan itu.”
Catatan
Sebagian besar poin di atas berasal dari riwayat-riwayat sejarah dan atsar yang disebutkan dalam kitab-kitab sejarah Makkah dan keutamaannya. Tingkat kesahihan riwayat-riwayat tersebut berbeda-beda; sebagian diperselisihkan dan sebagian lainnya tidak memiliki sanad yang kuat menurut para ahli hadits. Oleh karena itu, para ulama biasanya menyebutkannya dalam pembahasan sejarah dan keutamaan tempat, bukan sebagai pokok akidah atau hukum syariat yang pasti.
Semoga bermanfaat



