Akidah

Iman dan Kebahagiaan

Pengaruh Iman kepada Allah dalam Mewujudkan Kebahagiaan

Kebahagiaan adalah tujuan yang diharapkan oleh setiap manusia. Setiap orang berusaha meraihnya dalam setiap detik kehidupannya. Seluruh perbuatan dan ucapannya, baik yang tulus maupun yang semu, pada hakikatnya bermuara pada upaya untuk mencapai dan memperoleh kebahagiaan tersebut.

Manusia memiliki pandangan yang beragam tentang makna kebahagiaan. Di antara mereka ada yang memandang kebahagiaan terletak pada mengumpulkan dan menimbun harta. Ada pula yang mencarinya melalui jabatan dan kedudukan. Sebagian lainnya berharap dapat meraihnya lewat kenikmatan dan pemuasan hawa nafsu.

Namun bagaimana mungkin mereka dapat memperolehnya, sementara mereka telah tersesat dari jalannya, menjauh dari sumbernya, dan kebingungan mencarinya?

Sesungguhnya semua hal tersebut tidak memiliki hubungan dengan kebahagiaan yang hakiki. Ia hanyalah perasaan bahagia yang bersifat sementara dan akan sirna seiring hilangnya sebab-sebabnya. Pemilik harta bisa saja kehilangan hartanya. Orang yang memiliki jabatan tinggi yang dibanggakan dan dipamerkan dapat disingkirkan dari kedudukannya. Adapun kebahagiaan yang bersumber dari kenikmatan dan syahwat, hanyalah berlangsung beberapa saat, kemudian lenyap secepat kedipan mata.

Kebahagiaan sejati bukanlah terletak pada kemewahan dunia, kelapangan hidup, dan banyaknya harta. Bahkan semua itu bisa menjadi sebab penderitaan dan bencana bagi pemiliknya jika tidak digunakan dalam ketaatan kepada Allah dan untuk meraih keridaan-Nya. Allah Ta‘ala berfirman dalam kitab-Nya yang mulia:

﴿ فَلَا تُعْجِبْكَ أَمْوَالُهُمْ وَلَا أَوْلَادُهُمْ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ بِهَا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ﴾ [التوبة: 55].

“Janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah hendak menyiksa mereka dengan itu di dunia.”

(QS. At-Taubah: 55)

Kebahagiaan yang hakiki adalah perasaan yang Allah tanamkan di dalam hati hamba-hamba-Nya yang saleh. Allah menganugerahkannya kepada mereka dan menjadikan hati mereka tenteram dengannya, betapapun mereka berada dalam kesempitan, kesusahan, dan keletihan. Setiap kali kehidupan terasa sempit dan cobaan semakin berat, justru bertambah kuatlah mereka, semakin kokoh, dan semakin tenang. Mereka adalah manusia yang paling lapang dadanya, paling sejuk hatinya, dan paling baik kehidupannya. Sebab dari semua itu, serta kunci yang mewujudkannya bagi mereka, adalah iman kepada Allah dan keridaan terhadap ketentuan dan takdir-Nya.

Apabila seseorang benar-benar beriman kepada ketetapan Rabb-nya, maka lenyaplah kegelisahan dan kekhawatirannya, sirnalah rasa sakit dan bisikan-bisikan yang mengganggunya. Ia pun merasakan ketenangan jiwa dan kelapangan dada dalam menghadapi segala peristiwa, meskipun hal itu termasuk sesuatu yang tidak ia sukai dan ia benci. Hal ini karena ia meyakini bahwa perkara-perkara tersebut tersembunyi hakikatnya, tidak diketahui apa yang mengandung kebaikan dan keburukan, harapan maupun kesedihan. Semua itu berada di tangan Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana, bukan di tangan manusia sedikit pun. Maka ia pun bersandar kepada Rabb-nya dan merasa tenteram kepada-Nya. Keadaannya menjadi baik, urusannya menjadi lurus, kegelisahan dan ketakutannya sirna dan menjauh. Imannya mendatangkan kegembiraan, kebahagiaan, keceriaan hidup, serta keridaan dan ketenteraman hati.

Wallahu a’lam

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button