Kunci-Kunci Khusyuk Dalam Salat (14)

Kunci-Kunci Khusyuk Dalam Salat (14)
Kecemburuan Setan Kepada Orang Yang Salat
Jika seorang hamba berdiri di hadapan Rabbnya dalam salat, maka sesungguhnya setan cemburu dan berusaha untuk merusak salat hamba tersebut. Hal ini ditunjukkan oleh sebuah hadis yang diriwayatkan dalam sahihain dari Abu Hurairah radiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila salat telah diserukan (azan), maka setan akan berpaling dan pergi sambil kentut agar tidak mendengarkan azan. Jika azan telah selesai ia kembali dan ketika iqomah telah dikumandangkan ia kembali berpaling. Jika iqomah telah selesai ia kembali lagi hingga ia menyelinap di antara seseorang dan dirinya (dalam salat) seraya berkata: ‘Ingat ini, ingat itu’ terhadap hal-hal yang sebelumnya ia tidak ingat, sampai seseorang tidak ingat berapa rakaat ia telah salat”[1]
Hadis ini menunjukkan betapa besar kehinaan, ketakutan dan kemarahan setan ketika nama Allah disebut dalam azan. Karena azan mengandung pengagungan kepada Allah, penegakan agama-Nya dan seruan yang dikeraskan dengan zikir. Maka setan pun lari menjauh dengan keras agar tidak mendengarnya. Setelah azan selesai, ia kembali sesuai dengan naluri dan tabiatnya untuk menggoda manusia. Ketika iqamah dikumandangkan ia kembali lari. Setelah iqamah selesai, ia kembali lagi hingga menyelinap di antara seseorang dan dirinya sendiri (dalam salat)[2].
Inilah sebab kecemburuan setan kepada orang yang salat, oleh karena itu setan memusuhinya, mengganggunya dalan salat, dan berusana memalingkannya dari kedudukan yang agung ini (salat).
Ibnul Qayyim berkata: “Jika seorang hamba berdiri dalam salat, setan cemburu kepadanya, karena sang hamba sedang berada pada kedudukan yang sangat agung (salat) yang kedudukan itu sangat dibenci oleh setan dan sangat memusuhinya. Karena itu, setan berambisi dan bersungguh-sungguh untuk memalingkan seorang hamba dari kedudukan itu, bahkan ia mendatangi orang yang salat dari depan, belakang, kanan dan kiri dengan tujuan itu. Bahkan setan terus menerus berusaha hingga meremehkan kedudukan salat di mata hamba tersebut sehingga ia pun menyepelekan dan menyia-nyiakannya.
Dan apabila setan telah lemah dan tidak sanggup mengganggu orang yang sedang salat dan berdiri teguh pada kedudukan tersebut, maka musuh Allah (setan) menyelinap di antara dirinya dan hatinya. Ia mengingatkannya di dalam salat tentang perkara-perkara yang sebelumnya ia tidak ingat sebelum salat -baik itu urusan dunia, kebutuhan atau hal lain, lalu ia mengulang-ulangnya dalam salat agar menyibukkan hati hamba tersebut, mencuri hatinya dari Allah. Maka hamba yang sedang salat itu pun berdiri di hadapan Allah tanpa hati, sehingga ia tidak mendapatkan sambutan dari Allah, tidak memperoleh kedekatan dan kemuliaan-Nya sebagaimana yang diperoleh oleh orang-orang yang menghadap kepada Rabb-Nya dengan hati yang hadir ketika salat. Akhirnya ia selesai dari salatnya dalam keadaan seperti ketika ia memasukinya, dengan beban dosa dan kesalahan, karena salat itu tidak mampu menghapusnya.
Sesungguhnya salat hanya dapat menghapus keburukan bagi orang orang yang menunaikan hak-haknya (khusyuk di dalamnya), dan berdiri di hadapan Allah dengan hati yang hadir dan anggota badannya. Maka apabila ia selesai dari salat, ia mendapati ringan dalam jiwanya, kelapangan di dada, semangat, ketenangan, dan kegembiraan hingga ia berharap tidak keluar darinya; Karena salat itu menjadi penyejuk mata, kenikmatan ruh, surga hati, dan tempat istirahat di dunia. Ia senantiasa berada dalam kesempitan dan kegelisahan sampai ia masuk ke dalam salat, lalu ia beristirahat dengannya, bukan darinya.
Orang-orang yang mencintai salat berkata: “Kami salat lalu kami beristirahat denga salat kami”, sebagaimana dikatakan oleh imam dan panutan serta Nabi mereka: “Wahai Bilal, tenangkanlah kami dengan salat”[3] dan beliau tidak mengatakan: “Tenangkanlah kami dari salat”. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda: “Telah dijadikan penyejuk mataku di dalam salat”[4]. Maka barangsiapa yang dijadikan penyejuk matanya dalam salat, bagaimana mungkin matanya merasa tenang tanpa salat dan bagaimana ia bisa bersabar tanpa salat?!/
Salat orang yang hadir hatinya, yang penyejuk matanya ada dalam salat, itulah salat yang naik ke langit (diterima) dan memiliki cahaya serta bukti, hingga ia menghadap kepada Ar Rahman dan disambut oleh-Nya.
Adapun salat orang yang menyia-nyiakan, yang melalaikan hak-haknya, batas-batas dan kekhusyukannya, maka salat itu digulung sebagaimana pakaian usang yang digulung lalu dipukulkan ke wajah pemiliknya[5].
Salat yang diterima
Salat yang diterima adalah ketika seorang hamba melaksanakan salat yang sesuai dengan kedudukannya saat berdiri di hadapan Tuhannya; salat yang menunjukkan pengagungan kepada Allah dan ketundukan kepada-Nya. Hal ini terwujud dengan menegakkan rukun-rukun, syarat-syarat, dan adab-adabnya, baik secara lahir maupun batin.
Adapun amal yang diterima terbagi menjadi dua macam:
Pertama, seorang hamba melaksanakan salat dan berbagai ketaatan lainnya dengan hati yang terikat kepada Allah, senantiasa mengingat-Nya. Amal-amal hamba ini dipersembahkan kepada Allah hingga berada di hadapan-Nya. Maka Allah melihatnya, dan ketika Dia melihatnya, Dia mendapati amal itu ikhlas karena-Nya, lahir dari hati yang bersih, tulus, penuh cinta kepada Allah, dan bertujuan mendekat kepada-Nya. Maka Allah mencintainya, meridhainya, dan menerimanya.
Kedua, seorang hamba melakukan amal-amal ibadah secara kebiasaan dan dalam keadaan lalai, namun ia meniatkannya sebagai ketaatan dan pendekatan diri kepada Allah. Anggota tubuhnya sibuk dengan ibadah, tetapi hatinya lalai dari mengingat Allah. Salat seperti ini tertolak bagi pelakunya meskipun secara hukum telah menggugurkan kewajiban.
Oleh karena itu, kehadiran hati dalam salat, keikhlasan ibadah kepada Allah, dan mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan syarat untuk mendapatkan pahala atas amal.
Adapun bentuk penerimaan amal yang kedua ini adalah pemberian balasan berupa makhluk dari makhluk-Nya, seperti istana, makanan, minuman, dan bidadari. Sedangkan balasan bagi golongan pertama adalah Allah meridhai amal itu untuk diri-Nya, meridhai pelakunya, mendekatkannya kepada-Nya, serta mengangkat derajat dan kedudukannya. Balasan ini diberikan tanpa hisab. Ini merupakan satu tingkatan, dan yang pertama merupakan tingkatan yang lain[6].
- HR. Bukhari (1/125) No. 608, Muslim (1/291) No. 389. ↑
- . Lihat: at Tamhid (18/308). ↑
- . HR. Ahmad (5/364), Abu Daud (7/339) No. 4986. Disahihkan oleh al Mundziri di dalam Mukhtasar sunan Abi Daud (3/365), dan juga al Iraqi di dalam Takhrij Hadis-Hadis Ihya Hal. 195. ↑
- . HR. Ahmad (4/330), Hakim (2/160) dari hadis Anas bin Malik radiallahu ‘anhu. Dan disahihkan oleh Hakim dan Ibnul Qayyim dalam bukunya Zadul Ma’ad (1/150), (4/336). Berkata Adz Dzahabi dalam buku beliau Mizan (2/177): “Sanadnya kuat”. Juga dihasankan oleh Ibnu Hajar dalam bukunya Talkhis al Habiir (3/133). ↑
- . al Waabil as Sayyib Hal. 20 – 21. ↑
- .Lihat: al Waabil as Sayyib Hal. 23. ↑



