Tutuplah Bulan Ramadan Kalian dengan Istighfar

Tutuplah Bulan Ramadan Kalian dengan Istighfar
Ust. Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَأُثْنِي عَلَيْهِ الْخَيْرَ كُلَّهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ، وَمَنِ اتَّبَعَ سُنَّتَهُ بِإِحْسَانٍ إِلَىٰ يَوْمِ الدِّينِ. أَمَّا بَعْدُ:
Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, baik, dan penuh keberkahan. Aku memuji-Nya dan menyanjung-Nya dengan segala kebaikan. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga shalawat dan salam tercurah kepada beliau, keluarga, sahabat, dan siapa saja yang mengikuti sunnahnya dengan baik hingga hari kiamat. Amma ba’du:
Wahai muslim yang mulia, kini kita berada di Jumat terakhir dari bulan Ramadan yang penuh berkah. Beberapa hari lagi bulan yang mulia ini akan meninggalkan kita. Bulan puasa dan qiyam, bulan ketaatan dan ampunan, bulan tarawih, Al-Qur’an, dan kebaikan.
Demikianlah sunnatullah pada makhluk-Nya: setiap yang memiliki permulaan pasti memiliki akhir, tidak ada sesuatu yang terus-menerus, dan segala sesuatu pasti akan lenyap. Sebagaimana malam pasti berakhir dengan terbitnya fajar, dan umur pasti berakhir dengan masuk ke dalam kubur.
Sebagaimana Ramadan berlalu begitu cepat, maka demikian pula umur kita akan berlalu, bahkan dunia seluruhnya akan berakhir. Sungguh suatu kebodohan jika manusia bersandar pada dunia, merasa tenang dengannya, dan lebih mengutamakannya daripada akhirat.
Allah Ta’ala berfirman:
﴿ بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا * وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى ﴾
“Namun kalian lebih mengutamakan kehidupan dunia, padahal akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.” Surah Al-A‘la (87: 16–17)
Wahai muslim, sesungguhnya di antara amalan terbaik untuk menutup puasa dan mengakhiri Ramadan adalah memperbanyak istighfar.
Setiap ibadah yang disyariatkan oleh Allah, di akhirnya selalu disertai dengan istighfar.
Demikian pula petunjuk Nabi ﷺ, beliau menutup amal-amal shalih dengan istighfar. Para salaf juga, setelah selesai dari ketaatan, mereka menutupnya dengan dzikir, istighfar, dan taubat, sebagai bentuk penutup dari kekurangan yang mungkin terjadi.
Ibnu Rajab rahimahullah berkata:
وَكَانُوا مَعَ اجْتِهَادِهِمْ فِي الصِّحَّةِ فِي الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ يُجَدِّدُونَ التَّوْبَةَ وَالِاسْتِغْفَارَ عِنْدَ الْمَوْتِ، وَيَخْتِمُونَ أَعْمَالَهُمْ بِالِاسْتِغْفَارِ وَكَلِمَةِ التَّوْحِيدِ.
“Mereka, meskipun bersungguh-sungguh dalam amal shalih, tetap memperbarui taubat dan istighfar saat menjelang wafat, dan menutup amal mereka dengan istighfar dan kalimat tauhid.”
Jika engkau menelusuri ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis Nabi, engkau akan dapati semuanya mendorong untuk menutup amal dengan istighfar.
Karena istighfar:
– menutupi kekurangan amal
– menenangkan hati
– menjaga dari ujub (bangga diri)
– dan mengingatkan akan kekurangan diri
Allah memerintahkan jamaah haji untuk menutup ibadah mereka dengan istighfar.
Allah Ta’ala berfirman:
﴿لَعْنًا كَبِيرًا * يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ آذَوْا مُوسَى فَبَرَّأَهُ اللَّهُ مِمَّا قَالُوا وَكَانَ عِنْدَ اللَّهِ وَجِيهًا﴾
“(Mereka mendapat) laknat yang besar. Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian seperti orang-orang yang menyakiti Musa; lalu Allah membersihkannya dari tuduhan yang mereka katakan. Dan dia (Musa) adalah seorang yang memiliki kedudukan mulia di sisi Allah.” (QS. Al-Ahzab: 68–69)
Haji adalah ibadah yang mencakup tiga aspek sekaligus: fisik (badaniyah), harta (maliyah), dan hati (qalbiyah). Di dalamnya terdapat banyak pengorbanan dan pemberian, banyak dzikir, serta kesulitan yang sudah dikenal.
Namun demikian, Allah tetap memerintahkan kita untuk beristighfar. Semua itu agar seorang mukmin semakin bertambah tawadhu’, merasa hina dan tunduk di hadapan Rabb-nya. Setiap kali seseorang semakin merasa rendah dan penuh ketundukan, maka ia justru semakin tinggi derajatnya di sisi Allah.
Dalil tentang Istighfar di Waktu Sahur (Akhir Malam)
Allah Ta’ala juga mendorong para ahli qiyamul lail agar menutup ibadah malam mereka dengan istighfar. Allah berfirman:
﴿ إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ * آخِذِينَ مَا آتَاهُمْ رَبُّهُمْ إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَلِكَ مُحْسِنِينَ * كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ * وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ ﴾
“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam surga-surga dan mata air, sambil menerima apa yang diberikan Rabb mereka kepada mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu adalah orang-orang yang berbuat baik. Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan pada waktu sahur mereka memohon ampun.” (QS. Adz-Dzariyat: 15–18)
Allah menggambarkan para hamba-Nya yang rajin tahajud, yang menghidupkan malam dengan rukuk dan sujud. Namun meskipun demikian, mereka tetap menjadikan waktu sahur sebagai waktu untuk beristighfar, karena mereka merasa masih banyak kekurangan dalam ibadah mereka, sehingga mereka memohon ampun kepada Allah.
Allah juga menutup surat yang berbicara tentang qiyamul lail dengan perintah istighfar:
﴿ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ ﴾
“Dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Muzzammil: 20)
Bahkan Nabi ﷺ, setelah menyempurnakan dakwah dan jihad, serta melihat manusia masuk Islam berbondong-bondong, Allah tetap memerintahkan beliau untuk beristighfar:
﴿ إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ ﴾
“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan,”
﴿ وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا ﴾
“dan engkau melihat manusia masuk ke dalam agama Allah secara berbondong-bondong,”
﴿ فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا ﴾
“maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sungguh, Dia Maha Penerima taubat.” Surah An-Nashr (110: 1–3)
Aisyah radliallahu anha berkata:
Rasulullah ﷺ banyak mengucapkan:
( سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ)
“Subhanallah wa bihamdih, astaghfirullah wa atubu ilaih”
Ketika ditanya, beliau menjawab bahwa itu adalah perintah dari Allah setelah turunnya surat An-Nashr.
Shahih Muslim, Kitab Shalat, Bab: Apa yang dibaca dalam rukuk dan sujud: (1/351), no. (484).
Maka penyampaian risalah dan jihad di jalan Allah adalah suatu ibadah yang telah beliau sempurnakan dan beliau tunaikan. Lalu Allah memerintahkan beliau untuk beristighfar setelahnya.
Jika Nabi ﷺ saja, padahal beliau ma‘shum (terjaga dari dosa), tetap diperintahkan untuk beristighfar, maka umatnya tentu lebih layak untuk melakukannya.
Dan syariat juga mendorong orang yang berwudhu untuk menutup wudhunya dengan taubat dan istighfar. Nabi ﷺ bersabda:
(وَمَنْ تَوَضَّأَ ثُمَّ قَالَ: سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ كُتِبَ فِي رَقٍّ، ثُمَّ طُبِعَ بِطَابَعٍ فَلَمْ يُكْسَرْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ).
“Barang siapa berwudhu, kemudian ia mengucapkan: Subhanakallahumma wa bihamdika, laa ilaaha illa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaik, maka akan dituliskan baginya dalam sebuah lembaran, kemudian disegel dengan suatu cap, dan tidak akan dibuka hingga hari kiamat.”
An-Nasa’i, ‘Amal al-Yaum wal-Lailah, Bab: Apa yang dibaca ketika selesai dari wudhu: (hlm. 173), no. (81).
Dan juga diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrak ‘ala ash-Shahihain, Kitab: Keutamaan Al-Qur’an – menyebutkan keutamaan beberapa surah dan ayat: (1/752), no. (2072).
Al-Hakim berkata: Hadis ini sahih sesuai syarat Muslim.
Maknanya: dituliskan baginya dalam catatan yang terjaga, yang tidak akan terhapus dan tidak akan batal.
Dan juga dianjurkan bagi orang yang selesai shalat untuk beristighfar.
Dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
كَانَ رَسُولُ اللهِ (صلى الله عليه وسلم)، إِذَا انْصَرَفَ مِنْ صَلَاتِهِ اسْتَغْفَرَ ثَلَاثًا وَقَالَ: (( اللهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ، تَبَارَكْتَ ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ).
Rasulullah ﷺ apabila selesai dari shalatnya, beliau beristighfar tiga kali, lalu mengucapkan:
“Allahumma anta as-salaam wa minka as-salaam, tabaarakta yaa dzal jalaali wal ikraam.”
Shahih Muslim, Kitab Masjid dan Tempat Shalat. Bab: Anjuran berdzikir setelah shalat dan penjelasan tata caranya: (1/414), no. (591).
Padahal shalat itu seluruhnya adalah dzikir dan ibadah, namun Allah tetap mensyariatkan agar ditutup dengan istighfar, sebagai bentuk mengingat dosa dan mengharap ampunan-Nya.
Sebagian ulama salaf, apabila selesai melaksanakan shalat, mereka beristighfar atas kekurangan dalam shalat tersebut, sebagaimana seorang pendosa beristighfar dari dosanya.
Jika demikian keadaan orang-orang yang baik dalam ibadah mereka, maka bagaimana keadaan kita yang penuh kekurangan dalam ibadah?
Lihat: Ibnu Rajab, Latha’if al-Ma‘arif: (hlm. 215).
Dan Nabi ﷺ juga menutup majelis-majelis amal shalih, baik membaca Al-Qur’an, shalat, maupun amal lainnya dengan istighfar.
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata:
(( مَا جَلَسَ رَسُولُ اللهِ (صلى الله عليه وسلم) مَجْلِسًا قَطُّ، وَلاَ تَلاَ قُرْآنًا، وَلاَ صَلَّى صَلاَةً إِلاَّ خَتَمَ ذَلِكَ بِكَلِمَاتٍ، قَالَتْ: فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَرَاكَ مَا تَجْلِسُ مَجْلِسًا، وَلاَ تَتْلُو قُرْآنًا، وَلاَ تُصَلِّي صَلاَةً إِلاَّ خَتَمْتَ بِهَؤُلاَءِ الْكَلِمَاتِ ؟ قَالَ (( نَعَمْ، مَنْ قَالَ خَيْرًا خُتِمَ لَهُ طَابَعٌ عَلَى ذَلِكَ الْخَيْرِ، وَمَنْ قَالَ شَرًّا كُنَّ لَهُ كَفَّارَةً: سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ ).
“Tidaklah Rasulullah ﷺ duduk dalam suatu majelis, atau membaca Al-Qur’an, atau melaksanakan shalat, kecuali beliau menutupnya dengan beberapa kalimat.”
Aku (Aisyah) berkata: “Wahai Rasulullah, aku melihat engkau tidak duduk dalam suatu majelis, tidak membaca Al-Qur’an, dan tidak shalat kecuali engkau menutupnya dengan kalimat-kalimat itu?”
Beliau menjawab: “Ya, barang siapa yang berkata baik, maka akan diberi cap atas kebaikan itu. Dan barang siapa berkata buruk, maka itu menjadi penebus baginya, yaitu: Subhanakallahumma wa bihamdika, laa ilaaha illa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaik.”
An-Nasa’i, ‘Amal al-Yaum wal-Lailah. Bab: Apa yang dibaca sebagai penutup tilawah Al-Qur’an: (hlm. 273), no. (308).
Demikian pula pada penutup bulan Ramadan, hendaknya seorang yang berpuasa menutup puasanya dan bulannya dengan istighfar. Bisa jadi telah terjadi kekurangan atau kelalaian dalam ibadahnya. Maka istighfar menjaga amal ketaatan dari kesia-siaan dan membersihkannya dari berbagai kekurangan.
Oleh karena itu, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata ketika menyebutkan keutamaan bulan Ramadan:
(ويغفر فيه إلا لمن أبى)، فقالو: يا أبا هريرة! ومن يأبى! قال: ( يأبى أن يستغفر الله).
“Diampuni di dalamnya, kecuali orang yang enggan.”
Mereka bertanya: “Wahai Abu Hurairah, siapa yang enggan itu?”
Beliau menjawab: “Yaitu orang yang enggan beristighfar kepada Allah.”
Karena itu, hendaknya bulan Ramadan ditutup dengan istighfar. Ia menyempurnakan puasa dan menambal apa yang robek darinya akibat perkataan sia-sia dan ucapan keji.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:
(الْغِيبَةُ تَخْرِقُ الصَّوْمَ، وَالِاسْتِغْفَارُ يُرَقِّعُهُ، فَمَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَجِيءَ غَدًا بِصَوْمِهِ مُرَقَّعًا فَلْيَفْعَلْ).
“Ghibah itu merusak puasa, dan istighfar menambalnya. Maka barang siapa di antara kalian mampu datang esok hari dengan puasanya dalam keadaan telah tertambal, maka lakukanlah.”
Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Syu‘ab al-Iman. Bab: Keutamaan bulan Ramadan – orang yang berpuasa menjaga puasanya dari ucapan sia-sia, celaan, dan hal yang tidak pantas: (3/316), no. (3644).
Umar bin Abdul Aziz rahimahullah menulis kepada berbagai daerah, memerintahkan mereka untuk menutup Ramadan dengan istighfar dan zakat fitrah.
Karena zakat fitrah adalah penyuci bagi orang yang berpuasa dari ucapan sia-sia dan keji, dan istighfar menambal kekurangan yang terjadi pada puasa tersebut.
Beliau juga berkata dalam suratnya:
قولوا كما قال أبوكم آدم (عليه السلام): ﴿ يَسْأَلُكَ النَّاسُ عَنِ السَّاعَةِ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللَّهِ وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ تَكُونُ قَرِيبًا ﴾ ، وقولوا كما قال نوح (عليه السلام): ﴿ وَإِلَّا تَغْفِرْ لِي وَتَرْحَمْنِي أَكُنْ مِنَ الْخَاسِرِينَ ﴾ [14]، وقولوا كما قال إبراهيم (عليه السلام): ﴿ وَالَّذِي أَطْمَعُ أَنْ يَغْفِرَ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ ﴾، وقولوا كما قال موسى (عليه السلام): ﴿ رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي ﴾ ، وقولوا كما قال ذو النون (عليه السلام): ﴿ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ ﴾ .
Ucapkanlah sebagaimana ucapan bapak kalian, Adam alaihis salam.
Ucapkanlah sebagaimana ucapan Nabi Nuh alaihis salam: “Jika Engkau tidak mengampuni aku dan merahmatiku, niscaya aku termasuk orang-orang yang merugi.”
Ucapkanlah sebagaimana ucapan Nabi Ibrahim alaihis salam: “Dan yang aku harapkan adalah Dia mengampuni kesalahanku pada hari pembalasan.”
Ucapkanlah sebagaimana ucapan Nabi Musa alaihis salam: “Wahai Rabbku, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku, maka ampunilah aku.”
Dan ucapkanlah sebagaimana ucapan Dzun Nun (Nabi Yunus) alaihis salam: “Tidak ada sesembahan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sungguh aku termasuk orang-orang yang zalim.”
Al-Baihaqi dalam As-Sunan al-Kubra. Bab: Waktu mengeluarkan zakat fitrah: (4/293), no. (7740). Dan Ibnu Rajab, Latha’if al-Ma‘arif (hlm. 214).
Istighfar adalah ibadah yang dicintai oleh Allah dari hamba-hamba-Nya. Allah mensyariatkannya sebagai bentuk karunia dan kebaikan-Nya, agar dengannya Dia menghapus dosa-dosa mereka.
Karena itu Allah memerintahkan istighfar sepanjang hidup.
Luqman berkata kepada anaknya:
( يا بُنيَّ؛ عوِّد لسانَكَ: اللهَمَّ اغفرْ لِي، فإنَّ للَّهِ ساعاتٍ لا يَردُّ فيهنَّ سائلًا ).
“Wahai anakku, biasakanlah lisanmu dengan ucapan: ‘Ya Allah, ampunilah aku’, karena sesungguhnya Allah memiliki waktu-waktu di mana Dia tidak menolak orang yang meminta.”
Lihat: Latha’if al-Ma‘arif, karya Ibnu Rajab Al-Hanbali: (hlm. 214), Rawa’i‘ at-Tafsir, karya Ibnu Rajab Al-Hanbali: (2/653), Syu‘ab al-Iman, karya Al-Baihaqi: (5/427), no. (7146).
Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata:
( لا تملُّوا من الاستغفارِ، واكثِرُوا مِنه في بُيُوتِكم، وعَلَى موائِدِكم، وفي طُرُقِكم، وفي أسواقِكُم، فإنَّكم ما تدرُون متى تَنْزِلُ المغفرةُ ).
“Janganlah kalian bosan dari istighfar. Perbanyaklah di rumah kalian, di meja makan kalian, di jalan-jalan kalian, dan di pasar-pasar kalian, karena kalian tidak mengetahui kapan turunnya ampunan.”
Lihat: Rawa’i‘ at-Tafsir, karya Ibnu Rajab Al-Hanbali: (2/653).
Qatadah rahimahullah berkata:
“إِنَّ الْقُرْآنَ يَدُلُّكُمْ عَلَى دَائِكُمْ وَدَوَائِكُمْ، أَمَّا دَاؤُكُمْ فَذُنُوبُكُمْ، وَأَمَّا دَوَاؤُكُمْ فَالِاسْتِغْفَارُ”.
“Sesungguhnya Al-Qur’an menunjukkan kepada kalian penyakit dan obat kalian. Adapun penyakit kalian adalah dosa, dan obatnya adalah istighfar.”
Syu‘ab al-Iman, karya Al-Baihaqi: (5/427), no. (7146).
Maka betapa pantas bagi kita di akhir bulan ini untuk membasahi lisan dengan istighfar.
Dan betapa pantas kita untuk bersungguh-sungguh menyempurnakan amal hingga malam ‘Id, kemudian mengisi malam tersebut dengan istighfar, takbir, dan syukur kepada Allah.
Seorang muslim yang telah diberi taufik untuk berpuasa dan qiyam Ramadan hendaknya menutupnya dengan istighfar dan syukur kepada Allah.
Istighfar untuk menutup kekurangan dalam ibadahnya, dan syukur kepada Allah atas nikmat taufik dalam menjalankan ibadah yang agung ini.
Demikianlah seharusnya seorang hamba, setiap selesai dari suatu ibadah, ia beristighfar atas kekurangan dan bersyukur atas taufik. Maka tutuplah bulan kalian dengan penutup yang terbaik, karena sesungguhnya amal itu tergantung pada penutupnya.
Barang siapa berbuat baik dalam bulannya, hendaknya ia menyempurnakannya. Dan barang siapa berbuat buruk, hendaknya segera bertaubat dan bersegera kepada amal shalih sebelum datangnya ajal.
Bisa jadi Ramadan ini tidak akan kembali lagi kepada sebagian dari kita setelah tahun ini. Maka tutuplah bulan kalian dengan kebaikan, dan teruskan amal-amal shalih yang biasa kalian lakukan di dalamnya sepanjang tahun.
Karena Rabb seluruh waktu adalah Rabb Ramadan, dan Dia senantiasa mengawasi kita serta menyaksikan amal-amal kita.
اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا رَمَضَانَ، اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا الصِّيَامَ وَالْقِيَامَ وَتِلَاوَةَ الْقُرْآنِ، اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ شَاهِدًا لَنَا لَا شَاهِدًا عَلَيْنَا، اللَّهُمَّ أَعِدْهُ عَلَيْنَا أَعْوَامًا عَدِيدَةً، وَأَزْمِنَةً مَدِيدَةً، اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا الِاسْتِقَامَةَ عَلَىٰ دِينِكَ فِي كُلِّ زَمَانٍ، فِي رَمَضَانَ وَغَيْرِ رَمَضَانَ، اللَّهُمَّ اخْتِمْ لَنَا شَهْرَ رَمَضَانَ بِرِضْوَانِكَ، وَأَجِرْنَا مِنْ عُقُوبَتِكَ وَنِيرَانِكَ، وَاجْعَلْ مَآلَنَا إِلَىٰ جَنَّتِكَ. آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.
Ya Allah, terimalah dari kami Ramadan.
Ya Allah, terimalah puasa, qiyam, dan tilawah Al-Qur’an kami.
Ya Allah, jadikan Ramadan sebagai saksi bagi kami, bukan saksi atas kami.
Ya Allah, kembalikan kepada kami Ramadan di tahun-tahun mendatang.
Ya Allah, karuniakan kepada kami istiqamah di atas agama-Mu setiap waktu, di Ramadan maupun di luar Ramadan.
Ya Allah, tutuplah Ramadan kami dengan keridhaan-Mu, lindungilah kami dari siksa dan api neraka-Mu, dan jadikan tempat kembali kami adalah surga-Mu.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Semoga bermanfaat



