Ebook

Buku: Haji Nabi ﷺ Dalam Riwayat Jabir

Download Pdfnya Klik

Daftar isi

Daftar isi 2

Mukadimah 3

Haji Nabi Muhammad ﷺ Sebagaimana Diriwayatkan Oleh Sahabat Jabir 7

Renungan Bersama Hadis Jābir 23

Faedah-Faedah yang Dapat Diambil dari Hadis 24

Mukadimah

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad ﷺ, kepada keluarga beliau, para sahabatnya, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga Hari Kiamat.

Amma ba‘du:

Sesungguhnya ibadah haji merupakan salah satu syiar terbesar dalam agama Islam dan termasuk rukun Islam yang agung. Allah Ta‘ala telah mewajibkannya atas hamba-hamba-Nya yang mampu, sebagai bentuk penghambaan, ketundukan, dan penyempurnaan tauhid kepada-Nya. Oleh karena itu, kaum muslimin sangat membutuhkan bimbingan yang benar dalam memahami tata cara pelaksanaan ibadah haji sesuai tuntunan Rasulullah ﷺ.

Di antara hadis yang paling agung dalam pembahasan manasik haji adalah hadis Jābir bin ‘Abdillāh raḍiyallāhu ‘anhu tentang sifat haji Nabi ﷺ. Hadis ini merupakan hadis yang sangat besar kedudukannya dalam bab haji, bahkan para ulama menjadikannya sebagai pokok utama dalam penjelasan hukum-hukum manasik. Imam Muslim meriwayatkannya secara panjang lebar dalam Ṣaḥīḥ beliau, sehingga hadis ini menjadi rujukan penting bagi para ulama, penuntut ilmu, dan kaum muslimin dalam memahami tata cara haji Nabi ﷺ secara rinci dan menyeluruh.

Dalam hadis ini, Jābir raḍiyallāhu ‘anhu menggambarkan perjalanan haji Rasulullah ﷺ sejak keberangkatan beliau dari Madinah hingga selesainya seluruh manasik. Di dalamnya terdapat penjelasan tentang ihram, talbiyah, tawaf, sa‘i, wuquf di Arafah, mabit di Muzdalifah dan Mina, melempar jamrah, menyembelih hadyu, hingga khutbah agung Nabi ﷺ pada Haji Wada‘ yang memuat prinsip-prinsip besar agama Islam.

Karena itu, mempelajari hadis ini bukan hanya sekadar mempelajari tata cara ibadah haji, namun juga mempelajari kesempurnaan ittibā‘ kepada Rasulullah ﷺ, memahami hikmah syariat, serta mengenal bagaimana para sahabat mengambil agama langsung dari Nabi ﷺ dengan penuh ketelitian dan ketundukan.

Imam An-Nawawi رحمه الله berkata tentang hadis ini:

“Hadis Jābir adalah hadis yang agung, mencakup banyak faedah dan kaidah penting. Para ulama telah banyak berbicara tentang kandungan fikih di dalamnya.”

Bahkan Ibnul Mundzir رحمه الله berhasil mengeluarkan lebih dari seratus lima puluh pembahasan fikih dari hadis tersebut.

Maka dalam kajian ini, insya Allah kita akan membaca, memahami, dan mengambil pelajaran dari hadis agung ini, agar ibadah haji yang kita kerjakan benar-benar sesuai dengan tuntunan Rasulullah ﷺ yang bersabda:

«خُذُوا عَنِّي مَنَاسِكَكُمْ»

“Ambillah dariku tata cara manasik haji kalian.”

Kita memohon kepada Allah Ta‘ala agar Dia memberikan kepada kita ilmu yang bermanfaat, pemahaman yang benar terhadap agama-Nya, serta taufik untuk mengikuti sunnah Nabi-Nya ﷺ lahir dan batin. Semoga Allah menerima amal ibadah kaum muslimin yang berhaji, memudahkan mereka dalam menunaikan manasik, dan menjadikan haji mereka haji yang mabrur.

والله تعالى أعلم، وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

Haji Nabi Muhammad ﷺ Sebagaimana Diriwayatkan Oleh Sahabat Jabir Bin Abdullah Radliallahu Anhu

Hadis Jābir raḍiyallāhu ‘anhu yang menukil kepada kita tata cara haji Nabi ﷺ adalah hadis yang agung dalam pembahasannya, serta menjadi landasan kokoh dalam penjelasan hukum-hukum haji. Imam Muslim meriwayatkan hadis ini secara lengkap dalam “Ṣaḥīḥ”-nya, sedangkan Imam Bukhari tidak meriwayatkannya dalam “Al-Jāmi‘”-nya. Maka hadis ini termasuk hadis yang diriwayatkan secara khusus oleh Imam Muslim.

Berikut ini adalah teks hadis secara lengkap sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam “Ṣaḥīḥ”-nya. Beliau رحمه الله berkata:

“Telah menceritakan kepada kami Abū Bakr bin Abī Syaibah dan Isḥāq bin Ibrāhīm, keduanya dari Ḥātim. Abū Bakr berkata: Telah menceritakan kepada kami Ḥātim bin Ismā‘īl Al-Madanī, dari Ja‘far bin Muḥammad, dari ayahnya, ia berkata:

Kami masuk menemui Jābir bin ‘Abdillāh. Ia pun bertanya tentang orang-orang yang datang, hingga sampailah giliranku. Aku berkata: ‘Aku Muḥammad bin ‘Alī bin Ḥusain.’ Maka ia mengulurkan tangannya ke arah kepalaku, lalu melepas kancing bajuku bagian atas, kemudian melepas kancing bagian bawah, lalu meletakkan telapak tangannya di antara dadaku. Ketika itu aku masih seorang pemuda belia.

Ia berkata: ‘Selamat datang wahai anak saudaraku. Tanyakanlah apa yang engkau kehendaki.’

Lalu aku pun bertanya kepadanya, sedangkan ketika itu beliau sudah buta.

Datang waktu salat, maka beliau berdiri memakai kain tenun kecil yang diselimutkan pada tubuhnya. Setiap kali ia letakkan di pundaknya, kedua ujungnya kembali tersingkap karena kecilnya kain itu. Sedangkan selendangnya berada di sampingnya di atas gantungan. Maka beliau pun mengimami kami salat.

Setelah itu aku berkata: ‘Kabarkan kepadaku tentang haji Rasulullah ﷺ.’

Beliau memberi isyarat dengan tangannya lalu menghitung sembilan jari, kemudian berkata:

‘Sesungguhnya Rasulullah ﷺ tinggal selama sembilan tahun tanpa berhaji. Kemudian pada tahun kesepuluh diumumkan kepada manusia bahwa Rasulullah ﷺ akan menunaikan haji. Maka datanglah ke Madinah manusia dalam jumlah yang sangat banyak. Semuanya ingin mengikuti Rasulullah ﷺ dan mengamalkan seperti amalan beliau.’

Maka kami pun keluar bersama beliau hingga sampai di Dzul Ḥulaifah. Di sana Asmā’ binti ‘Umais melahirkan Muḥammad bin Abī Bakr. Lalu ia mengirim utusan kepada Rasulullah ﷺ seraya bertanya: ‘Apa yang harus aku lakukan?’

Beliau menjawab: ‘Mandilah, lalu balutlah kain pada tempat keluarnya darah, kemudian berihramlah.’

Kemudian Rasulullah ﷺ salat di masjid, lalu menaiki untanya Al-Qaṣwā’. Ketika untanya telah tegak berdiri di padang Al-Baidā’, aku memandang sejauh mataku memandang: di depan beliau ada orang-orang berkendara dan berjalan kaki, di sebelah kanan demikian pula, di sebelah kiri demikian pula, dan di belakang beliau demikian pula. Sedangkan Rasulullah ﷺ berada di tengah-tengah kami. Wahyu turun kepada beliau, dan beliau mengetahui tafsirnya. Apa saja yang beliau kerjakan, kami pun mengerjakannya.

Kemudian beliau bertalbiyah dengan tauhid: ‘Labbaikallāhumma labbaik, labbaika lā syarīka laka labbaik, innal-ḥamda wan-ni‘mata laka wal-mulk, lā syarīka lak.’

“Aku memenuhi panggilan-Mu ya Allah, aku memenuhi panggilan-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu, aku memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala pujian, nikmat, dan kerajaan adalah milik-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu.”

Dan orang-orang pun bertalbiyah dengan berbagai lafaz yang mereka ucapkan. Rasulullah ﷺ tidak mengingkari sedikit pun dari ucapan mereka itu, namun beliau tetap berpegang pada talbiyah beliau sendiri.

Jābir raḍiyallāhu ‘anhu berkata: ‘Ketika itu kami tidak berniat kecuali haji. Kami belum mengenal umrah.’

Hingga ketika kami sampai di Baitullah bersama beliau, beliau menyentuh Hajar Aswad, lalu melakukan ramal tiga putaran dan berjalan biasa empat putaran.

Kemudian beliau menuju Maqām Ibrāhīm ‘alaihis-salām lalu membaca:

﴿وَاتَّخِذُوا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى﴾

“Dan jadikanlah sebagian maqam Ibrahim sebagai tempat salat.” (Al-Baqarah: 125)

Lalu beliau menjadikan maqam berada di antara dirinya dan Ka‘bah.

Ayahku berkata, dan aku tidak mengetahui kecuali ia menukilnya dari Nabi ﷺ, bahwa beliau membaca dalam dua rakaat tersebut: ‘Qulhuwallahu Ahad’ dan ‘Qulyaa Ayyuhal Kafirun’.

Kemudian beliau kembali ke Hajar Aswad dan menyentuhnya. Setelah itu beliau keluar melalui pintu menuju Ṣafā.

Tatkala beliau mendekati Ṣafā, beliau membaca:

﴿إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ﴾

“Sesungguhnya Ṣafā dan Marwah termasuk syiar Allah.” (Al-Baqarah: 158)

‘Aku memulai dengan apa yang Allah mulai.’

Maka beliau memulai dari Ṣafā, lalu naik ke atasnya hingga melihat Ka‘bah. Beliau menghadap kiblat, mentauhidkan Allah, bertakbir kepada-Nya, lalu berkata:

لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ، وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ، أَنْجَزَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ.

“Tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya kerajaan dan segala pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata. Dia telah menepati janji-Nya, menolong hamba-Nya, dan mengalahkan pasukan-pasukan musuh sendirian.”

Kemudian beliau berdoa di sela-sela itu. Beliau melakukan seperti itu sebanyak tiga kali.

Lalu beliau turun menuju Marwah. Ketika kedua telapak kaki beliau sampai di dasar lembah, beliau berlari kecil, dan ketika mulai menanjak, beliau berjalan biasa hingga sampai di Marwah. Di Marwah beliau melakukan sebagaimana yang beliau lakukan di Ṣafā.

Hingga ketika putaran sa‘inya yang terakhir berada di Marwah, beliau bersabda: “Seandainya dahulu aku mengetahui apa yang sekarang aku ketahui, niscaya aku tidak akan membawa hewan hadyu, dan pasti aku jadikan hajiku ini sebagai umrah. Maka barang siapa di antara kalian yang tidak membawa hadyu, hendaklah ia bertahallul dan menjadikannya sebagai umrah.”

Maka berdirilah Surāqah bin Mālik bin Ju‘syum seraya berkata: “Wahai Rasulullah, apakah ini khusus untuk tahun ini saja atau untuk selamanya?”

Maka Rasulullah ﷺ menyilangkan jari-jari tangan beliau satu sama lain, lalu bersabda: “Umrah telah masuk ke dalam haji.”

Beliau mengucapkannya dua kali, kemudian bersabda: “Tidak, bahkan untuk selama-lamanya.”

Kemudian ‘Alī datang dari Yaman dengan membawa hewan hadyu milik Nabi ﷺ. Ia mendapati Fāṭimah raḍiyallāhu ‘anhā termasuk orang yang telah bertahallul. Ia mengenakan pakaian berwarna dan bercelak mata. Maka ‘Alī mengingkari hal itu darinya.

Fāṭimah berkata: “Sesungguhnya ayahku memerintahkanku melakukan ini.”

Perawi berkata: Dahulu ‘Alī berkata di Irak: “Maka aku pergi menemui Rasulullah ﷺ untuk mengadukan Fāṭimah karena apa yang ia lakukan, dan untuk meminta fatwa kepada Rasulullah ﷺ tentang apa yang ia sebutkan dari beliau. Aku pun memberitahukan kepada beliau bahwa aku mengingkari perbuatan itu darinya.”

Maka beliau bersabda: “Dia benar, dia benar.”

Lalu beliau bertanya: “Apa yang engkau ucapkan ketika mulai berihram haji?”

‘Alī menjawab: “Aku berkata: Ya Allah, sesungguhnya aku bertalbiyah sebagaimana talbiyah Rasul-Mu.”

Beliau bersabda: “Sesungguhnya aku membawa hadyu, maka janganlah engkau bertahallul.”

Perawi berkata: “Maka jumlah seluruh hewan hadyu yang dibawa ‘Alī dari Yaman dan yang dibawa Nabi ﷺ adalah seratus ekor.”

Perawi berkata: “Maka seluruh manusia bertahallul dan mencukur pendek rambut mereka, kecuali Nabi ﷺ dan orang-orang yang membawa hadyu.”

Tatkala datang Hari Tarwiyah (8 Dzulhijjah), mereka pun berangkat menuju Mina dan mulai berihram untuk haji.

Rasulullah ﷺ menaiki kendaraannya, lalu beliau salat Zhuhur, Ashar, Maghrib, Isya, dan Subuh di Mina. Kemudian beliau tinggal sejenak hingga matahari terbit.

Beliau memerintahkan agar dibuatkan sebuah kemah dari bulu di Namirah. Maka Rasulullah ﷺ pun berjalan.

Kaum Quraisy tidak meragukan bahwa beliau akan berhenti di Al-Masy‘ar Al-Ḥarām sebagaimana kebiasaan Quraisy pada masa jahiliah. Akan tetapi Rasulullah ﷺ terus berjalan hingga sampai di Arafah. Beliau mendapati kemah telah dipasang untuk beliau di Namirah, maka beliau pun singgah di sana.

Ketika matahari telah tergelincir, beliau memerintahkan agar unta Al-Qaṣwā’ dipersiapkan untuk beliau. Maka unta itu pun dipersiapkan.

Lalu beliau mendatangi dasar lembah dan menyampaikan khutbah kepada manusia.

Beliau ﷺ bersabda:

إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ حَرَامٌ عَلَيْكُمْ، كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هٰذَا، فِي شَهْرِكُمْ هٰذَا، فِي بَلَدِكُمْ هٰذَا. أَلَا كُلُّ شَيْءٍ مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ تَحْتَ قَدَمَيَّ مَوْضُوعٌ، وَدِمَاءُ الْجَاهِلِيَّةِ مَوْضُوعَةٌ، وَإِنَّ أَوَّلَ دَمٍ أَضَعُ مِنْ دِمَائِنَا دَمُ ابْنِ رَبِيعَةَ بْنِ الْحَارِثِ، كَانَ مُسْتَرْضَعًا فِي بَنِي سَعْدٍ، فَقَتَلَتْهُ هُذَيْلٌ. وَرِبَا الْجَاهِلِيَّةِ مَوْضُوعٌ، وَأَوَّلُ رِبًا أَضَعُ رِبَانَا، رِبَا عَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ، فَإِنَّهُ مَوْضُوعٌ كُلُّهُ. فَاتَّقُوا اللَّهَ فِي النِّسَاءِ، فَإِنَّكُمْ أَخَذْتُمُوهُنَّ بِأَمَانِ اللَّهِ، وَاسْتَحْلَلْتُمْ فُرُوجَهُنَّ بِكَلِمَةِ اللَّهِ، وَلَكُمْ عَلَيْهِنَّ أَلَّا يُوطِئْنَ فُرُشَكُمْ أَحَدًا تَكْرَهُونَهُ، فَإِنْ فَعَلْنَ ذٰلِكَ فَاضْرِبُوهُنَّ ضَرْبًا غَيْرَ مُبَرِّحٍ، وَلَهُنَّ عَلَيْكُمْ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ. وَقَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ مَا لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُ إِنِ اعْتَصَمْتُمْ بِهِ: كِتَابَ اللَّهِ. وَأَنْتُمْ تُسْأَلُونَ عَنِّي، فَمَا أَنْتُمْ قَائِلُونَ؟ قَالُوا: نَشْهَدُ أَنَّكَ قَدْ بَلَّغْتَ، وَأَدَّيْتَ، وَنَصَحْتَ. فَقَالَ بِإِصْبَعِهِ السَّبَّابَةِ، يَرْفَعُهَا إِلَى السَّمَاءِ، وَيَنْكُتُهَا إِلَى النَّاسِ: اللَّهُمَّ اشْهَدْ، اللَّهُمَّ اشْهَدْ، ثَلَاثَ مَرَّاتٍ.

“Sesungguhnya darah kalian dan harta kalian haram atas kalian, sebagaimana haramnya hari kalian ini, di bulan kalian ini, dan di negeri kalian ini. Ketahuilah, segala perkara jahiliah berada di bawah kedua kakiku dan dihapuskan. Darah-darah jahiliah juga dihapuskan. Dan darah pertama dari kalangan kami yang aku hapuskan adalah darah Ibnu Rabī‘ah bin Al-Ḥārith. Ia dahulu disusukan di Bani Sa‘d lalu dibunuh oleh Hudzail. Riba jahiliah juga dihapuskan. Dan riba pertama yang aku hapuskan adalah riba kami sendiri, yaitu riba ‘Abbās bin ‘Abdul Muṭṭalib. Maka seluruhnya dihapuskan.

Bertakwalah kalian kepada Allah dalam urusan para wanita. Sesungguhnya kalian mengambil mereka dengan amanah Allah, dan kalian menghalalkan kemaluan mereka dengan kalimat Allah. Kalian memiliki hak atas mereka agar mereka tidak mengizinkan seorang pun yang kalian benci menginjak hamparan kalian. Jika mereka melakukan itu, maka pukullah mereka dengan pukulan yang tidak menyakitkan. Dan mereka memiliki hak atas kalian berupa nafkah dan pakaian dengan cara yang makruf.

Sungguh aku telah meninggalkan pada kalian sesuatu yang jika kalian berpegang teguh dengannya, kalian tidak akan tersesat setelahku, yaitu Kitab Allah. Dan kalian akan ditanya tentang diriku, maka apa yang akan kalian katakan?”

Para sahabat menjawab: “Kami bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan, menunaikan amanah, dan memberi nasihat.”

Maka beliau mengangkat jari telunjuknya ke langit lalu mengarahkannya kepada manusia seraya berkata:

“Ya Allah, saksikanlah. Ya Allah, saksikanlah.”

Sebanyak tiga kali.

Kemudian dikumandangkan azan, lalu iqamah, maka beliau melaksanakan salat Zhuhur. Setelah itu iqamah lagi, lalu beliau melaksanakan salat Ashar, dan beliau tidak melaksanakan salat apa pun di antara keduanya.

Kemudian Rasulullah ﷺ menaiki kendaraannya hingga sampai di tempat wuquf. Beliau menjadikan perut unta beliau Al-Qaṣwā’ menghadap ke batu-batu besar, dan menjadikan jalan para pejalan kaki berada di hadapan beliau. Beliau menghadap kiblat dan terus berdiri wuquf hingga matahari terbenam, warna kekuningan langit mulai menghilang sedikit demi sedikit, sampai akhirnya bundaran matahari tenggelam sepenuhnya.

Beliau membonceng Usāmah di belakang beliau. Rasulullah ﷺ pun berangkat, sementara beliau menarik tali kekang Al-Qaṣwā’ dengan kuat hingga kepala unta itu hampir menyentuh pelana kendaraannya. Beliau berkata dengan tangan kanannya:

“Wahai manusia, tenanglah, tenanglah.”

Setiap kali beliau melewati jalan menanjak, beliau mengendurkan tali kekang sedikit agar untanya dapat naik.

Hingga beliau sampai di Muzdalifah. Di sana beliau melaksanakan salat Maghrib dan Isya dengan satu azan dan dua iqamah, dan beliau tidak melaksanakan salat sunnah apa pun di antara keduanya.

Kemudian Rasulullah ﷺ berbaring hingga terbit fajar. Beliau melaksanakan salat Subuh ketika telah jelas waktu pagi, dengan satu azan dan satu iqamah.

Kemudian beliau menaiki Al-Qaṣwā’ hingga sampai di Al-Masy‘ar Al-Ḥarām. Beliau menghadap kiblat, lalu berdoa kepada Allah, bertakbir, bertahlil, dan mentauhidkan-Nya. Beliau terus berdiri di sana hingga hari menjadi sangat terang.

Kemudian beliau berangkat sebelum matahari terbit.

Beliau membonceng Al-Faḍl bin ‘Abbās, seorang lelaki yang tampan, berkulit putih, dan bagus rambutnya. Ketika Rasulullah ﷺ berjalan, lewatlah rombongan para wanita di hadapan mereka.

Maka Al-Faḍl mulai memandang kepada mereka. Rasulullah ﷺ pun meletakkan tangannya pada wajah Al-Faḍl. Namun Al-Faḍl memalingkan wajahnya ke arah lain untuk tetap melihat mereka. Maka Rasulullah ﷺ memindahkan tangannya ke sisi lain wajah Al-Faḍl untuk memalingkan pandangannya, sementara Al-Faḍl masih berusaha melihat mereka.

Hingga beliau sampai di lembah Muḥassir. Beliau mempercepat sedikit perjalanan, lalu menempuh jalan tengah yang keluar menuju Jamrah Kubrā.

Hingga beliau sampai di jamrah yang berada di dekat pohon, lalu beliau melemparnya dengan tujuh batu kecil. Beliau bertakbir pada setiap lemparan. Batu-batu itu sebesar batu ketapel kecil. Beliau melempar dari dasar lembah.

Kemudian beliau menuju tempat penyembelihan kurban. Beliau menyembelih dengan tangannya sendiri enam puluh tiga ekor unta, kemudian beliau menyerahkan sisanya kepada ‘Alī untuk disembelih. Beliau pun menyertakan ‘Alī dalam hadyu beliau.

Setelah itu beliau memerintahkan agar dari setiap unta diambil sepotong daging, lalu dimasukkan ke dalam periuk dan dimasak. Maka keduanya memakan dagingnya dan meminum kuahnya.

Kemudian Rasulullah ﷺ menaiki kendaraannya dan bertolak menuju Baitullah untuk melakukan ṭawāf ifāḍah. Setelah itu beliau melaksanakan salat Zhuhur di Makkah.

Kemudian beliau mendatangi Bani ‘Abdul Muṭṭalib yang sedang memberi minum jamaah di Zamzam. Beliau bersabda:

“Timbalah air wahai Bani ‘Abdul Muṭṭalib. Kalaulah bukan karena aku khawatir manusia akan mengalahkan kalian dalam tugas memberi minum ini, niscaya aku akan ikut menimba bersama kalian.”

Lalu mereka memberikan kepada beliau satu ember air, maka beliau pun minum darinya.

Renungan Bersama Hadis Jābir

Imam An-Nawawi رحمه الله berkata:

حديث جابر رضي الله عنه – وهو حديث عظيم – مشتمل على جمل من الفوائد ونفائس من مهمات القواعد، وقد تكلم الناس على ما فيه من الفقه وأكثروا. وصنف فيه أبو بكر بن المنذر جزءا كبيرا، وخرج فيه من الفقه مائة ونيفا وخمسين نوعا، ولو تقصى لزيد على هذا القدر قريب منه.

“Hadis Jābir raḍiyallāhu ‘anhu, dan ia adalah hadis yang agung, mencakup banyak faedah serta mutiara penting dari kaidah-kaidah besar. Para ulama telah banyak membahas kandungan fikih yang terdapat di dalamnya.

Abu Bakr Ibnul Mundzir sampai menulis satu kitab besar khusus tentang hadis ini, dan beliau berhasil mengeluarkan lebih dari seratus lima puluh pembahasan fikih darinya. Bahkan seandainya diteliti lebih mendalam lagi, niscaya jumlahnya akan bertambah hampir sebanyak itu pula.”

Faedah-Faedah yang Dapat Diambil dari Hadis

Hadis Jābir raḍiyallāhu ‘anhu mengandung banyak faedah dan hukum. Di antaranya, yang berkaitan dengan hukum-hukum penting dalam haji adalah:

Disunnahkan bagi imam atau pemimpin untuk mengumumkan kepada manusia perkara-perkara penting agar mereka dapat bersiap menghadapinya.

Disunnahkan mandi untuk ihram, baik bagi laki-laki maupun wanita, bahkan bagi wanita yang tidak salat sekalipun. Sebab Nabi ﷺ bersabda kepada Asmā’: “Mandilah.” Maka apabila wanita nifas yang tidak salat saja diperintahkan mandi, maka selainnya lebih utama lagi.

Disyariatkan mengeraskan suara dalam bertalbiyah sejak mulai ihram. Dan yang disunnahkan adalah mencukupkan diri dengan talbiyah Rasulullah ﷺ.

Disyariatkan menentukan jenis manasik dalam talbiyah:

  • Jika umrah, maka mengucapkan: “Labbaikallāhumma ‘umrah.”
  • Jika haji: “Labbaikallāhumma ḥajjan.”
  • Dan jika qirān: “Labbaikallāhumma ḥajjan wa ‘umrah.”

Sepatutnya bagi orang yang berhaji atau berumrah ketika tiba di Makkah untuk segera menuju Masjidil Haram dan melakukan tawaf, karena tawaf merupakan tujuan terpenting bagi orang yang datang untuk haji atau umrah.

Disyariatkan menyentuh Hajar Aswad ketika memulai tawaf.

Disyariatkan mencium Hajar Aswad saat tawaf. Namun tidak boleh berdesakan untuk mendapatkannya. Dan tidak disyariatkan mencium benda atau batu lainnya, seperti Maqam Ibrahim atau dinding Ka‘bah.

Sunnahnya adalah melakukan ramal pada tiga putaran pertama, lalu berjalan biasa pada empat putaran terakhir. Ramal adalah berjalan cepat dengan langkah-langkah pendek. Ramal hanya disunnahkan dalam tawaf haji atau umrah. Adapun tawaf selain haji dan umrah, maka tidak disyariatkan ramal.

Disunnahkan melakukan iḍṭibā‘ pada tawaf yang disunnahkan padanya ramal. Iḍṭibā‘ ialah seorang yang tawaf memasukkan kain selendangnya di bawah ketiak kanan dan menutupi pundak kiri dengannya.

Disunnahkan bagi setiap orang yang selesai tawaf untuk melaksanakan dua rakaat tawaf di belakang Maqam Ibrahim ‘alaihis-salām. Jika tidak mampu melakukannya di belakang maqam, maka boleh di mana saja di Masjidil Haram yang mudah baginya.

Disunnahkan segera melakukan sa‘i setelah tawaf tanpa menunda-nundanya. Ini dalam rangka keutamaan. Namun jika ada uzur yang mengharuskan penundaan, maka tidak mengapa.

Dalam sa‘i disyaratkan memulai dari Ṣafā. Ini adalah pendapat jumhur ulama, berdasarkan sabda Nabi ﷺ: “Mulailah dengan apa yang Allah mulai.”

Disunnahkan naik ke atas Ṣafā dan Marwah hingga dapat melihat Ka‘bah jika memungkinkan. Juga disunnahkan bagi jamaah haji berdiri di atas Ṣafā menghadap Ka‘bah, berzikir kepada Allah dengan zikir yang disebutkan dalam hadis Jābir, berdoa, serta mengulang zikir dan doa itu sebanyak tiga kali.

Jika jamaah haji membawa hadyu bersamanya, maka ia tidak boleh bertahallul dari ihramnya hingga menyembelih hadyu tersebut. Dan penyembelihan itu tidak dilakukan kecuali pada Hari Nahr (10 Dzulhijjah). Karena itu, ia tidak sah mengubah hajinya menjadi umrah. Berbeda dengan orang yang tidak membawa hadyu, maka ia boleh membatalkan hajinya menjadi umrah.

Hadis ini menunjukkan bahwa yang lebih utama bagi orang yang melakukan tamattu‘ adalah memendekkan rambutnya setelah selesai umrah. Memendekkan lebih utama baginya agar masih tersisa rambut yang dapat dicukur saat haji.

Sunnahnya seseorang tidak berangkat ke Mina sebelum Hari Tarwiyah (8 Dzulhijjah). Dan sunnah bagi jamaah haji adalah melaksanakan lima salat di Mina. Tidak termasuk sunnah menjamak salat di Mina.

Disunnahkan bagi jamaah haji untuk bermalam di Mina pada malam tanggal 9 Dzulhijjah, yaitu malam sebelum wuquf di Arafah. Mabit ini hukumnya sunnah. Jika ditinggalkan maka tidak ada dam baginya, berdasarkan ijmak ulama.

Sunnahnya jamaah haji tidak keluar dari Mina hingga matahari terbit pada Hari Arafah. Ini berdasarkan kesepakatan para ulama.

Hadis ini menunjukkan bolehnya orang yang berihram berteduh di bawah kemah dan semisalnya. Tidak ada perselisihan ulama tentang bolehnya hal tersebut.

Hadis ini menunjukkan bahwa wilayah Namirah bukan bagian dari Arafah. Maka jika seseorang wuquf di sana saja, wuqufnya tidak sah.

Disyariatkan menghadap kiblat ketika berdoa pada Hari Arafah, mengangkat kedua tangan, memperbanyak doa dan zikir. Berdasarkan sabda Nabi ﷺ:

“Sebaik-baik doa adalah doa pada Hari Arafah. Dan sebaik-baik ucapan yang aku dan para nabi sebelumku ucapkan adalah: ‘Lā ilāha illallāh waḥdahu lā syarīka lah, lahul-mulku wa lahul-ḥamdu wa huwa ‘alā kulli syai’in qadīr.’”Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi.

Sunnah bagi jamaah haji setelah bertolak dari Arafah adalah menunda salat Maghrib hingga masuk waktu Isya, lalu melaksanakan keduanya sekaligus di Muzdalifah dengan jamak ta’khir.

Sunnah dalam melempar Jamrah ‘Aqabah (jamrah besar) adalah posisi pelempar menjadikan Mina, Arafah, dan Muzdalifah berada di sebelah kanannya, sedangkan Makkah berada di sebelah kirinya.

Tidak disyariatkan berhenti untuk berdoa setelah melempar Jamrah ‘Aqabah.

Hadis ini menunjukkan dianjurkannya segera menyembelih hadyu pada Hari Nahr setelah melempar jamrah, dan tidak menundanya hingga hari-hari Tasyrik. Hadis ini juga menunjukkan dianjurkannya memakan sebagian daging hadyu tathawwu‘.

Hadis ini menunjukkan bolehnya mewakilkan penyembelihan hadyu, karena Nabi ﷺ mewakilkan kepada ‘Alī raḍiyallāhu ‘anhu untuk menyembelih sisanya.

Termasuk sunnah adalah minum air Zamzam dan memperbanyak meminumnya, karena Nabi ﷺ melakukannya, dan karena air Zamzam adalah air yang penuh kebaikan.

Itulah di antara faedah dan hukum terpenting yang dapat diambil dari hadis ini. Padahal dalam hadis tersebut masih banyak lagi faedah dan hukum lainnya yang tidak memungkinkan untuk dijelaskan panjang lebar di sini.

Dan termasuk hal yang bermanfaat adalah merujuk kepada penjelasan Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin terhadap hadis ini. Beliau menulis satu kitab khusus untuk mensyarah hadis tersebut dan memuat banyak faedah serta hukum yang diambil darinya.

Sebagai penutup, hadis Jābir bin ‘Abdillāh raḍiyallāhu ‘anhu tentang haji Nabi ﷺ merupakan salah satu hadis paling agung dalam bab manasik. Di dalamnya terkumpul penjelasan yang rinci tentang tata cara ibadah haji Rasulullah ﷺ, sekaligus pelajaran besar tentang tauhid, ittibā‘ kepada sunnah, adab, kesabaran, kelembutan, dan kesempurnaan syariat Islam.

Semakin seseorang mempelajari hadis ini, semakin tampak baginya kesempurnaan petunjuk Nabi ﷺ dalam setiap ibadah. Tidak ada satu amalan pun dalam manasik haji kecuali beliau telah menjelaskannya dengan ucapan, perbuatan, maupun persetujuan beliau. Oleh sebab itu, kewajiban setiap muslim adalah berusaha meneladani Rasulullah ﷺ dalam ibadah hajinya, sebagaimana sabda beliau:

«خُذُوا عَنِّي مَنَاسِكَكُمْ»

“Ambillah dariku tata cara manasik haji kalian.”

Semoga kajian ini menambah ilmu, memperkuat semangat untuk mengikuti sunnah, dan menjadi sebab diterimanya amal ibadah kita di sisi Allah Ta‘ala.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا.

اللَّهُمَّ فَقِّهْنَا فِي الدِّينِ، وَعَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْمًا وَهُدًى وَتُقًى.

اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ.

اللَّهُمَّ وَفِّقِ الْحُجَّاجَ وَالْمُعْتَمِرِينَ، وَتَقَبَّلْ مِنْهُمْ مَنَاسِكَهُمْ، وَاجْعَلْ حَجَّهُمْ حَجًّا مَبْرُورًا، وَسَعْيَهُمْ سَعْيًا مَشْكُورًا، وَذَنْبَهُمْ ذَنْبًا مَغْفُورًا.

اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا اتِّبَاعَ سُنَّةِ نَبِيِّكَ ﷺ ظَاهِرًا وَبَاطِنًا، وَأَحْيِنَا عَلَيْهَا، وَأَمِتْنَا عَلَيْهَا، وَاحْشُرْنَا فِي زُمْرَتِهِ.

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا، إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ، وَتُبْ عَلَيْنَا، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ.

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين.

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button