Bagaimana Pemakaman Sesuai Syariat?

Assalammualaikum Ustadz Berian Muntaqo Fatkhuri , ijin saya bertanya berhubungan dengan pemakaman sesuai ajaran Rasululloh Sholallohu Alaihi Wassalam.Saya simak di tempat saya masih banyak yg tabur bunga,disiram dg air dimakam nya di adzan kan di liang lahat.Mhn penjelasan apa saja yg di bolehkan sesuai tuntunan Rasululloh Sholallohu Alaihi.
Mhn maaf kalau pertanyaan ana kurang jelas.Wassalam.
Pemakaman Jenazah dan Hukum-hukumnya (Bagian 1)
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah. Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Amma ba‘d:
1. Kewajiban Mengubur Jenazah
“Wajib mengubur jenazah – yaitu menutupi tubuhnya dalam sebuah lubang – dengan cara yang dapat mencegah binatang buas menggali, atau air banjir mengeluarkannya. Tidak ada perbedaan pendapat dalam hal ini, dan ketetapan tersebut merupakan hal yang pasti dalam syariat.”
Sebagaimana firman Allah Ta‘ala:
> ﴿ ثُمَّ أَمَاتَهُ فَأَقْبَرَه ﴾
“Kemudian Dia mematikannya dan memakamkannya.”
(QS. ‘Abasa: 21)
Hal ini berlaku bahkan bagi orang kafir sekalipun. Terdapat dua hadis tentang hal ini:
Pertama:
Diriwayatkan dari sekelompok sahabat Nabi ﷺ, di antaranya Abu Thalhah Al-Anshari (dan beliau yang meriwayatkan kisah ini):
> «أَنَّ نَبِيَّ اللهِ صلى الله عليه وسلم أَمَرَ يَومَ بَدْرٍ بِأَرْبَعَةٍ وَعِشْرِينَ رَجُلًا مِنْ صَنَادِيدِ قُرَيْشٍ فَقُذِفُوا فِي طَوِيٍّ مِنْ أَطْوَاءِ بَدْرٍ خَبِيثٍ مُخْبِثٍ»
(HR. Al-Bukhari no. 6397, Muslim no. 2875)
Artinya: “Bahwa Nabi Allah ﷺ pada hari Perang Badar memerintahkan agar dua puluh empat orang pembesar Quraisy dilemparkan ke dalam salah satu sumur di Badar yang buruk dan busuk.”
Kedua:
Dari Ali رضي الله عنه, ia berkata:
> قُلْتُ لِلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم: إِنَّ عَمَّكَ الشَّيْخَ الضَّالَّ قَدْ مَاتَ، قَالَ: «اذْهَبْ فَوَارِ أَبَاكَ، ثُمَّ لَا تُحْدِثَنَّ شَيْئًا حَتَّى تَأْتِيَنِي»، فَذَهَبْتُ فَوَارَيْتُهُ وَجِئْتُهُ، فَأَمَرَنِي فَاغْتَسَلْتُ، وَدَعَا لِي»
(HR. Abu Dawud no. 3214, dishahihkan Al-Albani)
Artinya: “Aku berkata kepada Nabi ﷺ: ‘Pamanmu yang sesat itu telah meninggal.’ Beliau bersabda: ‘Pergilah dan kuburkanlah ayahmu, kemudian janganlah kamu melakukan apa pun sebelum engkau datang kepadaku.’ Maka aku pun pergi menguburnya, lalu datang kembali kepada beliau. Beliau memerintahkanku untuk mandi dan mendoakanku.”
2. Wanita Hamil yang Meninggal Dunia
Apabila seorang wanita hamil meninggal dunia sedangkan janin dalam kandungannya masih hidup dan bergerak, maka wajib dikeluarkan janinnya, berdasarkan firman Allah:
> ﴿ وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا ﴾
“Barang siapa menyelamatkan satu jiwa, maka seakan-akan ia telah menyelamatkan seluruh manusia.”
(QS. Al-Mā’idah: 32)
3. Tidak Dikubur Bersama antara Muslim dan Kafir
“Tidak boleh seorang muslim dikubur bersama orang kafir, dan sebaliknya. Muslim harus dikubur di pemakaman kaum muslimin, sedangkan kafir di pemakaman orang musyrik. Demikianlah ketentuan yang berlaku sejak zaman Nabi ﷺ dan terus berlanjut hingga masa kini. Maka ini termasuk ijma‘ (kesepakatan) secara amali untuk memisahkan kuburan muslim dari kuburan kafir.”
Diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Bisyr bin Al-Khashashiyyah:
> «بَيْنَمَا أَنَا أُمَاشِي رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم مَرَّ بِقُبُورِ الْمُشْرِكِينَ، فَقَالَ: لَقَدْ سَبَقَ هَؤُلَاءِ خَيْرًا كَثِيرًا، ثُمَّ مَرَّ بِقُبُورِ الْمُسْلِمِينَ فَقَالَ: لَقَدْ أَدْرَكَ هَؤُلَاءِ خَيْرًا كَثِيرًا»
“Ketika aku sedang mengikuti Rasulullah ﷺ, beliau melewati kubur-kubur orang musyrik, lalu beliau bersabda: ‘Sesungguhnya mereka ini telah mendahului (mendapat) banyak kebaikan.’ Kemudian beliau melewati kubur-kubur orang Muslim dan bersabda: ‘Sesungguhnya mereka ini telah memperoleh banyak kebaikan.’
Hal ini menunjukkan pentingnya memisahkan kuburan orang Muslim dengan kuburan orang musyrik.”
(HR. Abu Dawud no. 3230, dishahihkan Al-Albani)
Ini menunjukkan adanya pembedaan antara kuburan muslim dan musyrik.
4. Disunnahkan Dikubur di Pemakaman Umum
“Disunnahkan untuk dikubur di pemakaman, karena Nabi ﷺ biasa menguburkan para sahabat di Baqi‘ sebagaimana berita-berita mutawatir menyebutkannya. Tidak diriwayatkan dari seorang pun dari salaf bahwa mereka dikubur di luar pemakaman, kecuali Rasulullah ﷺ yang dimakamkan di kamarnya — dan itu merupakan kekhususan beliau.”
(Aḥkām al-Janā’iz, hlm. 174)
5. Syuhada Dimakamkan di Tempat Mereka Gugur
Para syuhada perang dimakamkan di tempat mereka gugur dan tidak dipindahkan ke pemakaman umum.
Diriwayatkan dalam Musnad Ahmad dari Jabir bin Abdillah رضي الله عنه:
«خَرَجَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم مِنَ الْمَدِينَةِ إِلَى الْمُشْرِكِينَ لِيُقَاتِلَهُمْ، وَقَالَ لِي أَبِي عَبْدُ اللهِ: يَا جَابِرُ لَا عَلَيْكَ أَنْ تَكُونَ فِي نَظَّارِي أَهْلِ الْمَدِينَةِ، حَتَّى تَعْلَمَ إِلَى مَا يَصِيرُ أَمْرُنَا، فَإِنِّي واللهِ لَوْلَا أَنِّي أَتْرُكُ بَنَاتٍ لِي بَعْدِي لَأَحْبَبْتُ أَنْ تُقْتَلَ بَيْنَ يَدَيَّ، قَالَ: فَبَيْنَا أَنَا فِي النَّظَّارِينَ، إِذْ جَاءَتْ عَمَّتِي بِأَبِي وَخَالِي عَادِلَتَهُمَا عَلَى نَاضِحٍ، فَدَخَلَتْ بِهِمَا الْمَدِينَةَ لِتَدْفِنَهُمَا فِي مَقَابِرِنَا، إِذْ لَحِقَ رَجُلٌ يُنَادِي: أَلَا إِنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم يَأْمُرُكُمْ أَنْ تَرْجِعُوا بِالْقَتْلَى، فَتَدْفِنُوهَا فِي مَصَارِعِهَا حَيْثُ قُتِلَتْ، فَرَجَعْنَا بِهِمَا فَدَفَنَّاهُمَا حَيْثُ قُتِلَا»
“Rasulullah ﷺ keluar dari Madinah menuju (tempat) orang-orang musyrik untuk memerangi mereka, dan beliau berkata kepada aku, ‘Wahai Jabir, tidak perlu bagimu untuk berada dalam barisan pengawas kaum Madinah sampai engkau mengetahui bagaimana urusan kami akan berjalan; sesungguhnya demi Allah, seandainya aku tidak meninggalkan anak-anak perempuan untukku setelahku, niscaya aku ingin engkau terbunuh di hadapanku.’
Ketika aku sedang berada di antara para pengawas, datanglah bibiku membawa ayahku dan pamanku, membawakan keduanya dengan (mengarak) di atas suatu naḍiḥ, lalu dia memasukkan keduanya ke dalam Madinah untuk menguburkan mereka di kuburan-kuburan kami. Tiba‑tiba seorang laki‑laki datang sambil menyeru: ‘Sesungguhnya Nabi ﷺ memerintahkan kalian untuk kembali membawa para mayat (para syuhada), lalu kuburkanlah mereka di tempat‑tempat mereka (di mana mereka) terbunuh.’ Maka kami pun kembali bersama mereka dan menguburkan keduanya di tempat mereka terbunuh.”
(Musnad Ahmad 23/419-420, sanadnya sahih)
Artinya: Nabi ﷺ memerintahkan agar para syuhada dikuburkan di tempat mereka gugur.
6. Waktu yang Dilarang untuk Pemakaman
Tidak boleh menguburkan jenazah pada tiga waktu yang dilarang, kecuali dalam keadaan darurat.
Dari ‘Uqbah bin ‘Amir رضي الله عنه, Nabi ﷺ bersabda:
«ثَلاَثُ سَاعَاتٍ كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَنْهَانَا أَنْ نُصَلِّيَ فِيهِنَّ، أَوْ أَنْ نَقْبُرَ فِيهِنَّ مَوْتَانَا: حِينَ تَطْلُعُ الشَّمْسُ بَازِغَةً حَتَّى تَرْتَفِعَ، وَحِينَ يَقُومُ قَائِمُ الظَّهِيرَةِ[10] حَتَّى تَمِيلَ الشَّمْسُ، وَحِينَ تَضَيَّفُ الشَّمْسُ لِلْغُرُوبِ حَتَّى تَغْرُبَ»
“Ada tiga waktu yang dilarang oleh Rasulullah ﷺ untuk shalat atau menguburkan jenazah:
1. Ketika matahari mulai terbit hingga naik tinggi.
2. Ketika matahari berada di puncak (qā’im al-ẓuhr) hingga mulai condong.
3. Ketika matahari mulai condong ke barat untuk terbenam hingga terbenam.”
(HR. Muslim no. 831)
Yakni: ketika matahari baru terbit, saat tepat di atas kepala, dan ketika hendak terbenam.
Adapun malam hari, juga dilarang mengubur tanpa alasan mendesak, sebagaimana hadis Jabir رضي الله عنه:
أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم خَطَبَ يَوْمًا، فَذَكَرَ رَجُلاً مِنْ أَصْحَابِهِ قُبِضَ، فَكُفِّنَ فِي كَفَنٍ غَيْرِ طَائِلٍ، وَقُبِرَ لَيْلًا، فَزَجَرَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم أَنْ يُقْبَرَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ حَتَّى يُصَلَّى عَلَيْهِ، إِلَّا أَنْ يُضْطَرَّ إِنْسَانٌ إِلَى ذَلِكَ
“Bahwa Nabi ﷺ pernah memberikan khutbah suatu hari, lalu beliau menyebut seorang sahabatnya yang meninggal dunia. Jenazah itu dikafani dengan kain kafan yang tidak terlalu panjang, dan dikuburkan pada malam hari. Maka Nabi ﷺ menegur agar tidak menguburkan seseorang pada malam hari sebelum dishalatkan atasnya, kecuali jika seseorang terpaksa melakukannya.”
(HR. Muslim no. 943)
Namun, para ulama berbeda pendapat: ada yang membolehkan, ada yang memakruhkan, bahkan Ibn Hazm mengharamkan. Imam Ahmad berkata:
لا بأس بذلك، وقال: أبو بكر دفن ليلًا، وعلي دفن فاطمة ليلًا، وحديث عائشة رضي الله عنها: سمعنا صوت المساحي من آخر الليل في دفن النبي صلى الله عليه وسلم، وممن دُفن ليلًا عثمان وعائشة وابن مسعود.. وغيرهم.
> “Tidak mengapa melakukannya. Dikatakan bahwa Abu Bakar dikuburkan pada malam hari, Ali menguburkan Fatimah pada malam hari, dan menurut hadis ‘Aisyah رضي الله عنها: ‘Kami mendengar suara penggali kubur (al-masāḥī) pada akhir malam saat penguburan Nabi ﷺ.’ Selain itu, yang dikuburkan pada malam hari antara lain ‘Utsmān, ‘Aisyah, Ibnu Mas‘ūd, dan lain-lain.”
Imam An-Nawawi berkata:
> «المقصود تعمد تأخير الدفن إلى هذه الأوقات، فأما إذا وقع بلا تعمد فلا يكره»
Artinya: “Yang dimaksud adalah dengan sengaja menunda pemakaman ke waktu-waktu tersebut. Adapun jika terjadi tanpa sengaja, maka tidak makruh.”
Ibnul Qayyim رحمه الله berkata:
والذي ينبغي أن يقال في ذلك والله أعلم، أنه متى كان الدفن ليلًا لا يفوت به شيء من حقوق الميت، والصلاة عليه، فلا بأس به، وعليه تدل أحاديث الجواز، وإن كان يفوت بذلك حقوقه والصلاة عليه وتمام القيام عليه، نُهي عن ذلك، وعليه يدل الزجر. وبالله التوفيق»
Yang sepatutnya dikatakan dalam hal ini —wallāhu a‘lam— adalah bahwa apabila penguburan dilakukan pada malam hari tanpa menghilangkan hak-hak mayit dan tidak menyebabkan terlewatnya shalat atasnya, maka tidak mengapa melakukannya. Hal ini ditunjukkan oleh hadis-hadis yang membolehkan.
Namun, apabila penguburan malam hari menyebabkan hilangnya sebagian hak mayit, seperti shalat atasnya atau kesempurnaan perhatian terhadapnya, maka dilarang melakukannya. Dan hal itu ditunjukkan oleh hadis-hadis yang berisi larangan.
Wallāhu al-Muwaffiq (dan hanya kepada Allah-lah taufik itu).
(Tahdzīb Sunan Abī Dāwūd, hlm. 217)
7. Mengubur Lebih dari Satu Jenazah dalam Satu Kubur
Tidak mengapa menguburkan dua atau lebih jenazah dalam satu kubur jika ada kebutuhan, dengan mendahulukan yang paling utama.
Diriwayatkan dari Jabir رضي الله عنه:
«كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَجْمَعُ بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ مِنْ قَتْلَى أُحُدٍ فِي ثَوْبٍ وَاحِدٍ، ثُمَّ يَقُولُ: «أَيُّهُمْ أَكْثَرُ أَخْذًا لِلْقُرْآنِ»، فَإِذَا أُشِيرَ لَهُ إِلَى أَحَدِهِمَا قَدَّمَهُ فِي اللَّحْدِ قَبْلَ صَاحِبِهِ»
“Nabi ﷺ mengumpulkan dua orang dari para syuhada Uhud dalam satu kain kafan, kemudian beliau bersabda:
«أَيُّهُمَا أَكْثَرُ أَخْذًا لِلْقُرْآنِ»
‘Siapa di antara keduanya yang lebih banyak hafalan Al-Qur’annya?’
Apabila ditunjuk kepada salah satu dari keduanya, maka beliau mendahulukannya untuk dimasukkan ke dalam lahad sebelum yang lainnya.”
(HR. Al-Bukhari no. 1343)
Ini menunjukkan keutamaan penghafal Al-Qur’an.
8. Mengubur Keluarga di Satu Pemakaman
Disunnahkan mengumpulkan keluarga dalam satu area kubur.
Diriwayatkan dari Al-Muththalib:
لَمَّا مَاتَ عُثْمَانُ بْنُ مَظْعُونٍ، أُخْرِجَ بِجَنَازَتِهِ فَدُفِنَ، فَأَمَرَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم رَجُلًا أَنْ يَأْتِيَهُ بِحَجَرٍ، فَلَمْ يَسْتَطِعْ حَمْلَهُ، فَقَامَ إِلَيْهَا رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم، وَحَسَرَ عَنْ ذِرَاعَيْه -قَالَ كَثِيرٌ: قَالَ الْمُطَّلِبُ: قَالَ الَّذِي يُخْبِرُنِي ذَلِكَ عَنْ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم، قَالَ: كَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَى بَيَاضِ ذِرَاعَيْ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم، حِينَ حَسَرَ عَنْهُمَا، ثُمَّ حَمَلَهَا فَوَضَعَهَا عِنْدَ رَأْسِهِ، وَقَالَ: «أَتَعَلَّمُ بِهَا قَبْرَ أَخِي، وَأَدْفِنُ إِلَيْهِ مَنْ مَاتَ مِنْ أَهْلِي»
Ketika ‘Utsmān bin Maẓ’ūn meninggal dunia, jenazahnya dibawa keluar (untuk dimakamkan) lalu dikuburkan. Maka Nabi ﷺ memerintahkan seseorang untuk membawakan sebuah batu, tetapi orang itu tidak mampu mengangkatnya. Lalu Rasulullah ﷺ bangkit menuju batu itu, dan beliau menyingkap kedua lengannya.
Katsīr berkata —dan Al-Muṭṭalib berkata: orang yang mengabarkan kepadaku dari Rasulullah ﷺ berkata— “Seakan-akan aku melihat putihnya kedua lengan Rasulullah ﷺ ketika beliau menyingkapnya.”
Kemudian beliau mengangkat batu itu dan meletakkannya di sisi kepala (kubur) ‘Utsmān bin Maẓ’ūn, lalu bersabda:
«أَتَعَلَّمُ بِهَا قَبْرَ أَخِي، وَأَدْفِنُ إِلَيْهِ مَنْ مَاتَ مِنْ أَهْلِي»
“Dengan batu ini aku tandai kubur saudaraku, dan aku akan menguburkan bersama beliau siapa pun dari keluargaku yang meninggal.”
(HR. Abu Dawud no. 3206)
Ibnu Qudamah رحمه الله berkata:
وجمع الأقارب في الدفن حسن لقول النبي صلى الله عليه وسلم لعثمان بن مظعون: «أدْفِنُ إِلَيْهِ مَنْ مَاتَ مِنْ أَهْلِي»[18]. ولأن ذلك أسهل لزيارتهم وأكثر للترحم عليهم
Mengumpulkan kerabat dalam satu tempat pemakaman adalah sesuatu yang baik, berdasarkan sabda Nabi ﷺ kepada ‘Utsmān bin Ma‘ẓūn:
«أَدْفِنُ إِلَيْهِ مَنْ مَاتَ مِنْ أَهْلِي»
“Aku akan menguburkan bersama beliau siapa pun dari keluargaku yang meninggal.”
Selain itu, hal tersebut juga memudahkan untuk menziarahi mereka dan memperbanyak doa rahmat bagi mereka.
(Al-Mughnī, 3/442)
9. Menggali Kubur dengan Dalam dan Luas
Wajib memperdalam dan memperluas kubur.
Diriwayatkan dari Hisyam bin ‘Amir رضي الله عنه:
> «احْفِرُوا وَأَوْسِعُوا، وَاجْعَلُوا الرَّجُلَيْنِ وَالثَّلَاثَةَ فِي الْقَبْرِ»
“Gali (kubur)lah dan luaskanlah, serta letakkan dua atau tiga orang dalam satu kubur.”
(HR. Abu Dawud no. 3215)
Juga disebutkan dalam Musnad Ahmad:
> «أَوْسِعْ مِنْ قِبَلِ الرَّأْسِ، وَأَوْسِعْ مِنْ قِبَلِ الرِّجْلَيْنِ، لَرُبَّ عَذْقٍ لَهُ فِي الْجَنَّةِ»
“Luaskanlah dari arah kepala, dan luaskanlah dari arah kaki, karena boleh jadi ia memiliki pelepah kurma di surga.”
(38/451, sanad kuat)
Para ulama berbeda pendapat tentang kedalaman yang disunnahkan:
Asy-Syafi‘i: sedalam tinggi badan manusia,
Ahmad: sedalam dada,
‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz: sampai pusar — semuanya hampir sama.
Fatwa Lajnah Dā’imah menyebutkan:
يعمق تعميقًا يمنع خروج الريح، وحفر السباع له
> “Kubur harus cukup dalam untuk mencegah keluarnya bau dan agar tidak digali binatang buas.”
(Fatāwā al-Lajnah ad-Dā’imah, 8/422)
10. Jenis Kubur: Lahd dan Syaqq
Kedua model kubur ini boleh digunakan, dan keduanya dilakukan pada masa Nabi ﷺ, tetapi lahd lebih utama.
Ibnu Mājah meriwayatkan dalam Sunan-nya dari hadis Anas bin Mālik, ia berkata:
لما توفي النبي صلى الله عليه وسلم كان بالمدينة رجل يلحد وآخر يضرح[24]، فقالوا: نستخير ربنا ونبعث إليهما، فأيهما سبق تركناه، فأُرسل إليهما، فسبق صاحب اللحد، فلحدوا للنبي صلى الله عليه وسلم
“Ketika Nabi ﷺ wafat, di Madinah ada seorang yang biasa membuat lahad (liang kubur dengan sisi miring ke arah kiblat), dan seorang lagi yang biasa membuat dharḥ (liang kubur tanpa sisi miring, yaitu digali lurus ke bawah). Maka mereka (para sahabat) berkata: ‘Kita bermusyawarah kepada Rabb kita (memohon petunjuk dengan istikharah) dan kita kirim utusan kepada keduanya; siapa di antara keduanya yang datang lebih dulu, maka cara penguburan itulah yang kita gunakan.’
Lalu keduanya pun dikirim utusan, dan ternyata orang yang membuat lahad datang lebih dahulu, maka mereka membuatkan lahad untuk Nabi ﷺ.”
(HR. Ibnu Mājah no. 1557)
Dari Ibnu ‘Abbas رضي الله عنهما, Nabi ﷺ bersabda:
> «اللَّحْدُ لَنَا وَالشَّقُّ لِغَيْرِنَا»
“Lahad adalah untuk kita, dan syaqq (liang lurus) adalah untuk selain kita.”
(HR. Abu Dawud no. 3208)
Lahad di dalam kubur ialah menggali tanah yang keras ke arah bawah secara memanjang, kemudian penggali memiringkan galian itu ke sisi yang menghadap kiblat agar jenazah diletakkan di ruang miring tersebut dengan posisi menghadap kiblat. Cara ini hanya bisa dilakukan pada tanah yang keras atau padat.
Adapun syaqq, yaitu menggali kubur di tanah secara memanjang saja, untuk meletakkan jenazah di dalam galian tersebut secara lurus memanjang. Cara ini dilakukan pada tanah yang gembur dan tidak padat, seperti tanah berpasir.
Dengan demikian, lahd lebih utama karena Allah memilihnya untuk Rasul-Nya ﷺ, sedangkan syaqq boleh jika diperlukan.
Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad ﷺ, keluarganya, dan seluruh sahabatnya.
HUKUM DAN TATA CARA MEMAKAMKAN MAYAT (2)
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah ﷺ. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad ﷺ adalah hamba dan utusan-Nya.
Lanjutan pembahasan tentang hukum memakamkan mayat yang telah disinggung sebelumnya, antara lain:
1. Yang menurunkan mayat ke dalam kubur adalah laki-laki, meskipun yang meninggal adalah wanita. Hal ini karena kebiasaan pada masa Nabi ﷺ dan telah menjadi praktik umat Islam hingga saat ini, juga karena mereka lebih kuat untuk melakukan hal tersebut. Al-Baihaqi meriwayatkan dalam Sunan-nya dari hadits ‘Abdurrahman bin Abza bahwa Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu mengimami jenazah Zainab binti Jahsy sebanyak empat kali, kemudian ia mengirim pesan kepada istri-istri Nabi ﷺ:
“Siapa yang akan menurunkan jenazahnya ke kubur?” Mereka pun menjawab bahwa orang yang melihatnya semasa hiduplah yang sebaiknya menurunkannya. Mereka benar.
Alasan lain, jika wanita yang menurunkan jenazah, bisa menimbulkan terbukanya aurat mereka di hadapan orang asing, yang tidak diperbolehkan.
2. Menutup kubur wanita saat diturunkan ke dalam kubur agar tidak tampak bagian tubuhnya. Ibnu Qudamah berkata:
«لا نعلم في استحباب هذا بين أهل العلم خلافًا، ثم قال بعد أن ذكر بعض الآثار في ذلك: لأن المرأة عورة، ولا يؤمن أن يبدو منها شيء فيراه الحاضرون»
“Kami tidak mengetahui adanya perselisihan di antara para ulama mengenai keutamaan ini. Sebab wanita adalah aurat, dan tidak aman jika sesuatu dari tubuhnya terlihat oleh orang yang hadir”.
Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan:
«أن هذا مما فعله السلف واستحبه العلماء رحمهم الله؛ لأن هذا أستر لها، ولئلا تبرز معالم جسمها، ولكن هذا ليس بواجب، ويكون هذا التخمير أو التسجية إلى أن يصفَّ اللبن عليها»
“Ini adalah amalan salaf dan dianjurkan oleh para ulama, karena menutupi mayat wanita ini menutupi auratnya dan agar tidak tampak bagian tubuhnya. Namun, ini bukanlah kewajiban. Penutupannya dilakukan sampai diletakkan tanah di atasnya”.
3. Keluarga dekat lebih berhak menurunkan jenazah, berdasarkan firman Allah:
> ﴿وَأُولُو الْأَرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَى بِبَعْضٍ فِي كِتَابِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ﴾ [Al-Anfal: 75]
“Dan kerabat (yang memiliki hubungan darah) lebih berhak satu sama lain menurut ketetapan Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
Hadits Ali radhiyallahu ‘anhu:
«غَسَّلْتُ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَذَهَبْتُ أَنْظُرُ مَا يَكُونُ مِنَ الْمَيِّتِ فَلَمْ أَرَ شَيْئًا، وَكَانَ طَيِّبًا حَيًّا وَمَيِّتًا»
“Aku memandikan Rasulullah ﷺ, lalu aku pergi melihat bagaimana posisi mayat, namun aku tidak melihat sesuatu yang aneh. Beliau baik semasa hidup maupun setelah mati.”
Orang yang paling berhak mengurus pemakaman dan penutupannya ada empat: Ali, Al-Abbas, Al-Fadl, dan Shalih, hamba Nabi ﷺ.
Kubur Rasulullah ﷺ ditinggikan sedikit dengan tanah atau batu.
Abu Dawud meriwayatkan dari hadits ‘Amir:
«غَسَّلَ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَلِيٌّ، وَالْفَضْلُ، وَأُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ، وَهُمْ أَدْخَلُوهُ قَبْرَهُ»
Ali, Al-Fadl, dan Usamah bin Zaid memandikan dan menurunkan Rasulullah ﷺ ke kuburnya. Ketika selesai, Ali berkata:
«إِنَّمَا يَلِي الرَّجُلَ أَهْلُهُ»
“Yang paling berhak mengurus seorang lelaki adalah keluarganya”.
4. Suami boleh memandikan dan menurunkan jenazah istrinya, jika ia belum bersetubuhinya malam itu, berdasarkan hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha mengenai proses pemakaman.
Imam Ahmad meriwayatkannya dalam Musnad-nya dari hadis ‘Aisyah رضي الله عنها, ia berkata:
دخل عليَّ رسول الله صلى الله عليه وسلم في اليوم الذي بُدئ فيه، فقلت: وارأساه، فقال: «وَدِدْتُ أَنَّ ذَلِكَ كَانَ وَأَنَا حَيٌّ، فَهَيَّأْتُكِ وَدَفَنْتُكِ»، قالت: فقلت غيرى: كأني بك في ذلك اليوم عروسًا ببعض نسائك، قال: «وَأَنَا وَاْرَأْسَاهْ! ادْعُوا ِلِي أَبَاكِ وَأَخَاكِ حَتَّى أَكْتُبَ لِأَبِي بَكْرٍ كِتَابًا، فَإِنِّي أَخَافُ أَنْ يَقُولَ قَائِلٌ، وَيَتَمَنَّى مُتَمَنٍّ: أَنَا أَوْلَى، وَيَأْبَى اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَالْمُؤْمِنُونَ إِلَّا أَبَا بَكْرٍ»
“Rasulullah صلى الله عليه وسلم datang kepadaku pada hari pertama, lalu aku berkata: ‘Aduh sakitnya kepalaku…’ maka beliau bersabda:
‘Seandainya itu terjadi saat aku masih hidup, niscaya aku telah menyiapkanmu dan menguburkanmu.’”
‘Lalu aku berkata dengan nada lain: Seolah-olah pada hari itu engkau seperti pengantin di antara wanita-wanitamu.’
Beliau bersabda:
‘Dan Aduh betapa sakitnya kepalaku, panggilkan ayahmu dan saudaramu agar aku menulis surat untuk Abu Bakar, karena aku khawatir ada yang berkata dan berharap: “Aku lebih berhak”, tetapi Allah Ta‘ala dan orang-orang mukmin hanya menghendaki Abu Bakar.’”
Namun hal ini bersyarat jika beliau tidak melakukan hubungan suami-istri pada malam itu; jika suami telah melakukannya, maka tidak diperbolehkan baginya untuk menguburkannya, dan orang lain yang lebih berhak, meskipun bukan dari kalangan keluarga dekat, ada hadis Anas رضي الله عنه yang berkata:
هِدْنَا بِنْتًا لِرَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَرَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم جَالِسٌ عَلَى القَبْرِ، فَرَأَيْتُ عَيْنَيْهِ تَدْمَعَانِ، ثُمَّ قَالَ: «هَلْ فِيكُمْ مِنْ أَحَدٍ لَمْ يُقَارِفِ اللَّيْلَةَ؟» فَقَالَ أَبُو طَلْحَةَ: أَنَا، قَالَ: «فَانْزِلْ فِي قَبْرِهَا»، فَنَزَلَ فِي قَبْرِهَا فَقَبَرَهَا
“Kami menyaksikan seorang putri Rasulullah صلى الله عليه وسلم, dan Rasulullah duduk di atas kuburnya. Aku melihat mata beliau berlinang air mata, kemudian beliau bertanya: ‘Adakah di antara kalian yang tidak bermesraan malam itu?’ Abu Talhah menjawab: ‘Saya.’ Beliau bersabda: ‘Maka turunlah ke dalam kuburnya.’ Maka ia turun ke kubur dan menguburkannya.”
Al-Hafizh Ibnu Hajar رحمه الله berkata:
«في الحديث إيثار البعيد العهد عن الملاذ في مواراة الميت – ولو كان امرأة – على الأب والزوج، وقيل: إنما آثره بذلك لأنها كانت صنعته وفيه نظر، فإن ظاهر السياق أنه اختاره صلى الله عليه وسلم لذلك لكونه لم يقع منه في تلك الليلة جماع»
“Dalam hadis ini terdapat keutamaan memilih orang yang tidak terikat ikatan suami-istri pada malam itu untuk menguburkan jenazah—meskipun wanita—di atas ayah atau suaminya. Dikatakan, beliau memilihnya karena dia telah menyiapkannya dan memperhatikannya. Yang tampak dari konteks hadis adalah bahwa beliau memilih orang tersebut karena malam itu tidak terjadi hubungan suami-istri.”
Namun jika telah bersetubuh, tidak dianjurkan bagi suami untuk menurunkan jenazahnya; orang lain lebih utama. Hal ini juga ditegaskan oleh hadits Anas radhiyallahu ‘anhu ketika Nabi ﷺ menanyakan siapa yang belum bersetubuh malam itu, lalu orang tersebut menurunkan jenazah.
5. Adapun sunnah menurunkan jenazah dari sisi bawah kubur, sebagaimana hadits Abu Ishaq:
«أَوْصَى الْحَارِثُ أَنْ يُصَلِّيَ عَلَيْهِ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يَزِيدَ، فَصَلَّى عَلَيْهِ ثُمَّ أَدْخَلَهُ الْقَبْرَ مِنْ قِبَلِ رِجْلِي الْقَبْرِ وَقَالَ: هَذَا مِنَ السُّنَّةِ»
“Al-Harith mewasiatkan agar Abdullah bin Yazid shalat atas jenazah, lalu menurunkannya ke kubur dari arah kaki, dan beliau berkata: ‘Ini adalah sunnah’”.
Dan Imam Ahmad meriwayatkannya dalam Musnad-nya dari hadis Ibnu Sirin, bahwa ia berkata:
«كُنْتُ مَعَ أَنَسٍ فِي جِنَازَةٍ، فَأَمَرَ بِالْمَيِّتِ فَسُلَّ مِنْ قِبَلِ رِجْلَ الْقَبْرِ»
‘Aku pernah bersama Anas dalam suatu jenazah, maka ia memerintahkan agar jenazah itu diselipkan dari sisi kaki kubur.’”
6. Ucapan ketika menurunkan jenazah ke kubur:
> “Bismillah, dan atas millah Rasulullah ﷺ”
Berdasarkan hadits Ibnu Umar bahwa Nabi ﷺ berkata:
“Jika kalian menurunkan mayat ke kubur, ucapkan:
بِسْمِ اللَّهِ وَعَلَى مِلَّةِ رَسُولِ اللَّهِ
Atau
بِسْمِ اللَّهِ وَعَلَى سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ
Bismillah dan atas sunnah Rasulullah”.
7. Posisi mayat di dalam kubur:
Diletakkan di sisi kanan tubuh, wajah menghadap kiblat, kepala di kanan kiblat, kaki di kiri. Praktik ini berlaku sejak zaman Nabi ﷺ hingga sekarang. Demikianlah, setiap kuburan berada di atas permukaan tanah, dan telah dinyatakan dari Nabi صلى الله عليه وسلم bahwa beliau bersabda:
«… الْبَيْتُ الْحَرَامُ قِبْلَتُكُمْ أَحْيَاءً وَأَمْوَاتًا»
‘… Al-Bait al-Haram adalah kiblat kalian, bagi yang hidup maupun yang mati.’”
8. Membuka ikatan mayat yang dipasang sebelum dimakamkan, misal pada kepala atau kaki, dianjurkan agar tidak terlalu ketat karena alasan keamanan, dan dilakukan saat pemakaman.
Ibn Qudamah رحمه الله berkata:
«وأما حل العقد من عند رأسه ورجليه، فمستحب، لأن عقدها كان للخوف من انتشارها، وقد أُمن ذلك بدفنه»
“Adapun melepaskan ikatan yang ada di kepala dan kakinya, maka hal itu disunahkan, karena ikatan tersebut awalnya dilakukan karena khawatir jasad akan menyebar, dan kekhawatiran itu telah aman dengan dikuburkannya jenazah.”
9. Disunahkan bagi orang yang berada di kubur untuk mengambil tanah dengan tangannya sebanyak tiga genggam setelah selesai menutup liang kubur, sebagaimana hadits Abu Hurairah رضي الله عنه:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم صَلَّى عَلَى جِنَازَةٍ، ثُمَّ أَتَى قَبْرَ الْمَيِّتِ، فَحَثَى عَلَيْهِ مِنْ قِبَلِ رَأْسِهِ ثَلاَثًا
“Rasulullah ﷺ pernah shalat atas jenazah, kemudian pergi ke kuburnya, lalu mengambil tanah dari arah kepalanya sebanyak tiga kali.”
Imam An-Nawawi berkata:
«السنة لمن كان على القبر أن يحثو في القبر ثلاث حثيات بيديه جميعًا من قبل رأسه»
“Adapun sunnah bagi orang yang berada di kubur, hendaknya mengambil tanah di kubur tiga genggam dengan kedua tangannya dari arah kepala.”
Dan Syaikh Abdul Aziz bin Baz رحمه الله berkata:
«وهذا يدل على أنه يستحب لمن حضر الدفن أن يشارك مع الناس ولو بثلاث حثيات»
“Hal ini menunjukkan bahwa disunahkan bagi siapa pun yang hadir saat pemakaman untuk ikut serta bersama orang lain, meskipun hanya dengan tiga genggam tanah.”
10. Setelah pemakaman selesai, dianjurkan:
Disunnahkan setelah selesai memakamkan mayit beberapa hal:
Pertama: Mengangkat kubur sedikit dari tanah, kira-kira satu hasta, dan tidak diratakan dengan tanah, agar kubur terlihat jelas, terjaga, dan tidak dihinakan. Hal ini berdasarkan hadis Jabir رضي الله عنه:
> «أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم أُلْحِدَ لَهُ لَحْدٌ، وَنُصِبَ عَلَيْهِ اللَّبِنُ نَصَبًا، وَرُفِعَ قَبْرُهُ مِنَ الأَرْضِ نَحْوًا مِنْ شِبْرٍ»
“Bahwa untuk Nabi ﷺ dibuatkan kubur (lahd), dipasangi bata dengan tegak, dan kuburnya diangkat dari tanah kira-kira satu hasta.”
Imam Syafi‘i رحمه الله berkata:
وأحب أن لا يُزاد في القبر تراب من غيره؛ لأنه إذا زيد ارتفع جدًّا، وإنما أحب أن يشخص على وجه الأرض شبرًا أو نحوه
> “Aku lebih suka tidak menambahkan tanah lain ke atas kubur; karena jika ditambahkan, kubur akan terlalu tinggi. Yang disunnahkan hanyalah meninggikan kubur sedikit, sekitar satu hasta, agar terlihat di permukaan tanah.”
Kedua: Menjadikan kubur sedikit menonjol (مسنم), sebagaimana yang dilihat Sufyan ath-Thamari pada kubur Nabi ﷺ.
Ketiga: Menandai kubur dengan batu atau semacamnya agar orang yang meninggal dari keluarga dapat dikuburkan di dekatnya. Hal ini berdasarkan hadis Al-Mutallib bin Abdullah bin Al-Muttalib bin Hantab رضي الله عنه, ia berkata:
لَمَّا مَاتَ عُثْمَانُ بْنُ مَظْعُونٍ، أُخْرِجَ بِجَنَازَتِهِ فَدُفِنَ، فَأَمَرَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم رَجُلًا أَنْ يَأْتِيَهُ بِحَجَرٍ فَلَمْ يَسْتَطِعْ حَمْلَهُ، فَقَامَ إِلَيْهَا رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم، وَحَسَرَ عَنْ ذِرَاعَيْهِ، قَالَ الْمُطَّلِبُ: قَالَ الَّذِي يُخْبِرُنِي ذَلِكَ عَنْ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: كَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَى بَيَاضِ ذِرَاعَيْ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم حِينَ حَسَرَ عَنْهُمَا ثُمَّ حَمَلَهَا فَوَضَعَهَا عِنْدَ رَأْسِهِ وَقَالَ: «أَتَعَلَّمُ بِهَا قَبْرَ أَخِي، وَأَدْفِنُ إِلَيْهِ مَنْ مَاتَ مِنْ أَهْلِي»
> “Ketika ‘Utsman bin Maz‘un meninggal, jenazahnya dibawa untuk dimakamkan. Nabi ﷺ memerintahkan seseorang untuk membawa batu, tetapi ia tidak mampu membawanya. Lalu Rasulullah ﷺ sendiri membawanya dan meletakkannya di dekat kepala jenazah, seraya berkata: ‘Dengan ini kubur saudaraku dikenal, dan siapa yang meninggal dari keluargaku akan dikuburkan di dekatnya.’”
Syaikh Abdulaziz bin Baz رحمه الله berkata:
«لا بأس بوضع علامة على القبر ليعرف، كحجر، أو عظم، أو حديد، من غير كتابة ولا أرقام، لأن الأرقام كتابة، وقد صح النهي عن النبي صلى الله عليه وسلم عن الكتابة على القبر، أما وضع حجر على القبر أو صبغ الحجر بالأسود أو الأصفر حتى يكون علامة على صاحبه فلا يضر»
> “Tidak masalah meletakkan tanda di kubur untuk mengenalinya, seperti batu, tulang, atau besi, tanpa menulis atau memberi nomor, karena menulis di kubur dilarang oleh Nabi ﷺ. Meletakkan batu atau mewarnai batu dengan hitam atau kuning sebagai penanda tidak membahayakan.”
Keempat: Meletakkan hasba’ah (kerikil kecil) di atas kubur, berdasarkan hadis Al-Qasim:
«دَخَلَتْ عَلَى عَائِشَةَ فَقُلْتُ: يَا أُمَّهِ اكْشِفِي لِي عَنْ قَبْرِ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَصَاحِبَيْهِ، فَكَشَفَتْ لِي عَنْ ثَلاَثَةِ قُبُورٍ لَا مُشْرِفَةٍ، وَلَا لاَطِئَةٍ، مَبْطُوحَةٍ بِبَطْحَاءِ الْعَرْصَةِ الْحَمْرَاءِ، قَالَ أَبُو عَلِيٍّ [اللؤلؤي]: يُقَالُ: إِنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم مُقَدَّمٌ وَأَبُو بَكْرٍ عِنْدَ رَأْسِهِ، وَعُمَرُ عِنْدَ رِجْلَيْهِ، رَأْسُهُ عِنْدَ رِجْلَيْ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم»
> “Aku masuk menemui Aisyah, lalu aku berkata: ‘Wahai Ibuku, tunjukkan kepadaku kubur Rasulullah ﷺ dan kedua sahabatnya.’ Maka ia menunjukkan kepadaku tiga kubur yang tidak menonjol dan tidak menempel pada tanah, yang permukaannya datar dan ditutupi bath-ha’ (kerikil kecil) dari tanah merah. Abu ‘Ali (Al-Lu’lu’i) berkata: ‘Dikatakan bahwa Rasulullah ﷺ berada di depan, Abu Bakar di dekat kepalanya, dan Umar di dekat kakinya, kepalanya berada di dekat kaki Rasulullah ﷺ.’”
Bath-ha’ di sini adalah kerikil kecil. “Tidak rata” artinya tidak menempel pada tanah. Menurut Ibnu Qudamah, kubur sedikit diangkat dari tanah agar diketahui sebagai kubur, sehingga orang menghormatinya dan mendoakan pemiliknya.
Terdapat banyak riwayat yang menunjukkan praktik meletakkan hasba’ah di kubur. Al-Baihaqi meriwayatkan dari Ja‘far bin Muhammad dari ayahnya bahwa Nabi ﷺ menyiram air di atas kubur Ibrahim putranya dan meletakkan kerikil. Imam Nawawi رحمه الله berkata:
> “Disunnahkan meletakkan kerikil (hasba’ah) di kubur, yaitu kerikil kecil.”
Kelima: Menyiram kubur dengan air setelah selesai memakamkan. Ibnu Qudamah berkata:
«ويستحب أن يرش على القبر ماء، ليلتزق تراب
> “Disunnahkan menyiram kubur dengan air agar tanahnya menempel.”
Disebutkan dalam hadis Ja‘far bin Muhammad, dan Ibnu Abi Syaibah menyebutkan riwayat lainnya. Syaikh Abdulaziz bin Baz berkata:
«هذا مستحب إذا تيسر ذلك لأنه يثبت التراب ويحفظه، ويروى أنه وضع على قبر النبي صلى الله عليه وسلم بطحاء، ويستحب أن يرش بالماء حتى يثبت ويبقى القبر واضحًا معلومًا حتى لا يمتهن»
> “Menyiram kubur dengan air disunnahkan jika memungkinkan, karena air menahan tanah dan menjaga agar kubur tetap jelas terlihat, sebagaimana dilakukan pada kubur Nabi ﷺ.” dengan bath-ha’ (kerikil), dan disunnahkan untuk menyiram kubur dengan air agar tanahnya tetap padat, kubur tetap jelas dan dikenal, sehingga tidak dihinakan atau dilangkahi.”
Syaikh Ibnu Utsaimin رحمه الله menambahkan:
«لا بأس أن يُرش القبر؛ لأن الماء يمسك التراب فلا يذهب يمينًا ويسارًا»
> “Tidak masalah menyiram kubur karena air membuat tanah menempel sehingga tidak mudah berpindah ke kanan atau kiri.”
11. Mengeluarkan mayat dari kubur dibolehkan untuk keperluan tertentu, misalnya jika sebelumnya belum dimandikan atau dikafani, berdasarkan hadits Jaber bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu.
لما رواه البخاري في صحيحه من حديث جابر بن عبد الله قال: «أَتَى رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَبْدَ اللَّهِ بْنَ أُبَيٍّ بَعْدَمَا أُدْخِلَ حُفْرَتُهُ، فَأَمَرَ بِهِ فَأُخْرِجَ، فَوَضَعَهُ عَلَى رُكْبَتَيْهِ، وَنَفَثَ عَلَيْهِ مِنْ رِيقِهِ، وَأَلْبَسَهُ قَمِيصَهُ، فَاللَّهُ أَعْلَمُ، وَكَانَ كَسَا عَبَّاسًا قَمِيصًا.
Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam shahihnya dari hadis Jabir bin Abdullah, ia berkata:
“Rasulullah ﷺ mendatangi Abdullah bin Ubayy setelah kuburnya digali. Beliau ﷺ memerintahkan agar dia dikeluarkan, kemudian meletakkannya di atas lutut beliau, menyemprotkan air liur beliau ke tubuhnya, dan memakaikannya bajunya. Wallahu a‘lam (Allah lebih mengetahui). Beliau ﷺ memakaikan Abbas baju serupa.
12. Tidak disunnahkan bagi seorang lelaki untuk menggali kuburnya sebelum ia meninggal, karena Nabi ﷺ tidak melakukannya, begitu pula para sahabatnya. Seorang hamba tidak mengetahui di mana ia akan meninggal. Jika maksud seseorang adalah bersiap menghadapi kematian, maka persiapan itu sebaiknya dilakukan dengan amalan-amalan shalih.
13. Ringkasan cara memakamkan menurut Fatwa Komite Tetap untuk Ifta’ Arab Saudi:
Adapun cara menguburkan mayit dan menghadapkannya di dalam kuburnya, yang disunnahkan adalah memasukkan kepala terlebih dahulu dari sisi yang nantinya akan menjadi tempat kakinya dalam kubur, jika memungkinkan. Kemudian jenazah diturunkan perlahan-lahan sampai ditempatkan di liang kuburnya yang telah digali di sisi kiblat, di posisi miring pada sisi kanan. Hal ini diriwayatkan dari Abdullah bin Umar, Anas, Abdullah bin Yazid al-Ansari, al-Nakha’i, dan al-Syafi’i, semoga Allah meridhai mereka.
Hal ini juga ditegaskan oleh Imam Ahmad melalui sanadnya dari Abdullah bin Yazid al-Ansari, bahwa al-Harith mewasiatkannya agar ia mendampinginya ketika meninggal, lalu shalat jenazah dilaksanakan dan jenazah dimasukkan ke dalam kubur dari sisi kaki, beliau berkata: “Inilah sunnah” [40], dan ini menunjukkan sunnah Nabi ﷺ.
Diriwayatkan oleh Ibn Umar dan Ibn Abbas bahwa Nabi ﷺ menurunkan jenazah dari sisi kepala. Jika lebih mudah bagi orang yang menanggung penguburan untuk memasukkan jenazah dari sisi yang menghadap kiblat secara menyilang, atau dari sisi yang nantinya akan menjadi kepala, maka tidak mengapa. Karena disunnahkan memasukkan jenazah dari sisi yang nantinya menjadi kakinya hanya untuk memudahkan bagi orang yang menguburkannya, serta sebagai bentuk kelembutan kepada jenazah dan kepada mereka. Jika cara lain lebih mudah, maka itu juga disunnahkan. Urusan ini cukup luas, yang utama adalah meneladani cara yang dilakukan oleh sahabat radhiyallahu ‘anhum untuk mengikuti sunnah, sambil memudahkan dan menunjukkan kelembutan. Jika ada posisi lain yang lebih mudah dan lebih lembut, maka dilakukan sesuai kondisi itu.
Penempatan jenazah di dalam liang kubur adalah pada sisi kanan menghadap kiblat, dengan wajah menghadap kiblat. Di bawah kepala ditinggikan dengan sesuatu seperti bata, batu, atau tanah, sebagaimana orang hidup menata tempat tidur. Didekatkan ke dinding kubur yang menghadap kiblat agar tidak terbalik ke wajah, dan disokong di belakang punggung agar tidak terbalik ke belakang. Di atasnya dipasang bata dari belakang sebagai penopang, dan celah di antara bata ditutup dengan tanah agar tidak terkena tanah. Hal ini sesuai dengan ucapan Sa’d bin Abi Waqash:
وانصبوا عليه اللبن نصبًا كما صُنع برسول الله صلى الله عليه وسلم، فإن لم يكن لبن وضع حجر أو قصب أو حشيش ونحو ذلك بما يتيسر، ثم يهال عليه التراب.
“Dan tegakkanlah bata seperti yang dilakukan untuk Rasulullah ﷺ”. Jika tidak ada bata, digunakan batu, bambu, atau rumput sesuai yang mudah. Setelah itu, ditimbun tanah di atasnya.
Orang yang menanggung penguburan ketika meletakkan jenazah di liang kubur mengucapkan:
«بِسْمِ اللَّهِ وَعَلَى مِلَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم»
“Bismillah dan atas agama Rasulullah ﷺ”, sesuai yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari Ibn Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi ﷺ ketika memasukkan jenazah ke kubur mengucapkannya.
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, dan shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, dan sahabatnya.
Tentang Tabur bunga, menyiram air dan adzan di kuburan, maka sebagai berikut:
Jawaban:
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam atas Rasulullah ﷺ, beserta keluarga dan sahabatnya. Setelah itu:
*Pertama: Hukum Tabur bunga*
Menaruh bunga di atas kubur tidak diperbolehkan, karena termasuk memboroskan harta tanpa manfaat. Jika harganya disedekahkan untuk orang mati, itu lebih utama. Selain itu, hal ini juga menyerupai perbuatan orang Nasrani, dan kita telah dilarang menirunya.
*Dalil yang dijadikan hujjah orang yang meletakkan bunga di atas kuburan:*
Dalil pokok masalah ini adalah hadis Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, yang diriwayatkan dalam Shahihain dan lainnya, beliau berkata:
“مر النبي صلى الله عليه وسلم بحائط من حيطان المدينة أو مكة، فسمع صوت إنسانين يعذبان في قبورهما، فقال النبي صلى الله عليه وسلم: يعذبان وما يعذبان في كبير، ثم قال: بلى، كان أحدهما لا يستتر من بوله، وكان الآخر يمشي بالنميمة، ثم دعا بجريدة فكسرها كسرتين، فوضع على كل قبر منهما كسرة، فقيل له: يا رسول الله، لم فعلت هذا؟ قال: لعله أن يخفف عنهما ما لم تيبسا، أو إلى أن ييبسا”.
“Nabi ﷺ melewati sebuah dinding di Madinah atau Makkah, lalu beliau mendengar suara dua orang yang disiksa di kubur mereka. Nabi ﷺ bersabda: ‘Mereka disiksa, tapi mengapa disiksa begitu berat?’ Beliau kemudian berkata: ‘Ya, salah seorang dari mereka tidak menutupi air kencingnya, dan yang lain suka menyebarkan fitnah.’ Lalu beliau memanggil sebatang daun kurma, memecahnya menjadi dua, dan meletakkan sepotong di masing-masing kubur. Dikatakan kepada beliau: ‘Ya Rasulullah, mengapa Anda melakukan ini?’ Beliau menjawab: ‘Barangkali ini meringankan siksaan mereka sampai daun itu kering, atau sampai mengering sepenuhnya.'”
Para ulama berbeda pendapat mengenai makna dari meletakkan daun kurma tersebut:
1. Ibnu Hajar meriwayatkan pendapat Al-Maziri:
قال المازري: يحتمل أن يكون أُوحي إليه أن العذاب يخفف عنهما هذه المدة. ا.هـ
mungkin Allah memberi wahyu bahwa siksaan mereka akan diringankan selama waktu tertentu.
2. Al-Qurthubi berkata:
وقيل: إنه شفع لهما هذه المدة كما صرح به في حديث جابر. ) ا.هـ
Ada yang mengatakan bahwa daun itu menjadi perantara bagi mereka untuk mendapatkan keringanan siksaan selama periode tersebut, sebagaimana dijelaskan dalam hadis Jabir.
3. Al-Khattabi berkata:
وقال الخطابي: هو محمول على أنه دعا لهما بالتخفيف مدة بقاء النداوة لا أن في الجريد معنى يخصه، ولا أن في الرطب معنى ليس في اليابس، وقد قيل: إن المعنى فيه أن يسبح ما دام رطباً، فيحصل التخفيف ببركة التسبيح، وعلى هذا فيطرد في كل ما فيه رطوبة من الأشجار وغيرها. ) ا.هـ
hal ini dimaknai bahwa Nabi ﷺ berdoa agar siksaan mereka diringankan selama daun itu masih basah, bukan karena daun itu sendiri memiliki keistimewaan tertentu. Ada pula yang mengatakan maknanya adalah selama daun itu basah, maka doa dan keberkahan dari tasbihnya memberi keringanan; sehingga hal ini bisa diterapkan pada semua benda yang basah, termasuk ranting atau dedaunan lainnya.
4. Al-Thybi berpendapat:
قال الطيبي: الحكمة في كونهما ما دامتا رطبتين تمنعان العذاب يحتمل أن تكون غير معلومة لنا كعدد الزبانية.) ا.هـ
Hikmah dari daun yang masih basah ini mungkin untuk menahan siksaan, dan ini bisa jadi hikmah yang tidak diketahui secara pasti, misalnya jumlah malaikat penjaga siksaan.
5. Al-Tartushi berpendapat:
قال الطرطوشي: ذلك خاص ببركة يده صلى الله عليه وسلم. ) ا.هـ
Ini khusus karena berkah dari tangan Nabi ﷺ.
6. Al-Qadhi ‘Iyadh menambahkan:
قال القاضي عياض: لأنه علل غرزهما على القبر بأمر مغيب، وهو قوله: ليعذبان، قلت: لا يلزم من كوننا لا نعلم أيعذب أم لا؟ أن لا ندعو له بالرحمة، وليس في السياق ما يقطع على أنه باشر الوضع بيده الكريمة، بل يحتمل أن يكون أمر به، وقد تأسى به بريدة بن الحصيب الصحابي بذلك فأوصى أن يوضع على قبره جريدتان، كما سيأتي في الجنائز من هذا الكتاب، وهو أولى أن يتبع من غيره. ) ا.هـ
Alasan menancapkan daun di kubur adalah karena ada urusan ghaib (tidak tampak bagi manusia). Tidak ada keharusan bagi kita untuk mengetahui apakah mereka disiksa atau tidak; yang penting kita tetap mendoakan rahmat bagi mereka.
Konteks hadis tidak membuktikan bahwa Nabi ﷺ sendiri yang meletakkan daun tersebut, bisa jadi beliau memerintahkan orang lain. Sahabat Buraidah bin Al-Hasib pun mencontoh hal ini dengan memerintahkan agar dua daun ditancapkan di kuburnya sendiri, sebagaimana akan dijelaskan dalam bagian jinazah.
Hadis Buraidah ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari di bawah bab “Daun Kurma di Kubur”, beliau berkata: “Buraidah Al-Aslami diperintahkan agar menancapkan dua daun kurma di kuburnya.”
Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menambahkan:
قال الزين بن المنير: والذي يظهر من تصرفه -يعني البخاري – ترجيح الوضع. ) ا.هـ
Apa yang nampak dari riwayat Bukhari cenderung menguatkan hukum bolehnya menancapkan daun tersebut.
Ibnu Hajar Al-Haytami dalam Al-Fatawa Al-Kubra (mazhab Syafi’i) menulis:
استنبط العلماء من غرس الجريدتين على القبر، غرس الأشجار والرياحين على القبر. ) ا.هـ
Para ulama mengekstrapolasi dari menancapkan dua daun di kubur untuk menancapkan pohon atau tanaman wangi di kubur.
Al-Alamkiriya dalam Fatawa Al-Hindiya menambahkan:
وضع الورود والرياحين على القبور حسن، وإن تُصدق بقيمة الورد كان أحسن، كذا في الغرائب. ) ا.هـ
Menaruh bunga atau tanaman wangi di kubur adalah baik; sedekahkan uangnya akan lebih utama.
Mazhab Hanbali, menurut Matâlib Ulil-Nahi, menganjurkan:
وسن لزائره فعل ما يخفف عنه -أي الميت- ولو بجعل جريدة رطبة في القبر للخبر، وأوصى به بريدة، وفي معناه غرس غيرها، وأنكر ذلك جماعة من العلماء. ) ا.هـ
Bagi pengunjung kubur, menaruh sesuatu yang dapat meringankan mayat di kubur, misalnya daun kurma basah, adalah sunah; Buraidah pun melakukannya. Namun sebagian ulama menolak.
Al-Tuhfatul Muhtaj (Madzhab Syafi’i) menulis:
يسن وضع جريدة خضراء على القبر للاتباع، وسنده صحيح، ولأنه يخفف عنه ببركة تسبيحها، إذ هو أكمل من تسبيح اليابسة، لما في تلك من نوع حياة، وقيس بها ما اعتيد من طرح الريحان ونحوه.
Dianjurkan menaruh daun hijau di kubur agar mengikuti sunnah; keberkahan dari daun itu yang masih basah memberi keringanan, karena lebih hidup dibanding daun kering, sama seperti menaruh tanaman wangi.
*Kesimpulan:*
Menaruh bunga atau ranting basah di kubur menjadi perkara yang berbeda pendapat di kalangan ulama. Semua berlandaskan hadis.
Yang lebih kuat, menurut pendapat yang melarang: hal ini khusus untuk Nabi ﷺ. Alasannya:
1. Nabi ﷺ bersabda bahwa beliau meringankan siksaan mereka melalui intervensinya; sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Muslim dari hadis panjang Jabir: “Aku melewati dua kubur yang disiksa, lalu ingin dengan syafaatku meringankan siksaan mereka selama dua ranting itu masih basah.”
2. Apakah pemilik kubur disiksa atau tidak adalah perkara ghaib; tidak bisa dipastikan. Menancapkan sesuatu untuk meringankan siksaan adalah bentuk prasangka baik, bukan kewajiban.
Saran:
Bagi yang hidup, hendaknya fokus memberi manfaat nyata bagi mayit berdasarkan yang diajarkan syariat, seperti sedekah dan doa.
Wallāhu a‘lam
*Kedua: Menyiram air di atas kuburan*
Adapun menyiram air di kubur, jika tujuannya untuk menjaga agar tanah tetap padat sehingga mayat tidak digali hewan buas, maka tidak masalah. Namun, jika untuk tujuan lain, tidak ada dasar hukumnya.
Para ulama, semoga Allah merahmati mereka, telah menyebutkan: disunnahkan menyiram kubur dengan air setelah penguburan, dan mereka menyebutkan sebabnya: karena air membantu menahan tanah kubur agar tidak beterbangan oleh angin. Mereka juga menyebutkan bahwa Nabi ﷺ pernah melakukannya ketika mengubur putranya, Ibrahim.
Syaikh Zakariya al-Ansari rahimahullah berkata:
” ( وَيُسْتَحَبُّ أَنْ يُرَشَّ ) الْقَبْرُ ( بِالْمَاءِ ) ؛ لِئَلَّا يَنْسِفَهُ الرِّيحُ ; وَلِأَنَّهُ صلى الله عليه وسلم فَعَلَ ذَلِكَ بِقَبْرِ ابْنِهِ . رَوَاهُ الشَّافِعِيُّ ” انتهى من ” أسنى المطالب ” (1/329) .
> “Disunnahkan menyiram kubur dengan air, agar angin tidak menerbangkannya; dan karena Nabi ﷺ melakukannya pada kubur putranya. Diriwayatkan oleh Syafi’i.”
(Selesai, dari Asna al-Matalib 1/329)
Syaikh Mansur al-Bahuti rahimahullah berkata:
” ( وَيُسَنُّ أَنْ يُرَشَّ عَلَيْهِ ) أَيْ : الْقَبْرِ ( الْمَاءُ , وَيُوضَعَ عَلَيْهِ حَصًى صِغَارٌ مُحَلَّلٌ بِهِ , لِيَحْفَظَ تُرَابَهُ ) ؛ لِمَا رَوَى جَعْفَرُ بْنُ مُحَمَّدٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم رَشَّ عَلَى قَبْرِ ابْنِهِ إبْرَاهِيمَ مَاءً وَوَضَعَ عَلَيْهِ حَصْبَاءَ . رَوَاهُ الشَّافِعِيُّ ، وَلِأَنَّ ذَلِكَ أَثْبَتُ لَهُ , وَأَبْعَدُ لِدُرُوسِهِ , وَأَمْنَعُ لِتُرَابِهِ مِنْ أَنْ تُذْهِبَهُ الرِّيَاحُ , وَالْحَصْبَاءُ صِغَارُ الْحَصَا ” انتهى من ” كشاف القناع ” (2/139)
> “Disunnahkan menyiram kubur dengan air dan menaruh kerikil kecil di atasnya untuk menjaga tanahnya; karena Ja‘far bin Muhammad meriwayatkan dari ayahnya bahwa Nabi ﷺ menyiram kubur putranya Ibrahim dengan air dan menaruh kerikil (hasba’) di atasnya. Diriwayatkan oleh Syafi’i. Hal ini lebih meneguhkan kubur, lebih tahan lama, dan lebih aman bagi tanahnya dari diterbangkan angin. Hasba’ adalah kerikil kecil.”
(Selesai, dari Kashf al-Qina‘ 2/139)
Menyiram kubur dengan air, pada dasarnya dilakukan langsung setelah penguburan. Namun jika ada kebutuhan, misalnya khawatir tanah kubur akan beterbangan, boleh menyiramnya kembali setelah beberapa waktu, karena sebab yang disebut para ulama tercapai dalam kondisi tersebut. Beberapa ulama berpendapat bahwa sunnah menyiram kubur tidak terbatas pada waktu penguburan, tetapi boleh dilakukan meski beberapa waktu setelah penguburan, jika ada kebutuhan.
Dalam Hashiyah al-Ramli al-Kabir (1/328) disebutkan:
قَوْلُهُ : وَيُسْتَحَبُّ أَنْ يَرُشَّ الْقَبْرُ بِالْمَاءِ ) قَالَ شَيْخُنَا : وَلَوْ بَعْدَ الدَّفْنِ بِمُدَّةٍ فِيمَا يَظْهَرُ ” انتهى .
> “Kalimat: Disunnahkan menyiram kubur dengan air, menurut guru kami, boleh dilakukan meski setelah beberapa waktu pasca penguburan, jika memang diperlukan.”
Perlu diperhatikan, hukum sunnah menyiram kubur hanya berlaku jika kubur berupa tanah, sebagaimana asal dari syariatnya. Jika kubur dibangun atau diplester seperti banyak kubur di zaman sekarang, tidak ada kebutuhan atau manfaat menyiramnya.
Menyiram kubur tanpa sebab, misalnya setiap kali berziarah, tidak pernah dilakukan oleh Nabi ﷺ maupun sahabatnya رضي الله عنهم, maka hal ini tidak disyariatkan dan lebih mendekati bid‘ah, terutama jika orang mengira bahwa hal itu memberi manfaat bagi mayit atau meringankan siksa atau menyenangkan mayit. Semua itu tidak benar dan tidak ada dasarnya.
Yang paling utama bagi seorang Muslim adalah mengikuti yang ditetapkan dalam ziarah kubur, yaitu memberi salam kepada penghuni kubur dan mendoakan mereka dengan ampunan dan rahmat. Hal inilah yang memberi manfaat bagi orang mati. Sedangkan menyiram kubur dengan air tidak memberi manfaat bagi mayit.
*Ketiga: Hukum adzan dan iqamah saat menutup liang kubur*
Ibnu Hajar Al-Haytami rahimahullah ditanya tentang hukum adzan dan iqamah saat menutup liang kubur. Beliau menjawab, sebagaimana tercantum dalam Al-Fatawa Al-Fiqhiyah Al-Kubra:
هو بدعة، ومن زعم أنه سنة عند نزول القبر قياسا على ندبها في المولود إلحاقا لخاتمة الأمر بابتدائه فلم يصب، وأي جامع بين الأمرين، ومجرد أن ذاك في الابتداء وهذا في الانتهاء لا يقتضي لحوقه به. انتهى.
“Hal itu adalah bid‘ah. Barang siapa mengira bahwa hal tersebut termasuk sunnah saat liang kubur ditutup, dengan mengqiyas-kan (membandingkan) dengan dianjurkannya adzan pada bayi baru lahir, untuk menggabungkan penutup suatu urusan dengan permulaannya, maka ia salah. Tidak ada yang menggabungkan kedua hal itu. Hanya karena satu dilakukan di awal dan yang lain di akhir, tidak berarti keduanya harus disamakan.”
Selesai.
Fatwa Lajnah Daimah komite tetap untuk riset dan fatwa KSA menyatakan:
” لا يجوز الأذان ولا الإقامة عند القبر بعد دفن الميت ، ولا في القبر قبل دفنه ؛ لأن ذلك بدعة محدثة ، وقد ثبت عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه قال : ( من أحدث في أمرنا ما ليس منه فهو رد ) متفق عليه من حديث عائشة رضي الله عنها .
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم ” انتهى .
الشيخ عبد العزيز بن باز .. الشيخ عبدالرزاق عفيفي .. الشيخ عبد الله بن غديان .. الشيخ عبد الله بن قعود .
“Tidak diperbolehkan mengumandangkan adzan maupun iqamah di dekat kubur setelah jenazah dikuburkan, dan juga tidak di dalam kubur sebelum dikuburkan; karena hal itu termasuk bid‘ah yang diada-adakan. Telah pasti dari Rasulullah ﷺ bahwa beliau bersabda: ‘Barangsiapa mengada-adakan sesuatu dalam urusan kami yang bukan darinya, maka ia tertolak.’ (Muttafaqun ‘alaih, dari hadis ‘Aisyah رضي الله عنها).
Dan dengan pertolongan Allah semoga berhasil, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad ﷺ, keluarganya, dan para sahabatnya.” Selesai.
— Ditanda tangani oleh:
Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz
Syaikh ‘Abdurrazzaq ‘Afifi
Syaikh ‘Abdullah bin Ghadayan
Syaikh ‘Abdullah bin Qud
Dalam Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah lil-Ifta (9/72).
Wallahu A’lam.



