Fatawa Umum

Apa Hukum Talak yang Diucapkan dalam Keadaan Marah dan Mengamuk?

Pertanyaan

Kalau talaq nya sambil ngamuk ngamuk tadz? Kan ada tu model begitu dia mentalaq istrinya tapi semua isi rumah patah patah

Jawaban

*بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ* الحمدُ للهِ ربِّ العالمين، نحمدُهُ ونستعينُهُ ونستغفِرُه، ونعوذُ باللهِ من شُرورِ أنفسِنا ومن سيئاتِ أعمالِنا، مَن يهدهِ اللهُ فلا مُضِلَّ له، ومَن يُضلِل فلا هاديَ له. وأشهدُ أن لا إلهَ إلا اللهُ وحدَه لا شريكَ له، وأشهدُ أنَّ محمداً عبدُه ورسولُه، صلّى اللهُ عليه وعلى آله وصحبِه، ومَن تبعهم بإحسانٍ إلى يومِ الدين، وسلَّم تسليمًا كثيرًا. أمّا بعد:

Kesimpulan tentang talak dalam keadaan marah

1. *Marah biasa* Talak *jatuh secara ijma‘*.
2. *Marah hingga hilang akal* Talak *tidak jatuh secara ijma‘*.
3. *Marah besar tapi masih sadar* Jumhur: **talak tetap jatuh*, Sebagian ulama besar (Ibn Taimiyyah & murid-muridnya): *tidak jatuh* jika kemarahan sangat kuat hingga menghalangi niat sungguh-sungguh.

Berikut penjelasannya:

🟦 Masalah pertama: Talak Orang yang Marah Biasa (Tidak Keras)

📌 Hukum:
Talak orang yang sedang marah dengan marah biasa (tidak keras) dinyatakan sah dan jatuh.

📝 Dalil-Dalil
1. Dalil dari Sunnah
Dari kisah Khaulah binti Tsa‘labah, istri Aus bin Ash-Shāmit:

((أنَّها راجَعَت زَوجَها فغَضِبَ، فظاهَرَ منها، وكان شَيخًا كبيرًا قد ساء خُلُقُه وضَجِرَ، وأنَّها جاءت إلى النبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم، فجعَلَت تشكو إليه ما تَلقَى مِن سُوءِ خُلُقِه، فأنزل اللهُ آيةَ الظِّهارِ، وأمَرَه رَسولُ الله صلَّى اللهُ عليه وسلَّم بكَفَّارةِ الظِّهارِ))

“Bahwa dia (Khaulah) pernah berdebat dengan suaminya, lalu suaminya marah dan menjatuhkan zhihār (ucapan: ‘Engkau bagiku seperti punggung ibuku’). Suaminya adalah seorang lelaki tua yang buruk akhlaknya dan mudah marah. Maka Khaulah datang kepada Nabi ﷺ dan mengadukan akhlak buruk suaminya kepada beliau. Maka Allah menurunkan ayat tentang zhihār, dan Rasulullah ﷺ memerintahkan suaminya untuk membayar kafārah zhihār.”

Dalam riwayat lain disebutkan:

((أنَّ خُوَيلةَ غَضِبَ زَوجُها فظاهَرَ منها، فأتت النبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم، فأخبَرَتْه بذلك، وقالت: إنَّه لم يُرِدِ الطَّلاقَ، فقال النبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم: ما أراكِ إلَّا حَرُمْتِ عليه))

“Suami Khaulah marah lalu menjatuhkan zhihār. Maka Khaulah datang kepada Nabi ﷺ dan memberitahu beliau tentang hal itu, lalu ia berkata: ‘Suamiku tidak bermaksud menjatuhkan talak.’ Maka Nabi ﷺ bersabda: ‘Aku tidak melihat kecuali engkau telah menjadi haram baginya.’” (HR. Abu Dāwud)

🔸 (Indikasi hukum):
Zhihār pada masa itu dihukumi sebagai talak, dan zhihār tersebut dilakukan dalam keadaan marah biasa. Maka talak yang diucapkan dalam marah biasa juga dihukumi jatuh.

2. Dalil dari Ijmā‘ (Konsensus Ulama)
Ijma‘ (kesepakatan para ulama) tentang jatuhnya talak dalam keadaan marah biasa telah dinukil oleh:

Ibn Taimiyyah, Ibn Rajab, Ibn Ḥajar al-Haitamī, Ibn Bāz, Ibn ‘Utsaimīn

قال ابنُ تَيميَّةَ: (الغضَبُ على ثلاثة أقسامٍ: أحدُها: ما يزيلُ العَقلَ، فلا يَشعُرُ صاحِبُه بما قال، وهذا لا يقَعُ طلاقُه بلا نزاعٍ. الثاني: ما يكونُ في مبادِئِه بحيثُ لا يمنَعُ صاحِبَه مِن تصَوُّرِ ما يقولُ وقَصْدِه، فهذا يقَعُ طلاقُه بلا نزاعٍ). ((المستدرك على مجموع الفتاوى)) (5/6).

Ibn Taimiyyah رحمه الله berkata:

“Marah itu terbagi menjadi tiga tingkatan:

🔸 Pertama: Marah yang menghilangkan akal, sehingga orang yang marah tidak menyadari apa yang ia ucapkan. Talak dalam keadaan seperti ini tidak jatuh, tanpa ada perbedaan pendapat (ijma‘) di antara para ulama.

🔸 Kedua: Marah yang berada pada tahap awal, di mana kemarahan tersebut tidak menghalangi seseorang untuk memahami ucapan dan maksudnya. Talak dalam keadaan ini jatuh, juga tanpa perbedaan pendapat.” 📚 Al-Mustadrak ‘alā Majmū‘ al-Fatāwā (5/6).

قال ابنُ رجب: (ما يقَعُ من الغَضبانِ مِن طلاقٍ وعَتاقٍ، أو يمينٍ؛ فإنَّه يؤاخَذُ بذلك كُلِّه بغيرِ خِلافٍ). ((جامع العلوم والحكم)) (1/375).

Ibn Rajab رحمه الله berkata:
“Segala ucapan yang keluar dari orang yang marah, baik berupa talak, pembebasan budak (‘itq), maupun sumpah (yamin) — maka ia tetap bertanggung jawab atas semuanya itu, tanpa ada perbedaan pendapat (ijma‘) di kalangan ulama.”

📚 Jāmi‘ al-‘Ulūm wa al-Ḥikam (1/375).

قال ابن حجر الهيتمي: («لا طلاقَ في إغلاقٍ» وفسَّرَه كثيرون بالإكراهِ، كأنه أُغلِقَ عليه البابُ أو انغلَقَ عليه رأيُه، ومنعوا تفسيرَه بالغَضَبِ؛ للاتِّفاقِ على وقوعِ طلاقِ الغضبانِ. قال البيهقي: وأفتى به جمعٌ من الصحابةِ، ولا مخالِفَ لهم منهم). ((تحفة المحتاج)) (8/32).

Ibn Ḥajar al-Haitamī رحمه الله berkata:

“Sabda Nabi ﷺ: ‘Lā ṭalāqa fī ighlāq’ (tidak ada talak dalam keadaan ‘ighlāq’) — banyak ulama menafsirkannya sebagai paksaan (ikrah), seolah-olah pintu tertutup baginya atau akal/pikirannya tertutup, sehingga tidak memiliki pilihan. Mereka menolak menafsirkan ‘ighlāq’ dengan marah, karena telah ada kesepakatan (ijma‘) atas jatuhnya talak orang yang marah.

Al-Bayhaqī berkata: ‘Sejumlah sahabat telah memberi fatwa dengan makna ini, dan tidak ada seorang pun dari mereka yang menyelisihi.’”📚 Tuḥfat al-Muḥtāj (8/32).

قال ابنُ باز: (الحالُ الثالثةُ: الغضَبُ الذي ليس بشديدٍ، العاديُّ: هذا يقَعُ الطَّلاقُ فيه عند جميعِ العُلَماءِ، وهو الغَضَبُ العادي الذي ليس هناك فيه شِدَّةٌ واضحة، فهذا عند جميع أهل العلمِ يقَعُ فيه الطَّلاق). ((فتاوى نور على الدرب)) (22/136).

Ibn Bāz رحمه الله berkata:
“Keadaan ketiga: marah yang tidak keras (marah biasa) — dalam keadaan ini talak dihukumi jatuh menurut seluruh ulama. Yang dimaksud adalah marah biasa yang tidak disertai kemarahan hebat yang nyata. Dalam kondisi seperti ini, talak dianggap sah oleh semua ulama.” 📚 Fatāwā Nūr ‘alā ad-Darb (22/136).

قال ابنُ عثمين: (الثانيةُ: ابتداءُ الغَضَبِ، لكِنْ يَعقِلُ ما يَقولُ، ويُمكِنُ أن يمنَعَ نَفسَه؛ فهذا يقَعُ طلاقُه بالاتِّفاقِ؛ لأنَّه صَدَر مِن شَخصٍ يَعقِلُه غيرِ مُغلَقٍ عليه، وكثيرًا ما يكون الطَّلاقُ في الغالِبِ نتيجةً للغَضَبِ). ((الشرح الممتع على زاد المستقنع)) (13/28).

Ibn ‘Utsaimīn رحمه الله berkata:

“Kedua: Tahapan awal kemarahan, namun seseorang masih sadar apa yang ia ucapkan, dan masih dapat mengendalikan dirinya; maka dalam keadaan ini talaknya jatuh dengan kesepakatan para ulama. Sebab talak tersebut keluar dari orang yang masih berakal sehat dan tidak dalam kondisi tertutup akalnya (mughlaq ‘alayh). Bahkan, banyak kasus talak pada umumnya memang terjadi sebagai akibat dari kemarahan.” 📚 Asy-Syarḥ al-Mumti‘ ‘alā Zād al-Mustaqni‘ (13/28).

Mereka semua sepakat bahwa talak marah biasa tetap sah karena tidak ada faktor penghalang syar‘i yang membatalkan ucapan tersebut.

3. Dalil Akal & Kaidah
Karena orang yang marah biasa masih menyadari apa yang diucapkannya dan masih dapat mengendalikan dirinya. Maka ucapannya dihitung sebagai ucapan yang sah, sebagaimana ucapan orang yang tidak marah.

4. Dalil Tanggung Jawab Taklīf
Karena seseorang tetap mukallaf (terkena beban hukum syariat) dalam keadaan marah biasa terhadap semua ucapan dan perbuatannya.
📌 Maka talak yang diucapkan dalam kondisi marah biasa tetap jatuh, sebagaimana tanggung jawabnya terhadap ucapan kufur, hutang, atau akad lainnya.

🟩 Masalah Kedua: Talak Orang yang Marah Hingga Hilang Akalnya

📌 *Hukum:*
Talak orang yang marah hingga hilang akalnya (tidak sadar sama sekali terhadap apa yang diucapkan) tidak jatuh.

📝 *Dalil-Dalil*

*1. Dalil dari Ijmā‘ (Konsensus Ulama)*
Ijma‘ tentang tidak jatuhnya talak bagi orang yang marah sampai hilang akal dinukil oleh:

Ibn Taimiyyah, Ibn al-Qayyim, Ibn ‘Utsaimin, Ibn Qudāmah, ar-Ruḥaybānī

قال ابنُ قدامة: (أجمع أهلُ العِلمِ على أنَّ الزَّائلَ العَقلِ بغيرِ سُكْرٍ، أو ما في معناه: لا يقَعُ طلاقُهـ). ((المغني)) (7/378).

Ibn Qudāmah رحمه الله berkata:
“Para ulama telah berijma‘ (sepakat) bahwa orang yang hilang akalnya bukan karena mabuk atau sesuatu yang semakna dengannya, tidak jatuh talaknya.” 📚 Al-Mughnī (7/378).
Mereka menukil ijma‘ bahwa orang yang hilang akalnya bukan karena mabuk, maka talaknya tidak sah dan tidak jatuh.

قال الرحيباني: (قد أجمع المُسلِمونَ على أنَّ من زال عَقلُه بغيرِ سُكرٍ مُحَرَّمٍ، كالنومِ، والإغماءِ، والجنونِ، وشُربِ الدَّواءِ المزيلِ للعَقلِ، والمرضِ: لا يقَعُ طلاقُهـ). ((مطالب أولي النهى)) (5/321).

Ar-Ruḥaybānī رحمه الله berkata:

“Kaum muslimin telah berijma‘ (sepakat) bahwa orang yang hilang akalnya bukan karena mabuk yang haram, seperti karena tidur, pingsan, gila, minum obat yang menghilangkan akal, atau sakit — maka talaknya tidak jatuh.” 📚 Maṭālib Uli an-Nuhā (5/321).

Telah terjadi ijma‘ (kesepakatan para ulama) bahwa orang yang hilang akalnya bukan karena mabuk, maka talaknya tidak jatuh. Hal ini dianalogikan (qiyās) dengan orang gila, karena orang gila tidak memiliki kesadaran dan kehendak, sehingga ucapan talaknya tidak sah dan tidak dianggap.

*Rujukan:*
Ḥāsyiyah aṣ-Ṣāwī ‘alā asy-Syarḥ aṣ-Ṣaghīr (حاشية الصاوي على الشرح الصغير) juz 2, hlm. 542, Syarḥ Muntahā al-Irādāt karya al-Buhūtī (شرح منتهى الإرادات) juz 3, hlm. 74, Fatāwā Nūr ‘alā ad-Darb karya Syaikh Ibn Bāz (فتاوى نور على الدرب) juz 22, hlm. 135.

*2. Dalil Qiyās (Analogi)*
Diqiyaskan dengan orang gila, yaitu orang yang tidak sadar terhadap apa yang ia ucapkan.
Sebagaimana talak orang gila tidak sah, maka talak orang yang marah hingga hilang akal pun tidak sah.

*3. Dalil Kaidah*
Karena orang yang hilang akalnya tidak memahami apa yang ia ucapkan, maka ucapannya tidak dianggap, sebagaimana orang tidur atau tidak sadar.

Masalah Ketiga: Talak Orang yang Amarahnya Kuat tetapi Tidak Menghilangkan Akalnya

Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum talak orang yang sedang sangat marah tetapi tidak sampai hilang akalnya, menjadi dua pendapat utama:

📝 *Pendapat Pertama:* Talaknya jatuh, meskipun kemarahannya sangat kuat, selama akalnya tidak hilang.

Pendapat ini adalah kesepakatan keempat mazhab fiqih besar, yaitu:

Mazhab Hanafiyyah, Mazhab Mālikiyyah, Mazhab Syafi‘iyyah, Mazhab Hanābilah.

Dalil-Dalil Pendapat Pertama:

1. Dalil dari Sunnah

Dari ‘Āisyah رضي الله عنها:

أنَّ جَميلةَ كانت تحتَ أوسِ بنِ الصَّامِتِ، وكان رَجُلًا به لَمَمٌ، فكان إذا اشتَدَّ لَمَمُه ظاهَرَ مِن امرأتِه، فأنزل الله تعالى فيه كفَّارةَ الظِّهارِ ))

“Bahwasanya Jamilah dahulu adalah istri Aus bin as-Shāmit. Ia seorang laki-laki yang mempunyai lamam (gangguan pikiran atau emosi). Apabila lamam-nya memuncak (amarahnya memuncak), ia menjatuhkan zhihār terhadap istrinya. Maka Allah menurunkan hukum kafārat zhihār untuk kasusnya.”
(HR. Bukhari dan lainnya)

Indikasi hukumnya:
Ucapan “apabila lamamnya memuncak” bermakna marah besar, dan Nabi ﷺ tetap menetapkan zhihārnya sah dalam kondisi itu. Maka demikian pula talak yang diucapkan dalam kondisi marah besar tetap sah.

2. Karena orang yang marah tetap mukallaf
Yakni: dalam kondisi marah besar, seseorang tetap dibebani hukum atas ucapan dan perbuatannya, seperti: kekufuran, pembunuhan, pengambilan harta tanpa hak, talak, dan lainnya.

Semua itu tetap memiliki konsekuensi hukum meskipun dilakukan dalam keadaan marah besar.

3. Kalau talak marah besar tidak dianggap sah, akan timbul celah hukum
Jika talak saat marah besar tidak dianggap jatuh, maka setiap orang dapat dengan mudah beralasan “Saya tadi marah!” untuk membatalkan akibat dari ucapan atau perbuatannya.
Hal ini tentu akan membuka pintu manipulasi hukum.

4. Hukum syariat tidak berbeda antara marah dan ridha
Artinya, hukum-hukum syariat tidak berubah hanya karena seseorang dalam keadaan marah atau ridha, sebagaimana berlaku pada hukum-hukum lainnya.

📝 *Pendapat Kedua:*
Talaknya tidak jatuh dalam kondisi marah besar yang menghalangi niat sebenarnya, meskipun tidak sampai hilang akal.

Pendapat ini dikemukakan oleh:

Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah, Ibn al-Qayyim, Ibn ‘Ābidīn dari kalangan Hanafiyyah, Syaikh Ibn Bāz, Syaikh Ibn ‘Utsaimīn

*Dalil-Dalil Pendapat Kedua:*

1. Qiyās (analogi) dengan orang yang dipaksa (mukrah)
Bahkan, kondisi orang yang dipaksa lebih “baik” daripada orang yang marah besar, karena:
Orang yang dipaksa masih memiliki niat dan kehendak nyata, namun ia melakukan sesuatu karena tekanan luar. Sedangkan orang yang marah besar tidak memiliki niat dan kehendak sesungguhnya saat mengucapkan talak. Maka, jika talak orang yang dipaksa saja tidak sah, talak orang yang marah besar lebih layak untuk tidak sah.

2. Karena tidak adanya niat dan maksud yang sesungguhnya
Ucapan talak dalam kondisi marah besar seringkali keluar secara spontan dari lisan, tanpa kesengajaan, tanpa niat dan maksud sesungguhnya dari hati. Maka talaknya tidak dianggap sah.

Wallahu a’lam

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button