Konsultasi

Amalan untuk Mengendalikan Emosi Saat Menghadapi Anak yang Rewel

No Fatwa: 52 / 15-02-2026 / TF 04-MI

Dari Sdr.

Waktu: Ahad, 27 Syakban 1447 H

Pertanyaan:
Adakah amalan yang bisa membantu untuk mengontrol emosi, misalnya kadang emosi menghadapi anak-anak yg rewel di rumah (alhamdulillah dikaruniai 7 anak tapi masih belum bisa mengontrol emosi)?

Jawaban:
Masyaa Allah, dikaruniai 7 anak itu nikmat besar sekaligus amanah yang berat. Wajar kalau emosi kadang naik. Yang penting kita punya “rem” + sistem saling dukung berdua, biar rumah jadi tempat tazkiyah, bukan tempat pelampiasan.
1) Amalan & “rem cepat” saat emosi mulai naik
Kalau sudah terasa panas di dada, lakukan urutan ini (praktis banget):
1. Taawudz + diam 5–10 detik
ucapkan pelan: a’udzu billahi minasy-syaithanir-rajim
lalu tahan lisan dulu. Banyak ledakan berawal dari kata-kata.
2. Ubah posisi
berdiri → duduk.
masih naik → berbaring.
3. Wudu (kalau memungkinkan)
marah itu panas, wudu itu pendingin.
4. Kalimat penyelamat ke anak (tanpa teriak):
“Abi/Ummi sayang kamu, tapi abi/ummi sedang marah. Kita pause dulu. Nanti kita bicara baik-baik.”
5. Setelah reda: 2 rakaat / istighfar
minimal istighfar banyak, lalu lanjut mendidik dengan tenang.
2) Sistem saling dukung suami–istri (biar tidak meledak sendirian)
Ini kunci besar: pasangan itu “partner menahan emosi”, bukan “penonton saat kita meledak.”
Buat “kode darurat”
Misal: “pause” / “air wudu” / “ganti shift”
Artinya: yang emosi mundur 5–10 menit, pasangan ambil alih anak dulu.
Jangan koreksi pasangan di depan anak
Kalau pasangan sedang keras, cukup ambil alih dengan halus:
“sini, biar aku yang lanjut.”
Evaluasi berdua setelah tenang.
Diskusi dengan pasangan 10 menit tiap hari (tanpa HP)
Tanya 3 hal saja:
• “Hari ini paling capek apa?”
• “Besok kamu butuh apa dari aku?”
• “Satu hal yang aku syukuri dari kamu hari ini…”
Bagi tugas pakai sistem, bukan perasaan
Jelas: pagi siapa, sore siapa, malam siapa.
Kalau tugas jelas, emosi biasanya turun.
3) Terus belajar parenting (yang realistis & konsisten)
Jangan kejar sempurna. Pilih 1 kebiasaan per 2 pekan:
• 2 pekan ini: kurangi teriakan
• 2 pekan berikutnya: tambah pujian spesifik
• berikutnya: rapikan rutinitas tidur
Belajar bareng 20 menit per pekan
1 video/1 bab buku, ambil 3 poin, sepakati 1 praktik untuk dicoba.
Setelah ada “insiden”, evaluasi singkat (tanpa menyalahkan):
• pemicunya apa? (lelah, lapar, jadwal kacau, HP)
• tanda-tandanya apa?
• pencegahannya apa?
Bangun “bank kedekatan” dengan anak
Setiap anak minimal dapat 5 menit waktu khusus (tanpa ceramah).
Anak yang “penuh” perhatian lebih mudah diarahkan.
4) Dampak emosi berlebihan ke anak (kenapa ini penting)
Kalau anak sering melihat teriakan/ledakan:
• sebagian jadi takut dan menarik diri, sebagian meniru marah
• bisa muncul cemas, merasa “aku selalu salah”
• hubungan jadi “patuh karena takut”, bukan karena paham
Tapi kabar baiknya: anak cepat pulih kalau orang tua mulai berubah dan minta maaf.
Lakukan ini sebelum tidur:
Kalau hari itu sempat keras, orang tua bilang:
“Abi/Ummi tadi salah. Maaf ya. Abi/Ummi sayang kamu.”
Ini bukan menjatuhkan wibawa, ini mendidik akhlak dan melembutkan hati.

Tim Fatwa Markaz Inayah

Tim Fatwa Markaz Inayah adalah Asatidzah Kandidat Magister dan Doktor Universitas Arab Saudi Hafizhahumullah

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button