Khutbah Jumat: Bahaya Hasad

Khutbah Pertama:
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
ٱلْحَمْدُ للهِ ٱلَّذِي خَلَقَ عِبَادَهُ أَطْوَارًا، وَقَسَمَ بَيْنَهُمْ أَرْزَاقًا وَأَقْدَارًا، وَٱبْتَلَاهُمْ بَعْضًا بِبَعْضٍ ٱخْتِبَارًا، لِيَنْظُرَ مَنْ يَشْكُرُ وَمَنْ يَكْفُرُ، وَمَنْ يَصْبِرُ وَمَنْ يَضْجَرُ.
أَحْمَدُهُ حَمْدَ مَنْ عَلِمَ أَنَّهُ لَا مَفَرَّ لَهُ مِنْ قَضَائِهِ، وَلَا مَهْرَبَ مِنْ بَلَائِهِ، وَلَا نَجَاةَ إِلَّا بِرِضَاهُ وَوَلَائِهِ، وَأَسْتَعِينُهُ اسْتِعَانَةَ مَنْ أَيْقَنَ أَنَّهُ لَا حَوْلَ لَهُ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِهِ،وَأَسْتَغْفِرُهُ اسْتِغْفَارَ مَنْ أَذْنَبَ وَرَجَا عَفْوَهُ، وَأَدْعُوهُ دُعَاءَ مَنْ قَلَّ عَمَلُهُ وَعَظُمَ أَمَلُهُ.
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، شَهَادَةً تُنِيرُ ٱلْقُلُوبَ، وَتُثَبِّتُ الْخُطَى، وَتُورِثُ مِنَ ٱللهِ ٱلرِّضَا.
وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَرْسَلَهُ ٱللهُ بِالْحَقِّ بَشِيرًا وَنَذِيرًا، وَدَاعِيًا إِلَيْهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُّنِيرًا، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَىٰ آلَهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.
Amma ba‘du, bertakwalah kepada Allah wahai hamba-hamba Allah.
Wahai hamba-hamba Allah,
Manusia dalam hidup ini saling bertingkat dan berbeda-beda dalam seluruh urusan mereka: dalam penciptaan dan akhlak, dalam ilmu dan rezeki, dalam harta dan rupa, serta dalam berbagai sisi kehidupan lainnya. Hal itu bukanlah tanpa tujuan, melainkan dengan takdir Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana, dengan pengaturan Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Teliti. Sebagaimana firman-Nya:
﴿وَاللهُ فَضَّلَ بَعْضَكُمْ عَلىٰ بَعْضٍ فِي الرِّزْقِ﴾
“Dan Allah telah melebihkan sebagian kalian atas sebagian yang lain dalam rezeki.” (QS. An-Nahl: 71).
Barang siapa ridha dengan apa yang Allah tetapkan baginya, dan berusaha meraih kebaikan melalui jalan-jalan yang disyariatkan, maka ia akan diberi taufik dan keberkahan. Namun barang siapa murka, lalu menyibukkan hatinya dengan nikmat yang dimiliki orang lain, dan mulai mengharapkan hilangnya nikmat tersebut dari mereka, maka sungguh ia telah terjatuh ke dalam penyakit yang berbahaya, yaitu hasad (iri dengki).
Hasad, wahai kaum muslimin, adalah penyakit hati dan alat kehancuran. Ia merupakan dosa pertama yang dilakukan kepada Allah di langit, ketika Iblis dengki kepada Adam, dan dosa pertama yang dilakukan kepada Allah di bumi, ketika anak Adam dengki kepada saudaranya lalu membunuhnya.
Allah berfirman tentang Iblis:
﴿قَالَ أَأَسْجُدُ لِمَنْ خَلَقْتَ طِينًا﴾
“Iblis berkata: ‘Apakah aku harus sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah?’” (QS. Al-Isra’: 61).
Dan Allah berfirman tentang Qabil dan Habil:
﴿فَطَوَّعَتْ لَهُ نَفْسُهُ قَتْلَ أَخِيهِ فَقَتَلَهُ فَأَصْبَحَ مِنَ الْخَاسِرِينَ﴾
“Maka hawa nafsunya mendorongnya untuk membunuh saudaranya; lalu ia pun membunuhnya, sehingga ia termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Al-Ma’idah: 30).
Penyakit ini telah diperingatkan oleh Nabi ﷺ dan beliau melarangnya. Beliau bersabda:
«لَا تَبَاغَضُوا، وَلَا تَحَاسَدُوا، وَلَا تَدَابَرُوا، وَكُونُوا عِبَادَ ٱللهِ إِخْوَانًا»
“Janganlah kalian saling membenci, jangan saling hasad, jangan saling membelakangi, dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Al-Bukhari).
Bahkan Nabi ﷺ menyebut orang yang selamat dari hasad sebagai sebaik-baik manusia. Ketika beliau ditanya tentang manusia terbaik, beliau bersabda:
«كُلُّ مَخْمُومِ ٱلْقَلْبِ صَدُوقِ ٱللِّسَانِ… لَا إِثْمَ فِيهِ، وَلَا بَغْيَ، وَلَا غِلَّ، وَلَا حَسَدَ»
“Setiap orang yang berhati bersih dan lisan yang jujur… tidak ada dosa padanya, tidak ada kezaliman, tidak ada kedengkian, dan tidak ada hasad.” (HR. Ibnu Majah).
Nabi ﷺ juga menyebut hasad sebagai penyakit. Dan tabiat penyakit adalah harus diobati. Beliau bersabda:
«دَبَّ إِلَيْكُمْ دَاءُ ٱلْأُمَمِ قَبْلَكُمْ: ٱلْحَسَدُ وَٱلْبَغْضَاءُ، هِيَ ٱلْحَالِقَةُ، لَا أَقُولُ تَحْلِقُ ٱلشَّعْرَ، وَلٰكِنْ تَحْلِقُ ٱلدِّينَ»
“Telah merayap kepada kalian penyakit umat-umat sebelum kalian: hasad dan kebencian. Ia adalah pencukur; bukan mencukur rambut, tetapi mencukur agama.” (HR. At-Tirmidzi).
Wahai orang yang diberi taufik.
Hasad adalah keinginan agar hilangnya nikmat dari orang lain, baik disertai usaha untuk menghilangkannya ataupun tidak.
Tidak ada seorang pun yang memiliki nikmat yang selamat dari kedengkian, sebagaimana perkataan Umar bin Al-Khaththab رضي الله عنه:
“Tidaklah Allah memberi nikmat kepada seseorang melainkan ada orang yang mendengkinya.”
Namun pemilik hati yang selamat akan bersih terhadap saudara-saudaranya. Ia meneladani perkataan Al-Hasan Al-Bashri رحمه الله:
“Wahai anak Adam, janganlah engkau mendengki saudaramu. Jika apa yang Allah berikan kepadanya karena kemuliaannya di sisi Allah, maka janganlah engkau dengki kepada orang yang Allah muliakan. Dan jika itu bukan karena kemuliaan, maka mengapa engkau mendengki orang yang akhirnya menuju neraka?”
Di antara hukuman hasad yang disegerakan adalah bahwa pelakunya adalah orang yang paling sengsara karenanya. Ibn Sirin رحمه الله berkata:
“Hasad termasuk akhlak orang-orang rendah, dan meninggalkannya adalah perbuatan orang-orang mulia. Setiap api memiliki pemadam, namun api hasad tidak pernah padam.”
Orang yang hasad tidak rela melihat nikmat ada pada siapa pun. Jika ia melihatnya, hatinya teriris oleh amarah, dadanya terbakar oleh rasa sakit. Ia hidup dalam kesengsaraan yang terus-menerus.
Mu‘awiyah رضي الله عنه berkata:
“Semua manusia bisa aku buat ridha kecuali orang yang hasad; ia tidak akan ridha kecuali dengan hilangnya nikmat.”
Wahai hamba-hamba Allah,
Hasad memiliki tanda-tanda. Jika engkau menemukannya pada dirimu, maka obatilah. Jika engkau menemukannya pada orang lain terhadap dirimu, maka waspadalah. Wahb bin Munabbih berkata:
“Yaitu Ia menjilat (berpura-pura manis) ketika hadir, menggunjing ketika tidak ada, dan bergembira atas musibah.”
Al-Jahidz berkata:
“Aku tidak pernah menjumpai orang hasad kecuali tampak rahasianya dari perubahan warna wajahnya, sorot matanya yang menyempit, ia menyembunyikan salamnya, berpaling kepada selainmu, menjauh darimu, merasa berat mendengar ucapanmu, dan menyelisihi pendapatmu.”
Di antara penyebab terbesar munculnya hasad adalah keterikatan pada dunia, cinta untuk tampil unggul, persaingan dalam kedudukan, serta rusaknya jiwa dan kekikirannya terhadap kebaikan.
Padahal Allah memuji kaum Anshar dengan firman-Nya:
﴿وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا﴾
“Dan mereka tidak merasakan keinginan dalam dada mereka terhadap apa yang diberikan (kepada kaum Muhajirin).” (QS. Al-Hasyr: 9).
Al-Hasan Al-Bashri رحمه الله berkata:
“Maksudnya, mereka tidak menemukan hasad dalam diri mereka.”
Wahai kaum mukminin,
Di antara keburukan hasad yang paling buruk ada dua perkara:
Pertama, ia merupakan bentuk keberatan terhadap pembagian dan keadilan Allah. Karena Allah-lah yang memberi rezeki kepada yang ini dan menahan dari yang itu; memberi harta kepada yang satu, dan keindahan kepada yang lain, serta kedudukan kepada yang lainnya lagi. Maka hakikatnya, orang yang hasad berkata: “Wahai Rabb, mengapa Engkau memberi nikmat kepada si fulan?” Kita memohon keselamatan kepada Allah.
Kedua, orang yang hasad hidup dalam kesedihan yang tidak berakhir, musibah yang tidak berpahala, dan kesengsaraan yang tiada usai. Karena nikmat manusia tidak akan habis, dan Allah membagikan karunia-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Setiap kali ia melihat nikmat, rasa sakitnya kembali, dan hasadnya berbuah duka dan kesedihan.
Di antara bahaya hasad pula: ia bertentangan dengan kesempurnaan iman. Dalam hadis disebutkan:
“Tidaklah berkumpul dalam hati seorang hamba antara iman dan hasad.”
Hasad merusak tawakal, melemahkan keridaan, dan menyeret kepada kemurkaan. Ia juga menjadi sebab kebencian dan terputusnya hubungan. Dikatakan:
“Hasad menghancurkan kebersamaan, memecah barisan, dan memutus silaturahmi.”
Maka berbahagialah orang yang selamat darinya. Semoga Allah merahmati siapa yang menjauhinya.
ٱللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ ٱلْحَسَدِ وَٱلْبَغْضَاءِ
Ya Allah, sucikanlah hati kami dari hasad dan kebencian.
Khutbah Kedua:
الْحَمْدُ للهِ عَلَىْ إِحْسَاْنِهِ، وَالْشُّكْرُ لَهُ عَلَىْ تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَاْنِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ تَعْظِيْمَاً لِشَأْنِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدَاً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْدَّاْعِيْ إِلَىْ رِضْوَاْنِهِ صَلَّى اللهُ عَلِيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَاْبِهِ وَإِخوَانِهِ، أما بعد:
Wahai kaum mukminin.
Orang-orang yang diberi taufik lebih bersungguh-sungguh mengobati penyakit hati daripada mengobati penyakit tubuh mereka. Dan hasad adalah salah satu penyakit hati yang paling berbahaya. Tidak ada yang selamat darinya kecuali orang yang dirahmati Allah.
Seorang mukmin berusaha menjaga keselamatan hatinya dari hasad dengan beberapa perkara:
Meyakini bahwa hasad tidak membahayakan kecuali dirinya sendiri. Ia hidup dalam kesengsaraan dan panasnya hati, sementara orang yang ia dengki boleh jadi tidak mengetahui apa pun tentang dirinya.
Membiasakan diri memuji orang yang didengki dan mendoakannya. Karena jika jiwa dipaksa menyelisihi hawa nafsunya, ia akan tunduk. Walaupun berat di awal, lama-kelamaan dada akan terasa lapang.
Merenungi nikmat Allah atas dirinya, dan membandingkan keadaannya dengan orang yang berada di bawahnya, karena hal itu melahirkan qana‘ah dan menghilangkan ketamakan terhadap apa yang dimiliki manusia.
Wahai orang beriman, ingatlah bahwa setiap nikmat yang dimiliki manusia berasal dari Allah, dan Dia membagi rezeki dengan hikmah-Nya. Tidak ada satu nikmat pun kecuali mengandung hikmah. Betapa banyak yang Allah berikan kepadamu dan Dia tahan dari orang lain. Banyak nikmat yang engkau miliki adalah angan-angan bagi selainmu. Dan Yang membagi rezeki adalah Dzat Yang Mahakaya lagi Mahabijaksana.
Usahakanlah untuk menebarkan cinta dalam hatimu, memperbanyak salam, berlindung kepada Allah dari hasad, dan membiasakan doa. Allah telah membimbing Nabi-Nya ﷺ dengan firman-Nya:
﴿وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ﴾
“Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki.” (QS. Al-Falaq: 5).
Seandainya orang yang hasad merasakan manisnya hati yang selamat terhadap manusia, dan ketenangan yang dirasakan oleh orang yang membersihkan hatinya, niscaya ia akan tahu betapa besar yang telah luput darinya dan akan berusaha meraihnya. Seorang mukmin adalah orang yang berhati bersih, tidak ada kedengkian dan tidak ada hasad.
Orang yang diberi taufik adalah yang meneliti hatinya, mengenali penyakitnya, mendiagnosis cacatnya, lalu bersungguh-sungguh mengobatinya.
Orang yang diberi taufik adalah yang menyibukkan diri memperbaiki aibnya sendiri dan memakmurkan hatinya dengan cinta kepada Rabb-nya, bukan menoleh kepada apa yang ada di tangan manusia.
Maka janganlah kegelisahanmu tertuju pada harta, jabatan, atau pujian manusia, karena semua itu akan sirna dan tidak berguna di sisi Allah. Jadikanlah kegelisahanmu bagaimana engkau meridai Rabb manusia dan memperbaiki sikapmu di hadapan-Nya, pada hari ketika harta dan anak-anak tidak bermanfaat, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat—selamat dari hasad, nifak, kesombongan, riya’, dan seluruh penyakit hati.
ٱللّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ ٱلْحَسَدِ، وَٱمْلَأْهَا بِمَحَبَّتِكَ وَمَحَبَّةِ أَوْلِيَائِكَ، وَوَفِّقْنَا لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَىٰ.
Ya Allah, sucikanlah hati kami dari hasad, penuhilah dengan cinta kepada-Mu dan cinta kepada para wali-Mu, dan bimbinglah kami kepada apa yang Engkau cintai dan ridhai.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ وَغَافِرَ الذُّنُوْبِ وَالْخَطِيْئَاتِ.
رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذۡنَاۤ إِن نَّسِینَاۤ أَوۡ أَخۡطَأۡنَاۚ رَبَّنَا وَلَا تَحۡمِلۡ عَلَیۡنَاۤ إِصۡرࣰا كَمَا حَمَلۡتَهُۥ عَلَى ٱلَّذِینَ مِن قَبۡلِنَاۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلۡنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِۦۖ وَٱعۡفُ عَنَّا وَٱغۡفِرۡ لَنَا وَٱرۡحَمۡنَاۤۚ أَنتَ مَوۡلَىٰنَا فَٱنصُرۡنَا عَلَى ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡكَـٰفِرِینَ.
رَبَّنَا ظَلَمۡنَاۤ أَنفُسَنَا وَإِن لَّمۡ تَغۡفِرۡ لَنَا وَتَرۡحَمۡنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡخَـٰسِرِینَ.
رَبَّنَا اَتِنَافىِ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفىِ الاَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ! إِنَّ ٱللَّهَ یَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَـٰنِ وَإِیتَاۤىِٕ ذِی ٱلۡقُرۡبَىٰ وَیَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَاۤءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡیِۚ یَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ.
فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكۡرُ ٱللَّهِ أَكۡبَرُۗ وَٱللَّهُ یَعۡلَمُ مَا تَصۡنَعُونَ.




