Fatawa Umum

Apakah Membaca Sayyidul Istighfar Boleh dibaca Berulang-ulang? Tidak cukup di pagi dan petang saja?

Pertanyaan

Mau tanya, apakah membaca saidul istighfar boleh dibaca berulang ulang? Tidak cukup di pagi dan petang saja?
شكرا جزاك الله خيرا

Jawaban

Jawaban:

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para sahabat beliau. Amma ba‘du:

Tidak mengapa mengulangi zikir pagi dan petang, begitu pula zikir-zikir dan doa-doa lainnya — termasuk doa sayyidul istighfar (penghulu istighfar).

Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla telah membuka pintu zikir bagi hamba-hamba-Nya, sebagaimana firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا ۝ وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

“Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah Allah dengan zikir yang banyak, dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.” (QS. Al-Ahzab: 41–42)

Allah Ta‘ala berfirman:

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ

“Maka ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku akan ingat (pula) kepadamu.” (QS. Al-Baqarah: 152)

Dan Allah Ta‘ala juga berfirman:

فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَذِكْرِكُمْ آبَاءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْراً

“Maka berzikirlah kepada Allah sebagaimana kamu menyebut (mengenang) nenek moyangmu, bahkan dengan zikir yang lebih banyak dari itu.” (QS. Al-Baqarah: 200)

Serta firman-Nya:

فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَاماً وَقُعُوداً وَعَلَى جُنُوبِكُمْ

“Maka apabila kamu telah menyelesaikan salat, ingatlah Allah di waktu berdiri, duduk, dan berbaring.” (QS. An-Nisā’: 103)

Dan dalam hadis yang disepakati keshahihannya dari Abu Hurairah رضي الله عنه, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

يقول الله تعالى: أنا عند حسن ظن عبدي بي، وأنا معه إذا ذكرني، فإن ذكرني في نفسه ذكرته في نفسي، وإن ذكرني في ملأٍ ذكرته في ملأٍ خيرٍ منهم، وإن تقرب إلي شبراً تقربت إليه ذراعاً، وإن تقرب إلي ذراعاً تقربت إليه باعاً، وإن أتاني يمشي أتيته هرولة.

“Allah Ta‘ala berfirman: Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya, maka Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku; dan jika ia mengingat-Ku di hadapan suatu majelis, maka Aku akan mengingatnya di hadapan majelis yang lebih baik dari mereka. Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya sehasta; jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, maka Aku akan mendekat kepadanya sedepa; dan jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan mendatanginya dengan berlari kecil.” (Muttafaqun ‘alaih)

Ayat-ayat dan hadis-hadis dalam bab ini sangat banyak, semuanya mendorong untuk memperbanyak zikir kepada Allah Ta‘ala dan mengajarkannya tanpa batasan tertentu.

Adapun zikir-zikir yang datang dengan bilangan tertentu, maka tidak mengapa menambahnya, karena dalil-dalil menunjukkan bolehnya hal tersebut.

Di antaranya adalah hadis yang diriwayatkan oleh An-Nasā’ī dan Ath-Thabarānī dari ‘Amr bin Syu‘aib dari ayahnya dari kakeknya, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

من قال سبحان الله مائة مرة قبل طلوع الشمس وقبل غروبها كان أفضل من مائة بدنة، ومن قال الحمد لله مائة مرة قبل طلوع الشمس وقبل غروبها كان أفضل من مائة فرس يحمل عليها، ومن قال الله أكبر مائة مرة قبل طلوع الشمس وقبل غروبها كان أفضل من عتق مائة رقبة، ومن قال لا إله إلا الله وحده لا شريك له له الملك وله الحمد وهو على كل شيء قدير مائة مرة قبل طلوع الشمس وقبل غروبها، لم يجئ يوم القيامة أحد بعمل أفضل من عمله إلا من قال قوله أو زاد

“Barang siapa mengucapkan Subḥānallāh seratus kali sebelum matahari terbit dan sebelum terbenam, maka pahalanya lebih baik daripada seratus unta; barang siapa mengucapkan Alḥamdulillāh seratus kali sebelum matahari terbit dan sebelum terbenam, maka pahalanya lebih baik daripada seratus kuda yang digunakan untuk jihad di jalan Allah; barang siapa mengucapkan Allāhu akbar seratus kali sebelum matahari terbit dan sebelum terbenam, maka pahalanya lebih baik daripada memerdekakan seratus budak; dan barang siapa mengucapkan Lā ilāha illallāh waḥdahu lā sharīka lah, lahul mulku wa lahul ḥamdu wa huwa ‘alā kulli shay’in qadīr seratus kali sebelum matahari terbit dan sebelum terbenam, maka tidak ada seorang pun yang datang pada hari kiamat dengan amal yang lebih baik darinya kecuali orang yang mengucapkan seperti ucapannya atau menambahnya.”

Demikian pula, hal ini dikuatkan oleh hadis yang disepakati keshahihannya dari Abu Hurairah رضي الله عنه bahwa Nabi ﷺ bersabda:

من قال لا إله إلا الله وحده لا شريك له له الملك وله الحمد وهو على كل شيء قدير في يوم مائة مرة كانت له عدل عشر رقاب، وكتبت له مائة حسنة، ومحيت عنه مائة سيئة، وكانت له حرزاً من الشيطان يومه ذلك حتى يمسي، ولم يأت أحد بأفضل مما جاء به إلا أحد عمل أكثر من ذلك.

“Barang siapa mengucapkan *Lā ilāha illallāh waḥdahulā sharīka lah, lahul mulku wa lahul ḥamdu wa huwa ‘alā kulli shay’in qadīr* seratus kali dalam sehari, maka baginya pahala seperti memerdekakan sepuluh budak, ditulis baginya seratus kebaikan, dihapus darinya seratus keburukan, dan bacaan itu menjadi pelindung baginya dari setan pada hari itu hingga sore hari. Dan tidak ada seorang pun yang datang dengan amal yang lebih baik darinya, kecuali orang yang beramal lebih banyak dari itu.” (Muttafaqun ‘alaih)

Telah datang pula banyak hadis yang menganjurkan memperbanyak dan mengulang zikir, di antaranya sabda Nabi ﷺ:

«لا يزال لسانك رطبًا من ذكر الله»

“Hendaklah lidahmu senantiasa basah dengan zikir kepada Allah.” (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi)

Dan sabda Nabi ﷺ sebagaimana dalam Shahihain (Bukhari dan Muslim):

«من قال حين يصبح، وحين يمسي: سبحان الله وبحمده مائة مرة، لم يأت أحد يوم القيامة بأفضل مما جاء به إلا أحد قال مثل ما قال، أو زاد»

“Barangsiapa mengucapkan ketika pagi dan petang ‘Subhanallahi wa bihamdih’ seratus kali, maka tidak ada seorang pun yang datang pada hari kiamat dengan amal yang lebih baik darinya, kecuali orang yang mengucapkan seperti ucapannya atau lebih banyak lagi.”

Dalam riwayat lain disebutkan:

«إِلَّا رَجُلٌ عَمِلَ أَكْثَرَ»

“Kecuali seseorang yang beramal lebih banyak darinya.”

Al-Bājī dalam Al-Muntaqā Syarh al-Muwaṭṭa’ berkata:

ثُمَّ قَالَ: إلَّا رَجُلٌ عَمِلَ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ ـ لِئَلَّا يَظُنَّ السَّامِعُ أَنَّ الزِّيَادَةَ عَلَى ذَلِكَ مَمْنُوعَةٌ، كَتَكْرَارِ الْعَمَلِ فِي الْوُضُوءِ.

“Kemudian beliau bersabda: ‘Kecuali seseorang yang beramal lebih banyak dari itu,’ agar pendengar tidak mengira bahwa menambah zikir itu terlarang, sebagaimana mengulang amal dalam wudhu.”

Ibn Muflih berkata dalam Al-Furū‘ (1/398) setelah menyebutkan anjuran beristighfar tiga kali setelah salat:

والمقصود من العدد أن لا ينقص منه، وأما الزيادة فلا تضر.. لأن الذكر مشروع في الجملة فهو يشبه المقدر في الزكاة إذا زاد عليه.

“Yang dimaksud dari bilangan tersebut adalah agar tidak dikurangi darinya. Adapun menambahnya, maka tidak mengapa, karena zikir disyariatkan secara umum. Hal itu seperti takaran dalam zakat; jika seseorang menambahnya maka tidak mengapa.” Selesai (ucapan beliau).

Hal yang serupa juga dikatakan oleh Ibrahim bin Muflih, penulis kitab Al-Mubdi‘.

Dan Al-‘Allāmah Ibnu Al-Qāsim berkata dalam Hāsyiyah-nya atas Tuhfatul Muhtāj:

الوجه الذي اعتمده جمع من شيوخنا كشيخنا الإمام البرلسي وشيخنا الإمام الطبلاوي حصول هذا الثواب إذا زاد على الثلاث والثلاثين في المواضع الثلاثة، فيكون الشرط في حصوله عدم النقص عن ذلك خلافاً لمن خالف.

“Pendapat yang dipegang oleh sejumlah guru kami — seperti guru kami Imam Al-Burlusī dan guru kami Imam Ath-Thiblāwī — adalah bahwa pahala tersebut tetap diperoleh jika seseorang menambah dari tiga puluh tiga kali dalam tiga tempat (tasbih, tahmid, dan takbir). Maka syarat untuk mendapatkan pahala itu hanyalah tidak menguranginya, berbeda dengan pendapat orang yang menyelisihi.”

Ibnu Hajar Al-Haitamī berkata dalam At-Tuhfah (2/107):

تنبيه: كثر الاختلاف بين المتأخرين في من زاد على الورد كأن سبح أربعاً وثلاثين، فقال القرافي يكره لأنه سوء أدب، وأيد بأنه دواء، وهو إذا زيد فيه على قانونه يصير داء، وبأنه مفتاح وهو إذا زيد على أسنانه لا يفتح، وقال غيره: يحصل له الثواب المخصوص مع الزيادة، ومقتضى كلام الزين العراقي ترجيحه، لأنه بالإتيان بالأصل حصل له ثوابه، فكيف تبطله زيادة من جنسه، واعتمده ابن العماد بل بالغ فقال: … اعتقاد عدم حصول الثواب … قول بلا دليل، يرده عموم (من جاء بالحسنة فله عشر أمثالها).**

“Perhatian: banyak terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama muta’akhkhirin tentang orang yang menambah bacaan wirid, misalnya membaca tasbih tiga puluh empat kali. Al-Qarāfī mengatakan: hukumnya makruh karena itu termasuk kurang sopan. Ia mendukung pendapatnya dengan perumpamaan bahwa zikir itu seperti obat, jika dosisnya dilebihkan dari takarannya maka menjadi racun; dan seperti kunci, jika ditambah giginya maka tidak bisa membuka.
Namun ulama lain berkata: ia tetap mendapatkan pahala yang khusus meskipun dengan tambahan. Ucapan Az-Zain Al-‘Irāqī menunjukkan bahwa ini adalah pendapat yang kuat, karena dengan mengerjakan asalnya saja sudah memperoleh pahala, maka bagaimana bisa tambahan dari jenis yang sama membatalkan pahala tersebut?
Pendapat ini dipegang oleh Ibn Al-‘Imād, bahkan beliau menegaskan dengan berkata: menganggap tidak mendapatkan pahala karena tambahan itu adalah pendapat tanpa dalil, dan yang membantahnya adalah keumuman firman Allah:

{مَن جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا}

(“Barang siapa membawa satu kebaikan, maka baginya sepuluh kali lipat balasan”).” Selesai.

Kesimpulannya, pendapat yang paling kuat berdasarkan dalil adalah bolehnya menambah jumlah zikir sebagaimana yang telah disebutkan, karena zikir itu disyariatkan secara umum dan setiap tambahan dari jenis kebaikan yang sama termasuk dalam keutamaan amal tersebut.

Oleh karena itu, mengulangi dan menambah bacaan zikir adalah perkara yang dianjurkan, karena zikir itu disyariatkan secara umum — sebagaimana telah engkau lihat — bahkan disunnahkan memperbanyaknya setiap waktu dan dalam setiap keadaan.

Wallāhu a‘lam.

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button