Tatsqif

Biografi Singkat Dr. Muhammad bin Ibrahim bin ‘Abdillah an-Na‘īm

Edisi: Siyar A’lam

Biografi Singkat Dr. Muhammad bin Ibrahim bin ‘Abdillah an-Na‘īm

Kelahiran dan Awal Kehidupan

Beliau adalah Muhammad bin Ibrahim bin ‘Abdillah an-Na‘īm, lahir pada hari Ahad, tanggal 1 Rajab 1378 H, di kota al-Aḥsā’ (Arab Saudi).

Perjalanan Pendidikan

Beliau menempuh pendidikan dasar (ibtidā’iyyah) dan sebagian dari tingkat menengah pertama (mutawassiṭah) di Lebanon, kemudian melanjutkan sisa pendidikan menengah dan tingkat menengah atas (tsanawiyyah) di Riyadh.

Beliau menyelesaikan tingkat menengah atas hanya dalam dua tahun, karena kecerdasan dan prestasinya yang menonjol.

Setelah itu, beliau melanjutkan ke jenjang universitas di Universitas Raja Faisal (Jāmi‘ah al-Malik Faisal) di al-Aḥsā’, dan lulus pada tahun 1401 H.

Kemudian beliau mendapatkan gelar Magister di bidang Ilmu Pertanian (al-‘Ulūm az-Zirā‘iyyah) pada tahun 1408 H, dan diangkat sebagai dosen (mu‘īd) di universitas yang sama.

Setelah menyelesaikan program doktoralnya (Ph.D.) dalam bidang Filsafat – Perencanaan Pertanian (Falsafah fī at-Tanwīl az-Zirā‘ī), beliau memperoleh gelar doktor pada tahun 1418 H, dan diangkat menjadi asisten profesor (ustādz musā‘id).

Kemudian, setelah beberapa tahun dan melalui serangkaian penelitian untuk kenaikan jabatan, beliau diangkat menjadi associate professor (ustādz musyārīk) pada tahun 1427 H.

Kehidupan Keluarga dan Sosial

Beliau menikah pada 18/8/1414 H, dan dikaruniai tujuh anak — enam laki-laki dan satu perempuan.

 Kegiatan Sosial dan Dakwah

Di antara kiprah sosial beliau:

Termasuk pendiri Kantor Bimbingan untuk Mualaf (Taw‘iyah al-Jāliyāt) di Al-Aḥsā’ pada tahun 1414 H.

Menjadi anggota Dewan Pembina di Pusat Pembangunan Sosial di Al-‘Irsiyyah antara tahun 1411–1417 H.

Kepala Kantor Yayasan Wakaf Islami di Al-Aḥsā’ selama beberapa tahun (1411–1417 H).

Imam dan khatib di Masjid al-Mazrū‘iyyah al-Kubrā hingga beliau berangkat ke Mesir untuk studi doktoral.

Setelah kembali, beliau menjadi imam di Masjid ash-Ṣaihd, dan tetap di sana hingga wafatnya pada 8/11/1427 H.

Anggota Dewan Penyuluhan Pusat Pembangunan Al-‘Irsiyyah sejak tahun 1417 H hingga wafatnya.

Aktif bekerjasama dengan Kantor Dakwah, memberikan ceramah, nasihat, dan khutbah di berbagai tempat.

Perjalanan dalam Menuntut Ilmu Syar‘i

Walaupun spesialisasi akademiknya adalah ilmu pertanian, beliau sangat mencintai dan bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu syar‘i.

Guru utama beliau dalam ilmu syar‘i adalah Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurraḥīm bin Ibrāhīm as-Sayyid al-Hāsyim, dosen fiqih di Fakultas Syariah dan Studi Islam Universitas Al-Aḥsā’.

Beliau menghadiri banyak pelajaran tafsir, hadis, aqidah, dan fiqih, dan dikenal sebagai murid yang sangat disiplin dan aktif berdiskusi.

Syaikh al-Hāsyim berkata tentang beliau:

“Beliau sangat bersemangat menghadiri pelajaran, tidak pernah absen kecuali karena alasan mendesak, rajin bertanya dan berdiskusi, dan meninggalkan kekosongan besar setelah wafatnya.”

Beberapa Kisah dan Teladan

1. Kisah Kesembuhan di Masa Kecil

Saat masih kecil, beliau pernah menderita penyakit pada kakinya ketika belajar di Lebanon. Para dokter tidak menemukan obatnya dan memutuskan untuk mengamputasi kakinya.

Namun, pada malam sebelum operasi, ayahnya—al-‘Am Ibrāhīm—bermimpi melihat Rasulullah ﷺ datang dan mengusap kepala serta kaki anaknya.

Ketika terbangun, ayahnya segera menelepon rumah sakit dan meminta agar operasi dibatalkan. Setelah dilakukan pemeriksaan ulang, dokter mendapati kaki beliau telah sembuh total, dengan izin Allah.

2. Keteladanan di Saat Sakit

Dalam masa sakitnya menjelang wafat, beliau tetap berusaha menerapkan sunnah Nabi ﷺ.

Bila salah seorang kerabat datang menjenguknya, sementara ia dalam posisi duduk, ia berkata:

“Jika engkau menjenguk seseorang dalam keadaan berdiri, maka duduklah agar memperoleh rahmat, sebagaimana sabda Nabi ﷺ:

‘Apabila engkau menjenguk orang sakit, duduklah, karena hal itu lebih menenangkan baginya.’” (HR. Ahmad dan al-Ḥākim)

Beliau juga sering mengingatkan para penjenguknya tentang keutamaan sabar atas penyakit, dan menasihati agar mensyukuri nikmat sehat serta memanfaatkannya dalam ketaatan.

Kepribadian, Akhlak, dan Aktivitas Ilmiah

Beliau aktif menulis dan berdakwah melalui majalah dan pelajaran ilmiah.

Di antara karya tulisnya, ada yang diterbitkan dalam bentuk majalah dakwah yang berpengaruh dan menyentuh hati pembacanya.

Pelajaran-pelajarannya dikenal sangat menyentuh dan menggugah jiwa.

Salah seorang muridnya berkata:

“Saya seakan masih melihat dan mendengarnya saat beliau menyampaikan pelajaran ‘Bagaimana Selamat dari Kesulitan di Atas Shirath (Jembatan Akhirat)’ — begitu dalam pengaruhnya hingga orang-orang yang hadir tampak tersentuh oleh ilmunya dan cara penyampaiannya.”

 Ketaatan dan Ketaqwaannya

Putranya, ‘Umar, berkata tentang ayahnya:

“Ayahku (رحمه الله) sangat tekun melaksanakan salat sunnah rawātib dan ibadah-ibadah nafilah (sunnah).

Saya tidak ingat pernah melihatnya meninggalkan salat sunnah di rumah. Kami sering menunggunya di meja makan, sementara beliau masih menunaikan salat sunnah di rumah.

Sampai-sampai ibu pernah berkata: ‘Anak ini (yakni beliau semasa muda) tidak pernah mengangkat pandangannya dari tempat sujudnya.’ Beliau sangat berbakti kepada ibunya.”

Beliau sangat menjaga perasaan ibunya terutama ketika sakit.

Putranya menceritakan:

“Ketika beliau sakit keras, saya melihat sendiri bagaimana beliau menahan diri dan berusaha tampak kuat ketika ibunya datang menjenguk. Beliau menegakkan badannya, tersenyum, dan menyembunyikan rasa sakit agar ibunya tidak khawatir. Bahkan, saat kami berada di Yordania, jika ibuku menelepon, beliau menjawab dengan suara yang lembut dan bersemangat agar ibuku tidak merasa sedih.”

Kebiasaan Ibadah dan Amal Shalih

Beliau sangat rajin berpuasa Senin dan Kamis, juga tiga hari setiap bulan (ayyamul-bīḍ).

Selain itu, beliau dikenal gemar membantu orang lemah, fakir, dan miskin, dan selalu berusaha memenuhi kebutuhan mereka.

 Karya Tulis dan Buku-Buku Beliau

Syaikh Muḥammad bin Ibrāhīm an-Na‘īm (رحمه الله) bertekad kuat untuk mengamalkan setiap hal yang beliau tulis dalam karya-karyanya.

Semua tulisannya bertema “Bekal menuju akhirat”, dan beliau benar-benar menjadikan dirinya teladan dalam mengamalkan ilmunya.

Beberapa karya beliau antara lain:

1. “كيف تطيل عمرك الإنتاجي؟” (Bagaimana Memperpanjang Umur Produktifmu?)

– Buku ini telah diterjemahkan ke dalam empat bahasa setelah penerbitannya.

2. “كيف ترفع درجتك في الجنة؟” (Bagaimana Meninggikan Derajatmu di Surga?)

3. “كيف تحظى بدعاء النبي ﷺ؟” (Bagaimana Mendapatkan Doa Nabi ﷺ?)

4. “كيف تنجو من كرب الصراط؟” (Bagaimana Selamat dari Kesulitan di Atas Shirath?)

5. “أمنيات الموتى” (Harapan Orang-Orang yang Telah Meninggal Dunia)

6. “كيف تثقل ميزانك؟” (Bagaimana Menjadikan Timbangan Amalmu Berat?)

7. “كيف تملك قصورًا في الجنة؟” (Bagaimana Memiliki Istana di Surga?)

8. “أعمال ثوابها كقيام الليل” (Amalan yang Pahalanya Seperti Qiyāmul-Layl)

9. “كيف تفتح أبواب السماء؟” (Bagaimana Membuka Pintu-Pintu Langit?)

10. “كيف تجعل الخلق يدعون لك؟” (Bagaimana Membuat Manusia Mendoakanmu?)

Karya yang Belum Diterbitkan dan Keikhlasan Beliau

Masih ada beberapa karya tulis beliau yang belum sempat diterbitkan hingga kini, insya Allah akan segera diterbitkan.

Karena keikhlasan dan ketulusan niatnya, serta amal nyata dalam menerapkan apa yang beliau tulis, saya berkeyakinan bahwa semua karyanya telah diterima luas dan mendapat tempat di hati banyak orang.

Selain karya-karya dalam bidang keislaman, beliau juga memiliki sejumlah penelitian ilmiah yang diterbitkan dalam bidang akademiknya, khususnya pertanian dan ekonomi pertanian.

Beliau dikenal sebagai sosok yang menghidupkan banyak sunnah dalam kesehariannya.

 Wafatnya

Beliau menderita penyakit kanker hati, dan sempat bepergian ke luar negeri untuk berobat.

Pada hari Selasa pagi, tanggal 1 Muharram 1431 H, beliau menghadap Allah Ta‘ālā dalam usia sekitar lima puluh tahun.

Jenazah beliau dikebumikan pada hari Rabu pagi, tanggal 1 Muharram 1431 H, di pemakaman Zurayniq, di dekat Provinsi Al-Aḥsā’, tempat beliau dibesarkan dan berkhidmat.

Salah seorang yang hadir saat proses pemandiannya menceritakan bahwa mereka melihat tanda-tanda cahaya dan ketenangan pada jasad beliau — nur dan kelembutan yang tampak pada tubuhnya.

Saking besar rasa kehilangan, ada seorang pelayat yang berkata dengan haru:

“Andai saja aku berada di posisinya (yakni mati dalam keadaan sebaik itu).”

Doa dan Harapan

Kami berharap beliau termasuk dalam sabda Nabi ﷺ:

«مَنْ صَلَّى عَلَيْهِ مِائَةٌ مِنَ الْمُسْلِمِينَ غُفِرَ لَهُ»

“Barang siapa dishalatkan oleh seratus orang muslim, maka ia akan diampuni.” (HR. an-Nasā’ī)

Dan semoga beliau juga termasuk dalam sabda Rasulullah ﷺ:

«مَا يَزَالُ الْبَلَاءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِي نَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَمَالِهِ حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ»

“Cobaan senantiasa menimpa seorang mukmin, baik pada dirinya, anaknya, maupun hartanya, hingga ia bertemu Allah tanpa membawa dosa sedikit pun.” (HR. at-Tirmidzī)

Semoga Allah merahmati Syaikh Dr. Muḥammad bin Ibrāhīm an-Na‘īm, mengampuni dosa-dosanya, menerangi kuburnya, dan menjadikan ilmunya sebagai amal jariyah yang terus mengalir.

Semoga pula Allah mengumpulkan kita bersama beliau, para ulama, dan orang-orang saleh di surga-Nya yang penuh kenikmatan.

وصلى الله وسلم على نبينا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين.

وَغَفَرَ اللَّهُ لِلشَّيْخِ، وَرَحِمَهُ، وَجَزَاهُ عَنِ الْإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِينَ خَيْرَ الْجَزَاءِ.

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button